
"Kebetulan kau ada disini, tolong temani aku belanja" kata Marissa, mengalihkan perhatian Joon dari Shaina dan anak-anak.
"Aku tidak bisa" sahut Joon.
"Tenang saja, aku tidak minta dibayarin, kamu cuma temaniku aku saja"
"Bukan begitu maksudku" kilah Joon, seketika ekspresi Joon berubah, dibalik senyuman tipisnya tersirat ketidaksukaannya atas ucapan Marissa.
"Lalu?" Tambah Marissa.
Marissa sibuk melihat-lihat tas yang terpajang, kemudian ia terdiam memperhatikan Joon yang termenung seraya melayangkan pandangannya kearah Shaina yang tersungging bersama anak-anak dengan pembicaraan mereka.
"Yang merah atau tosca?" Tanya Marissa dengan mengambil dua tas berbeda warna.
"Joon!" Seru Marissa mengejutkan Joon dari termenung.
"Hah?!" Joon terkejut kaget dengan seruan Marissa.
Perempuan itu terlihat emosi sehingga nada suaranya meninggi, "Joon! Bagus yang mana? Merah atau tosca?" Lanjut Marissa.
"Ooh itu? Eemm... Yang biru lebih cocok denganmu" kata Joon seraya memasang senyuman mautnya.
Marissa melototi Joon dengan tajam seakan sedang melihat mangsanya seraya berkata, "ini tosca bukan biru!" Sergahnya.
Joon mengerenyit saat memperhatikan tas tersebut sambil bergumam, "benarkah? Tapi ini terlihat biru".
Marissa telah memilih dua tas berbeda dengan harga di atas puluhan ribu dollar dan meminta Joon membawanya ke kasir. Sedangkan Marissa sendiri masih sibuk melihat-lihat yang lain, kebiasaan Marissa itu sudah biasa bagi Joon.
Karyawan yang bertugas di meja pembayaran meminta kartu kredit Joon untuk membayar tas kekasihnya tersebut.
Joon melirik ke Shaina yang masih setia duduk diam menunggunya, lalu ia kembali melihat ke kasir tersebut seraya berkata, "dia bayar sendiri".
Dua pegawai yang bertugas di meja kasir tersebut tampak terkekeh mendengarnya, dan itu Joon merasa dirinya benar-benar sangat rendah, meski ia tidak memperlihatkannya.
"Terimakasih udah bawain, aku bayar sendiri karena uangmu pasti tidak cukup" ujar Marissa yang datang ke meja kasir.
Dua pegawai sebelumnya kembali tersungging sambil melirik sinis pada Joon yang semakin merasa harga dirinya telah dijatuhkan, tapi baginya itu bukan sesuatu yang salah karena direndahkan oleh semua orang sudah biasa termasuk dari perempuan yang dicintainya, yang dikarenakan status sosialnya yang bukan orang kaya. Joon meninggalkan meja kasir tapi Marissa memanggilnya kembali.
"Joon! Mau kemana?" Tanya Marissa.
"Pulang" sahut Joon singkat.
__ADS_1
Lelaki berparas tampan itu keluar dari toko tersebut dan berjalan ke arah Shaina dan anak-anak yang sejak tadi menunggunya. Dibelakangnya Marissa yang menentang belanjaannya mengejar Joon, klotak-klotik suara sepatunya Marissa yang tertekan di lantai bergema seiring langkahnya yang mengejar Joon.
"Joon, kenapa kamu ninggalin aku begitu saja?" Marissa menarik lengan Joon.
"Aku tidak ninggalin kamu, aku hanya ingin pulang, kasian Helena dan anak-anak mereka kelelahan" sahut Joon.
"Tapi Joon, aku ini pacarmu! Seharusnya kau lebih perhatian padaku daripada yang lain" cetus Marissa.
"Aku tidak mengabaikan mu, tapi Helena sedang hamil, Alice dan Alfan juga masih kecil berada di luar malam-malam begini bukan hal bagus untuk kesehatan mereka" tambah Joon.
Ia melepaskan tangan Marissa dari lengannya dan melanjutkan langkahnya menuju pada Shaina. Dan Shaina kaget melihat Joon muncul secara tiba-tiba dan mengajaknya pergi.
"Ada yang ingin kau beli lagi atau ingin kemana lagi?" Tanya Joon pada Shaina.
"A-aku tidak mau apa-apa lagi, kakiku terasa pegal-pegal sekali" sahut Shaina.
"Kalian? Mau main apa?" Joon juga bertanya pada kedua keponakan kembarnya itu.
"Alice juga tidak mau apa-apa lagi, Alice ngantuk dan ingin pulang" ucap Alice.
"Aku juga sama" tambah Alfan.
"Aku pulang dulu" kata Joon pada Marissa.
Tidak ada komentar dari Marissa selain decak kesal saat mereka melaluinya begitu saja.
Walaupun sebenarnya Shaina masih ingin jalan-jalan dan menikmati suasana malam di kota Wina atau nama lainnya Vienna yang dijuluki kota budaya, karena Shaina tidak tahu kapan lagi ia bisa berada diluar negeri secara gratis seperti itu. Tapi, melihat sikap Marissa membuatnya harus mengurungkan niatnya, dilihat dari segi apapun Marissa tampak sangat jelas, ia mulai tidak suka dengan keberadaannya di dekat Joon. Jadi mau tidak mau Shaina mengatakan ingin pulang saja pada Joon dengan alasan ia lelah.
Shaina hanya berani melirik lelaki bermata tajam itu yang sedang fokus mengemudi mobil, kata-kata Joon yang menyebutnya sebagai istrinya tadi pada karyawan toko tersebut masih berdenging di kepalanya, rasanya Shaina ingin berteriak dan mengatakan ia sangat senang tapi Shaina kembali memelas dan logikanya kembali mengambil alih pikirannya, dengan berasumsi Joon hanya bicara biasa saja tanpa bermaksud apapun.
Mobil Joon menjauh dari pusat perbelanjaan tersebut meninggal Marissa yang berdiri menatap mobil Joon yang mulai menghilang dari pandangan, dengus nafasnya dihela keras dengan tangan mengepal kuat, meremas tali paper bag yang berisi tas puluhan ribu dollar tersebut.
"Kak, kenapa kita bersembunyi begini?" Tanya salah satu pemuda yang bersama perempuan berkerudung tadi, yang bernama Jamal.
"Aku hanya ingin melihat mereka" sahut perempuan berjilbab tersebut sambil mengarahkan pandangannya pada mobil Joon.
"Apa kakak mengenal mereka, atau ngefans nih? Jika iya kenapa tidak minta foto bareng aja tadi?" Celetuk pemuda lainnya yang dipanggil Adnan.
Perempuan itu tersenyum tipis tanpa menjawab pertanyaan kedua adiknya, kemudian berkata," ayo kita pergi" ajaknya.
Mereka bertiga pergi dari tempat itu, melewati Marissa yang masih berdiri, tanpa disadari, tampak jelas perempuan berkerudung itu sempat melirik ke Marissa dengan makna sulit untuk dijelaskan.
__ADS_1
"Mama? Akhirnya aku bisa tenang membiarkan mu bersama mereka, mulai sekarang aku pun akan menggantikan dirimu untuk menjaga apa yang ingin kau jaga" batin perempuan berkerudung itu, secercah senyuman manis merekah dari bibirnya seiring langkahnya yang di ayunkan bersama dua pemuda itu dalam keramaian kota.
Didalam mobil, Shaina duduk memangku kepalanya, memikirkan tentang perempuan berkerudung tadi dan dua pemuda itu, timbul rasa penasarannya bagaimana bisa mereka bertemu di tempat ini, di Wina, kota besar diantara hamparan benua-benua Eropa, yang pasti tidak sedikit akan menghabiskan uang untuk sampai di Wina alias Vienna. Jaraknya juga tidak seperti berkunjung ke kampung tetangga, jika diingat-ingat Shaina tidak punya tabungan sebanyak itu untuk dapat berjalan-jalan ke luar negeri bahkan terkadang ia memperhitungkan dulu pengeluarannya hanya untuk sebuah ayam KFC kw-an.
Jikapun menjual tanah warisan, itupun tidak cukup untuk keluar negeri karena keluarganya pasti akan mencoret namanya dari Kartu keluarga. Tapi melihat perempuan tadi dan dua pemuda membuatnya semakin bingung bagaimana bisa mereka ada di Wina.
"Ya Allah apa yang sedang terjadi?" Gumam Shaina yang meringis, "jika dia disini... berarti aku masih hidup" sambungnya, "waaauu! Aku masih hidup" lanjut Shaina berseru kesenangan hingga ia tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar.
"Ada apa" tanya Joon yang melirik Shaina bersikap aneh.
Shaina tersungging, "menurutmu orang tadi bagaimana?" Balas tanya Shaina.
"Siapa?"
"Yang tadi... Perempuan berkerudung yang bersama dua pemuda tadi..." Ujar Shaina.
Joon mendengus sambil melirik sinis pada Shaina, "jadi dari tadi kamu memikirkan mereka? Pantas saja senyum-senyum sendiri!!!" Sembur Joon.
"Kenapa denganmu? Kenapa kau marah? Terserah aku mau pikir apa" celetuk Shaina.
"Kau ini sedang hamil jangan memikirkan laki-laki lain!!".
"Bicara apa kau ini? Aku cuma tanya tentang perempuan itu"
"Perempuan? Tapi jelas sekali kau itu tadi diam-diam memperhatikan laki-laki itu!!" Timpal Joon.
"Ya udah kalo enggak mau jawab tapi jangan sewot gitu kali" Shaina menyilangkan tangannya dan membuang muka dari Joon.
Suasana menjadi hening seketika, Alice dan Alfan yang melihatnya jadi bingung dan karena suasana yang hening itu membuat mereka tertidur di jok mobil.
Sampai di rumah, setelah memarkirkan mobilnya, Joon membangunkan mereka dari tidurnya tapi Alfan sulit sekali dibangunkan, jadi Joon menggendongnya ke kamar. Setelah mencuci muka dan shalat isya yang sempat tertunda, Shaina naik ke ranjang untuk tidur di sebelah anak-anak tapi tiba-tiba Alice bertanya, "Mama Shaina tidak tidur dengan paman?".
Shaina langsung terpaku mendengar pertanyaan Alice, membuatnya terdiam sekaligus merasa malu sendiri tentang ia yang tidur dengan Joon meski tidak ada ikatan suci diantara mereka.
"Tidak, mama Shaina mau tidur dengan kalian, boleh?" Tanya Shaina yang duduk di ranjang.
"Tapi ma, kasian paman tidak ada yang temani" tambah Alice.
Shaina mencium lembut kening Alice dan berkata, "sayang, ini udah malam, kita tidur yuk", katanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka dan Alice tidak bertanya-tanya lagi.
Alice pun menuruti perkataan Shaina untuk tidur dan tidak banyak bicara lagi, hati Shaina jadi kelabu, tentang perempuan berkerudung tadi masih menggenang di pikirannya dan cemas jika ia tidak bisa kembali ke tubuh aslinya tapi ia juga takut jika berpisah dengan Alice dan Alfan.
__ADS_1