Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
kekhawatiran sahabat


__ADS_3

"Elif.... Oh tidak....!"


"Joon hentikan! Jangan beri apapun untuk Elif....!"


Teriak mereka bertiga yang berlari ke dapur, Darrell segera menepis botol susu dari tangan Joon, Calvin merebut Elif dari Joon bahkan Alice yang sedang makan mie terpaku melihat orang dewasa itu bertingkah aneh.


"Alice sedang makan!" Seru Harris panik.


"Cepat buang makanan itu dan suruh Alice muntah!" Pekik Calvin.


Harris merebut piring makanan milik Alice dan ingin di buangnya, "apa harus ku buang? Tapi makanan ini sepertinya sangat enak" ujar Harris.


"Buang saja itu!" Timpal Darrell, sedangkan ia menggendong Alice dan di letakkan di wastafel, "Alice muntahkan makanan mu" pinta Darrell pada gadis manis itu.


"Tapi kenapa Paman?" Tanya Alice.


"Muntahkan saja nanti paman beli yang lain" sahut Darrell.


Darrell terus meminta Alice berkumur-kumur dan memuntahkan makanan yang baru dimakannya, Calvin terus bergerak-gerak, mengayunkan Elif yang menangis, sedangkan Harris ia masih ragu menuangkan mie ke tempat sampah karena menurutnya makanan tersebut sangat menggugah seleranya.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Joon yang berdiri melihat tingkah mereka semua.


"Kau itu apa yang kau lakukan? Kau hampir meracuni anak-anak!!" Sergah Calvin.


Joon mendengus dan berjalan mendekati Calvin sambil mengambil kaleng susu bayi.


"Lihat ini, ini baru aku buka kemarin, masa berlakunya setahun lagi" kata Joon


Dengan kewaspadaan sangat ketat, Calvin mengambil kaleng yang di berikan Joon untuk di bacanya, benar seperti yang dikatakan Joon jika susu itu tidak berbahaya. Joon mengalihkan pandangannya pada Darrell dan Alice.


"Turunkan Alice" ujar Joon pada Darrell "mi yang di makan Alice tidak berbahaya, aku yang membuatnya tadi dan aku juga sudah memakannya, aku juga tidak menambah bahan apapun selain bumbu masakan" terang Joon.


"Hah?! Benarkah Joon?" Sudi Harris yang tidak jadi menuangnya ke tempat sampah.


"Kalau enggak percaya sini aku makan saja" balas Joon.


Harris menyembunyikan piring mi ke belakangnya, "enggak perlu" sahutnya.


"Mana susu tadi?" Tanya Joon pada Darrell.


Darrell mengerjap kaget, "sudah ku buang..." Sahutnya, "bukan salahku, tapi dokter itu yang menyuruhku" sambung Darrell.


"Buatkan yang baru" tukas Joon, "kau Harris juga, masak makanan yang lain untuk Alice, dia baru makan sedikit tapi kau sudah menghabiskannya, kau Calvin juga harus buat Elif tenang" titah Joon pada mereka.


"Ta-tapi aku belum pernah buat susu" sahut Darrell.


"Di belakang kaleng susu ada petunjuknya" kata Joon.


"Aku tidak tahu buat bayi tenang" sahut Calvin.


"Kau bisa membuat bayi kenapa tidak bisa membuatnya tenang?" Timpal Joon membuat Calvin menyeringai padanya.


"Aku enggak bisa masak makanan enak" kata Harris.

__ADS_1


"Kau pintar merayu kenapa enggak bisa masak?" Timpal Joon.


"Itu berbeda" gumam Harris.


Darrell membuat susu untuk Elif sesuai petunjuk yang tertera di belakang kaleng susu.


"Ueeekk! Rasanya aneh" keluh Darrell.


Joon mengambil botol susu di meja yang telah dibuat oleh Darrell, "ya jelas aneh, ini susu bayi beda dengan susu untukmu" dengus Joon.


Joon menggendong Elif sambil memberikannya susu, membuat bayi itu kembali tenang, dan Alice kembali menikmati makan siangnya meski masakan itu terlalu hambar.


"Pa, mana kotak penyimpan mainan?" Tanya Alfan.


"Di bawah meja" sahut Joon, "jangan lupa pindahkan mainan mu jika sudah selesai di bereskan" tambah Joon.


"Baik Pa".


Calvin mendekat dengan sangat hati-hati pada Joon bahkan tanpa sadar ia menarik jaket Harris untuk berpegangan, akibatnya ia di pukul oleh Harris.


"Joon, jo~Joon, kau belum gila kan? Kau masih ingat kami kan?" Celetuk Calvin.


Joon hanya melirik ketus pada mereka semua lalu ia menidurkan bayinya ke ranjang bayi.


"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Joon, menoleh pada Darrell.


"Ta-tapi kau benar-benar masih normalkan?" Darrell masih ragu dengan kondisi Joon yang berubah-ubah.


Joon menaikkan alisnya dan menatap sinis pada Darrell, "jika hanya untuk buang-buang waktuku, lebih baik pergi sana" tukas Joon.


"Lihat ini!" Kata Darrell.


Joon hanya melirik benda kecil itu, sebuah flashdisk yang dibawa Darrell. Awalnya Joon tidak tertarik melihat isi flashdisk tersebut tapi Darrell terus memaksanya bahkan teman-temannya ikut penasaran dan menyarankan Joon untuk memeriksa benda tersebut.


Beberapa menit kemudian setelah melihat isi flashdisk itu dan beberapa rekaman video Joon terdiam, air matanya terjatuh saat pandangannya tertuju pada Alice dan Alfan yang telah kehilangan senyuman mereka, hanya wajah sendu dan air mata yang menggenang mengisyaratkan kerinduan mereka pada dua sosok perempuan yang sekaligus dua ibu mereka kini telah pergi.


"Semua keputusan ada di tangan mu" ujar Darrell pada Joon yang membisu meski hatinya sedang menjerit.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Calvin, membidik pada Darrell.


"Aku melakukan ini demi teman ku agar dia juga mendapatkan keadilan yang selalu ia cari" ungkap Darrell, ia tersenyum getir dengan mata berkaca-kaca.


****


Di perusahaan Calista groups sedang ada rapat penting, semua wajib menghadirinya, tidak terkecuali para petinggi maupun karyawan biasa, seperti yang diperintahkan nyonya Rossie. Mereka semua berkumpul di ruangan khusus dan sang nyonya besar berdiri di dekat tahtanya Calista group sebelum ia memanjakan punggungnya di sandaran kursi kebesaran itu dimana semua pasang mata tertuju padanya.


"SAYA ROSSIE FRANS MENGUMUMKAN BAHWA MULAI HARI INI SEMUA ASET PERUSAHAAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN CALISTA GROUPS BAIK DIDALAM MAUPUN DILUAR NEGERI AKAN BERADA DIBAWAH ARAHAN SAYA YANG SEBAGAI PIMPINAN TERTINGGI DAN ITU TIDAK BISA DIGANGGU GUGAT OLEH SIAPAPUN!" Lontar Nyonya Rossie pada seluruh karyawan.


Sebagian besar dari para pegawai itu terkejut dengan pernyataan nyonya Rossie tersebut, tapi tidak sebagian yang lain, mereka seakan sudah memprediksi ini akan terjadi, mengingat selama ini Calista groups memang tidak lagi berhubungan dengan pewaris utamanya.


Jadi tidak satupun dari pendengar itu berani menentang pernyataan nyonya Rossie tersebut, mau tidak mau mereka akan menerima keputusan itu.


"Saya tidak setuju!" Seseorang muncul dari pintu yang terbuka lebar saat sepasang sepatu pantofel berpijak di lantai marmer ruangan tersebut.

__ADS_1


Semua mata tertuju pada orang itu dengan seorang bayi di gendongannya dan dua anak kembar dibelakangnya bersama beberapa pria bersetelan rapi, salah satunya Darrell.


"Apa-apaan ini? Kenapa orang gila di biarkan berkeliaran di kantor ini?" Sembur nyonya Rossie.


Tanpa ekspresi Joon berjalan ke hadapan nyonya Rossie, lalu melihatnya dengan tatapan sinis, hingga membuat wanita itu bergidik ngeri, tak sadar ia melangkah mundur.


"SAYA JOON RAFARDHAN PUTRA DARI SALMAN ROLAND MENGUMUMKAN SAYA MENGAMBIL ALIH KEMBALI SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN CALISTA GROUPS DAN TIDAK SEORANGPUN DI PERBOLEHKAN MENGHALANGINYA, INI KEPUTUSAN MUTLAK!" Seru Joon dihadapan mereka semua.


"Apa yang kau lakukan? Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak mengizinkannya" pekik nyonya Rossie.


"Maaf Tante, ini memang harus di lakukan, aku sebagai pimpinannya harus bertanggung jawab atas perusahaan yang menjadi milikku dan Tante juga harus bertanggung jawab atas perbuatan Tante" ujar Joon pada nyonya Rossie.


Beberapa orang berseragam polisi menghampiri dan langsung membekuk tangan Nyonya Rossie.


"Nyonya harus ikut kami! Atas kejahatan yang telah Anda lakukan" Titah salah satu polisi tersebut.


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian memborgol tanganku? Aku tidak melakukan kejahatan apapun" Bentak Nyonya Rossie


"Anda telah melakukan pembunuhan terhadap nyonya Helena dan anda sekarang harus ikut kami ke kantor polisi!"


"Tidak! Aku tidak melakukannya!" Pekik nyonya Rossie, meronta-ronta dari sergapan polisi namun tidak ada yang mau mendengarkannya karena semua bukti telah tertuju padanya.


"Darrell! Apa kau yang memberitahu itu semua pada Joon?" Berang nyonya Rossie.


Namun Darrell hanya terdiam dan menurunkan pandangannya dari sang ibu.


"Kau ini memang tidak berguna! Kau harus menggantikan aku di penjara agar aku bisa membunuh Joon! Aku ingin jadi presiden Calista groups, aku harus mendapatkannya! Harus! Harus!" Gerutu nyonya Rossie yang semakin lama semakin tidak masuk akal walaupun ia sudah di bawa keluar dari ruangan tersebut oleh polisi.


Bahkan nyonya Rossie tertawa lepas dan cekikikan tidak jelas seperti orang kehilangan akal sehatnya. Darrell berjalan mendekat pada Joon dan mengangkat kedua tangannya di depan Joon.


"Maaf untuk selama ini, sekarang aku baru bisa bernafas lega, silahkan tangkap aku, Joon. Aku tidak akan melawan atau menyalahkan mu lagi" ujar Darrell.


Joon terdiam dengan tatapan yang sulit di mengerti, lalu ia menoleh ke jendela kaca ruangan tersebut, menatap gedung-gedung yang tampak seperti penyangga langit, seperti tempat ia berdiri sekarang.


Sang surya menampakkan diri, cahayanya yang menyilaukan mata tapi mampu menghangatkan bumi yang selama ini membeku dalam dekapan salju, namun tidak mampu menghangatkan hati Joon yang kini benar-benar telah membeku oleh cinta yang menghilang yang entah sampai kapan akan berakhir.


...****...


Di sebuah rumah sakit, terbaring seorang perempuan, perlahan-lahan matanya mulai bergerak untuk menatap dunia, pandangannya yang buram tidak mampu melihat jelas senyuman kebahagiaan orang-orang yang telah lama menunggunya bangkit dari ranjang pasien.


KISAH KITA BARU AKAN DIMULAI....



*****


***Halo semua!


Maaf ya jika banyak typo dan kalimat yang enggak nyambung, karena authornya kejar waktu jadi enggak sempat revisinya.


Oh ya, aku juga minta maaf jika terdapat kalimat yang terpenggal-penggal dan seperti melompati cerita. Maklum, authornya suka bermain teka-teki gitu...


Soalnya belum berpengalaman dengan baik dalam menulis, ini juga masih dalam tahap belajar dan coba-coba....

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dan waktu senggangnya untuk mampir ke novel yang tidak seru maupun berfaedah ini*****🤭🤭


Terima kasih... Salam cinta buat reader semua...... seperti cinta Joon kepada Shaina 🤫**


__ADS_2