
Beberapa waktu berselang, Joon keluar dari kamarnya setelah mandi dan berganti pakaian, mereka semua sudah siap menikmati keindahan kota di malam diluar.
Shaina tampak elegan dengan pakaian hangatnya agar tidak kedinginan saat berada diluar ruangan nanti, apalagi akhir-akhir ini udara cukup dingin menurut Shaina yang terbiasa dengan iklim tropis.
"Semua sudah siap?" Tanya Joon
"Sudah...!!!" Sahut Alice dan Alfan serentak.
Shaina tersenyum melihat mereka. Joon dengan sigap membuka pintu mobil untuk Shaina dan anak-anak, dan mengingatkan mereka untuk tidak lupa memasang seatbelt demi keselamatan tapi Shaina yang sebelumnya tidak pernah naik mobil pribadi, kesusahan apalagi perutnya yang mulai membesar juga menyulitkannya, namun Joon selalu siaga membantunya.
Keindahan kota Wina dimalam hari membuat siapapun terpana tidak terkecuali Shaina, ia begitu dimanja dengan alunan musik dari para musisi jalanan berkualitas tinggi jadi tidak heran banyak musisi ternama lahir dari kota tersebut. Ditambah lagi deretan bangunan dengan berbagai gaya arsitekturnya mulai dari gaya Gothik hingga modern, semua komplit di Wina.
Belum juga mata Shaina puas memandangi wajah kota Joon sudah memarkirkan mobilnya di salah satu basemen yang terletak di sebuah gedung bertingkat, setelahnya mengajak Shaina masuk sambil menggandeng anak-anak.
Joon berperan bak seorang bodyguard yang selalu siaga melindungi Shaina didalam lift agar orang-orang yang masuk tidak menyenggolnya. Keluar dari lift, Joon menuntun mereka masuk ke ruangan lainnya yang banyak orang, dengan suasana tenang. Joon memilih meja didekat jendela agar mereka dapat melihat pemandangan kota yang dipenuhi dengan kilauan lampu-lampu.
"Waaaa...!!! Dari sini kita bisa melihat seluruh kota" seru Shaina.
"Kau suka?" Tanya Joon.
Shaina mengangguk, "sangat suka" jawabnya.
"Apa kau ingat, saat kita pulang dari rumah Harris dan kita berhenti di persimpangan jalan ? Itu tempatnya" tunjuk Joon ke salah satu sudut jalan.
"Benarkah?".
Joon tersungging melihat Shaina yang terkesima dengan pemandangan kota yang dipenuhi taburan lampu.
DUAARRR!!!
Di sebuah lapangan terbuka muncul kembang api yang meledak di angkasa lalu dibelakangnya beruntun meledak kembang api lainnya.
"Mama...! Lihatlah ada kembang api!!" Seru Alice.
"Iya sayang, itu sangat indah...!" Sahut Shaina.
Melihat mereka semua senang dan sangat antusias dengan kembang api membuat Joon ikut tersenyum manis yang sulit diartikan dengan kata-kata hingga senyum manisnya buyar ketika seorang pelayan menghampiri mereka dan menawarkan buku menu.
Shaina memajukan tubuhnya untuk berbisik pada Joon seraya menutup muka dengan buku menu tersebut, ia bertanya, "Joon, apa ini halal?"
"Tenang saja, ini bisa dimakan kok, bukankah kita seiman?" Sahut Joon.
Mendengar jawaban Joon, Shaina tersenyum tipis dan kembali duduk seperti semula, kemudian meminta Joon menjelaskan makanan apa saja yang bisa dimakannya.
Karena Shaina tidak tahu apa-apa tentang menu restoran itu jadi dengan sabar Joon membantu Shaina untuk memesan makanan yang sesuai seleranya. Tidak seberapa lama menunggu, pelayan sebelumnya kembali dengan membawa pesanan mereka yang terdiri dari beberapa jenis dan tampilannya.
__ADS_1
"Joon, ini apa namanya?" tanya Shaina yang seakan tidak sabaran untuk mencicipinya.
"Martinigansl" sahut Joon.
(Martinigansl, makanan yang terbuat dari daging angsa diolah dengan cara dipanggang lalu disajikan dengan chestnuts, buah Plum kering, atau kubis merah dan kentang. Makanan khas Wina).
"Terdengar seperti menyebut mentega jangan-jangan ini dimasak dengan mentega" celetuk Shaina.
"apa itu?" tanya Joon yang merasa Shaina mengatakan kata yang asing di telinganya.
"tidak ada, kita makan saja, aku sudah tidak sabar untuk mencicipi sapi panggang" sela Shaina.
"ini daging angsa bukan sapi" kilah Joon.
Shaina mengerjap, membolak-balikkan matanya dari Alfan dan Alice serta Joon.
"Sebenarnya ini bisa dimakan enggak sih? dari tadi salah melulu! Kan jadi bete!!!" timpal Shaina yang memanyunkan bibirnya sambil membuang muka dari Joon.
Sikap Shaina yang rada-rada sensitif dan kesal tanpa alasan itu membuat Joon keheranan, apalagi Shaina sudah tidak bernafsu makan lagi bahkan untuk menyentuh makanannya saja enggan, jadi Joon mengambil alih hidangan Shaina itu untuk diletakkan di depannya, tangannya cukup cekatan memotong daging angsa panggang tersebut dengan garpu dan pisau khusus makan, lalu di suap ke Shaina yang tak bergeming itu.
Shaina melirik kesal pada Joon, ia bertanya, "apa ini tidak terlalu mahal?" Tanyanya.
Joon tersenyum, "kau kira aku tidak mampu membayarnya?" Balasnya.
"Ini agak berlebihan, kau bekerja keras untuk mendapatkan uang dan dengan gampangnya dihabiskan begini" ujar Shaina.
"Tapi Joon...?" Shaina membuka mulutnya untuk menikmati daging angsa yang disuapin Joon tersebut.
Shaina terdiam, mengunyah makanan dengan perlahan untuk menikmati setiap cita rasa yang terkandung di dalamnya, lalu seberkas senyuman merekah di bibir seksinya dikarenakan makanan khas daerah Wina itu sangat enak dan lezat, belum pernah ia makan sebelumnya. Mengetahui itu Joon juga ikut senang.
"Kata orang Jika dapat menyenangi ibu hamil maka bayinya juga bisa merasakan hal yang sama jadi dengan begitu bayinya juga akan tumbuh sehat" kata Joon.
"Iya sih, tapi tidak harus membuang-buang uang, lagian kita juga harus berhemat apalagi aku tidak bisa menghasilkan sepersen pun".
Joon menatap perempuan didepannya itu dengan mata berbinar-binar.
"Baik, aku akan berhemat tapi tidak sekarang, aku sudah bekerja keras untuk malam ini kita harus menikmatinya" tambah Joon.
"Joon, setelah ini kita langsung pulang saja" kata Shaina setelah memakan makanan yang disuap oleh Joon.
"Hari ini ulang tahunku" sambung Joon.
Shaina tersentak kaget mendengarnya bahkan Alice dan Alfan ikut kaget.
"Benarkah?" Tanya Shaina serentak dengan Alice dan Alfan yang seakan tidak percaya.
__ADS_1
Joon mengangguk, anak-anak pun tersenyum lalu mengucapkan selamat ulang tahun dan bergantian memeluk Joon kecuali Shaina yang hanya mengucapkan selamat ulang tahun saja.
"Selamat ya Joon, semoga kau selalu dilindungi, dimudahkan segala urusanmu dan selalu bahagia" ucap Shaina.
"Terimakasih atas doanya" sahut Joon, "tapi ku rasa aku akan sulit bahagia" tambah Joon.
"kenapa?" Tanya Shaina yang bingung dengan kata Joon.
Joon tersungging, "bagaimana aku bisa selalu bahagia jika kamu selalu cemberut dan marah-marah kayak gini" cetus Joon.
Shaina tersungging, "maaf" ucap Shaina.
Membalas menyuapi Joon serta Alfan dan Alice ikut makan dari sendok yang Shaina suapkan untuk mereka. Usai makan malam di restoran mewah itu, Joon tidak serta-merta mengajak mereka pulang melainkan mereka masuk ke pusat perbelanjaan. Joon tidak ragu-ragu mengeluarkan uangnya untuk membeli pakaian baru untuk Alice dan Alfan. Saat di eskalator Shaina mengalami kesulitan, dia gugup karena tidak pernah naik tangga berjalan tersebut jadi dia berpegangan terus pada lengan Joon hingga ke atas, menyampingkan rasa malunya dari Joon karena mulai merasa nyaman dengan keberadaan Joon didekatnya, yang tanpa ragu- Shaina memunculkan karakter aslinya dibalik sifat pendiam dan pemalunya.
Meski orang-orang mengenal Shaina hanya sebagai gadis tertutup dan pendiam tapi sebenarnya ia gadis yang mudah akrab, ceria juga manja dengan orang-orang yang dianggapnya baik, seperti halnya dengan Joon yang memperlihatkan seperti tidak jarak diantara mereka.
Bahkan orang-orang yang melihat sekarang, mengira mereka pasangan suami istri sungguhan yang bahagia dengan dua buah hati mereka, apalagi Alice kerap bercanda dengan saudara kembarnya didepan Shaina dan Joon hingga acap membuat mereka tertawa.
Shaina kaget dan tidak percaya, Joon membawakannya ke toko yang menjual perlengkapan bayi.
"Selamat datang tuan dan nyonya, ada yang bisa kami bantu?" Sapa karyawan penjaga toko.
"Kami mau cari kereta dorong untuk bayi" sahut Joon.
Ucapan Joon membuat Shaina terkejut dan ia tidak mengerti maksud Joon.
Karyawan tersebut tersenyum melihat kearah Shaina dan perut besarnya, lalu mengarahkan mereka ke rak yang memanjang berbagai jenis perlengkapan bayi. Mulai dari kereta dorong, tempat tidur yang mungil dan lucu-lucu, pakaian dengan berbagai karakter serta bermacam-macam lainnya, semua komplit di toko tersebut.
Shaina menghampiri Joon yang sedang lihat-lihat kereta dorong bayi bersama Alfan dan Alice, Shaina berbisik, "Joon, kita belum membutuhkan ini".
"Aku tahu, kita hanya lihat-lihat saja jadi nanti kita sudah tahu mana yang terbaik" sahut Joon.
"Waaaahhh Nyonya beruntung sekali...! Punya suami perhatian sampai memikirkan jauh-jauh hari yang terbaik untuk bayinya" celetuk karyawan tersebut yang menemani mereka.
Shaina dan Joon saling berbagi pandangan tanpa mengatakan sepatah katapun hingga karyawan itu melanjutkan kalimatnya dengan berkata, "di jaman sekarang jarang sekali pasangan muda yang kan bertahan lama tapi kalau melihat kalian sepertinya tidak berlaku, anak-anak kalian juga sudah besar dan sekarang kalian akan mendapatkan bayi lagi, kalian pasti sangat bahagia".
Joon tersenyum kecut pada karyawan tersebut begitu juga dengan Shaina yang memalingkan mukanya seketika wajahnya berubah menjadi merona. Dua bocah bermata kelabu itu juga ikut terdiam dan bingung mendengar perkataan yang dilontarkan sang karyawan tersebut.
Beberapa kereta dorong telah mereka lihat yang memiliki berbagai kemudahan dan kenyamanan untuk si bayi, dari harga normal hingga berharga selangit tapi itu sesuai dengan kualitas yang dimiliki kereta dorong tersebut.
"Kamu suka yang mana?" Tanya Joon pada Shaina.
"Joon, ini terlalu mahal" bisik Shaina pada Joon.
"Shaina...! Ayolah! Kita enggak beli sekarang kok..." Rengek Joon dengan nada memelas.
__ADS_1
"Hhffff...!" Shaina menghela nafas panjang, "baiklah..., Aku suka yang ini" ucap Shaina dengan memegangi sebuah stroller bayi yang cukup simpel namun elegan serta di lengkapi berbagai kemudahan termasuk bisa dilipat dan tidak terlalu berat ditambah lagi ada lebel keamanan yang menjamin.