
"Sayang-sayang? Enak aja manggil aku sayang, memangnya kamu siapanya aku?" Dengus Shaina dengan memanyunkan bibirnya.
Setelah meletakkan makanannya di meja Joon berbalik badan pada Shaina.
"Oh gitu ya? Jadi harus ku apakan dulu agar aku boleh memanggil mu sayang?" Celetuk Joon.
Shaina mendengus kesal dan melirik ketus pada Joon, ia lebih memilih menyibukkan diri dengan piring dan gelas untuk Alice maupun Alfan yang akan segera makan.
Merasa di cuekin Joon menarik Shaina ke dekatnya dan merangkul pinggangnya untuk menarik perhatian Shaina.
"Musim dingin ini masih panjang, dan aku mau ada kehangatan makanya aku pulang lebih awal, agar aku bisa merasakan kehangatan di rumah" bisik Joon di leher Shaina.
Hembusan nafas Joon mengenai kulit Shaina yang seketika menimbulkan sensasi aneh sekaligus ia merinding, jadi Shaina berusaha mendorong Joon darinya.
"Kau mau panas?" Ucap Shaina pada Joon.
"Iya" sahut Joon yang tersenyum dan tidak kalah lembutnya dari sebelumnya.
"Baik. Nanti akan ku masak air agar kau bisa merendam dalam air mendidih sekalian masuk kedalam panci biar kamu hangat!" Timpal Shaina.
"Kau ini! Itu sih kamu mau merebus ku" gumam Joon seraya melepaskan tangannya dari pinggang Shaina.
Joon berjalan ke sisi kursi yang lain.
"Kalau aku yang mau malah di cuekin tapi kalau dia yang mau harus di penuhi" gumam Joon dengan ekspresi jutek.
"Mau apa? Aku tidak pernah meminta yang aneh-aneh dari mu, semuanya masuk akal semua!" Berang Shaina.
"Masuk akal apanya? Memangnya kau lupa? Malam itu kau memintaku untuk mengemut punya mu, masih untung aku tidak berubah jadi pemangsa jika tidak entah apa yang akan terjadi" gumam Joon.
BUUKKK!
Centong nasi mendarat di tangan Joon yang di layangkan Shaina.
"Jika kau bicarakan itu lagi tidak hanya centong nasi yang melayang tapi penanak nasi juga akan mendarat di kepalamu!" Ancam Shaina dengan melototi Joon, "heran aku, bisa-bisanya manusia seperti mu bawaan sangean (nafsuan) terus" dengus Shaina.
Joon menekuk wajahnya seperti anak kecil yang ketakutan karena kena marah oleh enaknya.
"Kalau enggak sangean berarti tidak normal" cicit Joon.
CK, Shaina kembali dibuat gerah dan kesal mendengar perkataan Joon yang menggerutu.
"Makanya cepat nikah biar halal melakukan apapun dengan pasangan mu, kalau tidak bisa-bisa aku jadi korban apalagi kita tidur bersama. Tapi ingat ya! Jika sampai kau melakukan itu padaku tanpa aku sadar, jangan harap milikmu utuh lagi, aku janji akan ku potong seperti memotong sayuran!!!" Tekan Shaina sambil memukul meja yang mengagetkan Joon.
Ancaman Shaina mampu membuat Joon bergidik ngeri dan menciut di kursinya sembari melirik ke pangkal pahanya, tepatnya ke barang berharganya, membayangkan bagaimana ia terputus oleh pisau dapur, itu sesuatu yang cukup mengerikan baginya sampai-sampai Joon meringis sambil menggigit bibirnya.
Beruntung tatapan tajam Shaina hilang saat Alice dan Alfan menghampiri mereka, Shaina berubah menjadi sosok yang hangat bagaimana ia berbicara dengan lembut pada kedua anak Helena, bahkan Shaina tidak ragu-ragu untuk tersenyum dan tertawa pada mereka berdua tapi mimik muka yang berbeda di tunjukkan pada Joon.
"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan, apalagi sekarang ada perayaan" ujar Joon di sela-sela acara makan siang mereka.
"Benarkah paman?" Tanya Alfan.
Joon mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Horeee! Alice mau!" Seru Alice.
Joon tersungging melihat tingkah si kembar yang antusias mendengarkan ajakan tersebut. Tapi Shaina hanya tersenyum getir tanpa ada yang menyadarinya.
Usai makan siang, Alice dan Alfan bersiap-siap mencari pakaian hangat mereka di kamar, namun ada sesuatu yang dipikirkan Shaina, ia mengetuk pintu kamar Joon karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan lelaki tersebut.
"Masuklah" terdengar suara Joon di dalam kamar.
__ADS_1
Setelah mendapat izin, Shaina masuk ke kamar Joon dan ia melihat Joon sedang sibuk mengotak-atik isi lemarinya.
"Joon, ada yang ingin ku bicarakan denganmu" ujar Shaina.
"Silahkan, tapi aku cari kaos hitam ku dulu" kata Joon yang terhalang oleh pintu lemari.
Mendengar perkataan Joon, Shaina duduk di ranjang sembari menunggu Joon selesai mencari kaosnya, tapi lebih lima menit Joon belum juga menemukannya.
"Udah apa belum?" Tanya Shaina.
"Tunggu bentar, aku masih belum menemukannya" sahut Joon.
Shaina kembali dibuat menunggu hingga membuatnya kesal sendiri karena Joon tidak selesai-selesai, Shaina beranjak dari duduknya dan menghampiri Joon.
"Kaos yang seperti apa?" Tanya Shaina dengan malasnya.
"Itu lho, kaos hitam yang didepannya ada logo-" ujar Joon.
"Ini?" Kata Shaina sambil menyodorkan sebuah kaos hitam.
"Iya" sahut Joon kebingungan, "ta-tapi bagaimana kau menemukannya padahal sudah ku cari-cari disana tadi" sambung Joon.
"Cepat pakai, ada hal yang ingin ku bicarakan" tukas Shaina yang kembali ke tempat duduknya.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan jam ku dulu" lanjut Joon sambil menenteng kaos hitam yang di berikan Shaina barusan.
Joon kembali mengotak-atik isi laci lemarinya untuk mencari jam tangannya dan lama mencari ia tidak mendapatkan apa yang di cari, Shaina tidak punya pilihan lain untuk bangkit dan mencari jam tangan Joon.
"Ini" kata Shaina yang memberikan jam tangan Joon pada pemiliknya, "Kau sudah mendapatkan semuanya jadi cepat ganti pakaianmu" sambung Shaina.
"Bentar lagi, aku cari gesper ku" tambah Joon.
"Ini" lagi-lagi dengan mudahnya menemukan barang-barang milik Joon.
"Mantel ku?" Kata Joon lagi.
"Ini"
"Sepatu ku? Celana ku? Dompet? Kaos kaki ku?" Ujar Joon.
"Joon! Ini ambil semuanya dan cepat ganti pakaianmu! Aku ingin bicara denganmu!" Pekik Shaina yang geram dengan ulah Joon.
"Waaauuu! Hebat juga kau bisa menemukan semuanya dengan mudah, apa jangan-jangan kau ini indigo?" Joon menepuk-nepuk tangannya, kagum dengan kemampuan Shaina yang bisa menemukan barang-barangnya.
"Joon! Kau ini benar-benar menyebalkan! Kakiku lelah tahu! karena mondar-mandir dari tadi, kau kira mudah apa mondar-mandir dengan perut sebesar ini?" dengus Shaina sambil melempar bantal pada Joon.
"Maaf-maaf, aku tidak bermaksud membuatmu lelah, aku ganti baju dulu" ujar Joon.
"Apa yang kau lakukan?" Berang Shaina yang kaget dengan ulah Joon membuka resleting celananya di depan Shaina yang duduk di ranjang.
"Aku mau ganti pakaianku" sahut Joon.
"Aku tahu itu! Tapi, kenapa kenapa harus di depan ku? Di kamar mandi saja, lagian aku sudah lelah untuk keluar ini gara-gara mu juga".
Joon tersungging, ia segera masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian setelah meletakkan semua barang-barang keperluannya di letakkan di atas kasur. Selang beberapa menit, Joon keluar dari kamar mandi setelah berganti celananya, namun Joon kembali membuat Shaina mengerjap panik karena Joon keluar dari kamar mandi bertelanjang dada.
"Dasar manusia menyebalkan, masuk angin baru tahu rasa!" Gumam Shaina sambil memejamkan matanya dari Joon.
Sambil tersenyum manis Joon mendekat untuk mengambil kaos dan pakaiannya lainnya yang diletakkan di dekat Shaina.
"Jangan berpura-pura polos, kau juga ingin menggodaku kan?" Timpal Joon.
__ADS_1
Seketika Shaina membuka matanya dan melirik kesal pada Joon yang terkekeh sambil mengenakan kaosnya.
"Apa maksudmu?" Sudi Shaina.
"Itu, bibir mu sangat merah sudah seperti selesai mengunyah cabe merah, pipimu juga seperti di gampar orang, kau juga memakai parfum, kau pasti menungguku pulang kalau tidak buat apa berdandan secantik ini?" Celetuk Joon.
Shaina terkejut dan baru sadar dengan riasan wajahnya yang belum ia bersihkan, ia langsung menutup wajahnya dengan tangannya karena sangat malu.
"Kenapa tidak kau katakan sejak tadi tentang riasan ini?" Ujar Shaina yang malu-malu.
"Untuk apa? Lagian aku suka melihatmu berdandan apalagi untukku karena untuk di lihat orang lain tidak mungkin, di rumah tidak orang lain" celetuk Joon yang tersungging.
"Siapa bilang aku berdandan untukmu? Aku hanya menemani Alice saja tadi, aku bahkan tidak tahu kau pulang cepat" sergah Shaina.
Shaina bergegas beranjak dari duduknya dan menuju ke pintu keluar tapi dengan cepat Joon mencegatnya, memegangi tangan Shaina dan menyudutkannya ke tembok.
Perlahan Shaina memundurkan langkahnya hingga ia menempelkan ke dinding dan tidak punya jalan keluar untuk lepas dari sergapan Joon yang mendadak menjadi serius dan tampan sangat gagah berdiri di depannya.
"A-apa?" Gumam Shaina yang tergagap apalagi saat pinggangnya jadi incaran tangan Joon.
"Jangan di hapus lipstikmu biarkan aku saja yang membersihkan, kau pasti menyukainya" bisik Joon di telinga Shaina.
Shaina yang tersudut hanya bisa meringis karena ia tahu yang di maksud Joon tersebut, apalagi ketika Joon hendak mencoba mengecup lehernya.
"A-aku bisa sendiri" lirih Shaina, "Joon, ku mohon jangan lagi..." Lanjutnya.
Joon segera melepaskan Shaina dan meminta maaf atas ulahnya, mengaku hanya ingin mengganggunya saja. Joon mulai menanyakan hal yang ingin dibicarakan Shaina tadi dengannya.
Suasana kembali normal seperti yang seharusnya walau Shaina tampak ketakutan dengan tindakan Joon yang menyerangnya barusan.
"I-itu, tentang jalan-jalan, kita pasti akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan kita hanya mengandalkan gajimu apalagi kau baru menjual mobil, kita pasti akan kesusahan nantinya" ungkap Shaina.
Joon terdiam sambil menatap Shaina, mata Joon menjadi turun saat mengamati ekspresi sedih Shaina yang mengkhawatirkannya hidup mereka.
"Bukankah sudah aku katakan untuk tidak memikirkan tentang biaya hidup kita?" Kata Joon.
"Tapi Joon..."
"Serahkan sepenuhnya padaku, aku akan berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, aku sengaja pulang cepat hari ini karena aku memang ingin mengajak Alice dan Alfan keluar, menikmati perayaan tahunan yang selalu diadakan di kota ini, kamu tahu tidak? Hari ini hari pernikahan kakakku dan Helena" ujar Joon.
Shaina terdiam membeku mengetahui hari tersebut adalah hari pernikahan Helena dan kakaknya Joon, itu membuatnya merasa bersalah karena ia tidak sebelumnya ia mengira Joon hanya ingin jalan-jalan biasa untuk menghibur diri saja, namun ternyata Joon benar-benar berencana ingin membuat Alice dan Alfan bahagia tanpa merasakan kehilangan orang mereka.
"Oh... Aku tidak tahu soal itu" gumam Shaina yang tanpa sadar menitikkan air matanya.
Joon tersenyum lembut, "kau juga harus bersiap-siap ya?" Kata Joon.
Shaina yang tersenyum menanggapi perkataan Joon dengan mengangguk.
CUP!
Sontak mengejutkan Joon dengan mulut ternganga, ia tidak menduga Shaina mendaratkan kecupan manis di pipinya. Namun ekspresi Shaina sama terkejutnya bahkan ia sendiri tidak menduga akan menciumi pipi Joon.
"Ah?! Aku minta maaf!" Ucap Shaina yang beranjak dari tempat duduknya.
Shaina menutup mulutnya, matanya membulat sempurna, ia secepatnya keluar dari kamar Joon, ia merasa sangat malu karena tindakannya yang spontan tersebut.
"Ya Tuhan! Apa yang baru ku lakukan? Aku benar tidak tahu malu" gumam Shaina yang berdiri di belakang pintu kamar Joon.
Joon yang duduk di tempat tidur masih tidak percaya apa yang dilakukan Shaina, sambil memegang pipinya Joon tersenyum simpul.
"Dasar gadis nakal! Ada-ada saja tingkahmu, membuatku semakin bergairah dan betah di rumah" gumam Joon.
__ADS_1