
Mengandung konten dewasa, harap bijaklah dalam memilih bacaan, bab ini di diperuntukkan yang sudah +18 keatas
...--------------...
"Bukan mau ku makan bubur tapi bayi ini" Shaina mengelus perutnya.
Joon membuka lemari pendinginnya dan ia tampak tersenyum melihat ke isi kulkasnya "Aku buatkan bubur yang lain saja ya dan siapnya pun tidak lama dan kamu bisa segera tidur setelahnya?" Joon berusaha bernegosiasi dengan Shaina yang super banyak maunya itu.
"Tapi yang enak!" Ujar Shaina.
"Tentu saja penyihir galakku..." Joon mengacak-acak rambut Shaina hingga membuat perempuan itu jadi salah tingkah.
Joon terus menguap di depan panci bubur sedangkan Shaina duduk di kursi meja makan menunggu buburnya meski berbeda dengan request-nya sebelumnya tapi ia senang melihat Joon mau bersusah payah menyediakannya. Tidak hanya itu, sambil menunggu makanannya siap, diam-diam Shaina melirik Joon yang semakin tampan dan semakin memikat meski sambil bergulat dengan panci bubur dan rambut yang acak-acakan karena tidak sempat ia rapikan.
Beberapa menit berlalu, bubur sudah diangkat dari kompor, Joon langsung menghidangkan pada Shaina yang sudah tidak sabaran untuk mencicipinya.
"Emm... Panas....!" Pekik Shaina yang tidak ada A-B-C langsung menyeduh buburnya sehingga mulutnya kepanasan.
Joon kaget segera mengambil tissue untuk mengelap bibirnya Shaina, "hati-hati, ini baru matang" kata Joon.
"Aku tahu! Tapi aku enggak mau nunggu lagi...!" Gerutu Shaina sambil memanyunkan bibirnya, "suapin!" Tambahnya.
Joon menghela nafas berat dan mengambil sendok untuk menyuapi perempuan itu.
"Di tiupin!" Perintah Shaina.
"Iya-iya, aku tahu! Manja sekali sih kamu?" Kata Joon.
Spontan Shaina menekuk wajahnya, "wanita itu memang harus manja kalau terlalu mandiri, lelaki itu jadi tidak dianggap nantinya, apa kau mau begitu?" gumamnya.
"Memangnya kau bisa melakukan semuanya sendiri?" Tanya Joon meremehkan Shaina.
"Hhpmm.... Kau tidak percaya pada kemampuan ku? Kalau begitu tinggalkan aku sendiri!" Pekik Shaina yang kesal, ia merebut sendok bubur dari Joon, tapi Joon tidak mau menyerahkannya.
Seperti perintahnya, Joon menyuapi Shaina sampai-sampai ia tersungging melihat Shaina menikmati makanannya yang diiringi senyum manisnya, sesekali ia bergumam tidak jelas disela-sela makannya.
"Enak?" Tanya Joon.
Shaina mengangguk, "tapi besok aku tetap mau bubur kacang merah itu" Shaina menunjuk ke kulkas.
"Kau ini!".
"Jangan merasa kesal, ini latihan buatmu nantinya jika sudah punya istri dan ia sedang hamil kamu kan tidak kesulitan lagi menghadapinya" celetuk Shaina.
Joon tersungging dan melihat Shaina yang serius dengan ucapannya, "jadi sekarang kau sedang latihan juga bersamaku?" Tanyanya.
"Emmm... tergantung! Suamiku seperti apa nantinya, jika orang baik aku tidak akan sungkan-sungkan melakukannya, tapi jika tidak aku bisa menjadi orang yang mandiri dan tegas karena diluar sana aku ini orang yang mandiri lho, bahkan aku membiayai hidupku dengan kerja kerasku sendiri dan tidak membebankan orang tuaku" Shaina terdiam membisu, mengingat siapa dirinya di masa lalu.
Joon memperhatikan wajah ceria itu yang tiba-tiba berubah sendu, "lalu kenapa sekarang kau terlihat sangat kekanak-kanakan apa karena pengaruh kehamilan?" Tanya Joon.
__ADS_1
"Entahlah aku tidak tahu?" Shaina tersungging, memunculkan karakter dewasanya bahkan tatapannya sulit dimengerti oleh orang lain.
Ekspresi yang belum pernah Joon lihat sebelumnya dari Shaina yang selalu ia anggap manja itu.
"Aku hanya merasa nyaman saja, karena bisa menjadi diriku sendiri tanpa harus berpura-pura kuat" pungkas Shaina pada Joon yang terdiam menatapnya.
Meski Joon tampak serius mendengar cerita Shaina tapi tidak bisa dipungkiri ia juga sibuk di dunianya sendiri, memperhatikan setiap detail ekspresi Shaina, cara ia tersenyum sampai cara ia menatap.
"Apa kau menghargai ku?" Selidik Joon.
Shaina terdiam beradu pandang dengan sepasang mata coklat terang itu, "tentu saja" ucapnya, menciptakan sebuah senyuman simpul di bibir Joon yang beranjak dari kursinya karena Shaina sudah menghabiskan buburnya. Lalu Shaina terperanjat, ia memalingkan muka pada Joon, "apa maksudmu? Apa kau berpikir selama ini aku tidak menghargai mu? Karena aku suka nyuruh-nyuruh mu gitu? Hei tuan muda! Aku tidak pernah nyuruh-nyuruh mu tapi aku meminta bantuan jika kau mau syukur dan jika tidak terserah, aku juga tidak memaksanya!" Timpal Shaina yang mengekor dibelakang Joon.
Mendadak Joon berbalik badan dan mengarahkan pandangannya pada Shaina, "Jangan bawel lagi, ini sudah larut malam cepat tidur sana" kata Joon.
"Tunggu dulu, aku ingin tahu maksud pertanyaan mu tadi, karena aku tidak pernah memperalat mu, aku hanya ingin kita bisa berteman dan saling membantu, itu saja" jelas Shaina.
"Apa perlu aku gendong ke kamar agar kau mau tidur?".
"Jika kau mau terserah! Aku tidak memintanya lho... jangan bilang nanti aku memaksamu seperti nyonya besar".
Tanpa basa-basi Joon langsung mengangkat tubuh Shaina dalam rangkulannya, sontak perbuatannya itu mengejutkan Shaina.
"Apa yang kau lakukan?" Pekik Shaina.
"Tadi katanya tidak masalah?".
"Aku tidak suka main-main dengan kata-kataku" tukas Joon.
"Tidak usah!" Shaina mendorong Joon saat setelah menurunkannya.
Saat berjalan Shaina memegang *********** yang semakin nyeri karena tidak sengaja mengenai tubuh Joon ketika menggendongnya, dan saat Joon melihatnya ia segera memindahkan tangannya agar tidak dilihat Joon ia sedang memegang bagian sensitifnya.
Mereka kembali membaringkan tubuh mereka di tempat semula, meski tidur seranjang tapi mereka tidak berbagi selimut, melainkan satu orang satu selimut yang berbeda. Jadi Shaina bisa dengan bebas merenggangkan otot-ototnya untuk memperlancar sirkulasi darah agar meringankan nyeri di dadanya yang kerap ia rasakan itu. Tapi ia tidak berani mengatakannya pada Joon soal itu karena menurutnya sangat memalukan membicarakan seperti itu pada lelaki yang bukan siapa-siapa baginya.
Joon heran melihat Shaina yang masih terjaga seperti orang tidak tenang, sesekali ia tampak bergeser, bergerak dan mencari posisi nyaman terutama pinggulnya.
"Apa kau sakit lagi?" Tanya Joon yang merasa khawatir.
Shaina menggelengkan kepalanya dan dia berpura-pura tenang, tapi semakin lama ia menahannya semakin terasa nyeri sampai ke pangkal ketiaknya karena perubahan tubuhnya sebagai ibu hamil.
"Joon... bagian dadaku bengkak dan nyeri, apa ada cara untuk menghilangkan nyerinya?" Tanya Shaina tergagap sambil menahan malu tapi keadaan telah memaksanya untuk berbicara pada Joon.
"Di ****" sahut Joon singkat dalam keadaan setengah sadar, dan ia pun tanpa berpikir panjang mengatakan itu karena rasa kantuknya sudah menguasainya.
perkataan Joon itu membuat Shaina berpikir sejenak, dan yang ia tahu kebanyakan ibu baru melahirkan selalu nyeri jika tidak menyusui bayinya jika tidak segera menyusui bayinya, dan perkataan Joon itu mensugesti pikirannya untuk melakukan hal yang sama walau harus menahan malu yang luar biasa pada Joon.
"Joon... Kalau begitu tolonglah" pinta perempuan yang menahan malu.
"Apa?" Ketus Joon.
__ADS_1
"Yang kau bilang tadi, aku butuh banget" gumam Shaina.
Joon yang sudah merem mendadak membuka matanya dan kaget dengan permintaan Shaina yang satu ini, "aku tadi hanya bercan-". Kalimat Joon terputus karena Shaina sudah siap dengan menduduki dirinya sambil bersandar setelah melepaskan pengait **********.
Joon yang tersungging dengan senyuman jahatnya tidak meneruskan kalimatnya, karena keberuntungan sudah berada di depan matanya, mendadak ia seperti rubah yang menyeringai.
"Apa kau yakin?" Pertanyaan palsu terus di lontarkan pria itu, seakan-akan ia sungkan untuk melakukannya.
Shaina yang duduk menyandar di sandaran ranjang hanya mengangguk sambil menggigit bibir karena malu dengan apa yang akan ia lakukan. Perlahan ia menyingkap piyama tidurnya hingga memperlihatkan perut besarnya.
"Tidur saja, pinggang mu bisa sakit jika duduk terus" saran Joon yang mengandung racun berbisa.
Demi menghilangkan rasa sakit itu, Shaina menuruti saran Joon, karena ada benarnya juga.
"Ya-yang mana?" Tanya Joon.
"Dua-duanya, tapi jangan di gigit!!" Timpal Shaina yang menghimpit selimutnya dengan lengannya.
"Iya-iya, tenang saja, aku sangat hati-hati melakukannya" sahut Joon.
"Tunggu dulu!" Shaina mengangkat tangannya pada Joon yang hendak membuka selimutnya, "ini cara yang benar kan? Soalnya ini nyeri banget" sambungnya hatinya masih ragu tapi rasa ngilu itu benar-benar tak tertahankan.
"Kalau kamu ragu juga tidak apa-apa, aku mau tidur aja, dari tadi aku juga belum tidur" sekali lagi panah beracun di lepaskan Joon, berpura-pura berbalik badan untuk tidur, namun senyuman rubah itu tidak hilang dari bibirnya.
"Ayolah...! Aku mau, tapi jangan berpikir yang aneh-aneh bagaimanapun ini karena terdesak" kata Shaina.
Joon memutar tubuhnya dengan pergerakan lambat seperti orang malas untuk melakukan sesuatu, seakan-akan ia tidak tertarik tugas tersebut walau sebenarnya ia sangat antusias untuk menyegerakan menikmatinya.
"Gila! Mimpi apa semalam? Disuguhi kenikmatan tiada tara ini" batin Joon.
Perlahan namun pasti Joon menarik selimut Shaina, dan Shaina pun memejamkan matanya karena merasa sangat malu untuk melihat Joon, tangannya berpegangan pada sprei menyalurkan perasaannya, disaat tangan Joon sudah memegang selimut itu, mendadak Joon menjauh.
"Mau kemana?" Tanya Shaina.
"Kunci pintu dulu, takut anak-anak masuk nanti, bisa masalah mereka melihatnya" kata Joon, berjaga-jaga tidak ada yang mengganggunya dan Shaina untuk malam ini.
Usai mengunci pintu kamar, Joon kembali naik ke ranjang dan memulai tugasnya yang sempat tertunda sebelumnya. Terlihat jelas tubuh mulus Helena yang putih bersih dan montok di bagian-bagian tertentu yang menimbulkan gejolak s*ksual Joon yang tidak berkesudahan, namun ia tetap berusaha membendungnya dikarenakan ada janji yang di sepakati bersama, dimana Shaina menyentuhnya tidak lebih dari bagian tersebut.
Shaina tidak menduganya sentuhan lidah Joon yang mengenai kulitnya, bagian sensitifnya telah membuatnya mendesah aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Joon... sudah cukup..., Joon... cukup... ini geli... ku mohon... lepaskan..." desah Shaina yang tidak kuat menahan geli namun nikmat.
Joon mendapatkan hadiahnya terus bermain, menikmati setiap detiknya, mengabaikan perintah Shaina, Joon yang sudah tenggelam dalam kenikmatan itu, seperti sedang menghisap es lilin dan memaksakan sesuatu keluar dari dalamnya. Rasa nyeri Shaina tergantikan dengan rasa yang lain, tangannya tidak lagi memegang sprei melainkan telah berpindah ke punggung kekar orang tersebut, aliran darahnya memanas dan kakinya jadi tegang selayaknya orang kejang-kejang.
"Auuu... Aaaa...!" Ringis Shaina
Dengan sangat antusias Joon mengulum benjolan gelap itu dan tangannya mulai meraba-raba ke sisi satu lagi, perlahan-lahan terasa sangat lembut dan menyenangkan namun tidak sadar ia meremas-remasnya.
"Aauu!! Sakit!" Pekik Shaina.
__ADS_1