Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Galak


__ADS_3

"Dengan siapa malu, disini cuma kita berdua yang dewasa" kata Joon.


Shaina berusaha mendorong Joon darinya dan juga memekik, "Joon...! Aku tidak mau, cepat bangun!!!" Berusaha keras mendorong Joon untuk bangun. Tapi Joon seakan tidak peduli dengan keberatan yang ditunjukkan Shaina.


"Sebentar saja, aku sangat lelah tahu hari ini!"gumam Joon dengan memegangi tangan Shaina yang melawan.


Sesaat, Shaina tampak sedang berpikir, memikirkan perkataan Joon.


"Baiklah, sebentar saja ya? Tapi ada syaratnya" kata Shaina.


"Apa?".


"Kamu tidak boleh marah-marah atau memarahi ku".


Joon kembali meletakkan kepalanya di pangkuan Shaina yang beralaskan bantal.


"Memangnya kapan aku pernah memarahimu? Yang ada kau yang marah padaku".


Shaina memutar bola matanya seraya tersungging, mengingat-ingat kembali kejadian selama sebulan terakhir hidup bersama Joon, dimana Shaina yang selalu marah-marah, terkadang dari hal sepele dan tanpa alasan. Tapi disaat Shaina sedang mengingat hal tersebut, Joon malah terlihat sedang memperhatikannya hingga ia tersungging dengan maksud tanpa di jelaskan.


"Aku merindukan orang tuaku dan kakakku, aku sudah berbuat salah pada mereka, aku dulu sering melawan orang tuaku, marah-marah tidak jelas, membenci semua yang dilakukan kakakku" Gumam Joon seraya memejamkan matanya, "aku juga tidak pernah berbuat baik pada ibuku, sekarang menyesalinya juga tidak ada gunanya" lanjutnya.


Shaina terperanjat mendengar pernyataan lelaki itu, wajahnya berada tepat di dekat perut buncit Shaina, tanpa sadar Shaina mengelus rambut Joon dan berkata, "semua pernah berbuat salah, tapi mengutuk diri sendiri juga tidak dibenarkan, kita juga tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula, tapi kita bisa mengubahnya menjadi akhir yang berbeda dan bersyukur kita masih diberikan kesempatan untuk memperbaikinya" ujar Shaina yang penuh dengan nasehat.


"Aku tahu itu, dan sering mendengarnya" sahut Joon yang membuka matanya menatap perempuan berparas ayu itu.


Seketika ekspresi wajah Shaina berubah muram karena ucapan Joon. Namun, Joon justru tersungging dengan reaksi yang diperlihatkan Shaina, dengan lembut Joon meraih tangan perempuan itu untuk diletakkan di dadanya dan Shaina juga tidak melawannya meski wajahnya cemberut tapi tidak dengan hatinya yang di buat seperti roller coaster oleh lelaki yang tidur di pangkuannya itu.


"Aku minta maaf, cuma bercanda doang, jangan sensi gitu dong" celetuk Joon


"Iiihh! Enggak lucu tahu! Humor mu terlalu garing" tukas Shaina.


"Canda ku memang tidak lucu tapi reaksi mu itu yang lucu" ujar Joon yang terkekeh.


"Kau ini! Sudah cukup tidur-tiduran, bangun dan cepat mandi sana! Lalu kita akan makan" tukas Shaina yang kembali mendorong Joon.


Joon bangun dari tidurnya seraya tersungging, dia berkata "siap Nyonya!".


Sampai di kamarnya Joon masuk ke kamar mandi dan langsung membuka pakaiannya untuk menyegerakan mandi, mengguyur diri dengan air dingin untuk menghilangkan gejolak hasrat seksual yang tiba-tiba muncul tadi saat bersama Shaina.

__ADS_1


"Sial! Bagaimana malam ini aku akan tidur dengannya jika perasaan itu selalu muncul" gumam Joon, mengacak-acak rambutnya dibawah guyuran air dingin yang mengalir deras dari shower.


Beberapa menit berselang, Joon selesai dari ritual mandinya dan keluar dari kamar setelah berganti pakaian. Di ruang tamu terlihat sepi dan hanya terdengar suara anak-anak bersama Shaina di dapur.


"Ma, bagaimana ini? Paman tidak akan marah kan?" Tanya Alfan.


"Semoga saja tidak, aku sudah mintanya tadi untuk tidak marah-marah" ujar Shaina pada kedua anaknya.


"Marah kenapa?" Sela Joon yang tiba-tiba muncul.


"Paman..." Cicit Alicia yang mendekati Shaina.


"Joon?" Shaina menghampiri lelaki itu, "kau masih lelah?" Sambungnya.


"Ada apa sih? Kalian dari tadi aneh" tanya Joon.


Shaina dan anak-anak berusaha untuk tetap tersenyum dibalik kegugupan mereka, tapi Shaina begitu cekatan melayani Joon lebih dulu di meja makan, mulai dari menuangkan air ke gelasnya hingga menghidangkan makanan.


"Kenapa aku lebih dulu dilayani? Seharusnya mereka dulu" kata Joon.


"Tidak apa-apa paman, kami masih kenyang, paman kan baru pulang, pasti capek" ujar Alice yang cengengesan.


"Tidak apa-apa Joon, mereka saja tidak keberatan" tambah Shaina.


"Ini? Bagaimana makanan ini ada di rumah? Apa kau memesannya?" Tanya Joon.


Shaina menggelengkan kepalanya, "tidak, bagaimana aku bisa memesan makanan, uang saja aku tidak punya" sahut Shaina.


Anak-anak melemparkan pandangan mereka pada Shaina yang merasa gugup.


"Aku memasaknya" sambung Shaina yang sumringah, "bagaimana rasanya" lanjutnya.


Joon mengambil sedikit makanannya dengan sendok untuk dimakannya, beberapa saat kemudian ia berkata "Rasanya... Lumayan enak buat pemula seperti mu" Joon mengarahkan pandangannya pada Shaina yang mendadak tampak berseri-seri, "tapi aku lebih suka masakan mu yang biasa, karena di sini tidak ada yang menjualnya" lanjut Joon.


Shaina kembali menekuk wajahnya sambil bergumam, "PADAHAL AKU SUDAH BERUSAHA KERAS SEHARIAN! Kau malah lebih menyukai masakan kampungan itu!!!" Timpal Shaina, menduduki kursinya dengan muka yang merah padam.


Joon terdiam melihat Shaina yang dibakar emosi, "maaf, aku tidak bermaksud tidak menghargai usaha mu" ucap Joon.


"Tidak usah minta maaf! aku juga sudah menghabiskan semua bahan dapur untuk beberapa hari kedepan" ungkap Shaina.

__ADS_1


Pernyataan Shaina kembali mengejutkan Joon, ia mengarahkan pandangannya pada seisi ruangan, bekas makanan yang dibuang tampak jelas di permukaan tutup tempat sampah, dapur juga terlihat berantakan dan kacau. Anak-anak juga tampak bergidik ngeri melihat pada Joon, tapi Shaina yang tadi tersulut emosi mendadak jadi memelas.


"Aku minta maaf..." Cicit Shaina.


"Jadi, tadi kau membawakan ku air agar aku tidak ke dapur? dan soal berjanji untuk tidak marah juga karena ini?" Kata Joon.


"Kau sudah janji tidak akan marah" ucap Shaina.


"Itu karena aku tidak ta-".


"Maaf! Aku minta maaf! Maaf! Maaf!" Serang Shaina.


"Minta maaf ya minta maaf, enggak usah ngegas gitu juga kali!" Timpal Joon.


"JADI KAMU MARAH?" Lontar Shaina menatap tajam kearah Joon.


"Tidak" sahut Joon.


"Apa? Jadi kamu tidak memaafkan ku?".


"Bu-bukan begitu, maksudku aku tidak marah" jelas Joon.


"Yang benar?" Tambah Shaina.


"Benar" sahut Joon sambil tersenyum lebar seribu Watts-nya.


"Ya ampun... Ini orang benar-benar jadi serba salah" ringis batin Joon. Ia memulai menikmati makan malamnya bersama anak-anak yang sejak tadi ketakutan melihat Shaina.


"BICARA APA?" Sembur Shaina lagi.


"Hah?! Apa yang ku bicarakan? Aku tidak bicara apa-apa" sahut Joon yang tersentak kaget bahkan sampai-sampai makanannya tidak sempat di telan.


"Oh... Aku hanya merasa kau tadi mengatakan sesuatu" gumam Shaina.


Joon mematung kaku, mengerjap heran mendengar perkataan Shaina, "Gila! Apa dia punya indra ketujuh?" Batin Joon.


...----------------...


Halo reader yang baik hati, terima kasih masih mau meluangkan waktunya untuk singgah di karya author ini yang jauh dari kata bagus.

__ADS_1


Jangan lupa like jempolnya dan vote nya, ya....


Agar author semakin bersemangat nulisnya, hehe****....


__ADS_2