Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Tali cinta


__ADS_3

Kau yakin akan tidur ditempat itu? apa tidak khawatir jika tiba-tiba Alice mengubah posisi tidurnya?" Ujar Joon pada Shaina yang membaringkan tubuhnya di pinggir ranjang, bersebelahan dengan Alice


"Oh iya! Aku lupa" sahut Shaina, ia bangkit dari tidurnya tapi saat mau berdiri ia kesulitan untuk bangkit karena perutnya yang semakin membesar, "Joon...! Bantuin!" Pinta Shaina yang kesusahan untuk bangkit dari ranjang.


Tanpa membantah dengan sigap Joon segera memegangi serta menuntun Shaina menuju ke kamarnya, tiba di kamar joon, Shaina langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu, tapi baru sesaat punggungnya menempel di spring bed, ia kembali bangkit dan Joon pun Joon kembali membantunya.


"Mau kemana lagi?" Tanya Joon.


"Haus, aku mau minum" sahut Shaina


"Tunggu disini saja, biar aku yang ambilkan" laki-laki itu segera menuju ke dapur.


Tidak seberapa lama Joon kembali dengan membawa sebotol air mineral, dan Shaina yang baru keluar dari kamar mandi langsung meminum air tersebut. Setelahnya Shaina kembali membaringkan tubuhnya tapi baru sebentar punggungnya menyentuh permukaan sprei lembut itu keadaannya memaksa ia untuk bangkit lagi.


Membuat Joon heran dan bertanya, "Mau kemana lagi?".


"Ke kamar mandi" sahut Shaina.


Selang beberapa menit, Shaina keluar dari kamar mandi dan ia melihat Joon masih duduk di ranjang menunggunya dan itu terjadi sampai beberapa kali tentang Shaina yang keluar-masuk kamar mandi membuat Joon heran melihatnya.


"Apa yang terjadi? Ini sudah lebih tiga kalinya kamu bolak balik ke kamar mandi?" tanya jelas Joon lagi yang mencemaskan Shaina.


"Aku cuma pipis doang" sahut Shaina singkat.


"Besok kita ke dokter saja untuk memeriksakannya" saran Joon mengkhawatirkan kesehatannya.


"Tidak usah, katanya sih ini normal terjadi dengan ibu hamil dikarenakan pertumbuhan bayi yang membuat beberapa organ si ibu bergeser dan membuatnya sering pipis" jelas Shaina sembari kembali naik ke ranjang.


Setelah bolak balik kamar mandi, tidur Shaina semakin tidak nyaman, ia merasa suhu tubuhnya menurun, Joon yang melihat menaruh rasa kasihan dan saat ia berbalik badan Joon tak sengaja menyentuh kulit Shaina yang dingin, seketika Joon terperanjat kaget, lalu tanpa permisi Joon memegang pipi Shaina dengan kedua tangannya dan menempelkan telapak tangannya di dahi perempuan itu untuk mengecek suhu tubuhnya


"Kau kedinginan?" Tanya Joon.


"Sedikit, tapi aku baik-baik saja setelah berselimut" kata Shaina.


Joon beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju lemari, dari lemari pakaiannya Joon mengeluarkan sebuah baju berbahan wol yang tebal.


"Pakai ini agar kau hangat" Joon memberikan pakaiannya kepada Shaina.


Shaina yang membutuhkannya segera memakainya dobel di luar pakaian utamanya, setelah mengenakan baju rajut tersebut, Joon belum juga tidur, ia malahan memakaikan kaos kaki tebal pada Shaina.


"Kau harus tetap hangat, jadi jangan sungkan-sungkan mengatakan sesuatu yang kau butuhkan, mengerti?" Tukas Joon.


Shaina mengangguk sambil tersenyum.


"Apa lagi?" Tanya Joon lagi pada Shaina yang kembali bangun dari tidurnya.


Tampak Shaina meringis sambil memegangi belakangnya, "i-ini tali bra ku terlepas" ucapnya yang terbata-bata karena malu.


Joon mengerjap kaget, ia yang paham situasi segera berbalik badan dan menyelubungi dirinya dengan selimutnya yang berbeda yang digunakan Shaina. Merasa situasi aman, Shaina langsung mengaitkan tali bra-nya kembali tapi sayang beberapa kali percobaan tidak berhasil, membuatnya kesal dan tangannya jadi pegal-pegal apalagi ia di kejutkan dengan Joon yang tiba-tiba menyingkap selimut.


"Maaf-maaf aku kira sudah selesai" ujar Joon, mengetahui Shaina masih belum selesai Joon kembali berbalik arah untuk tidak melihat ke arah Shaina meski pikirannya tertuju ke arah tersebut.

__ADS_1


"Udah selesai?" Tanya Joon.


"Belum, ini sudah putus dan tidak bisa di kaitkan lagi" kata Shaina yang memegangi tali bra dan menutupnya dengan selimut.


Joon berbalik badan kearahnya Shaina, "lalu bagaimana?" Tanyanya.


"Ya harus ganti" ucap Shaina yang hendak beranjak dari tempatnya tapi tiba-tiba Joon mencegatnya.


"Biar aku saja yang mengambilnya kamu tunggu disini saja" kata Joon.


"Di laci lemari paling bawah, ambil yang disisi kiri" jelas Shaina pada Joon tentang posisi disimpannya benda berharganya di kamarnya dan anak-anak.


Joon masuk ke kamar dan mencari seperti yang dikatakan Shaina padanya, selain itu ia juga sempat melihat Alice dan Alfan sudah terlelap dengan pulas. Tidak ingin Shaina menunggu lama, Joon menuju ke lemari dan didalamnya benar seperti yang dikatakan Shaina padanya, mengambil di bagian sisi kiri diantara bra yang tertata rapi. Setelah mengambil bra tersebut, Joon kembali ke kamar, dimana membuatnya harus menggigit bibir melihat Shaina yang sudah menanggali bajunya dan hanya menutupi tubuhnya dengan selimut. Joon berusaha keras untuk tetap tenang saat berhadapan dengan Shaina yang bertubuh seksi meski sedang hamil tapi punya karakter yang menggemaskan.


"Kenapa yang ini? Aku meminta di ambilkan di sebelah kiri sedangkan ini bukan" timpal Shaina dengan memelas lalu memberikan kembali pada Joon.


"Semuanya terlihat sama" cetus Joon.


"Itu masih sangat baru dan ada rendanya, enggak nyaman digunakan apalagi talinya juga sangat ketat, cuma bikin sesak aja" kata Shaina.


Joon berbalik dan hendak kembali ke luar kamar, tapi Shaina berkata, "ka...lau mau ba...lik sekalian ambilkan CD nya juga ya" kata Shaina dengan malu-malu.


*CD (****** *****).


Joon kembali dibuat kaget dengan permintaan Shaina yang bertentangan dengan prinsipnya sebagai lelaki sejati, berurusan sampai ke masalah pakaian dalam wanita adalah sesuatu yang dianggapnya sangat memalukan, walaupun terkenal dengan sifat badboy-nya pada para perempuan, Joon tidak sekalipun mau disuruh-suruh untuk mengambilnya kecuali untuk melepaskan dari tempatnya.


Joon mengambil kembali bra yang tergeletak di atas ranjang untuk dikembalikan ke tempatnya dengan ekspresi dingin.


Shaina meringis sambil bergumam tidak jelas setelah Joon menghilang di balik pintu kamar, "aku sudah gila! Urat malu ku benar-benar sudah putus!" Pekik Shaina pada dirinya sendiri.


Shaina juga menutup wajahnya dengan tangannya berharap dapat menyembunyikan rasa malunya seraya berdecak kesal tapi rasa itu tidak mengurangi malunya sedikitpun, dan saat mengetahui Joon kembali dengan terburu-buru ia menyelebungi tubuhnya dengan selimut lagi.


Sekali lagi Joon di buat jantungnya berdegup kencang, sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuhnya dan berakhir di salah satu titik terdalamnya dalam dirinya, ketika tidak sengaja memergoki Shaina yang hanya menutup dadanya saja dengan selimut dimana punggung dan pundak mulusnya terekspos indah, memaksa Joon untuk menelan salivanya saja.


"Aku keluar dulu" kata Joon, memberi ruang pada Shaina untuk berganti pakaian.


Kesempatan yang tidak disia-siakan bagi Shaina yang tidak ingin berlama-lamaan ia segera berganti pakaian di atas ranjang karena ia sangat kerepotan jika harus bangun untuk ke kamar mandi. Diluar kamar, tepatnya di depan pintu kamar Joon sedang beradu argumen dengan dirinya karena Shaina telah menyalakan api birahinya dengan penampilannya yang menggoda. Ditempat tersebut juga Joon tampak mendengus kesal, sesekali ia meringis.


"Hei kawan! Kau jangan bangun dulu, dia kakak iparmu, kakak iparmu!" kata Joon sambil melihat ke arah bawahnya untuk mensugesti pikirannya.


"Sudah boleh masuk!" Teriak Shaina dari dalam kamar.


Joon kembali masuk ke kamar untuk melanjutkan tidurnya, tapi melihat Shaina masih duduk dan menghimpit tangannya di dadanya.


"kenapa lagi?" tanya Joon.


"ini... tolong kaitkan tanganku sulit meraih pengaitnya" ujar Shaina yang meminta tolong Joon untuk mengaitkan tali bra-nya.


Joon kembali dibuat tegang tapi tidak ada pilihan lain selain melakukannya, sambil menelan ludah Joon mendekat pada Shaina, tangannya sedikit bergetar saat Shaina dengan sangat berhati-hati menyingkap bajunya.


Perasaan Joon sudah seperti berada di ujung jurang menghadapi sesuatu yang sulit karena ia ingin sekali memiliki Shaina untuk malam ini dalam buaian cinta yang dapat memanaskan ranjang seperti yang biasa ia lakukan dengan perempuan lain, tapi mengingat tubuh Shaina adalah Helena membuat Joon harus tahu batasannya, apalagi Shaina bukanlah perempuan sembarangan yang bisa asal ceplok sebelum ada ikatan suci diantara mereka.

__ADS_1


"sudah selesai atau tidak, lama sekali" ketus Shaina.


"Aku sedang berusaha, ini sulit sekali" kata Joon.


"itu aja kok sulit?".


"Aku tidak biasa melakukan hal semacam ini, biasanya melepasin!!" dengus Joon.


Mendengar Joon mengatakan itu membuat Shaina kesal sehingga melayangkan pukulan di paha Joon sehingga mengejutkan Joon dan hampir saja ia menarik bra. Melihat punggung mulus dan putih Helena bukanlah sesuatu yang mudah untuk Joon yang merupakan laki-laki normal, hasrat dan nuraninya jadi berselisih hebat. Tapi Joon masih bisa mengendalikan diri dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik setelah itu ia segera menjauh dari Shaina, namun Shaina terlihat kembali hendak beranjak dari tempatnya.


"Mau apa lagi?" Tanya Joon.


"Aku mau meletakkan ini di kamar mandi" kata Shaina yang memegang pakaian dalamnya yang sebelumnya, ia juga agak menutup-nutupi agar tidak tampak oleh Joon.


"Sini! biar aku saja" Joon menadahkan tangan pada Shaina.


"Yang ini tidak boleh!" Sanggah Shaina.


"Kalau begitu letakkan saja di laci itu malam ini, besok kau ambil, karena ini juga sudah malam nanti kenapa-napa lagi denganmu".


Shaina melakukan seperti yang dilakukan Joon, menyimpan pakaiannya di laci dan rencananya besok akan segera ia ambil. Joon kembali berbaring bersebelahan dengan Shaina untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya setelah bekerja seharian penuh bahkan sampai malam hari untuk mengurus Shaina, belum lagi ia sempat memendam emosi karena Shaina yang marah-marah di meja makan. Tapi Joon cukup senang untuk hari ini, menghadapi Shaina yang super sensitif dan perubahan mood dadakan selain itu Joon juga sempat bermain bersama anak-anak.


Joon memiringkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Shaina yang masih terjaga.


"Ngomong-ngomong kenapa kau mengganti ****** ***** mu?" Tanya Joon dengan sangat berhati-hati agar tidak menyinggung Shaina.


Shaina yang diajukan pertanyaan itu sangat kaget karena menurutnya sangat memalukan jika berhubungan dengan pakaian dalam untuk diketahui oleh orang lain.


"Emmm...." Gumam Shaina.


"Bukan maksud apa-apa, aku hanya takut ada masalah dengan kehamilanmu" jelas Joon.


"I-itu karena aku keseringan buang air kecil tadi jadi agak lembab dan tidak nyaman di gunakan lagi" ungkap Shaina.


Joon mengangguk dan ia tidur dengan membelakangi Shaina yang berpura-pura tenang saat menjawab pertanyaan tersebut, padahal ia sangat malu bahkan tidak berani melihat Joon. Shaina kembali dikagetkan saat Joon yang tiba-tiba berbalik badan ke arahnya lagi.


"Jangan berbalik!!" Pekik Shaina dengan mendorong muka Joon.


"Kenapa?".


"Aku tidak bisa tidur jika muka mu didepan ku".


"Apa karena aku tampan?" Goda Joon yang terkekeh-kekeh.


"Issshh....! Sombong sekali kau tukang dengkur!!" Timpal Shaina dengan mendengus padanya.


"Bagaimana kalau kita menikah beneran saja?" Ucap Joon yang tiba-tiba.


"Iiiihhh...!!! Kau ini! Tidur sana jangan ngigau sebelum tidur!!" Shaina menimpuk Joon dengan bantal guling di mukanya, "kalau suka dengan nona Helena jangan bawa-bawa aku dalam hubungan kalian, bisa-bisa aku jadi orang ketiga" gumamnya lagi.


Joon terkekeh melihat Shaina yang cemberut, ia kembali berbalik badan untuk tidur namun ekspresinya langsung berubah menjadi sendu saat tidak lagi terlihat oleh Shaina dan hal yang sama juga terjadi pada Shaina yang berani hanya sebatas melirik punggung lelaki disebelahnya.

__ADS_1


Sebenarnya ucapan Joon tersebut juga sudah lama jadi harapan Shaina, tapi menurutnya yang Joon suka itu bukanlah dirinya dan sangat mustahil dengan sikapnya yang pecicilan. Jikapun menikah, ia hanya jadi wayang yang memerankan peran orang lain, dan itu akan melukainya.


__ADS_2