
"Assalamualaikum!"
Seru seseorang, keluarga dekat Shaina berdatangan untuk membantu Bu Yani mempersiapkan Shaina untuk hari pernikahannya sebentar lagi, Bu Yani segera menyuruh anak-anaknya memindahkan peralatan makan mereka.
Melihat Joon dan anak-anaknya di rumah Shaina sedikit mengejutkan mereka, karena yang mereka tahu joon, orang yang mengaku sebagai suami Shaina kemarin.
Joon kembali bersikap ramah pada mereka semua.
Elif pun langsung akrab dengan anak-anak saudara-saudara Shaina, begitu juga dengan Alfan dan Alice.
Orang-orang di rumah Shaina disibukkan dengan berbagai kegiatan, ada yang sibuk membuat kue, Alice tidak segan-segan minta di suapin sama ibunya Shaina, begitu juga dengan Elif yang bermain dengan sepupunya Shaina, seakan mereka semua mengabaikan sudah kenal lama.
Beda dengan Joon yang mulai jadi idola ibu-ibu berkat pengetahuan dan keterampilan memasaknya ditambah lagi parasnya yang enggak pernah ngebosenin juga asyik diajak ngobrol oleh mereka, sehingga stigma Joon orang yang menyenangkan pun muncul diantara mereka.
Ketika yang lain sibuk dengan urusan mereka, Elif juga sibuk bermain tanah dengan keponakan dan sepupunya Shaina yang masih kecil-kecil. Si gadis balita bermata biru dengan rambut hitam lurus mirip dengan Shaina bahkan wajahnya sangat mirip dengan Shaina itu membuat gelak tawa yang lain, dikarenakan tubuh mungilnya telah kotor dengan tanah.
Membuat sang Papa jadi kewalahan menghadapi sifat menggemaskannya yang menolak diajak mandi.
"Ayolah Elif, kamu tuh harus mandi, badanmu kotor semua" ujar Joon pada Elif yang sengaja berdiri cukup jauh dari Papanya.
"Elliiss ciidak mau mandi Pa, elliiss mau maiin lagi cama ceman-ceman elliiss" sahut Elif.
"Ayolah sayang, jangan nakal" lanjut Joon.
"Eliis cidak nakall Elliiss cuma mau main macak-macak, Papa jangan larang-larang Elliiss!" Pekik Elif dengan gayanya yang semakin lucu.
Selangkah Joon mendekat maka tiga langkah Elif berlari ke belakang agar Joon tidak dapat menangkapnya. Di tangan mungilnya penuh dengan dedaunan yang ia petik di pekarangan rumah Shaina, bahkan beberapa tanaman hias ikut raib di petiknya bersama teman-teman kecilnya.
Sikap Joon yang tidak memaksa Elif padahal ia bisa menangkapnya dengan mudah tapi malah lebih memilih beradu argumen dengan si mungilnya membuat joon dianggap terlalu lembut oleh yang lain.
Namun saat mau memundurkan tubuhnya lagi, Elif bertubrukan dengan Shaina dan dengan cepat Shaina menangkapnya.
"Kita mandi ya? Teman-teman Elif juga akan mandi" ucap Shaina pada Elif.
"Apa di lumah Mama punya geyeembung cabun yang buanyak ceperti di lumah Elif?" Tanya Elif lengkap dengan gerakan tangannya yang merenggang besar untuk menyatakan sebanyak mana gelembung tersebut.
"Tidak punya" sahut Shaina, mengerutkan keningnya.
"Bebek Donall?" Ucap Elif.
"Tidak juga" sahut Shaina.
"Emm..." Elif memutar bola matanya, "Campoo yang becar?" Tambah Elif.
"Emm..." Shaina ikut menirukan gaya Elif, "tidak juga" tukasnya.
Orang-orang dan Joon tersungging melihat tingkah Elif dan Shaina.
"Mama eunggak punya apa-apa, kacian cekali" ucap Elif, "nanti Mama minta cama Papa di beliin geyembung cabun, Donal dan Campo ceperti punya Elliiss ya?" Tukas Elif.
"Iya, tapi sekarang Elif mandi dulu ya?" Tambah Shaina.
Elif mengangguk, dan Shaina langsung menggendongnya ke kamar mandi. Selang beberapa menit kemudian Shaina keluar dari kamar mandi dan membawa Elif ke kamarnya.
Dulu Shaina sempat membeli gaun anak kecil yang ia sendiri tidak tahu untuk apa ia membeli gaun tersebut, tapi gaun imut itu kini di pakaikannya pada Elif, dan gaun itu pun sangat pas di tubuh Elif.
Elif pun kembali bermain dengan yang lain, Shaina terdiam mematung melihat Elif kecil yang berlarian diantara anak-anak lainnya, sesekali balita itu tertawa terbahak-bahak. Shaina pun tenggelam dalam pikirannya hingga tanpa sadar Joon mendekat.
"Apa yang kau pikirkan?" Celetuk Joon pada Shaina.
Shaina mengerjap kaget dan mengarahkan pandangannya pada Joon, "siapa kalian? Kenapa aku merasa ini tidak asing bagiku? apa telah yang ku lewatkan?" Ujar Shaina.
Joon tersenyum sambil melirik Shaina, "aku tidak tahu harus memulai dari mana tentang cerita kita, tapi kau orang pertama yang membuatku tahu rasanya rindu yang amat sangat" ujar Joon.
__ADS_1
Shaina berbalik badan dan menatap mata Joon dengan seksama.
"Sedekat apa kita dulu jika aku adalah perempuan yang kau terus kau bicarakan itu?" Tanya Shaina.
Joon tersenyum dan menatap mata almond Shaina, "aku tidak bisa mengatakannya" sahut Joon.
"Kenapa? Apa kau ini sangat jahat dan suka memarahi orang?" Tekan Shaina.
Joon menggelengkan kepalanya, "cari tahu sendiri, kau itu kan senang bermain rahasia-rahasia denganku, dan sekarang giliran mu yang penasaran" tukas Joon, mengedip mata dan berlalu pergi sambil menyeringai lebar.
Hari beranjak senja, sebelum magrib Joon kembali ke kediaman keluarga Harris, namun tidak dengan anak-anak, tak seorangpun dari mereka yang mau meninggalkan rumah Shaina, terlebih-lebih Elif yang tidak mau melepaskan Shaina. Terpaksa Joon harus kembali seorang diri.
Menjelang tidur, Joon menelpon Alice untuk mencari tahu keadaan putri kecilnya, karena tidak semalam pun Joon pernah meninggalkan Elif pada siapapun setelah kepergian Shaina dulu, jadi semalam saja tidak ada Elif bersamanya maka akan terasa ada sesuatu yang kurang darinya.
Alice yang tidur bersama Shaina sengaja berpura-pura tertidur, agar Shaina yang mengawasi Elif saat berbicara dengan Joon, kesempatan Alice untuk membuat hubungan Mama dan Papanya kembali seperti dulu.
"Elif sayang baik-baik saja ya disana, jangan rewel ya sayang" ujar Joon pada Elif yang terlihat melalui video call.
"Iya Papa..." Gumam Elif yang mulai mengantuk dan lama-kelamaan ia pun kalah.
Hampir-hampir saja ponsel yang di pegang Elif terjatuh tapi Shaina menangkapnya dan memindahkannya, lalu menyelimuti kedua putri tersebut bahkan Alice yang berencana untuk berpura-pura tidur malah tertidur beneran.
Shaina membagi kecupan di kening mereka, ia kembali di buat tersenyum saat menatap wajah-wajah manis itu, perasaannya terasa lega meski ia sempat stress memikirkan masa depan pernikahannya dengan Fahri yang akan berlangsung beberapa hari lagi.
"Aku juga mau di cium".
Shaina mengerjap kaget dan mencari tahu asal suara tersebut, ia sangat terkeju melihat ponsel Alice yang masih terhubung dengan Joon. Shaina sempat meringis sambil menggigit bibir hingga memberanikan diri untuk mengobrol dengan Joon.
Shaina memperbaiki posisi duduknya dengan menyandarkan tubuhnya di dinding kamar.
"Bicara apa kau ini?" Ketus Shaina.
Joon terkekeh, membuat jantung Shaina berdegup kencang, gigi taring Joon yang rapi terlihat sangat indah di mata Shaina.
Shaina memutar bola matanya ke kanan dan berpura-pura ia tidak terpengaruh dengan ucapan Joon.
"Kalau mau juga, harus ke sini dan harus cepat jika terlambat maka kau kehilangan kesempatan mu" balas Shaina.
"Benarkah?" Tanya Joon.
"Memangnya aku terlihat sedang berbohong" timpal Shaina, lalu menutup kamera ponsel tersebut agar ia bisa leluasa cekikikan, menertawakan Joon yang berhasil ditipunya.
Joon bergegas bangun dari tidurnya, "baiklah aku akan datang sekarang, ketika tiba di sana nanti akan ku parkirkan mobil agak jauh dari rumah supaya tidak ada yang terbangun, lalu aku menyelinap lewat jendela kamar mu, itu sangat mudah apalagi aku sudah tahu kamarmu" ujar Joon pada Shaina.
Mendengar rencana Joon, Shaina jadi panik dan jika Joon benar-benar datang ke rumahnya, apalagi Joon sempat bangun dari tidurnya dan seperti sedang mencari jaketnya lalu menghilang, hingga tidak menyahutnya lagi meski Shaina berusaha memanggilnya.
"Pak Joon! Pak Joon! kau masih di situ? Jika ia tolong sahut aku" pinta Shaina pada ponsel yang hanya kelihatan langit-langit kamar saja.
Shaina semakin cemas saat mendengar seperti suara pintu yang terbuka.
"Hai!" Kejutkan Joon dengan bersuara keras dan kembali mengangkat ponselnya.
Shaina tersentak, "apa yang kau lakukan? Kemana kau tadi? Kok aku panggil-panggil enggak di jawab?" Ocehan Shaina pada Joon.
"Kenapa? Apa kau mulai kangen padaku?" Goda Joon.
Seketika pipi Shaina memerah, saking malunya dapat godaan dari Joon.
"Apa sih? Aku cuma mau tahu kamu lagi ngapain karena ponselmu terlihat di tinggalkan tadi".
"Maaf, seharusnya aku tidak meninggalkan ponselku agar kamu bisa lihat aku lagi ngapain di toilet tadi" ujar Joon, terkekeh.
"Iiisshhh! Enggak malu apa?" Dengus Shaina.
__ADS_1
"Memang enggak, karena cuma kamu yang lihat" balas Joon, "rencananya sih tadi mau benar-benar menemui mu tapi aku baru teringat jika ayah mertuaku agak galak, jika kita ketahuan lagi bisa-bisa kita di hukumnya lagi dan aku tidak mau istriku kesakitan lagi" tukas Joon.
"Istri-istri, memangnya kapan kita kawin? Aku jadi males" ketus Shaina.
"Ya udah kamu tidur aja dulu dan beristirahatlah, aku tutup ya?" Putus Joon sebelum obrolan itu terputus.
Saat Shaina mendapati Joon benar-benar telah mengakhiri panggilan itu, Shaina sempat berdecak kesal karena sebenarnya ia masih ingin mengobrol dengan Joon lebih lama lagi, tapi Joon malah mengakhirinya.
Terpaksa Shaina menyimpan kembali hp Alice ke meja dekat tempat tidur mereka, walaupun beberapa kali Shaina seperti sedang mengecek apakah Joon kembali menghubungi tapi penantian dan harapan Shaina nihil, Joon tidak lagi menghubunginya.
Akhirnya Shaina memutuskan untuk tidur walau beberapa kali ia tetap melempar pandangannya kearah ponsel Alice.
"Papa..." Panggil Elif.
Shaina mengerjap dan bangun dari tidurnya, ia melihat Elif duduk di sebelahnya sambil menangis, Shaina berusaha untuk menenangkannya agar Elif mau kembali tidur.
Namun, Shaina sempat terkejut saat mengetahui suhu tubuh Elif yang meninggi, Shaina jadi khawatir, ia segera memanggil orang tuanya dan mereka sama kagetnya di tambah jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari.
Shaina berusaha mengompres agar suhu tubuh Elif menurun tapi itu tidak berpengaruh, suhu tubuh Elif malah semakin tinggi.
"Papa..." Gumam Elif dengan suara lemahnya.
"Mak, bagaimana ini, dia memanggil ayahnya?" Ujar Shaina, melihat kearah ibunya.
Bu Yani membangunkan Alice agar ia menelpon Joon dan memberi tahu keadaan Elif.
"Papa... Elliiss mau Mama puyang (pulang)" gumam Elif lagi.
Shaina menyelimuti Elif lagi sambil menyeka rambutnya.
"Elif jangan sakit Mama disini" ujar Shaina.
Ucapan dan tindakan Shaina atas anak itu telah menarik perhatian orang tua dan saudara-saudaranya, karena Shaina terus mengatakan dirinya adalah Mama Elif tanpa ragu sedikitpun.
Selang beberapa menit mobil Joon tiba, ia datang seorang diri dan langsung menghampiri putrinya.
"Apa yang terjadi dengan Elif?" Tanya Joon.
"Aku tidak tahu dan saat aku terjaga Elif menangis dan sudah begini" ujar Shaina.
Joon semakin khawatir pada Elif dan berusaha mengompres sendiri tapi Elif masih seperti sebelumnya, akhirnya Joon memutuskan membawa Elif ke rumah sakit terdekat. Shaina pun ikut bersamanya sambil memangku Elif di dalam mobil.
Joon dan Shaina menunjukkan kekhawatiran yang sama terhadap Elif bahkan Shaina semakin tidak tenang berbeda dengan Joon yang bisa menunjukkan sisi tenangnya disaat Shaina dilanda kepanikan, tanpa sadar Joon terus menggenggam tangan Shaina untuk menenangkannya.
Tapi setengah perjalanan suhu tubuh Elif menurun, akan tetapi Joon dan Shaina tetap membawa Elif ke dokter. Tiba di rumah sakit Elif segera di periksa dan kondisinya pun tidak ada yang harus di khawatirkan, bahkan setelah memberi obat penurun panas, Elif di perbolehkan pulang.
Shaina menunggu Joon masuk ke dalam mobil setelah menutup pintu untuknya.
"Elif malam ini bersamaku atau bersama mu? Aku khawatir jika berpisah dengannya tapi aku juga cemas jika bersama ku dia akan sakit lagi" ujar Shaina pada Joon sebelum Joon menyalakan mesin mobilnya.
Joon menatap wajah Shaina, "andai saja aku bisa menunjukkan perasaan ku seperti Elif pastilah sangat menyenangkan" ucap Joon.
"Apa maksudmu?" Tanya Shaina.
"Elif sebenarnya tidak sakit tapi ia hanya merindukan kita berdua, ia tidak mau berjauhan denganku ataupun denganmu" kata Joon.
"Aku tidak mengerti" sahut Shaina.
Joon menghela nafas berat "Shaina, andai saja kau tahu, aku juga sangat sakit setiap saatnya bahkan aku tidak tahu lagi apa itu rasa baik-baik saja dan bahagia setelah kepergian mu dari sisiku, setiap harinya aku terus berpura-pura bahagia dan menjadi yang paling tegar diantara yang lain agar aku tidak di cemoohkan. Sayang, pulanglah bersama ku jangan hukum aku lagi dengan rinduku ini padamu" lirih Joon dengan menghadap ke Shaina.
Shaina terpaku menatap wajah Joon yang biasa terlihat penuh semangat tapi sosok lelaki di depannya sekarang benar-benar kebalikan dari itu semua.
__ADS_1
Elif sudah terlelap dalam dekapan Shaina dan Joon meraih tangan Shaina untuk di ciumannya dan diletakkannya di pipinya.