
Tinggal dengan Joon, paman yang berjanji akan menjaga mereka seperti wasiat kakaknya tak juga mampu mengembalikan senyuman anak-anak itu, karena meski Joon berjanji menjaga mereka tapi ia tidak menunjukkan belas kasihnya dan tepatnya ia hanya memberi tumpangan di rumahnya untuk mereka. Di tambah lagi keadaan Helena yang tidak mengenal mereka terkadang ia juga tidak menanggapi panggilan mereka saat memanggilnya Mama itu semakin membuat mereka sedih.
Di meja makan Shaina sibuk menyajikan menu makan malam bersama anak-anak sambil menunggu Joon keluar dari kamar, hatinya terasa lebih sensitif bahkan ia ingin sekali menangis karena Joon mengabaikan permintaannya untuk di belikan buah-buahan yang diinginkannya.
"Mama, ayo kita makan" Alice yang duduk di bangkunya dengan peralatan makan di depannya dan beberapa makanan juga sudah tersaji hasil racikan Shaina dengan bahan-bahan yang tersedia di kulkas.
"Tunggu sebentar ya, kita tunggu paman kalian dulu" sanggah Shaina.
Dari kejauhan terlihat Joon keluar dari kamarnya menghampiri mereka, rambutnya masih basah yang menandakan ia baru selesai mandi.
"Bagaimana mual mu?" tanya Joon yang berdiri di depan meja dengan mata tertuju pada Shaina.
"Sudah tidak lagi sejak tadi siang" sahut Shaina.
Joon menarik kursi untuk di duduknya yang berhadapan dengan Shaina dan perempuan itu pun seakan ada sesuatu yang mendorongnya untuk melayaninya dulu, seperti suasana makan malam yang diperlihatkan di film-film.
"Kalian mau yang mana?" Tanya Shaina pada anak-anak sambil mengarahkan pandangannya pada hidangan di atas meja.
"Itu Ma" sahut Alice dan diikuti Alfan.
Shaina memanjang tubuhnya untuk meraih makanan yang diinginkan anak-anak Helena, sedangkan Joon sesekali ia melirik sikap Shaina yang melayaninya dan anak-anak, pemandangan yang sudah lama ia lupakan dan sekarang mengingatkannya pada sosok ibunya yang selalu melayani ayahnya juga mengurusnya dan kakaknya saat mereka masih kecil dulu.
Perlahan Shaina mengarahkan pandangannya pada Joon dan memberanikan diri bertanya "Pak, anda lupa ya membeli buah yang aku katakan tadi pagi?" jantungnya berdegup kencang hanya untuk bertanya pada Joon.
"Iya" jawab joon.
Seketika terasa sesak dan juga seakan ada sesuatu yang menusuk kedalam jantungnya, mendengar jawaban Joon yang singkat itu, bukan atas keinginannya juga air matanya mengalir begitu saja meski ia berusaha keras untuk tidak sampai menangis.
Joon melihat Shaina menyeka air matanya dan membuatnya heran dengan sikap Shaina. "Kenapa kamu?" Tanya Joon.
Secepatnya Shaina menghapus air matanya sebelum anak-anak melihatnya "tidak ada apa-apa" Shaina meminum air sampai tidak tersisa di dalam gelasnya, "aku sudah kenyang, kalian lanjutkan saja makannya" kata Shaina, lalu ia beranjak pergi meninggalkan meja makan.
Usai semuanya sudah menyelesaikan makan malam, Shaina kembali lagi ke ruang makan untuk membereskan peralatan makan, namun ia tidak lupa menyuruh anak-anak untuk mengajarkan pr mereka, meski bukan ibu mereka Shaina tidak punya pilihan lain selain menerima keadaannya sekarang menjadi orang lain di dalam tubuh orang lain, mulai membiasakan diri dengan panggilan Mama dan kondisi tubuhnya yang hamil dimana mengalami kesulitan saat ia beraktivitas, gejala kehamilan juga agak merepotkannya, sering buang air kecil, sulit tidur, sering gerah walau ia sedang berada di ruang ber-AC, terkadang ia juga merasa begah seperti orang masuk angin. Tapi, hal itu tidak membuatnya panik berkat sifatnya yang suka membaca sehingga ia mengerti sedikit tentang kehamilan, bahkan ia merasa sedang ngidam tentang keinginannya untuk makan buah mangga muda tapi ia tidak berani memberitahu Joon akan hal itu.
Selesai mengerjakan pekerjaannya, ia bergegas pergi tidur agar bisa melupakan keinginan makan buah mangga, dan ia merasa kesal melihat Joon di ruang tamu yang asyik bermain game online.
"Dibelakang! dibelakang! Tembak! Tembak! Ok bro!" Pekik Joon yang asyik bermain game.
__ADS_1
Suara Joon seperti orang berteriak belum lagi volume ponselnya juga cukup keras hingga terdengar sampai ke kamar dan itu mengganggu anak-anak yang sedang belajar.
Shaina melihat dua anak itu tampak sedih dan cemas, "Jangan hiraukan itu kalian fokus saja belajar" ucap Shaina.
"Tidak bisa Ma..." sahut Alfan. Alice juga ikut mengangguk kepalanya.
"Kenapa tidak bisa? Anggap saja kalian ini sedang ujian di hutan lalu ada makhluk yang ingin menggagalkan kemenangan kalian dengan mengaum untuk menakuti siapa saja, jadi apa kalian ingin gagal?" celetuk Shaina.
"Enggak mau" sahut Alice
"Kalau begitu kalian harus mengalahkan makhluk itu dengan mengabaikan suaranya dan tetap berkonsentrasi dalam ujian kalian kan?"
"Iya Ma, Mama benar" sahut Alice.
Alice dan Alfan kembali membuka buku pelajaran mereka dan tidak peduli dengan teriakan Joon yang menggema di seluruh ruangan. Shaina yang duduk di atas ranjang beranjak keluar, ia ingin menikmati angin malam karena ia merasa bosan di kamar saja dan ia juga tidak bisa langsung tidur karena anak-anak masih belajar sedangkan ia sendiri tidak mengerti pelajaran anak-anak itu yang termasuk sulit, karena nilai pelajaran fisika Shaina dulu agak rendah, dan keinginannya untuk makan buah mangga juga belum kesampaian yang membuatnya hanya bisa menelan salivanya berulang kali.
"Mau kemana?" tanya Joon saat Shaina melewati ruang tamu.
Shaina menghentikan langkahnya sambil mengatakan "Duduk di luar". Langkah kakinya kembali terhayun.
"Di luar dingin kau harus menjaga kesehatanmu" ujar Joon lagi.
Dengan langkah yang teratur Shaina menapaki jalan kecil itu untuk duduk di bangku sambil menikmati rembulan malam, memikirkan keajaiban apa yang dialaminya yang masuk ke tubuh orang lain, ia khawatir jika dirinya benar-benar hantu, itu berarti ia sudah mati. Air matanya mengalir perlahan tapi kian detiknya air matanya semakin deras bahkan ia tersedu-sedu dengan meringkuk tubuhnya agar tidak ada yang mendengar tangisan yang tidak bisa ia tahan itu.
"Kenapa kau menangis?" tanya Joon yang tiba-tiba muncul sambil menyelimutinya dengan kain tebal.
Shaina mendongakkan kepalanya melihat Joon dibawah sinar rembulan, laki-laki tertampan yang pernah Shaina lihat, seketika hatinya bergetar hebat seakan ada sesuatu yang ikut mengikat jantungnya.
"Tidak ada, hiks..! hiks...!" jawab Shaina dengan tangisan yang tidak tertahan.
Joon menoleh ke kiri dan ke kanan, tangannya menggaruk pelipisnya lalu ikut duduk di sebelah Shaina, "Aku tahu kau pasti sangat merindukan kakak, tapi jangan duduk di luar malam-malam, pikirkan bayi kalian juga" suara Joon lembut tidak seperti biasanya.
"Tahu apa? Kau tidak tahu apapun bahkan menganggapku gila" gumam Shaina yang kembali meringkuk.
"Maaf, jika itu membuatmu marah, aku janji tidak akan mengatakan itu lagi asalkan kau harus bangkit kembali dan menjadi Helena yang dulu" kata Joon.
Shaina memperbaiki duduknya dan menoleh pada Joon tapi ia segera memalingkan wajahnya dari Joon karena itu membuatnya gugup melihat Joon sedang menatapnya.
__ADS_1
"Helena yang dulu? Aku bahkan bukan Helena bagaimana bisa aku menjadi dirinya, aku sendiri tidak tahu aku ini masih hidup atau tidak" sahut Shaina.
"Berhentilah berbicara seperti itu jika kau mau dianggap normal"
"Hiks..! Hiks...! Terserah bapak saja, aku tidak peduli aku ini normal atau tidak tapi aku ini benar-benar Shaina bukan Helena yang bapak bicara" ujar Shaina.
Joon tersungging membuat Shaina semakin kesal.
"Bagaimana cara supaya Anda yang percaya padaku? Aku Shaina umurku 25 tahun, beberapa hari yang lalu aku sedang berbelanja bersama teman-temanku di kota asalku lalu tiba-tiba kabel listrik terputus dan mengenaiku setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi, seminggu kemudian aku terbangun dan sudah seperti ini, mustahil memang tapi inilah yang terjadi" jelas Shaina dengan menatap Joon berharap ia mempercayai perkataannya.
"Ayo masuk ini sudah malam, kau harus istirahat" kata Joon.
"Bodoh" ucap Shaina.
Joon mengerjap, "Apa maksudmu?".
"Bodohnya aku, karena berharap di percayai dengan menceritakan itu! tinggalkan aku! aku ingin menangis setidaknya aku bisa melepaskan sedikit beban yang kurasakan" kata Shaina.
"Ayo masuk" ajar Joon.
"Apa pedulimu? Kau bahkan tidak membawakan ku mangga yang ku minta!" timpal Shaina.
Joon tersentak, "Mangga? kau masih menginginkannya?" tanya Joon.
Shaina mengangguk sambil memanyunkan bibirnya bahkan ia tampak menelan salivanya saat Joon mengatakan mangga.
"Aku tidak mau pergi mencarinya" sahut Joon.
Shaina menadahkan tangan pada Joon sambil mengatakan, "Berikan aku uang karena aku tidak punya uang, aku ingin mencarinya sendiri".
Joon berdecak namun ia mengambil dompetnya dan memberikan beberapa kertas uang pada Shaina. Bibir kerucut Shaina tertarik hingga menciptakan senyuman manis dan mengatakan, "Terima kasih".
Joon terdiam melihat Shaina pergi. Shaina bersyukur memakai kardigan dan celana panjang juga memiliki kain untuk menutupi kepalanya, jadi ia tidak repot memikirkan penampilannya. Lima belas menit berselang Shaina baru sadar, ia tidak tahu daerah itu jalanan juga tampak sepi meski di kedua sisi jalan banyak rumah-rumah, tapi ia tidak bisa di pungkiri bahwa ia takut sendirian.
"Helena...! Helena...!"
Tiba-tiba terdengar suara misterius memanggil nama Helena yang dituju padanya, Shaina mempercepat langkahnya karena suara itu berasal dari belakangnya. Tapi dengan mempercepat langkahnya membuatnya lelah dan sulit bernafas apalagi ia juga merasa sakit di perutnya.
__ADS_1
Shaina mendekap erat tubuhnya, "Maaf Helena... Jangan ta~ku~ti a~ku..., Bu~kan keinginanku ma~suk ke tu~buh~mu..." gerutu Shaina yang terus berjalan tanpa menoleh ke belakang karena banyak yang mengatakan pamali menoleh ke belakang jika berjalan sendirian apalagi malam hari.