Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Adik Perempuanku


__ADS_3

Kehadiran Joon lagi di kafe mengejutkan semua orang, khususnya teman-teman kerjanya, karena baru kemarin mereka melihat Joon jelas-jelas di usir oleh bos mereka di depan semua orang.


Harris mengerenyit keningnya dan menghampiri Joon, ia berkata, "Joon? Kau disini?" Tanya Harris untuk mengetahui jawaban dari rasa penasarannya sekaligus mewakili yang lain.


"jika aku pergi maka tidak ada orang lagi yang bisa di marahi bos setiap hari" jawab Joon, ia tersungging melihat pada bos-nya.


Jawabannya sontak membuat yang lain tertawa


"Apa yang terjadi?" Tanya Gia pada mantan bos-nya itu dan sekaligus kekasihnya sekarang.


Harley tersenyum miring lalu ia berbalik badan danmeninggalkan para karyawannya yang sibuk berceloteh dengan Joon yang kembali bekerja.


Saat jam istirahat tiba, Harley mengumpulkan karyawan & ada sebuah pengumuman yang ingin dibicarakan.


Harley berjalan ke karyawannya dan memberikan amplop merah satu persatu.


"Apa ini?" Ucap Harris membolak-balik amplop tersebut.


Harley berbagi senyuman dengan Gia dan semakin membuat yang lain penasaran.


"Waahh? Ini undangan, undangan pernikahan!" Seru salah seorang dari mereka.


Gia mengangguk sambil tersenyum, "besok malam pesta pernikahan kami, kami harap kalian semua bisa hadir" ucap Gia yang berangkulan dengan Harley.


"Waahhh! Banyak makanan gratis dong, aku pasti akan datang" celetuk Harris.


"Gratisan aja yang kau tahu!" Timpal yang lain.


Sontak Harris di teriaki rekan-rekannya bahkan Harley dan Gia ikut terkekeh karena ulah Harris itu.


Mereka kembali bekerja dan tiba-tiba Joon mendapat pesan singkat.


"Hai! lagi ngapain? Hari ini baik-baik saja kan? Jangan marah-marah lagi ya" tulis Shaina.


Joon tersenyum melihat pesan tersebut, jarinya ikut mengetik, "Aku sedang bekerja, dan semuanya masih terkendali itu karena vitamin semalam" balas Joon.


"Iiiihhh! Aku tanya serius" tulis Shaina.


"Aku juga serius" balas Joon.


"Aku tidak mau tanya itu lagi, aku menghubungimu hanya karena ingin memberi tahu jika anak-anak merindukanmu, Elif juga sangat aktif, dia bergerak terus" tulis Shaina.


Joon tersenyum dan kembali berbalas pesan dengan Shaina, meski berada di tempat yang berbeda tapi mereka sama-sama tersenyum-senyum membaca pesan satu sama lain.


"Ku harap malam pesta nanti kau bisa mengajaknya juga, aku penasaran dia orang seperti apa bisa-bisanya membuat pangeran tampan kami ini jadi tersenyum-senyum sendiri begini" celetuk Gia yang tiba-tiba menyenggol lengan Joon yang lagi serius dengan layar ponselnya.


Sedari tadi ia melihat Joon asik berbalas pesan dengan seseorang.


"Benarkah itu Joon? Siapa orang yang beruntung itu?" Sela yang lain.


Sikap yang tidak biasa itu juga di pergoki oleh rekannya yang lain dan mereka pun tidak tinggal diam untuk menggoda Joon, tapi Joon segera meninggalkan mereka sambil tersenyum, ia kembali melakukan tugasnya sebagai barista yang menyeduh kopi untuk pelanggannya.


Ekspresi yang tidak berbeda jauh juga dari Shaina, ia tersenyum-senyum bahkan cekikikan saat berbalas pesan dengan Joon, sesekali ia menciumi atau membelai kedua anaknya yang tidur-tiduran di pangkuannya.


Ketukan pintu mengejutkannya, ia bergegas dari duduknya dan membuka pintu. Seorang perempuan cantik berdiri di depan pintu dengan senyum ramahnya, Shaina tidak mengenal perempuan itu karena sudah beberapa lama ia berada di rumah Joon dan belum pernah melihat perempuan itu.


"Anda-" ucap Shaina.


"Kakak...!" Seru perempuan itu dan langsung memeluk Shaina. "Kakak, aku sangat merindukanmu" ucapnya lalu melepaskan pelukannya dari Shaina, ia mengelus perut Shaina, "waaaahhh...! Adek bayinya udah mau lahir aja" lanjutnya sambil tersenyum lebar pada Shaina dan perutnya.


Kemudian senyuman perempuan itu memudar dan bingung karena Shaina seperti tidak mengenalnya.


"Bibi Hannah...!" Seru si kembar yang berlari dari dalam rumah.

__ADS_1


Dengan sigap perempuan itu segera menangkap dua anak itu dan di peluknya dengan erat, saling melepas rindu.


Shaina berdiri di dekat pintu, ia masih terdiam, mengernyitkan keningnya, keheranan melihat keakraban anak-anaknya dengan perempuan tersebut.


"Mama, ini bibi Hannah" ujar Alfan.


Shaina masih ternganga.


"Kakak, ini Hannah, adik kecil kakak" ucap perempuan itu.


Shaina yang masih bingung mempersilahkan perempuan Hannah itu masuk, dan di ruang tamu Hannah kembali mengaku sebagai adiknya Helena, selama ini ia kuliah di luar negeri dan tidak bisa pulang saat mengetahui Helena mengalami musibah.


"Kakak, Hannah minta maaf ya, Hannah enggak bisa ngurus kakak dan anak-anak" ucapnya memegangi tangan Shaina yang masih dikira sebagai Helena.


"Tidak apa-apa, aku dan anak-anak baik-baik saja disini" sahut Shaina yang bersikap sebagai Helena.


Hannah menatap ke sekeliling dan ia kembali mengarahkan pandangannya pada Shaina, "Joon mana kak?" Tanyanya.


"Joon masih di kafe, tempat ia bekerja, nanti sore baru ia pulang" jawab Shaina.


"Kak" Hannah berbisik, "Joon tidak nyakitin kakak kan?" Tanya Hannah lagi.


"Hah?" Shaina terperanjat kaget, "tidak" kedua alis again menyudut.


"Baguslah, aku baru bisa tenang, karena Joon yang ku kenal dia itu pemarah" ungkap Hannah.


Shaina tersungging menanggapi perkataan gadis itu.


Melihat kakaknya cukup cekatan mengurus anak-anaknya dan bahkan sampai turun langsung ke dapur, Hannah keheranan dengan perubahan sikap kakaknya sekarang.


Joon masuk ke rumahnya, Alfan dan Alice langsung berlarian menyambut Joon pulang.


"Paman...!" Seru si kembar yang melompat-lompat agar di gendong oleh Joon.


Senyum licik mengembang di bibir Joon, sambil mengendap-endap ia berjalan mendekati Shaina dan tidak menunggu lama ia langsung memeluk perempuan itu.


"Aku merindukanmu, rasanya sangat lama kita tidak bertemu" gumam Joon sembari memejamkan matanya


Perempuan itu tersungging.


EHHEM!


Dehem seseorang dari belakang mereka berdua. Joon segera menoleh karena suara itu sangat familiar di telinganya.


"Hah?" Joon mengerjap kaget dan secepatnya melepaskan pelukannya dari perempuan itu yang ternyata bukan Shaina.


Ia sangat kaget saat menemukan sosok yang dipeluknya adalah Hannah.


"Kak Joon?" Hannah cekikikan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, "aku juga kangen sama kak Joon" lanjutnya.


Joon berbagi pandangan dengan Shaina, dan salah tingkah karena ia salah orang, Hannah di dapur ia kira adalah Shaina.


"Eh! I-iya" sahut Joon, "kapan kamu datang?" Tanya Joon mengalihkan pembicaraan mereka.


"Tadi siang Kak, Hannah berencana mau nginap di sini" sambung Hannah.


Joon beradu pandang dengan Shaina, "tapi Helena sekarang amnesia, dia tidak mengingat siapapun" ujar Joon.


"Pantes saja kakak kayak orang lain dan tidak mengenaliku" Hannah menghampiri Shaina yang berdiri di pintu dapur, "tapi tidak apa-apa kak, Hannah akan bantu mengembalikan ingatan kakak dan akan tinggal beberapa hari disini buat bantuin kakak jaga anak-anak" lanjut Hannah.


"Ta-tapi, rumahku kecil dan tidak punya kamar tamu lagi" kilah Joon.


"Aku tidur sama kakak Helena saja" Hannah menoleh pada Shaina, "kakak tidur di mana?" Tanyanya pada Shaina.

__ADS_1


"Eh! I-itu, a-aku tidur di...di ruang tamu" mata Shaina melihat Joon yang kebingungan menghadapi Hannah.


"Kalau gitu aku tidur di ruang tamu juga" sela Hannah.


Joon permisi ke kamarnya namun saat melewati Shaina tangannya sempat menyentuh tangan Shaina.


Shaina kembali menyelesaikan menu makan malam dengan di bantu Hannah, melihat keahlian memasak gadis itu membuatnya iri bagaimana tidak, ia begitu lihai memainkan pisau saat memotong sayuran.


Dalam kamarnya Joon sibuk mencari ide agar Hannah tidak terlalu lama di rumahnya, ia khawatir hubungannyandengan Shaina akan ketahuan sebelum waktunya.


Setelah makan malam, Shaina dan anak-anak duduk bersantai di ruang tamu dan Joon duduk berjauhan dengan Shaina. Hannah yang keluar dari kamar anak-anak langsung duduk di sebelahnya Joon, membuat Joon tidak nyaman karena Shaina terus meniliknya dari tadi.


"Kakak kapan melahirkan?" Tanya Hannah pada Shaina.


"Kira-kira dua atau tiga Minggu lagi" ujar Shaina.


Hannah bangkit dari duduknya lalu mendekat pada Shaina untuk mengelus-elus perutnya.


"Waahh! Alice dan Alfan pasti sangat senang sekali ya bentar lagi punya adik bayi?" Ujar Hannah.


Alfan dan Alice menanggapinya dengan antusias sampai-sampai mereka terus memeluk Shaina. Namun, Shaina hanya tersungging sambil melihat ke arah Joon yang berpura-pura tidak mendengar percakapan itu.


Saat asyik-asyiknya mereka mengobrol Joon bangun dari duduknya dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum, tak lama kemudian Hannah menyusulnya, berpura-pura ia sedang haus juga tapi ia hanya ingin mengobrol dengan Joon, dan sengaja mengundur-ngundur waktu agar ia bisa berduaan dengan Joon.


Obrolan yang diiringi dengan suara tawa itu terdengar sampai ke ruang tamu, timbul rasa cemburu pada Shaina, tapi ia masih enggan untuk menyusul mereka ke dapur, kekesalan Shaina semakin besar saat melihat Joon dan Hannah kembali dengan tawa mereka yang mengembang, akan tetapi masih terlihat tenang.


Menepuk-nepuk, membersihkan matras serta menyediakan bantal dan selimut, Joon lakukan itu semua untuk Shaina gunakan saat tidur di ruang tamu. Ia juga menuntun tangan Shaina membantunya berbaring. Anak-anak juga sudah terlelap di kamar mereka setelah Shaina bacakan cerita untuk mereka.


"Jika ada apa-apa panggil aja aku" ujar Joon pada Shaina.


Shaina tersenyum simpul sembari melirik-lirik Hannah yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik ia dan Joon. Karena kode Shaina, Joon menjauh dari Shaina, ia jadi salah tingkah dengan menggaruk-garuk tengkuknya.


"Aku tidur dulu, jika kalian butuh apa-apa panggil aku" ujar Joon pada Hannah.


"Terima kasih kak Joon" sahut Hannah.


Hannah tidak mengalihkan pandangannya meski Joon sudah menghilang dibalik pintu kamar, ia menangkap ada yang berbeda dengan sikap Joon terhadap kakak Helena nya, karena Joon dulu selalu merasa terganggu jika seruangan dengan Helena. Tapi sekarang malah sebaliknya dan itu membuatnya kurang nyaman, apalagi kakaknya yang sekarang sudah janda.


Belum sepuluh menit berlalu sejak Shaina dan Hannah merebahkan diri ketempat tidur masing-masing, Hannah di sofa dan Shaina di atas matras, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Shaina.


Pesan singkat itu berasal dari kamar sebelah dengan berisikan, "letakkan bantal di bawah perutmu"


Shaina mendongakkan kepalanya untuk melihat ke pintu kamar Joon yang tertutup rapat, lalu ia membalas pesan itu, "kau dimana? Apa kau sedang melihat ku?" Tulis Shaina.


"Tidak perlu harus berada bersamamu juga kan jika aku mengetahui apa yang kau lakukan?" Balas Joon.


"Maksudmu?" Tulis Shaina.


"Hampir setiap malam kita bersama, jadi aku sudah hafal betul tentang kebiasaan pelupa mu itu, sekarang tidurlah jangan bergadang, aku tidak mau Mama kesayanganku sampai sakit" balas Joon.


Shaina cekikikan membaca pesan Joon itu, sampai-sampai menarik perhatian Hannah, "baiklah selamat malam" tulis Shaina.


"Ok, mimpi yang indah sayang" tambah Joon.


Hampir saja Shaina tertawa terbahak-bahak membaca pesan Joon yang memanggilnya dengan panggilan sayang, tapi ia cepat sadar bahwa sekarang dirinya tidak sendirian, jadi ia segera menutup ponselnya menyimpannya di sebelah tidurnya, menarik selimutnya untuk menyelimuti dirinya serta tidak lupa meletakkan bantal di bawah badannya seperti yang diingatkan Joon sebelumnya.


"Siapa itu kak?" Tanya Hannah.


Shaina yang kaget mendengar itu segera mencari alasan untuk dikatakan pada Hannah.


"I-itu, teman lamaku mengirimkan pesan lucu jadi aku tertawa membacanya" kilah Shaina.


"Oh gitu" sahut Hannah.

__ADS_1


Ketika Shaina bersiap memejamkan matanya untuk memulai tidurnya, Hannah malah berceloteh mengenai Joon, yang keseluruhannya tentang kekagumannya pada sosok lelaki itu dan itu semakin mengganggu perasaan Shaina.


__ADS_2