
Dua hari pemakaman sudah berlalu, Joon kembali di sibukkan urusan rumah tangga dan mengurus anak-anak seperti biasanya, hanya saja kali ini ia merasa sepi, sepi tanpa Shaina, tempat biasa ia melepaskan kepenatannya, sekarang tak ada lagi yang membuatnya seperti anak kecil yang haus belaian kasih, tidak ada lagi yang mendengar ceritanya, tidak ada lagi yang mengoceh ketika Joon tidak menuruti kemauan Shaina, tidak ada lagi yang bisa diganggunya, semua sudah lenyap tanpa membekas, hanya ada tangisan Elif dan kakak-kakaknya yang merindukan pelukan hangat seorang ibu.
Setiap malamnya ketika sendiri, Joon menangis tersedu-sedu mengingat keberadaan Shaina telah mengubah hidupnya.
"Sayang.... Kenapa kau meninggalkanku, sayang... hatiku begitu sempit tanpa dirimu, aku mencintaimu.... Tolong kembalilah padaku..." Rintihan Joon tidak ada yang mendengarnya kecuali sang pencipta.
Kehilangan orang terkasih membuat Joon terluka, rindu semakin menyiksanya, jika saja ia tidak memiliki anak-anak bersamanya ia pasti akan mengakhiri hidupnya juga.
Darrell juga tidak mengerti semua ini, tapi ia juga merasakan kehilangan, ketika tidak ada yang peduli padanya walau sekedar bertanya ia sudah makan atau belum, Shaina malah datang dan menyuruhnya makan dengan makanan sehat, tidak hanya itu, Shaina juga selalu mampu membuatnya tersenyum tulus.
Sejak kejadian itu, Darrell tidak bersemangat untuk melakukan apapun tapi ia tetap harus bekerja, jika tidak kemampuannya mengurus perusahaan besar akan di pertanyaan.
Ia bergegas memakai jasnya untuk segera ke kantor, dengan langkah malas ia menuruni tangga.
"Mau kemana kau?" Tanya nyonya Rossie.
Nyonya Rossie duduk bersantai sambil melakukan perawatan kuku oleh dua pelayan yang duduk bersimpuh di kakinya, dan pelayannya yang lain dengan ulet memijat kepalanya.
"Ke kantor Mi, ada hal yang harus aku selesaikan" sahut Darrell.
"Tidak usah kerja hari ini, tapi bersenang-senanglah dengan wanita yang kau mau" ucap nyonya Rossie.
Darrell melihat ada yang berbeda dengan ibunya, sejak tadi ia terlihat bahagia.
"Apa yang terjadi Mi? kenapa Mami terlihat senang sekali?" tanya Darrell.
Nyonya Rossie tersenyum, menyuruh para pelayan pergi dan meninggalkannya berdua.
"Kali ini Calista akan benar-benar berada dalam genggamanku karena Joon sudah gila, untuk mengurus dirinya saja tidak bisa apalagi untuk mengurus perusahaan besar" ucap nyonya Rossie, ia tersungging puas, "jika saja aku gunakan cara ini dari dulu aku pasti tidak perlu repot-repot mengurusnya" sesal nyonya Rossie.
"Apa maksud mami? Apa jangan-jangan kecelakaan itu ada hubungannya dengan mami?" Sudi Darrell.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura tidak mengenal ibumu sendiri, Darrell! Bukankah kau tahu? aku paling tidak suka ada yang menghalanginya jalanku menuju tujuanku".
"Tapi Helena tidak tahu apa-apa, bahkan ia tidak ada hubungannya dengan tujuan mami" sela Darrell.
Nyonya Rossie beranjak dari duduknya, "Bicara apa kau ini? Helena mantan istri Ervian dan sekarang ia menikah dengan Joon berarti dia juga sebagai penghalang untukku" papar nyonya Rossie.
"Mami benar-benar bukan manusia lagi, kekuasaan telah mempengaruhi mu"Darrell pergi dari ruang tamu.
"Jangan salahkan aku juga, ini karena mu yang tidak becus melakukan apapun!" Pekik nyonya Rossie.
Aura sepi terasa jelas di rumah Joon meski di rumah itu di huni lebih dari dua anak kecil. Harris dan Calvin sengaja datang ke rumah tersebut untuk mengurangi kesepian Joon.
Mereka terkejut melihat isi rumah Joon yang sangat berantakan, bahkan saat duduk di sofa saja mereka harus berhati-hati agar tidak mematahkan mainan anak-anak yang berserakan dimana-mana.
"Joon, kita keluar yuk, kita jalan-jalan ke luar kota, kebetulan aku sedang cuti" kata Calvin memulai percakapan dengan Joon yang sedang memberi susu formula untuk Elif.
"Benar tuh, kita ke tempat seru yang juga cocok buat anak-anak" imbuh Harris.
Calvin dan Harris terdiam dengan beradu pandang, mereka tidak tahu harus melakukan apa lagi agar Joon sadar.
Di waktu bersamaan seseorang mengetuk pintu rumah Joon, Alfan bergegas membuka pintu dan berdiri Darrell di balik pintu tersebut.
"Mau apa kau ke sini lagi?" Ujar Joon pada Darrell yang masih berdiri di depan pintu.
"Joon, ada hal penting yang ingin ku bicarakan denganmu" ungkap Darrell.
Joon tersungging, "akal-akalan mu sudah basi, Shaina ku tidak akan lagi keluar dengan mu" kata Joon.
Darrell mematung melihat Joon yang berbicara aneh, " Joon, kau baik-baik saja?" Tanya Darrell.
__ADS_1
Tiba-tiba Elif menangis lagi, Joon segera berbalik badan dan menggoyang-goyangkan Elif, "sayang! Elif nangis lagi, kamu di mana?" Seru Joon.
Darrell kini beradu pandang dengan dua sahabat Joon, perlahan ia juga mulai masuk kedalam rumah Joon yang super berantakan itu.
Joon terus memanggil-manggil Shaina sembari pergi ke dapur, masuk ke kamarnya bahkan ke kamar anak-anak.
"Sayang! Kamu di mana? Elif nangis terus nih!" Panggil Joon.
Tiga laki-laki di ruang tamu itu semakin heran dengan keadaan Joon sekarang, seakan ia melupakan kejadian naas itu dan berpikir Shaina masih di rumahnya.
"Joon, berhentilah seperti ini, Shaina tidak ada lagi di sini" sela Calvin.
Joon berhenti dan berbalik badan, mendadak ia menatap tajam kearah Calvin, "berhenti di situ!!" Bentak Joon, perlahan ia mendekat pada Calvin.
Harris segera bergeser dari Calvin, terbesit rasa takut melihat Joon seperti itu.
"Jo-joon a-apa yang ingin kau lakukan? Jo-joon to-long ja-jangan mendekat, ingat Tuhan, Joon pikirkan Elif" ringis Calvin.
Permintaan Calvin tidak di dengarkan oleh Joon, ia bahkan semakin mendekat.
"Jo~on ku mohon menjauh lah! jangan buat aku takut!" Pekik Calvin
"Perhatikan kakimu jangan sampai kau menginjak baju istrimu, sebentar lagi dia akan keluar kamar mandi" kata Joon yang mengambil baju di lantai tepat di depan Calvin berdiri.
Joon berjalan menuju dapur setelah meletakkan baju di meja TV, "sayang jangan nangis ya, papa buat susu dulu soalnya Mama lagi mandi" ujar pada Elif.
Harris menghela nafas berat, "ya ampun Joon benar-benar sudah gila, apa yang harus kita lakukan? Jika di biarkan begini terus bisa-bisa dia meracuni anak-anak karena ia tidak bisa membedakan apapun lagi" celetuk Harris.
Mendadak tiga laki-laki itu terdiam dengan saling melempar pandangan dan tiba-tiba ekspresi mereka berubah.
"Elif.... Oh tidak....!"
__ADS_1
"Joon hentikan! Jangan beri apapun untuk Elif....!"
Teriak mereka bertiga yang berlari ke dapur, Darrell segera menepis botol susu dari tangan Joon, Calvin merebut Elif dari Joon bahkan Alice yang sedang makan mie terpaku melihat orang dewasa itu bertingkah aneh.