Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Maafkan aku ibu


__ADS_3

Jam kerja selesai, Joon bergegas pulang setelah berpamitan pada atasannya, ia juga tidak sempat membalas Harris yang sejak tadi terus menggodanya tentang pertemuannya dengan Marissa.


"Joon, hati-hati pulangnya agar sukses malam ini" seru Harris lagi sebelum Joon melajukan mobilnya, sedangkan Joon hanya tersenyum tipis pada temannya tersebut.


Dalam perjalanan pulang Joon, memberhentikan mobilnya di salah satu supermarket untuk membeli keperluan rumahnya mengingat kemarin Shaina sudah menghabiskan bahan makanan di rumah. Tidak seberapa lama setelah mendapatkan apa yang di butuhnya Joon kembali melajukan mobilnya dan berhenti di depan rumah.


Meski Shaina tidak lagi marah-marah tapi ia masih terlihat malu-malu pada Joon, bahkan ia sering membuang muka dari Joon. Setelah makan bersama, dan urusan dapur sudah selesai, Shaina menghabiskan waktunya bersama anak-anak di ruang tamu sambil menonton TV, tapi ia heran melihat Joon yang belum keluar kamar setelah makan tadi.


"Aku pergi dulu sebentar ya?" Kata Joon yang tiba-tiba keluar dari kamar.


Shaina tampak terkesima dengan penampilan Joon yang jauh dari biasanya. Ia tampak begitu rapi dan wangi, Shaina merasa ada yang aneh dengan Joon karena tidak biasanya dia keluar malam.


"Waaaahhh! Paman keren banget! Pake baju itu mirip seperti papa dulu" seru Alfan.


"Terima kasih sayang" balas Joon.


"Ada acara apa? kau tampak rapi sekali?" tanya Shaina pada Joon yang bersetelan jas formal, menampilkan penampilan tegas dan berwibawa yang semakin mempertegas ketampanannya.


"Aku ada pertemuan dengan Marissa" kata Joon.


"Oh" sahut Shaina langsung ekspresinya menjadi dingin.


"Sepertinya aku agak pulang terlambat" kata Joon sembari melihat jam tangannya.


"Emm.." sahut Shaina, "hati-hati" lanjutnya.


Joon mengangguk tiba-tiba ponsel Joon berdering, Joon segera mengangkatnya di depan Shaina. Pembicaraan Joon dengan seseorang di seberang sana tidak terdengar jelas dan Shaina pun tidak begitu peduli dengan orang tersebut.


"Ok, aku menemui mu di hotel green Angelica" kata Joon pada teman obrolnya yang seketika mengagetkan Shaina.


Shaina kembali duduk di sofa, mendadak ia jadi lebih banyak diam dan hanya tersenyum kecut pada Joon saat berpamitan. Tapi perasaan Shaina sedang di serang kekesalan dan kekhawatiran, jantungnya terasa sakit seperti di tusuk sembilu mengetahui Joon pergi ke hotel yang tentunya bersama kekasihnya, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa ataupun mencegahnya. Untuk meredakan dadanya yang terasa panas tanpa alasan itu Shaina pergi ke dapur untuk meneguk air dingin. Meskipun begitu rasa panas itu tidak hilang juga bahkan saat mendengar suara mesin mobil yang keluar dari halaman rumah hati Shaina semakin terluka.

__ADS_1


Tiga jam sudah berlalu setelah kepergian Joon, dan ia juga belum pulang meski malam semakin larut, anak-anak juga sudah di suruh tidur. Shaina semakin di serang kekesalan, dan kekhawatiran, membayangkan hal aneh-aneh yang kemungkinan dilakukan Joon dan Marissa saat mereka bersama seperti halnya kian hari ketika mereka kepergok sedang bermesraan.


Shaina menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, membuka ponselnya, berselancar disosial media milik Helena yang kebetulan menggunakan sidik jari untuk membukanya, sekaligus sebagai rasa penghiburnya disaat hatinya sedang kacau. Tapi pertemanan media sosial Helena kebanyakan orang-orang pintar dan terkenal dan tentunya tidak satupun tidak di kenali Shaina, walaupun begitu Shaina tidak mengurangi rasa ingin tahu Shaina tentang kehidupan Helena yang menurutnya luar biasa. Selain cantik ia juga pintar dan cerdas dan tak banyak orang seperti itu.


Namun disaat Shaina asyik berselancar di dunia maya, ia dikejutkan dengan penampakan seseorang di salah satu foto orang kenalan Helena, seseorang itu yaitu Joon yang tidak sengaja tertangkap kamera sedang bersama Marissa yang berpakaian seksi di salah satu restoran mewah. Shaina yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya maka me-zoom-kan foto tersebut dan kenyataan pahit itu semakin terlihat jelas bahwa itu adalah Joon yang sedang makan malam bersama Marissa, mereka tampak sangat serasi dan mesra. Shaina memberanikan diri menekan digit nomor kontak Joon setelah cukup lama bergulat dengan hatinya menahan egonya.


"Maaf nomor yang Anda hubungi sedang di luar jangkauan" kata operator seluler yang terus berulang-ulang hingga beberapa kali.


Shaina yang semakin kesal langsung mematikan ponselnya dan melemparnya ke meja.


"Ya ampun! Ini ponsel orang, hampir saja aku merusaknya" dengan cepat Shaina mengambil kembali ponsel tersebut untuk diperiksanya setelah ia lempar.


Khawatir akan merusak ponsel Helena. Setelah memeriksanya dengan teliti, Shaina sangat bersyukur ponsel tersebut tidak rusak maupun lecet, kali ini ia meletakkannya dengan hati-hati agar mengulang kesalahannya.


Dalam kesendiriannya Shaina berharap Joon segera pulang, apalagi kakinya tiba-tiba terasa kaku dan pegal-pegal, beberapa kali ia mencoba memijatnya tapi rasa itu tidak hilang juga dan semakin menyulitkan Shaina tidur, belum lagi tulang pinggulnya terasa sangat sakit saat duduk ataupun tidur.


Shaina berusaha menahannya karena tidak ada orang tempat ia berbagi rasanya, menghubungi Joon juga tidak bisa dan tidak orang lain yang ia kenal untuk meminta bantuan, ia juga tidak bisa mengatakan pada anak-anak yang akan mengganggu tidur mereka, mau tidak mau Shaina menahannya sendiri rasa sakit itu. Jam di layar ponselnya sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tanda-tanda suara mobil Joon belum terdengar, memaksa Shaina merintih kesakitan seorang diri dan berusaha tenang.


Dulu ia pernah mendengar tentang seorang ibu hamil yang kesulitan duduk maupun tidur di usia kandungan sudah tua, dan Shaina tidak menyangka rasa sakit itu seperti itu.


Pelan-pelan ia berganti posisi tidurnya mencari posisi ternyaman karena untuk berjalan ke kamar sudah tidak sanggup lagi ia berjalan. Tangannya tidak jauh dari memegang perutnya, sembari menggigit bibir bawahnya menahan air matanya disaat rasa sakit itu tidak kunjung hilang.


"Ya Allah... Aku ikhlas menahan rasa sakit ini dan apa yang terjadi padaku, aku telah berbuat banyak kesalahan pada ibuku... Aku minta maaf..." Lirihnya.


"Mak, ini sakit sekali... Mak, aku merindukan mu..." Tangisnya pecah dalam keheningan malam.


Di salah satu kamar berukuran besar dan luas, yang di hiasi dengan berbagai barang-barang mewah, ranjang berukuran king size dengan sprei super tebal dan lembut, disisi dinding terdapat lemari besar, serta berbagai benda mewah dan berkelas lainnya. Namun terdapat Joon tanpa mengenakan baju tertidur pulas di bawah cahaya lampu tidur.


Tidur tenang Joon tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk, ia terus mengigau tidak jelas, menggerak-gerakkan kepalanya dari kanan ke kiri dan itu berulang kali.


"Shaina!" Joon tersentak dari tidurnya hingga terduduk.

__ADS_1


"Sial! Aku mimpi buruk" dengus Joon yang terbangun dari tidurnya.


Ia segera meraih ponselnya di meja dekat tempat tidurnya dan melihat ponselnya lowbat dan buruknya Joon tidak punya charger untuk mengecas-nya.


"Ini hanya mimpi, Shaina pasti sudah tidur" ucap Joon.


Joon meletak kembali ponselnya di meja dan kembali merebahkan tubuhnya dalam empuknya matras yang menjadi tempat tidurnya sekarang, meski pikirannya tertuju pada Shaina yang lupa ia beri tahu tidak pulang malam ini. Beberapa kali Joon mencoba memejamkan matanya tapi itu jadi sangat sulit ia lakukan, berbalik badan ke berbagai arah tidak juga bisa membuatnya tenang.


****


Pagi-pagi sekali mesin mobil masuk pekarangan rumah, dan Joon muncul di balik pintu masuk, baru selangkah kakinya berpijak di dalam rumah, ia sudah dikejutkan dengan Shaina yang tertidur sofa ruang tamu. Selangkah demi selangkah Joon mendekat, muncul rasa kasihan melihat Shaina yang masih pulas dalam tidurnya dan hanya berselimutkan sehelai kain.


Dengan sangat hati-hati Joon menggendong Shaina ke kamarnya untuk menidurkannya di tempat yang lebih nyaman. Namun, sebelum tubuh Shaina menyentuh ranjang ia sudah terbangun dan sangat terkejut melihat Joon pulang dan sedang digendongnya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shaina yang meronta dalam gendongan Joon.


"Naik gunung, ya tentu menggendong mu" sahut Joon.


"Lepaskan aku!" Pekik Shaina.


"Jangan bergerak kau bisa terjatuh" kata Joon yang meletakkan tubuh Shaina keatas ranjangnya.


"Kenapa kau tidur di sofa?" Tanya Joon.


Shaina mengerutkan bibinya, "lagi suka tidur di sofa aja" kilah Shaina, "sudah pukul berapa?" Lanjutnya.


"Pukul empat pagi, jangan bicara lagi aku sangat lelah dan ngantuk mau tidur" kata Joon dan itu terasa seperti sembilu yang menusuk ke relung hati Shaina.


Shaina segera bangkit dari tempatnya.


"Mau kemana lagi?" Tanya Joon.

__ADS_1


"Tidur di kamar anak-anak" sahut Shaina.


"Di sini saja, jangan cemaskan yang lain, aku tidak punya tenaga lagi bahkan untuk bergerak saja tidak mampu yang ku inginkan sekarang hanya tidur" kata Joon yang memegangi tangan Shaina.


__ADS_2