
Karena terus diperhatikan oleh Joon, membuat Shaina canggung, sampai-sampai ia sangat kaget saat Joon mendekat lagi padanya.
"Biar aku saja yang membereskan ini, kamu istirahat aja dulu" Kata Joon.
Beberapa hari telah tinggal bersama, Shaina tidak lagi sok jual mahal dengan berpura-pura tak butuh bantuan lelaki itu, jadi ia memundurkan langkahnya untuk membiarkan Joon yang memberes semuanya termasuk mencuci piring. Walaupun begitu Shaina tidak pergi begitu saja tapi tetap menemani Joon beres-beres hingga selesai.
Setelah semua pekerjaan selesai dikerjakan mereka berkumpul di ruang tamu bersama Alfan dan Alice dengan obrolan ringan mereka seperti biasanya yang akhir-akhir ini mereka lakukan. Mereka pun tak ada lagi rasa canggung ataupun malu-malu melainkan sifat blak-blakan Shaina sudah tidak asing lagi bagi mereka dan selalu bisa saja memecahkan tawa diantara semua.
Shaina mengedipkan matanya pada Alice yang sejak tadi menatapnya, lalu meminta gadis cantik itu untuk duduk bersamanya. Kesempatan yang tidak disia-siakan Alice, secepatnya ia menghampiri Shaina dan tidur dalam pelukan hangat perempuan yang dianggap Mamanya itu.
"Mama, senang enggak tinggal bersama kami?" Alice mendongakkan kepalanya pada Shaina yang tidur disofa dengan menyandarkan punggungnya di bantalan samping sofa itu.
Shaina terdiam dan tampak seperti sedang memikirkan sesuatu, ia juga melihat semua mata tertuju padanya tidak terkecuali Joon dan Alfan yang juga menunggu jawabannya sama seperti Alice.
Shaina tersenyum dan mengatakan, "jika boleh sombong, aku ingin menyombongkan diri pada dunia, aku sangat beruntung dipertemukan dengan anak-anak pintar dan manis seperti kalian, dan aku memiki keluarga lagi".
"Keluarga?" Sela Alfan yang duduk lesehan bersebelahan dengan Joon yang diam dari tadi, dan hanya memperhatikan mereka sambil menikmati popcorn di meja kecil itu.
"Iya, keluarga. Anak dan adik ipar" Kata Shaina, "bukankah begitu adik ipar?" Shaina cengengesan pada Joon.
"Aku bukan adik ipar mu!" Sergah Joon yang tidak suka dengan penyataan Shaina.
"Apa salahnya, adik ipar ku?" Canda Shaina yang semakin menjadi-jadi seraya terkekeh dan sembari mengelus rambut pendek Alice yang ikut memeluknya.
"Jangan panggil aku adik ipar! Memangnya berapa usia mu? Jikapun kau lebih tua dariku, aku tetap bukan adik ipar mu!!" Dengus Joon yang melirik kesal padanya.
"Usiaku...? Ku rasa tiga bulan lalu aku genap dua puluh lima tahun, bukankah aku cocok jadi kakakmu, wahai anak muda?".
Joon tertawa terbahak-bahak menertawakan Shaina dan melempari Shaina dengan popcorn, "Kau itu lebih muda setahun lebih dari ku, pake sok-sokan jadi kakakku pula!" Ketus Joon dengan memunculkan senyum tipisnya yang dapat mengakibatkan para wanita terkena diabetes akut.
Shaina memalingkan muka dari Joon karena jengkel terhadap lelaki itu yang menertawakannya.
Alice meraba-raba wajah Shaina yang menghadap padanya, "menurutku Mama cantik" Gumamnya.
"Kau benar, Nona Helena memang sangat cantik seperti kamu" Tambah Shaina.
__ADS_1
"Bukan Mama Helena yang Alice maksud tapi Mama Shaina" Sambung Alice.
Mendengar kata Alice membuat Shaina merona dan cengengesan tanpa alasan, tapi tidak bisa dipungkiri pujian Alice terlalu berlebihan menurut Shaina.
"kamu salah, aku tidak cantik malahan aku tidak menarik sama sekali, jika kita ada dalam kisah dongeng aku lebih cocok jadi ibu tiri putri snow white yang iri dengan paras Alice yang mirip dengan snow white, memiliki kulit putih seperti salju dengan bibir bagaikan kelopak mawar yang merah" Kata Shaina yang memuji kecantikan yang dimiliki Alice bagaikan putri di dalam kisah dongeng.
"Waaah...!!! Mama ada benarnya juga, kita benar-benar seperti berada dalam kisah dongeng, Alice jadi snow white, Mama si pemilik cermin ajaib karena Mama seperti penyihir yang bisa masuk ketubuh orang lain, dan aku sebagai pangerannya, tapi aku sangat sayang pada Mama Shaina" Sela Alfan.
"Alice juga sayang sama Mama Shaina!" Potong Alice dengan antusiasnya.
Namun mereka terdiam dan mengarahkan pandangan pada Joon yang tidak ikut menyuarakan pendapatnya dalam kisah dongeng, sesuai alur yang mereka ciptakan.
"Apa?" Tanya Joon dengan mulut yang dipenuhi popcorn.
"Paman jadi apa? Tanya Alfan.
"Bagaimana kamu Joon jadi kurcaci saja atau figuran saja yang jalan-jalan dibelakang sambil narik gerobak" Timpal Shaina yang terkekeh.
"Aku tidak tertarik dengan hayalan aneh mu itu!" Bantah Joon.
"Benar juga, tapi Alice mau akhir ceritanya raja dan penyihir hidup bahagia selamanya bersama snow white dan Pangeran karena penyihir menghadiahi raja seorang peri kecil" Celetuk Alice yang disetujui saudara kembarnya.
Karena perkataan dua anak kembar itu, lagi-lagi mampu membuat Shaina maupun Joon terdiam seribu bahasa dan hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga Alfan kembali bersuara yang meminta Joon untuk mau menjaga mereka selamanya dan ia juga meminta Shaina untuk tidak pernah melupakan mereka semua.
Shaina bangun dari tidurnya dan ikut duduk lesehan dihadapan mereka, dalam diamnya tanpa sadar air matanya menggenang di pelupuk mata, "Tentu, tentu aku akan selalu mengingat kalian dan ku harap jika suatu hari nanti aku menghilang kalian juga mengingatku?" Kata Shaina.
"Apa yang Mama katakan? Mama mau ninggalin kami juga seperti Papa dan Mama kami lakukan?" Sergah Alice.
"Jangan bicara seperti itu, Mama dan Papa kalian tidak pernah berniat meninggalkan kalian" Ujar Shaina dengan memeluk Alice yang sudah duduk di sebelahnya dan Alfan juga ikut duduk dengannya.
"Sehebat apapun kekuatan sihir mu untuk bersembunyi nantinya aku pasti bisa menemukanmu" Ucap Joon yang tiba-tiba menyela yang mengakibatkan Shaina terpaku.
"Semoga saja kau benar" Sahut Shaina. Joon terdiam dengan menatapnya.
"Aaaa!!! Aduhhhh!!!" Pekik Shaina dengan memegang perutnya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Joon yang khawatir dengan jerit Shaina yang tiba-tiba apalagi ia memegang perutnya.
"Perutku... Bayinya bergerak terus..." Kata Shaina.
Mendengar jawaban Shaina, Joon terkekeh tapi tidak Shaina. Dengan suara tinggi menyuruh Joon dengan mengatakan, "apa yang kau tertawakan? Ini sakit tahu!" Pekik Shaina terhadap Joon yang diiringi dengan pukulan tapi Joon tidak marah dengan tindakan Shaina melainkan ia meminta maaf karena menertawakannya.
*****
Bel jam istirahat berbunyi, Alfan dan Alice menuju kantin sekolahsekolah dan duduk di sudut ruangan untuk menikmati bekal makan siangnya. Sekelompok anak menghampiri dengan mengelilingi mereka.
Salah seorang dari mereka berkata dengan nada mengejek, "Hai si anak malang! Kami dengar Mamamu sudah gila ya, sejak ayahmu meninggal?".
Buuukk!!
Alfan memukul meja dan berdiri, "Jangan bicara sembarangan tentang orang tua kami!" Bentuknya.
"Kenapa? Apa kalian malu jika orang-orang tahu ibumu gila?"
Plakkk!!!
Kali ini Alice menampar salah seorang dari mereka, "Mama tidak gila tapi kalian tuh sekelompok orang gila!" Sergahnya.
Tamparan Alice memancing kemarahan lebih parah lagi sehingga keributan semakin tak terelakkan, dari mulut sekelompok anak-anak itu terus keluar kata-kata gila yang tertuju pada Mama mereka. Alfan dan Alice pun tidak diam saja, mereka terus membantahnya karena menghina keluarganya.
Murid lain menonton pertengkaran mereka dan ada juga yang melapor pada guru, sehingga guru datang untuk melerai mereka.
Dengan terpaksa orang tua masing-masing murid yang terlibat pertengkaran itu disuruh datang menemui guru tidak terkecuali orang tua Alice dan Alfan, membuat mereka bingung untuk memberitahu Shaina yang disuruh datang kesekolah.
Di rumah, Shaina sibuk merapikan pakaian Joon dan anak-anak tiba-tiba mendapatkan telpon dari sekolah Alfan dan Alice membuatnya cemas apa lagi ia dimintai datang ke sekolah.
"Saya harap nyonya Helena bisa menyempatkan diri untuk datang ke sekolah" Kata guru Alfan dan Alice yang terdengar dari ponselnya.
"Baik bu, akan saya usahakan untuk datang" Sahut Shaina sebelum pihak guru itu mengakhiri panggilan itu.
Shaina duduk di sisi ranjang seraya memikirkan apa yang akan ia lakukan, tangannya menggenggam erat ponsel.
__ADS_1
****