Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Tidak berhalusinasi


__ADS_3

Kenyataan membuyarkan kenangan dimasa lalunya, dimana sekarang Shaina harus bergegas menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak dan Joon yang akan bekerja. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan segera ke dapur setelah mencuci muka, namun langkah terhentikan saat melihat pintu kamar Joon yang masih tertutup rapat, entah sudah berapa kali Shaina menggedor-gedor pintu tapi tidak ada balasan dari Joon.


Tampak ia menarik nafas dalam-dalam sebelum Shaina memutar gagang pintu yang tentunya tidak terkunci, perasaan terasa gugup saat menemukan Joon yang masih terbungkus selimut, perlahan ia menarik selimut yang menutupi wajah Joon agar terbangun. Tapi Shaina hanya bisa terdiam sambil tersenyum memandangi wajah Joon yang mempesona meski dalam keadaan masih terpejam, wajah rupawan itu hanya terlihat tegas tapi juga tampak begitu manis, membuat siapapun tidak akan bosan hanya untuk memandanginya.


"Joon bangun, kau tidak bekerja?" dengan pelan Shaina menyingkirkan selimut yang wajah Joon agar lelaki segera terbangun terbangun tapi usahanya malah tidak berdampak apapun walaupun Shaina telah mengulangi kalimatnya kembali hingga beberapa kali. Joon masih terbuai dalam mimpinya.


Shaina lebih dekat hingga menyentuhnya sambil mengatakan, "Joon bangun!" Shaina memukul-mukul bahu Joon.


"Emmm..." gumam Joon menggeliat dan kembali menarik selimutnya.


"Joon bangun! Kamu tidak kerja?" Shaina meninggikan nada suaranya.


"Kerja, kenapa ... Emmm ...?" gumam Joon, membuka matanya, dan mengerjap melihat Helena dengan piyama dan celana pendek, rambut pendeknya juga tidak tertata rapi, penampilan yang belum pernah dilihatnya dari seorang Helena, tapi Joon tidak hanya menganggap Helena berbeda, ia juga menganggap Helena lebih manis.


"Kamu kesiangan" ucap Shaina.


Joon tersentak dan bangkit dari tidurnya, "Benarkah?" ia menoleh ke jam mejanya, dalam sekejap mengingat ia semalam lupa menyetel ulang jam mejanya.


Shaina bangkit dari tempat tidur Joon dan pergi keluar, meninggalkan Joon yang menghempaskan selimutnya dan dengan terburu-buru masuk ke kamar mandi. Hal yang sama juga terjadi pada Shaina di dapur, ia panik dan bingung, tidak tahu harus memasak apa untuk sarapan mereka, yang jelas-jelas memasak bukanlah keahliannya, walaupun begitu ia tetap memasak nasi di rice cooker terlebih dulu sambil memikirkan jalan keluar dari kepanikannya dan bisa memasak sesuatu untuk anak-anak.


"Kamu bangun kesiangan juga ya?".


Secepatnya Shaina mengarahkan pandangannya pada asal suara itu yang tak lain adalah Joon yang masuk dapur, hawa dingin langsung menyergap tubuh Shaina saat lelaki itu berdiri di sebelahnya, kulit segar dan aroma sampo dari tubuh Joon membuat Shaina minder mengingat dirinya yang belum mandi setelah mandi dan berganti pakaian.


"Iya, aku juga kesiangan dan langsung membangunkan anak-anak dan kamu" sahut Shaina kepanikan terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Apa yang sedang kau masak?" Tanya Joon yang kembali mendekat ke Shaina.


"Aku tidak tahu, tapi aku sudah memasak nasi dan rencananya akan membuat nasi goreng" kata Shaina sembari menggigit bibir bawahnya, ia juga menyeka rambutnya ke belakang telinganya.


"Biar aku yang buat nasi gorengnya, nasinya sudah matang kan?" Tambah Joon.


"Sudah, " tangan Shaina bergetar, "biar aku ambilkan dan aku akan menggoreng telur tapi aku tidak bisa membuat telur mata sapi" lanjutnya.


"Tidak apa-apa yang penting ada yang bisa dimakan" cetus Joon.

__ADS_1


Shaina memberikan Joon nasi yang ia ambil di rice cooker, tangan Joon sangat cekatan mengguncang-guncang penggorengan, dan tangannya juga terlihat sangat kuat. Melihat Joon seperti itu hampir membuat Shaina lupa diri yang menghayal yang tidak-tidak terhadap Joon dan dirinya, karena walau bagaimanapun Shaina adalah perempuan normal dan wajar jika berharap pasangan halalnya seperti Joon.


"Auuuhhh!" teriak Shaina.


Joon mengecilkan api kompor dan meraih tangan Shaina yang terkena wajan panas saat menggoreng telur ayam.


"Makanya hati-hati" ketus Joon saat mengompres tangan Shaina dengan es batu yang ia ambil sebelumnya di dalam kulkas.


"maaf" ucap Shaina


Saat mengarahkan pandangannya pada wajah Helena, tanpa sadar Joon malah menatapnya dengan tatapan aneh dan melihatnya dari bawah kaki sampai ke ujung kepalanya sambil tersenyum tanpa melepaskan tangan Shaina. Tidak nyaman dengan sikap Joon tersebut, Shaina menarik tangannya lalu menjauh.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, aku hanya memeriksa tinggimu yang ternyata kau ini tidak terlalu tinggi juga" elak Joon, memutar balikkan topik pembicaraan karena sebelumnya ia memang sedang memandang Helena.


"Kau saja yang terlalu tinggi, nona Helena tingginya sangat ideal, tidak seperti ku yang mungkin hanya sebahu mu itu pun jika aku sedang memakai sepatu berhak" ujar Shaina sambil mengangkat tangannya sebahu Joon menyamai ketinggian tubuh aslinya.


Joon tersungging, "lalu apa lagi tentang dirimu?".


Shaina kembali menyibukkan diri dengan peralatan masak-memasaknya serao bercerita tentang dirinya, "tinggiku 150, rambutku panjang dan hitam seperti warna mataku, aku tidak pandai berdandan dan berbicara di depan umum, aku anak pertama dan perempuan satu-satunya, aku selalu berusaha menjadi mandiri karena tidak ingin membebani siapapun, tapi ... pada kenyataannya aku selalu butuh orang lain ..." Shaina terdiam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, membayangkan dirinya sebelumnya.


"Mungkin ini hukuman ku karena tidak mensyukuri apa yang sudah ku miliki, dan sekarang hidupku menghilang dari diriku sendiri sampai-sampai untuk melihat bayanganku sendiri ataupun mendengar nama ku dipanggil orang pun tidak bisa lagi...." tambah Shaina.


"Jujur, aku masih tidak percaya dengan hal semacam itu, tapi aku mau mendengarkan tentang orang yang kau sebut dirimu itu, siapa tahu pada suatu hari nanti aku bertemu dengan orang seperti itu dan aku mengenalnya melalui ceritamu" pengakuan Joon.


"Kau tidak akan bertemu dengannya, dia tinggal sangat jauh bahkan aku tidak yakin dia masih hidup kalaupun masih hidup kau tidak akan tertarik untuk mengenalinya" Shaina menatap Joon.


"Kenapa?" Joon terkekeh.


"Dia tidak menarik sama sekali dan tidak punya kelebihan apapun, dia tidak cantik" tambah Shaina sambil memalingkan wajahnya dari Joon.


"Mama..." Panggil Alfan dan Alice yang menghampiri mereka.


Shaina berbalik badan dan melihat pada dua anak itu, jantungnya berdegup kencang, ia menarik nafas dalam-dalam dan di hembusnya, lalu mengatakan, "Apapun yang terjadi mulai sekarang aku akan hidup sebagai nona Helena, menjaga anak-anak dan bayinya, lagian panggilan Mama tidak seburuk yang ku bayangkan, setidaknya ada hal baik yang kulakukan" shaina tersenyum pada Joon.


Senyumannya hanyalah sebagai topengnya, karena ia merasa ada sesuatu yang tidak benar dalam hidupnya, sedangkan Alice dan Alfan terdiam dan tidak mengerti maksud wanita itu yang mereka duga masih ibu mereka.

__ADS_1


"Panggil aku Mama, aku akan membiasakan diri dengan sebutan itu" Shaina menoleh ke arah Joon, "kau tuan Joon juga, terserah mau berpikir siapa aku, aku tidak peduli lagi, aku Shaina atau Helena semuanya tidak akan mengubah apapun" matanya menatap lekat-lekat manik mata Joon.


Lalu beralih, Shaina menepuk-nepuk dadanya seraya berkata, "nona Helena di mana Anda? Lihatlah aku menguasai tubuhmu" Shaina berputar-putar dengan menengadahkan wajahnya ke atas, melihat ke sekelilingnya bahkan langit-langit dapur, "aku juga memiliki anak-anakmu bahkan aku juga bisa merasakan pergerakan bayimu, nona Helena!! Aku memiliki semuanya yang kau miliki, anak-anakmu memanggilku Mama, apa kau tidak iri padaku? Aku sudah punya anak dan sekarang hamil, yang bahkan aku tidak pernah membuatnya aku pun tidak tahu rasanya bagaimana jatuh cinta atau bercinta bukankah ini sangat menyenangkan?" Seru Shaina.


Joon menghentikannya dan mengajak Shaina sarapan, mendadak ia merasa cemas pada Helena dengan keadaannya sekarang.


"Aku kakak iparmu, jadi panggil aku kakak jangan panggil dengan nama saja itu tidak sopan tahu!" Shaina menyeringai pada Joon, "Oh ya, aku sangat cantik pasti sangat banyak lelaki tertarik padaku, jadi setelah melahirkan aku ingin mencari seseorang dikencani untuk ku nikahi agar anak-anakku punya ayah lagi, dan kau sebagai adik ipar kau tidak repot-repot lagi mengurus kami".


"Diam! Diam! Berhenti berbicara ngawur seperti ini! Berhentilah jadi orang gila!" Joon menepis tangan Shaina dan menggencat bahu Shaina.


Suara lantang Joon sambil mengatakan Shaina gila membuat Alice dan Alfan ketakutan, berpikir ibu mereka benar-benar sudah gila. Tapi, Shaina malah terduduk di lantai dapur, terdiam sambil meneteskan air matanya.


"Kalian saja yang makan duluan, aku tidak laper, maaf membuat kalian takut, aku tidak akan mengulanginya lagi" kata Shaina.


Shaina bangkit dari tempatnya, sikapnya kembali normal dengan sibuk menyajikan makanan di meja makan, ia juga menyeka air mata Alice yang ikut menangis, dan menarik kursi untuk anak-anak Helena dan merapikan baju Alfan. Joon berkacak pinggang lalu meremas kepalanya yang mendadak terasa pusing, ia juga mendengus kesal dan berdecak.


Shaina menghabiskan susunya lalu beranjak pergi.


"Mama tidak makan dulu?" ujar Alfan.


Shaina berhenti, "Aku tidak lapar, aku ke kamar mandi dulu" kata Shaina.


"Tapi Mama akan sakit jika tidak sarapan" tambah Alfan.


Shaina berbalik badan kearah mereka, ia melihat Joon yang memalingkan wajahnya darinya sedangkan Alice dan Alfan tampak sedih, "aku mandi dulu setelah itu baru aku makan" kata Shaina.


Saat Shaina hendak masuk ke kamar, terdengar ketukan pintu dan ia segera melihatnya, ia melihat Harris yang datang.



Halo sobat pembaca.


Salam manis dari author yang sangat berterima kasih telah berkunjung ke Rahasia Jiwa Mama,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya biar author makin semangat buat Shaina salting terus dengan Joon, hehe....!!!

__ADS_1


__ADS_2