Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Peri kecilku


__ADS_3

Ucapan Joon membuat Shaina jengkel, seraya berdecak kesal, ia membalikkan badannya kearah Joon, mendekat pada lelaki yang duduk di kursi makan itu, Joon yang cengengesan membuatnya sangat kesal, "aku tidak sengaja tertidur di kamarmu semalam! Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak, itu tidak akan terjadi lagi" timpal Shaina.


"Lalu? Apa masalahmu aku minum atau tidak?" Tambah Joon.


"Kau masih muda, jangan kau rusak hidupmu dengan minuman haram itu, dan sekarang kau juga punya tanggung jawab atas keponakan mu dan nona Helena, kau harus memberi contoh yang baik pada anak-anak" tukas Shaina.


Lelaki itu tampak menaikan salah satu alisnya mendengar nasehat shaina yang bagaikan emak-emak. Melihat ekspresi joon, Lagi-lagi shaina jadi salah tingkah, getaran jantungnya juga ikut merusuhkan suasana dadanya. Shaina mulai menyadari bahwa hatinya benar-benar telah terpaut pada joon, dimana perasaan yang tidak pernah ada sebelum bahkan ketika ia di jodohkan dengan seseorang atau ketika teman-temannya ikut mencomblanginnya.


Perasaan yang selalu jadi alasannya pada teman-temannya ketika ia tidak tertarik pada siapapun. Di kalangan para sahabatnya shaina di kenal sebagai gadis yang belum pernah berpacaran ataupun dekat dengan lelaki manapun bahkan di media sosialnya juga jarang sekali shaina mengunggah foto dirinya kecuali ketika ia bersama dengan yang lain. Jika ditanya kenapa shaina betah menjomblo dan tidak tertarik pada lelaki manapun, maka ia akan menjawab belum ada yang mampu menggetarkan hatinya.


Sontak jawaban semacam itu hanya jadi bahan tertawaan, tapi bagi shaina itu serius meski cara jawabnya ia agak terselip humor, hanya saja mereka tidak mengerti maksud shaina yang sebenarnya, Shaina menganggap jatuh cinta itu anugerah jadi ia ingin hatinya yang menemukan cinta bukan fisik. Namun, bertemu dengan joon sungguh telah mematahkan anggapan orang-orang yang menertawakan getaran hatinya, karena setiap melihat dan bersama joon setiap saat itu juga jantungnya berdebar kencang tanpa sebab.


...*** ...


Shaina ingin sekali bertanya sesuatu yang telah mengganjal di hatinya sejak bangun tadi pagi, "joon... " Gumam Shaina


"Eh?! Ada apa? " Tanya Joon, kedua alisnya terangkat seketika, sembari sibuk dengan ponselnya.


"Ngomong-ngomong, kapan kau membuka bajumu semalam?" Tanya Shaina, beberapa kali ia mengerjapkan matanya karena malu.


Joon melirik kearahnya, "seharusnya aku yang menanyakan itu, kenapa kau tidur denganku? " Timpal joon.


"Sudah aku katakan! Aku tidak sengaja tidur di kamarmu, itu karena aku lelah dan sangat mengantuk setelah semalaman menunggumu. Sekarang aku hanya ingin tahu bagaimana bisa kau membuka pakaianmu jika kau tahu aku tidur disebelahmu?" Kata Shaina.


"Apa kau kecewa karena semalam aku tidak memperlakukanmu dengan seharusnya?" Ujar Joon.


"Apa maksudmu?"


Joon mendekati Shaina. "Jangan berpura-pura naif, kau kepengen kan, tahu rasanya membuat bayi juga?" Joon terkekeh melihat Shaina tampak kesal karena godaannya.


"Mama tidur dengan paman semalam?" Tiba-tiba muncul Alice dan Alfan di dapur.

__ADS_1


Sontak joon menjauh dari Shaina, dan menjadi salah tingkah didepan anak-anak, terlebih Shaina, ia berusaha menjelaskan bahwa ada kesalahpahaman tapi penjelasannya malah terkesan sulit untuk di pahami oleh dua anak itu karena Shaina agak terbelit-belit saat menjelaskan.


Alice dan Alfan menarik kursi mereka untuk diduduki, "tapi menurut Alice, tidak apa-apa juga jika Mama tidur di kamar paman karena kamar paman lebih besar dari kamar kami" Kata Alice.


"Iya Ma, paman. Mama tidak akan gerah lagi atau merasa sulit bergerak jika tidur di kamar paman, Mama juga tidak harus bangun tengah malam lagi karena Alice tidak sengaja menyenggol perut Mama" Tambah Alfan.


Shaina kaget dengan pernyataan dua anak itu, dengan cepat ia mengatakan, "Aku tidak mau! Aku tidur dengan kalian saja".


Joon juga menyergahkan dengan mengatakan, "Aku sudah mengatakannya dari dulu aku tidak mau berbagi kamar dengan siapapun! Kalian makan saja jangan banyak bicara" Timpal joon.


Joon melirik Shaina yang juga tampak membuang muka dari dirinya, joon mengerjap, mengingat kejadian tadi pagi bagaimana ia hampir saja di luar kendali dan ia juga hampir ambil andil atas kehamilan Mama mereka.


Joon beranjak dari tempat duduknya untuk membantu menyajikan sarapan dan menyuruh Shaina beristirahat, "jangan buat bayinya kelelahan, duduk dulu biar aku saja yang mengurus semuanya" Kata Joon pada Shaina.


Shaina tersenyum dan menuruti kata joon, ia dan anak-anak di layani dengan baik oleh joon meski dia terkadang agak pusing.


Sebelum pulang kerja kemarin, Joon sudah meminta izin pada bosnya bahwa hari ini ia tidak masuk kerja, jadi punya kesempatan untuk menenangkan kepalanya yang masih terasa berat karena pengaruh minuman alkohol semalam.


Melihat joon masih memijat keningnya, shaina tersenyum getir sembari mengatakan, "sudah tahu minum itu tidak ada baiknya masih juga minum" Sindirnya.


Joon melihat pada shaina, "kau sendiri bagaimana? Sudah tahu hamil itu tidak nyaman masih juga --" Balas joon tapi dia tidak menyelesaikan kalimatnya.


Shaina yang jadi kesal dengan ucapan joon, malah mendiamkannya dengan memasang wajah cemberut, karena tidak ingin membalas sindiran joon. Shaina memalingkan muka dari joon dan sibuk Mengelus-ngelus perutnya sambil tersenyum.


"Peri kecilku, kamu jangan berteman dengan paman itu" Gumam shaina


Sontak joon tertawa melihat shaina bicara dengan bayi di perutnya itu, yang terkesan aneh menurut joon.


"Peri? Sejak kapan kamu memberinya nama? Memangnya kau sudah tahu itu cewek atau cowok?" Timpal joon.


Shaina memanyunkan bibirnya dan terlihat sangat manis di mata joon, hingga lelaki itu lupa berkedip dan tenggelam dalam imajinasi liarnya.

__ADS_1


"Tidak mesti cewek atau cowok kan, jika aku ingin bicara dengannya? Ini bayiku, dia masih sangat kecil seperti peri jadi aku memanggilnya peri" Kata shaina yang tersenyum bahagia.


"Jadi kau sudah menerima keadaan mu sebagai Helena?" Tanya joon.


Shaina melirik joon dengan ekor matanya, "aku tak punya pilihan lain dan mulai sekarang aku tidak akan bersikap aneh lagi karena aku mulai menyukai mereka termasuk peri kecil ini" Shaina kembali memegang perutnya sambil tersenyum.


Joon menelan ludahnya melihat shaina yang tersenyum pada perutnya seperti itu, tapi joon segera memalingkan muka saat shaina meliriknya, "Baguslah, jadi tidak ada lagi orang yang berbicara seperti orang gila lagi" Dengus Joon.


Shaina bangkit dari duduknya dan mendekati tempat duduk joon, tanpa di duga shaina menjambak rambut joon, bukannya marah atau menyingkirkan tangan shaina dari kepalanya, joon malah semakin tertawa karena tindakan shaina itu benar-benar tidak terasa sakit. Tapi ekspresi shaina yang terlihat sangat lucu yang menggertakan giginya juga memencingkan matanya pada joon.


"Aku bisa meringankan sakit kepala mu" Kata shaina dengan nada mengancam.


"Jadi kau sekarang sudah berani mengancam ku?" Ketus joon.


"Aku tidak mengancammu, tapi aku mencoba menjadi penyembuh untukmu" Kata shaina tersenyum.


Joon memutar bola matanya ke samping dengan mengerucutkan bibirnya, membuat shaina sadar bahwa ia terlalu cepat dekat dengan joon bahkan tanpa disadarinya. Ia kembali menjauh dari joon dan tetap berusaha terlihat tenang meski hatinya berbeda jauh dengan yang terlihat.


Dari sisi yang berbeda, Alice dan Alfan telah menyaksikan sikap Mama mereka yang sudah sangat akrab dengan joon begitu juga sebaliknya, muncul kebingungan diantara mereka.


Timbul rasa kasihan melihat shaina kelelahan sendiri tanpa sebab, ia tampak memijat betis dan bagian kakinya yang lain. Joon menawarkan diri untuk memijat kaki shaina dan di terima dengan baik karena shaina memang membutuhkan bantuan joon untuk dapat meringankan rasa yang dirasakannya.


"Masih pusing?" Tanya shaina pada joon yang sibuk meremas kakinya.


"Kakimu masih pegal-pegal?" Balas joon.


Shaina mendengus karena pertanyaannya tidak ada jawaban dari joon, "tolong jangan minum lagi, aku janji akan membuatmu teh, kopi atau apapun itu walau tidak seenak yang diharapkan" Pinta shaina.


Joon melirik shaina dalam diamnya, perempuan itu tampak sangat berharap pada joon untuk mau mendengar keinginannya. Shaina merasa sangat nyaman meski dia harus menahan rasa malu saat joon memijatnya.


***

__ADS_1


__ADS_2