
Hal yang sama juga dilakukan oleh orang di sebelahnya itu.
Paginya Shaina terbangun dan tirai pemisah masih terbentang, Shaina mengintip joon di sebelahnya tapi ia tidak melihat siapapun di tempat tidur Joon bahkan selimut semalam yang ia kenakan juga sudah terlipat rapi di atas nakas.
Shaina ingin melakukan ibadah sholat subuhnya tapi ia melepaskan tirai pemisah itu dulu sebelum ia kembali ke kamar anak-anak. Terbesit perasaan Shaina ingin mengajak Joon ikut shalat dengannya tapi ia tidak berani mengatakannya pada walaupun itu kewajiban tapi Shaina bukanlah seseorang yang suka memaksa orang lain, bahkan tentang kebaikan sekalipun. Daripada memaksa Shaina lebih suka mengajaknya dengan pelan-pelan dan sabar karena dia juga bukan orang yang suka dipaksakan melakukan sesuatu.
"Sudah bangun?" Tanya Joon.
Shaina menoleh ke arah pintu kamar mandi, terlihat Joon mendongak di celah pintu yang terbuka, rambutnya basah dan sebagian bahunya juga terlihat lembat usai mandi.
"Iya, baru saja" Shaina memalingkan mukanya dari Joon yang membuatnya berimajinasi pagi-pagi.
Usai melepaskan kain yang dijadikan tirai itu Shaina turun dari ranjang dan merapikan tempat tidur.
"Kau mandi pagi-pagi sekali memangnya tak kedinginan?" Celetuk Shaina.
"Hah?!" Ucap Joon yang masih berdiri di pintu kamar mandi menunggu Shaina keluar dari kamarnya karena joon ingin mengambil pakaiannya di lemari.
"Oh! maksudku, sebentar lagi aku mau shalat subuh kamu mau ikut?" Tanya Shaina yang tergagap.
Joon tidak menjawab pertanyaan itu dan Shaina pergi dari kamar Joon, karena ia tahu keberadaannya mengganggu Joon yang ingin berganti pakaian.
Joon yang bertelanjang dada sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, kegiatannya terhentikan saat pandangannya terarah pada bagian ranjang bekas di tiduri Shaina semalam.
"Aku lebih baik kedinginan daripada kepanasan melihatmu pagi-pagi yang sangat menggodaku" Gumam Joon.
Sudah beberapa menit Shaina duduk di atas sajadah yang tergerai dilantai menunggu Joon, tapi lelaki itu tidak kunjug tiba. Ia menoleh ke belakang diatas ranjang Alice dan Alfan masih terlelap, sebenarnya Shaina juga ingin mengajak dua anak itu tapi ia mengurungkan niatnya karena mereka berbeda keyakinan dengan Shaina. Keyakinan mereka mengikuti Helena Ibu kandung mereka. Saat ke rumah Helena dulu, ia sempat melihat patung bunda Maria di kamar pribadi Helena dan kaligrafi Arab di salah satu dindingnya yang menandakan Elfian dan Helena berbeda keyakinan meski mereka berumah tangga.
Sedangkan Joon sendiri, Shaina baru tahu kalau Joon berkeyakinan sama dengannya tadi malam saat ia mengajarkannya berdoa, Joon malah lebih lancar daripada dirinya sehingga membuat Shaina kaget sekaligus malu dengan kemampuannya yang standar itu. Jadi Shaina berinisiatif untuk mengajak Joon shalat berjamaah dengannya.
Lama menunggu Joon tidak juga datang, dan tidak ingin menunggu lagi karena khawatir waktu baik akan berakhir.
"Aku tidak terlambat kan?"
Tiba-tiba Joon muncul di balik pintu kamar dengan pakaian rapi dan kemeja ala arabnya itu, yang semakin meningkatkan kekaguman Shaina padanya.
"Ti-tidak, ayo silahkan, aku menunggumu" Sahut Shaina sambil mengerjap.
__ADS_1
"Tolong ajarin dan ingatkan aku jika ada yang kelupaan nanti karena sudah sangat lama aku tidak melakukannya lagi" Ujar Joon.
Shaina mengangguk sambil tersenyum, Joon tidak datang dengan tangan kosong, tapi ia juga membawa sajadah dan di gerainya di depan Shaina. Lalu Joon memulai takbirnya menyeru kebesaran Sang Pencipta dengan merdu, membuat Shaina seakan tidak percaya dengan sosok lelaki di depannya itu yang ia tahu seorang pemabuk dan kerap berhubungan suami istri yang bukan istri sahnya.
Walaupun tersendat-sendat surah yang Joon lantunkan tapi tidak dipungkiri suaranya sangat indah dan memenangkan hati Shaina hingga ia tidak henti-hentinya berucap syukur dalam do'anya untuk Joon.
Usai salat bersama, Joon berbalik badan pada Shaina menundukkan pandangan darinya. Dan tidak sadarkan diri, ia hanyut dalam perasaannya.
Shaina merasa ada yang berbeda dengan Joon, ia bangkit dari duduknya dan meraih tissu di meja rias untuk diberikan pada Joon.
"Aku takut..." Gumam Joon.
"Tidak ada yang perlu di takutkan, kita tidak membuat salah" Kata Shaina.
"Tapi aku sangat memalukan, aku tidak lebih dari sampah" Tambah Joon.
"Kita berdua tidak ada yang suci dari dosa, tapi kita bisa belajar menuju fitrahNya, aku pernah mendengar Allah lebih suka mendengar tangisan orang yang mengakui dosanya daripada orang suci yang mengakui kesuciannya" Ujar Shaina.
Joon terdiam menatap Shaina yang sangat menenangkan jiwanya, seketika ia merasa dingin di dadanyadadanya tanpa ia tahu penyebabnya.
Begitu juga dengan Alice yang juga terbangun lalu menghampiri Shaina seraya bertanya, "apa yang kalian lakukan?".
Joon terdiam dan bingung menghadapi pertanyaan mereka, tapi Shaina dengan cekatan menjelaskan pada mereka dengan menggunakan kata-katanya yang mudah di mengerti oleh anak-anak membuat Joon terus menatap perempuan itu yang pernah dianggapnya kuno dan ketinggalan jaman itu tapi sekarang itu semua telah terbantahkan, karena Shaina tidak hanya sekedar perempuan manja dan cerewet tapi dia sangat menarik, cerdas dengan caranya juga lembut apalagi ia mudah mendalami perasaan orang lain.
"Aku pernah melihat Papa melakukan hal yang sama seperti paman" Selamat Alfan.
"Ohh benarkah?!" Imbuh Shaina yang merekahkan senyuman manisnya seraya mengelus kepala Alfan.
"Kain apa ini Ma?" Tanya Alice dengan memegang mukena yang digunakan Shaina.
Shaina menjelaskan kegunaan dan cara menggunakannya pada Alice hingga membuat gadis kecil itu kagum.
"Aku juga ingin mencobanya" Ujar Alice.
"Nanti Mama ajarin ya" Kata Shaina.
Alice mengangguk dan terus berpelukan dengan Shaina yang selalu mendaratkan ciuman di kening gadis itu, Joon yang melihat kedekatan mereka membuatnya ikut tersenyum tidak terkecuali Alfan juga di peluk Shaina.
__ADS_1
"Aku tidak kelupaan kan tadi?" Tanya Joon menyela keakraban mereka.
Shaina tersenyum, "kau luar biasa" Shaina melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya hingga terangkat tiga jarinya, "tapi jika kita belajar lagi dan sering-sering melakukannya pasti kamu best of the best" Seru Shaina membuat Joon terkekeh.
Sesaat Joon terdiam melihat perempuan itu meneteskan air mata tapi bibirnya merekah senyuman, namun disisi lain ia melihat bayangan perempuan lain dari wajah Helena, sosok perempuan berwajah oval dengan mata hitam pekat, hidungnya yang sedang, tidak mancung ataupun pesek dalam kerudung putih, hingga Joon sulit berkedip dari bayangan itu.
"Mama..." Gumam Alice dan Alfan yang menatap Shaina karena mereka juga sekilas melihat seseorang dari wajah Helena yang jelas itu bukan wajah Helena.
"Aaaa..." Ringis Shaina yang tiba-tiba memegang perutnya.
"Kenapa? Ada yang sakit?" Selidik Joon yang cemas.
"Tidak ada, aku cuma merasa ada yang bergerak didalam" Shaina melihat kearah perutnya.
Begitu juga dengan Joon yang mengikuti pandangan Shaina lalu mereka tertawa bersama, Alice dan Alfan kebingungan dengan mereka berdua.
"Adik kalian bergerak" Kata Shaina sambil tersenyum.
"Benarkah Ma?" Imbuh Alfan.
Shaina mengangguk sambil mengelus perutnya dan Joon pun tidak bisa menutupi senyumannya dari Shaina hingga mereka berbagi pandangan.
Usai sarapan, anak-anak pun masuk ke dalam mobil Joon yang akan mengantarkan mereka kesekolah dan mereka pun sudah berpamitan pada Shaina. Tapi Joon masih sibuk mencari ponselnya yang lupa ia letakkan dimana, tidak berapa lama kemudian ponsel itu ditemukan oleh Shaina yang tergeletak di bawah bantal sofa dan mengembalikannya pada Joon.
"Terima kasih" Kata Joon yang menerima ponsel dari Shaina.
"Nanti malam mau makan apa? Biar aku masakin" Kata Shaina.
Joon mengatakan ia ingin di masakin sesuatu yang manis dan ia mengatakan menu makanan yang sulit di mengerti oleh Shaina bahkan ia belum pernah mendengarnya. Hingga membuat Joon tertawa karena Shaina tampak kebingungan bahkan untuk mengucapkannya saja sudah membuat lidahnya belibet.
"Apa saja yang kau suka" Kata Joon.
"Baiklah tuan!!" Celetuk Shaina dengan wajah girangnya, "semoga harimu menyenangkan dan selalu di lindungin, Amiiin!!!" Tambah Shaina.
Joon terkesiap dengan do'a Shaina atas dirinya, yang hampir saja ia hendak mencium kening gadis itu tapi terhenti karena ia tersadar itu bukan hal yang baik dilakukan pada Shaina.
Di tempat kerja Joon tersenyum-senyum sendiri dan ia pun tidak segan-segan berbagi senyuman dengan pelanggannya yang membuat mereka kegirangan khususnya bagi pelanggan cewek, tapi sikap Joon itu mengherankan Harris karena tidak biasanya Joon bisa bersikap ramah pada orang lain.
__ADS_1