Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Joging membawa petaka


__ADS_3

Shaina keluar kamar sambil menenteng sepasang sepatu boot, berharap Alice atau Alfan belum pergi agar ia bisa meminta bantuan pada mereka tapi tidak seorangpun yang terlihat di ruang tamu kecuali Joon yang berbaring di sofa sambil fokus ke layar ponselnya.


"Tidak keluar?" Tanya Joon yang heran melihat Shaina duduk.


Sambil mendengus kesal Shaina menjawab, "bagaimana bisa keluar kalau pake sepatu saja enggak bisa".


"Ya pake aja seperti biasa, kan enggak ada yang larang, lagian itu punya Helena".


"Bukan itu masalahnya, tapi tanganku enggak nyampe, terhalang oleh perut" ungkap Shaina dengan cemberut.


"Kalau gitu enggak usah keluar, saljunya masih sisa kok buat besok" tandas Joon dengan perhatiannya masih tertuju pada layar ponsel.


"Hufff! Orang lagi kesal malah di candain kan makin nyebelin...." Dengus Shaina dengan posisi tangan bersilang dada, "lagian aku belum pernah melihat salju" cicit Shaina.


Joon menggeser ponselnya untuk melirik Shaina yang terhalang oleh ponsel di tangannya, lalu Joon bangkit dari pembaringannya dan meletakkan ponselnya di meja, setelah itu diraihnya kaki Shaina.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Shaina yang kaget pada saat Joon meletakkan kakinya di atas sofa.


Tanpa memberi jawaban, Joon memakaikan sepatu boot itu di kaki perempuan itu yang memasang wajah cemberut yang di buat-buat pada Joon.


"Terima kasih...!" Seru Shaina dengan senyuman yang merekah.


Shaina bangkit dari duduknya dan bersiap memulai aktivitas di luar untuk melihat salju turun.


"Tunggu bentar" ucap Joon yang ikutan bangkit dari duduknya.


"Kenapa lagi?" Shaina heran pada Joon.


Joon tidak menjawabnya tapi malah masuk ke kamarnya, selang beberapa menit Joon keluar, lengkap dengan pakaian tebalnya yang dapat menghangatkan tubuhnya dari dinginnya salju.


Belum lagi Shaina melewati pintu, udara dingin sudah menyambutnya sapuan dingin yang masuk melalui sela-sela kulitnya, tapi tidak menghalanginya untuk keluar, menikmati keindahan saat salju turun. Butiran es yang lembut lagi dingin menghujani wajahnya, menciptakan senyuman manis dari bibir Shaina, sambil mengadahkan wajahnya ke langit, tidak lama kemudian ia disamperin Alfan dan Alice.


Udara dingin yang menyelubungi juga indahnya butiran salju yang jatuh dari langit tidak mampu mengalihkan perhatian Joon dari Shaina yang terlihat sangat cantik di bawah hujan salju, di tambah pipi dan bibirnya memerah semakin membuatnya sangat manis apalagi di padu dengan senyuman manisnya bersama anak-anak.


Joon datang menghampirinya, membaur bersama namun matanya masih tertuju pada Shaina seorang dan tidak bisa dipungkiri Joon juga ikut membagikan senyumannya yang sudah bukan rahasia lagi jika Joon akan semakin seksi dan tampan bila tersenyum.


"Dingin..." Gigil Shaina.


Joon meraih tangan Shaina dan di gosok-gosok telapak tangannya untuk dapat memberikan sedikit kehangatan, tapi berkat bantuannya itu cukup membuat Shaina terkesan karena itu mengingatkannya pada adegan di film-film romantis yang pernah di tonton nya, meski ekspresinya tidak bereaksi atas perlakuan tersebut.


Namun, tiba-tiba Shaina terpaku dengan tatapan yang tertuju pada garasi rumah mereka, Shaina menarik tangannya dari genggaman Joon, dan berjalan ke garasi yang terbuka sedikit.


"Joon..." Gumam Shaina sambil melangkah dengan mulut ternganga.

__ADS_1


Melihat sikap Shaina tersebut membuat mereka heran, termasuk anak-anak.


"Joon... Lihatlah....!" Ucap Shaina seakan tak percaya apa yang dilihatnya.


"Ada apa?" Tanya Joon.


Shaina masuk ke garasi dengan tangan yang memegangi kepalanya, "Joon.... Mobilmu... Kita kemalingan" Shaina mengelilingi bekas parkiran mobil Joon.


"Shaina" ucap Joon.


"Kenapa kau setenang itu? Joon! Mobilmu hilang! Kita kemalingan semalam!!!" Lontar Shaina yang menghampiri Joon.


"Benar Ma, mobil paman hilang!" Tambah Alfan yang ikut panik melihat garasi rumah yang kosong dari keberadaan mobil.


"Tenanglah, itu tidak-" jelas Joon.


"Apanya yang tenang?! Kita kemalingan, Alice cepat ambil ponsel Mama, kita harus hubungi polisi" titah Shaina.


Alice bergegas menuju ke rumah.


"Tunggu dulu Alice" cegat Joon.


"Apanya tunggu dulu? Joon, kita kemalingan dan kamu masih tenang saja? Jangan bilang kau ini terlalu baik, sampai-sampai memberikan mobilmu di curi" timpal Shaina.


Joon berdecak, ucapannya selalu di sela anak-anak, khususnya Shaina dan Alice yang paling cerewet karena kehilangan mobil, hingga Joon sendiri sulit untuk menjelaskan pada mereka yang sebenarnya.


"Di jual?" Tanya Shaina.


Joon mengangguk sambil mengarahkan ke kepada mereka semua.


"Kenapa?" Sudi Shaina.


Joon tidak langsung menjelaskan tapi ia mengajak mereka untuk masuk ke rumah agar mereka bisa berbicara dengan tenang. Dan Shaina di buat terkejut mengetahui alasan Joon yang menjual mobilnya karena ia sudah bosan memperbaiki mobil itu terus yang kerap mogok.


"Tapi kenapa tidak di bicarakan dulu sebelum menjual mobil" gumam Shaina, "apa karena aku ini orang asing dan tidak berhak ikut campur urusanmu?".


Joon mendekat pada Shaina sambil menggenggam tangannya, "jangan berpikir seperti itu, kau bukan orang asing, aku hanya belum sempat memberitahu mu saja, aku minta maaf" ucap Joon.


Shaina menadahkan wajahnya pada Joon, "lalu sekarang dan nantinya bagaimana kau pergi kerja? Kau tidak punya mobil lagi" tanya Shaina.


"Kan ada bis atau aku bisa jalan kaki lagian kafe tempat ku bekerja tidak jauh dari sini, hitung-hitung bisa olahraga juga" ungkap Joon.


"Kau menjual mobil apa karena... keberadaan kami?" Tanya Shaina.

__ADS_1


"Ya bukanlah" sanggah Joon yang memalingkan wajahnya dari Shaina.


"Kebutuhanmu sudah berkali-kali lipat sejak kami tinggal bersamamu, kemarin kita juga pergi mengecek kandunganku, kau pasti mengeluarkan banyak biaya, belum lagi susu untukku dan anak-anak, kau juga membelikan kami pakaian dan masih banyak lagi, kami pasti sangat memberatkan mu" ungkap Shaina dengan suara melemah.


Joon kembali membalikkan badannya kearah Shaina dan menatap sepasang mata yang berkaca-kaca itu, "jangan berpikir yang tidak-tidak, itu tidak ada hubungannya dengan kalian, aku hanya bosan dengan mobil itu saja tidak ada yang lain, aku janji nantinya aku akan membeli yang lebih bagus dari itu jadi jangan khawatirkan apapun, kau hanya fokus merawat anak-anak dan menjaga kesehatanmu demi Elif lalu..." kata Joon, memutar bola matanya.


"Lalu apa?" Tanya Shaina.


"Lalu... Jangan lupa untuk melayaniku juga" gumam Joon sambil cengengesan.


"iiihhhh! Aku enggak mau! Memangnya siapa kau ini yang harus ku layani?" Gerutu Shaina sambil membuang muka dari Joon.


Joon tersungging, lalu tertawa melihat Shaina yang tersipu malu.


"Kalau enggak mau aku saja yang melayani mu, pelayananku pasti akan sangat memuaskan mu, jika tidak percaya ayo kita coba" celetuk Joon.


Seketika Shaina membombardirkan cubitan yang di sertakan pukulan gemesnya di sekujur tubuh Joon yang memaksanya meminta di hentikan.


Shaina menghentikan pergulatannya dengan Joon dan berpaling sambil melirik kesal.


"Jauh-jauh sana!" Shaina menepis Joon yang duduk di dekatnya.


"Jangan marah-marah, nanti wajah bayinya jadi jutek pas lahir" bisik Joon sembari tersungging.


****


Masih banyak terdapat genangan air yang tertampung di antara sela-sela parit jalanan, akibat hujan semalam yang mengguyur desa dan sekitarnya, tapi tidak menyurutkan semangat seorang perempuan muda bertubuh langsing untuk berjoging, meski hawa dingin menyelubungi pagi. Berbekal kaos pendek dan celana pendek ia siap berlari-lari kecil di jalan depan rumahnya, namun aksinya itu menarik banyak pasang mata yang melewatinya, karena selain mengenakan celana pendek ia juga membiarkan kunciran rambutnya tersapu angin dan di bakar mentari pagi tanpa ia tutup dengan selendang yang semestinya ia gunakan apalagi jalan yang ia gunakan merupakan jalan umum, dimana hampir semua kalangan masyarakat melewatinya.


Panggilan-panggilan bernada menggoda kerap ia dapatkan dari pemuda yang melihatnya, dan ia pun menanggapinya dengan kedipan mata yang tak kalah menggoda. Usai puas berjoging, ia kembali ke rumah, dan jajaran anggota keluarganya sudah bersiap-siap memberinya ceramah akibat dari tindakannya akhir-akhir ini.


Sebuah sapu lidi terhunus ke arahnya, bak sebilah pedang yang dihunus, beruntung ia dapat menghindarinya jika tidak, tubuhnya akan menjadi sarang sang sapu lidi yang gempurkan oleh panglima terkuat di rumahnya dan dijuluki EMAK.


"Dasar anak tidak tahu malu keluar rumah dengan pakaian begini! Mau kami taruh dimana muka kami ini?" Kilatan demi kilatan kata-kata tajam di lontarkan emaknya sambil menghunus senjata pamungkasnya.


"Apa-apaan sih Mak? Ngapain malu ini gaul Mak! Ini penampilan orang-orang jaman sekarang" Kilah perempuan bermata almond tersebut.


"Di bilangin bukannya merasa bersalah malah bela diri, kamu ini memang sudah kelewatan batas!!" Lontar emak.


Pergulatan ibu dan anak itu juga di saksikan oleh pimpinan tertinggi di keluarga itu, tapi tidak reaksi apapun yang ditunjuk, namun semua tahu jika pimpinan tertinggi tersebut sampai turun tangan berarti masalahnya sudah sangat fatal, namun di dalam rumah masih tersisa tiga prajurit biasa, pangkatnya setara dengan perempuan yang kena teguran tersebut. Bedanya perempuan yang di tegur itu prajurit pertama di antara mereka, walaupun tiga prajurit itu masih di bawah, tapi jangan menyepelekan kemampuan mereka memprovokasi dalam bertahan hidup di markas mereka yang di sebut rumah.


"Shaina! Apa kau mau kami mati berdiri melihat mu seperti ini?" Sembur emak pada putri semata wayangnya sambil menghunus sapu lidinya dengan gesit.


...****************...

__ADS_1


Halo semuanya, author mau ucapin minal aidzin wal faizin bila ada kata-kata yang silap, author juga manusia biasa yang lepas dari dosa.


selamat lebaran Idul Fitri...


__ADS_2