
Tidak bisa dipungkiri, di belahan bumi manapun, jika sekolah diliburkan saat kesibukan kegiatan bersekolah menjadi sebuah kesenangan yang tiada tara bagi para siswanya, tidak terkecuali Alice dan Alfan sekalipun, seperti sekarang pihak sekolah meliburkan para muridnya beraktivitas di sekolah, dikarenakan suhu di Wina mencapai dibawah titik nol derajat (0°) yang berkemungkinan besar akan turun salju, seperti yang diberitakan oleh media-media cetak maupun elektronik.
Yang otomatis Alice dan Alfan tidak bisa berlama-lama beraktivitas di luar rumah.
Meskipun begitu bukan alasan bagi Alfan untuk bermalas-malasan, ia tetap melakukan kegemarannya di sofa ruang tamu sambil membaca koleksi buku ilmiahnya, membuat Shaina kagum padanya yang melihatnya, jadi tidak heran bila Shaina ikut duduk menemaninya membaca walau untuk sekedar bertanya, karena Shaina juga termasuk orang yang haus pengetahuan, walau tidak secerdas Helena.
"Sayang, bagaimana cara listrik hingga bisa berguna di kehidupan kita sehari-hari?" Tanya Shaina pada Alfan yang kebetulan sedang membaca buku fisika yang membahas mengenai elektron.
"Begini Ma, listrik itu aliran elektron-elektron dari atom ke atom yang bla-bla-bla...." Jelas Alfan panjang lebar menjawab penasaran Shaina.
"OOO..." Gumam Shaina yang duduk di sofa sambil fokus ke buku yang jadi bacaan Alfan.
Mengabaikan keberadaan Joon yang sedang membersihkan permukaan meja dan TV dari debu, Shaina dan Alfan sibuk membahas bacaan Alfan si anak cerdas yang tidak jarang ditunjuk sebagai siswa berprestasi di sekolahnya berkat kemampuannya dalam bidang ilmu pengetahuan.
Meskipun diabaikan, tapi Joon juga menyimak pembicaraan ibu dan anak itu di sela-sela pekerjaannya.
"Bukan begitu cara kerja arus listrik" sela Joon sambil menyeka-nyeka permukaan tv dengan kain lapnya.
"Tapi Paman, itu benar kok, aku pernah membaca tentang kinerja listrik" sergah Alfan.
"Buku mu itu salah, yang benar cara kerja listrik itu dengan bekerja dan dapatkan uang untuk membayar listrik, baru setelah itu listrik pasti akan bekerja dengan baik dan berguna" tukas Joon.
"Iiisshhh kau ini! Ganggu orang aja!" Decak kesal Shaina dengan lirikan sinisnys terhadap Joon.
"Daripada kalian? Ibu dan anak hobinya olahraga otak dengan buku-buku itu, jika sudah stress nanti baru tahu rasa!" Timpal Joon.
"Kau ini! Anak suka belajar bukannya di dukung malah dikatain! Bikin kesal aja!" sembur Shaina.
Di tengah-tengah perdebatan itu, Alfan menunjukkan sikap tidak suka dengan pernyataan joon seperti yang ditunjukkan Shaina. Sampai-sampai ia menyudahi membacanya dan melemparkan buku ke meja.
"Kenapa sayang?" Tanya Shaina pada Alfan.
"Alfan tidak mau baca buku lagi, banyak teman-teman Alfan juga tidak suka pada Alfan dan mengatai Alfan kutu buku" ungkap Alfan.
Shaina mengambil kembali buku yang di lemparkan Alfan sebelumnya, lalu ia menyerahkan kembali pada sang punya buku tersebut.
"Jangan dengarkan orang lain jika itu menyakiti Alfan, lakukan yang Alfan suka jika itu tidak merugikan siapapun, hari ini tak ada yang menyukai Alfan tapi besok banyak orang luar biasa yang berharap bisa berteman dengan Alfan, dan Mama suka Alfan" ujar Shaina.
Pelan-pelan Alfan mengambil kembali buku di tangan Shaina, sambil menatap Shaina yang tidak pernah hilang akan senyumannya.
"Mama suka Alfan yang jadi kutu buku?" Tanya Alfan.
__ADS_1
Shaina mengangguk sambil mengecup kening Alfan, "Mama sangat suka pada putra tampan dan pintar Mama, kalau udah gede nanti Alfan pasti jadi orang baik, kan?"
Alfan tersenyum lebar pada Shaina yang membelainya. Dari sudut yang berbeda, Joon sedang melihat mereka.
"Masih kecil udah pinter cari perhatian" dengus Joon yang bergumam.
Derapan langkah memasuki ruangan tersebut, dengan menenteng buku Alice melewati mereka untuk menuju ke dapur. Tapi ia sempat membuat Joon dan Shaina terpaku dan beradu pandang olehnya, setelah makan cemilan sedikit, Alice kembali dan ikut duduk bersandar di sebelah Shaina.
"Alice tidak kedinginan?" Celetuk Shaina dengan ekspresi yang tidak percaya melihat anak perempuan yang beranjak remaja itu.
"Sedikit Ma, tapi Alice tidak apa-apa" sahut Alice dengan tenang.
Melihat Alice mengenakan celana sepangkal paha yang di padupadan dengan baju kekecilannya membuat Shaina dan Joon heran, tidak hanya itu Alice juga sedang serius mengagumi sosok-sosok tampan dari buku yang ia bawa, yang merupakan bukan buku biasa melainkan majalah para idol terkenal di seluruh penjuru dunia.
"Dari mana kau dapatkan gambar itu, sayang?" Tanya Shaina pada Alice.
"Di internet Ma" sahut Alice.
"Internet?" Sudi Shaina lagi.
"Iya Ma, Alice pake HP Mama kemaren untuk mendapatkan majalah ini, Alice beli ini juga dengan hasil tabungan Alice sendiri, mereka tampan dan keren-keren ya Ma?" Tukas Alice sembari menunjukkan foto para idol group tersebut yang menghiasi setiap lembaga buku tipis berukuran dompet itu.
"Iya, tapi..." Ucap Shaina.
"Apa sih ni Paman!!" Dengus Alice yang mengerutkan bibinya.
"Apa sih apa sih? Kau ini apa-apaan? di rumah aja sudah berani pake baju seperti ini apalagi di luar! Cepat ganti pakaianmu!!!" Timpal Joon.
"Tapi Paman, ini trend fashion" balas Alice.
"Trend fashion apaan, berkeliling pake kolor doang? Memangnya kau mau jadi perempuan penggoda?" Sembur Joon.
"Iiiihhh....! Paman bicara kayak orang benar saja, paman juga suka kan perempuan berpakaian seksi dan suka koleksi foto mereka? Alice juga mau di sukai orang-orang apalagi oleh mereka!" Timpal Alice sambil mengangkat buku dan memperlihatkan wajah-wajah idol group tersebut.
"Kau ini! Sudah pintar membantah ya?" Joon mendengus kesal, ia mengarahkan pandangannya pada Shaina, "lihat putrimu, suruh dia pake baju yang benar agar tidak jadi penggoda!" Ucap Joon.
Shaina melirik sinis pada joon, lalu menyuruh Alice ganti baju yang pantas.
"Tapi Ma, Alice mau...." Gumam Alice.
"Alice, pergi ganti pakaianmu" ucap Shaina dengan suara lembut.
__ADS_1
Walaupun wajahnya di tekuk dan agak memelas tapi Alice menurut pada Shaina yang memintanya untuk ganti pakaian. Joon yang terlanjur kesal, menjatuhkan diri di sofa, bersebelahan dengan Shaina, sesekali mereka beradu pandang.
"Bikin kesal aja, masih kecil udah tahu seksi-seksi dan suka, bukannya belajar" dengus Joon.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" sindir Shaina tanpa menoleh pada Joon.
"Keluarga kami tidak ada yang aneh-aneh semuanya orang berwibawa, Helena dan kakakku juga orang-orang sopan" ucap Joon.
"Mungkin Alice jatuh di pohon yang salah" gumam Shaina.
Joon melirik tajam pada Shaina, "kau menyindir ku?".
"Untuk apa aku menyindir mu jika kau tidak merasa?" Tambah Shaina.
Shaina kembali menyibukkan diri dengan Alfan, namun diam-diam ia tersungging melihat Joon yang kesal karena sindirannya yang sengaja ia lakukan. Saat menoleh pada Joon ia melihat Joon masih mendengus kesal sambil melirik foto-foto para lelaki tampan itu.
Setelah berganti baju, Alice kembali dan menghampiri mereka, ia menarik paksa buku gambar idolanya dari tangan Joon, dan ia memilih duduk di ujung sofa, bersebelahan dengan Alfan.
"Apa kerennya mereka?" Dengus Joon.
"Mereka keren bisa membuat orang lain suka pada mereka" ujar Shaina.
"Aku juga bisa bahkan bisa menikmati hasilnya" sahut Joon.
Seketika Shaina menoleh pada Joon dengan tatapan tajam.
"Daripada bicara yang enggak bermutu sebaiknya diam saja lebih baik" dengus Shaina.
Joon menarik senyum tipis mendengar omelan Shaina.
"Waaaahhh.... Turun salju" seru Alice yang melihat keluar jendela dan di susul Alfan.
"Benarkah?" Tambah Shaina.
"Iya Ma" sahut si kembar.
Shaina ikut melihat keluar jendela, butiran es menghujani bumi, Shaina yang baru pertama kalinya melihat salju turun dibuat takjub.
"Bolehkah kita keluar? aku ingin melihatnya" tanya Shaina.
Joon mengangguk sambil sambil tersenyum manis, mendengar itu, Alice dan Alfan segera berlari ke kamar untuk mengambil pakaian hangat mereka, Shaina juga menyusul mereka untuk mengambil pakaiannya.
__ADS_1
Setelah memakai pakaian hangat masing-masing dari mereka, Alice dan Alfan berhamburan keluar rumah sedangkan Shaina masih kesulitan memakai sepatu boot-nya karena terhalang oleh perutnya yang kian hari kian membesar.