Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Ke pesta


__ADS_3

Tidak cukup hanya tadi malam Hannah membicarakan tentang Joon paginya, saat memasak mencuci piring hingga, bersantai atau kapanpun itu jika ada kesempatan Hannah terus membicarakannya hingga Shaina bosan mendengarnya. Apalagi Hannah juga suka mencari kesempatan untuk bisa berduaan dengan Joon, Joon juga mulai tidak keberatan, bahkan ia sangat berterima kasih dengan kehadiran Hannah menurutnya dapat membantu Shaina.


Di depan cermin Shaina sibuk mengoleskan pelembab wajah setelah mandi dan tiba-tiba ia mendengar ke gaduhan di luar kamar, ia bergegas keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.


Namun ia sangat terkejut melihat Joon masih di rumah bahkan ia sedang menemani anak-anak bermain, padahal jam sudah pukul setengah sembilan, Shaina mengernyitkan heran dan segera menghampirinya.


"Joon, kamu enggak masuk kerja? Atau kamu di pecat lagi?" Tanya Shaina, ia berjalan dan duduk di sofa.


Joon dan anak-anak saling pandang beberapa saat lalu mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa denganmu? Hari ini hari libur sekolah anak-anak, bukankah aku selalu ambil cuti hari ini?" Jawab Joon.


Sesaat Shaina terdiam, memikirkan sesuatu hingga ia ikut tertawa, "maaf aku lupa" imbuh Shaina.


Sambil terkekeh Shaina berbalik badan ke kamar, tiba-tiba Joon mencegatnya, menarik tangannya.


"Lepaskan aku, aku mau pakai baju nih" ucap Shaina.


Joon menyentuh kerah jubah mandi Shaina yang membalut tubuhnya "ikuuuut...!" Bisik Joon.


"Apaan sih kamu?" Imbuh Shaina.


"Sayang, aku mau bantuin kamu pake baju" ucap Joon.


"Kak Joon! Kamu lagi ngapain sama kakak?" Tanya Hannah.


Joon segera melepaskan Shaina karena kaget dengan Hannah yang tiba-tiba muncul, membuatnya mendengus kesal.


"A..aku sedang membantu Helena, tadi dia hampir terjatuh" kilah Joon sambil cengengesan pada Hannah.


"Benarkah kak?" Tanya Hannah pada Shaina.


Shaina mengerjap bingung, "i-iya" sahut Shaina, "terima kasih adik ipar" ucap Shaina, ia mengangkat alisnya.


Joon berdecak kesal pada Shaina yang menyeringai dan berlalu pergi masuk kedalam kamar.


"Awas kau..." Decak Joon.


Tidak lama kemudian Shaina keluar dari kamar dan duduk di sofa bersama Hannah, Joon yang sedang duduk di lantai bersama si kembar, bangkit untuk berdiri. Ia memberi tahu mengenai undangan pernikahan bos-nya.


"Kami boleh ikut paman?" Tanya Alice.


Joon mengerenyit lalu tersungging, "semuanya boleh ikut" ucap Joon.


"Horeeee!!!" Seru Alfan dan Alice.


Joon menghampiri dua perempuan itu, "kalian juga datang ya?" Ucap Joon.


Hannah tersenyum dan mengangguk.


"Aku... sepertinya enggak ikut, Hannah aja yang ikut" kata Shaina.


"Kenapa? Kok kamu gitu sih? Pokoknya kau harus ikut denganku" sergah Joon.


Shaina melihat ke perutnya yang paling mencolok dari dirinya.


"Kau malu?" Tanya Joon, Shaina menggangguk. "Ngapain malu, kau ini sangat cantik tidak peduli bagaimana kondisi tubuhmu" ujar Joon.


"Tapi..." Gumam Shaina.


Joon beranjak dari duduknya "Aku enggak mau dengar apapun alasannya, kamu harus ikut. Hannah! Bantu cari baju yang cocok untuk shai eh Helena" dengus Joon.


"Baik kak Joon" sahut Hannah yang diam sembari memperhatikan tingkah mereka berdua.


Shaina segera diajak masuk ke kamar untuk membongkar lemari dan mencari gaun pesta Shaina, setelah membongkar lemari, Hannah dan Shaina tidak menemukan satu pun gaun yang cocok karena Shaina tidak mau memakai gaun terbuka di tempat umum.


"Kak Joon, tidak satupun baju yang di sukai kakak" adu Hannah pada Joon.


Shaina ikut keluar dan berdiri di pintu dengan alis yang terangkat.

__ADS_1


Joon tersungging, "kalau begitu kita beli saja" celetuk Joon.


"Tapi..." Gumam Shaina.


"Tidak ada tapi-tapi, kita harus beli baju baru untuk kita semua" ujar Joon, ia masuk ke kamarnya.


Shaina pun mengikuti Joon untuk masuk ke kamar, tapi baru selangkah ia menginjak langkahnya di kamar, Joon langsung menutup pintu kamarnya dan menyudutkan Shaina ke pintu.


"Pokoknya harus ikut! Tidak dengar alasan apapun!" Ujar Joon dengan lantang.


"Tapi Joon aku tidak mau" kilah Shaina.


Cup!


Kecupan manis mendarat di bibir Shaina.


"Katakanlah sesuatu dengan keras agar Hannah tidak mencurigai kita" bisik Joon.


Shaina mengerjap kaget melihat Joon yang melembutkan suaranya, "kenapa kau ini?" Tanya Shaina.


"Semalaman aku memikirkan mu, rindu aroma tubuhmu dan belaian mu, kau masih tenang-tenang saja" bisik Joon beradu pandang dengan Shaina, sesekali mendaratkan kecupan manis di bibir Shaina.


Shaina menyeringai ketus dan menyentil dagu Joon.


"Dasar penipu!" Balas Shaina, "lepaskan aku nanti Hannah curiga" tambahnya.


Joon tersinggung sambil mengetuk-ngetuk bibirnya, memberi kode pada Shaina, namun Shaina menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sebentar saja" desas Joon.


"Bersabarlah sebentar lagi" balas Shaina dengan mendorong tubuh Joon dari dirinya.


Joon tersinggung dengan berkacak pinggang.


"Hari ini aku lepaskan tapi nanti jangan berpikir untuk kabur dariku, kau tidak punya kesempatan untuk melakukannya" dengus Joon.


Shaina yang tidak bisa mengelak terpaksa menuruti Joon mencari gaun pesta. Sebelum pergi Joon selalu sigap membantu Shaina mengikat tali sepatunya memakaikan mantel dan lain-lainnya bahkan Joon juga selalu ada untuk anak-anak. Hannah merasa ia seperti penonton yang menonton mereka semua.


Di pusat perbelanjaan Joon juga sibuk memilih-milih pakaian yang cocok untuk Shaina dan anak-anak, sedangkan Hannah hanya membantunya sesekali tapi terkadang bantuannya tidak mengubah apapun. Selera Shaina berbeda dari selera Hannah yang menginginkan dress pendek ataupun dress yang terbuka bagian depannya.


Sedangkan Joon tidak tertarik melihat Shaina memakai dress seperti itu di depan umum. Joon juga tidak segan-segan merogoh isi kantongnya hanya untuk membayar belanjaan mereka bahkan ia meminta Hannah juga memilih untuk dirinya sendiri.


Usai dari tempat perbelanjaan Joon mengajak mereka makan siang di salah satu rumah makan, Hannah berkesempatan duduk di sebelah Joon karena Shaina duduk bersebelahan anak-anak, waktu makan itu Hannah tidak melewatkan begitu saja, di sela-sela mengobrol, ia bercanda dengan Joon hingga mereka tertawa bersama di depan Shaina, dan itu membuat Shaina tidak nyaman.


***


Semua sudah siap berangkat ke pesta, Alice dengan gaun pink yang mengembang semakin meningkat kecantikannya seperti seorang putri cantik begitu juga dengan Alfan dengan setelan formalnya, lengkap dengan jas dan dasi kupu-kupu.


Penampilan Joon juga tidak kalah keren dengan kemeja hitam yang di padukan dengan blazer hitam formalnya yang semakin menawan. Annetta tampil cantik dengan dress mininya tanpa lengan. Namun Shaina belum juga keluar dari kamar hingga Joon jadi khawatir, tapi saat ia hendak mengetuk pintu kamar, Shaina menarik pintu.


Joon terpana melihat Shaina tampil cantik nan anggun dengan dress hitamnya yang mengembang untuk menyamarkan bentuk perutnya dan menutupi seluruh tubuhnya juga tidak ketat. Dengan rambut pendeknya yang di buat gelombang oleh Hannah semakin membuat Joon enggan untuk melepaskan pandangannya dari perempuan itu.


"Mama cantik" ujar Alfan.


"Terima kasih, ayo kita berangkat" sahut Shaina dengan mata melirik Joon.


Joon yang tersadar tersungging lalu berjalan lebih dulu ke pintu.


"Silahkan putri-putri dan pangeran" ujar Joon saat membuka pintu selayaknya penjaga pintu.


Mereka tertawa bahkan Hannah ikut tersipu malu pada Joon dengan tingkahnya itu.


"Penyihir harus pelan-pelan jalannya, agar tidak kesandung" sela pada Shaina yang berjalan di belakang.


Shaina menepis Joon tapi Joon segera menangkap tangannya untuk di gandeng keluar rumah.


"Mobil? Paman ini mobil siapa?" Tanya Alfan yang terkejut melihat mobil hitam terparkir di depan rumah mereka.


Yang terkejut tidak hanya Alfan tapi mereka semua, sedangkan Joon hanya tersenyum tipis.

__ADS_1


Joon mengarahkan pandangannya pada Shaina seraya berkata, "bukan kau saja penyihir yang punya kekuatan, aku juga punya kekuatan ajaib" celetuk Joon.


"Paman punya kekuatan ajaib juga?" Tanya Alice.


Joon tersungging tapi Shaina malah menarik kemeja Joon kenakan, "katakan! Ini mobil siapa?" Paksa Shaina.


"Aauu!" Pekik Joon, "ini mobil kita" ucap Joon.


Namun Shaina masih melototinya membuat Joon menciut, "ini mobil rental, tadi sore aku sewa pada teman ku" jelas Joon pada mereka semua, baru Shaina melepaskan kemeja Joon.


Mendengar itu anak-anak segera masuk dan berlari masuk kedalam mobil Joon yang sebenarnya bukan mobil sewa tapi mobil di belinya dari hasil memeras nyonya Rossie.


"Hannah, kau duduk di belakang saja ya dengan anak-anak? Biar Helena di duduk depan, dia kan lagi hamil" ujar Joon pada Hannah yang sedang menarik pintu depan mobil.


"Tidak apa-apa Joon, aku di belakang saja" sela Shaina.


Joon melototi Shaina secara diam-diam.


"Tidak apa-apa kak, kak Joon benar aku duduk di belakang saja" sahut Hannah, ia berjalan ke pintu belakang.


Joon segera membukakan pintu mobil untuk Shaina dan mempersilahkannya masuk, meski Shaina merasa enggak enak dengan Hannah yang harus berpindah tempat duduk karenanya.


Setelah menutup pintu Shaina, Joon bergegas ke pintu sebelahnya lalu ia duduk di bangku sopir sambil merapikan pakaiannya yang kusut karena ulah Shaina tadi.


"Kan jadi kusut kemejaku gara-gara kamu pake narik pula" gumam Joon yang mengerutkan bibinya.


"Siapa duluan?" Dengus Shaina.


"Kalian jangan ikuti sifat Mama kalian ini, dia menyebalkan" Joon menoleh pada anak-anak yang duduk di bangku belakang.


Alice dan Alfan tertawa melihat Joon ngambek.


"Sini aku rapikan!" Shaina menarik Joon ke arahnya, "mana yang kusut? Begini doang marah-marah sekompleks!" Celoteh Shaina.


"Kancingnya terbuka" dengus Joon.


"Cuma kancing aja yang terbuka marah-marahnya udah seperti kehilangan uang sekoper!" Oceh Shaina tak henti-hentinya hingga membuat anak-anak tertawa.


"Aaau!!" Pekik Shaina.


"Kenapa kak?" Tanya Hannah yang terkejut.


"Ti-tidak apa-apa" sahut Shaina sambil melirik Joon yang tersungging.


Shaina kembali duduk ke posisi semula sambil diam-diam mencuri pandang dengan Joon yang mulai menghidupkan mesin mobilnya.


Mereka sama-sama tersungging karena sebelumnya Joon sengaja membuat Shaina merapikan pakaiannya agar ia berkesempatan menyentuh Shaina, namun tanpa terduga ia malah mencubit pahanya.


Semua mata tertuju pada Joon yang menggandeng anak-anak dan dua perempuan mengikutinya dibelakang.


"Joon siapa si manis ini?" Celetuk rekan kerja Joon yang mencubit pipi Alice dan Alfan.


"Mereka anak almarhum kakakku" sahut Joon.


Sontak saja si kembar jadi bulan-bulanan teman-temannya Joon, karena mereka sangat menarik hati siapapun, wajah mereka yang imut dengan tingkah yang menggemaskan.


Namun perhatian yang lain juga tersorot pada Shaina dengan kondisinya yang sedang hamil besar tapi ia sangat mencolok dari yang lain, Shaina memundurkan langkahnya berusaha menyembunyikan diri di balik Hannah agar ia tidak terlalu terlihat, ia merasa malu dengan pandangan orang-orang padanya.


Joon yang menyadari sikap Shaina itu segera menghampirinya dan menggandeng tangannya untuk di perkenalkan pada teman-temannya.


"Anda cantik sekali nona Helena" celetuk salah seorang dari mereka.


"Terima kasih" sahut Shaina tersipu malu.


Gia tersenyum pada Joon sambil berbisik, "apa gara-gara gadis cantik itu penyebab kau sering bolos kerja?" Bisiknya pada Joon yang mengarahkan perhatiannya pada Hannah.


Joon tersungging, lalu pergi menemui teman-temannya.


Perhatian Gia teralihkan pada jemari Joon yang meraih tangan Shaina untuk digenggamnya erat bahkan diam-diam Joon mengalihkan pandangannya pada perempuan tersebut sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2