
Bangun tidur Joon melangkah ke kamar mandi, setelah itu ia melanjutkan ke dapur, paginya agak sedikit tenang dengan udara dingin yang terasa lebih menyejukkan dari biasanya, entah karena ia sedang seorang diri di dapur menyiapkan sarapan, kecemasannya timbul ketika Shaina tidak muncul-muncul dari kamar anak-anak yang memaksa Joon untuk mengintip perempuan itu keluar dari balik pintu kamar.
Cukup lama Joon menanti sosok perempuan muncul hingga masakannya hampir selesai barulah Shaina hadir, ia datang mendekat pada Joon, meski semalam mereka berdebat. tapi Shaina tampak baik-baik saja bahkan.
"Aku bantu bawa ke meja ya?" Ucap Shaina memulai percakapan diantara mereka yang sempat hening, ia bersikap seolah-olah kejadian semalam tidak pernah terjadi, walaupun begitu Shaina tidak bisa menyembunyikan raut wajah lesu dan tidak bersemangatnya itu dari Joon.
Joon mengangguk kecil sebagai jawaban dari pertanyaan Shaina, sesekali ia melirik kearah perempuan itu yang tampak tenang namun seperti ranjau yang siap meledak kapan saja.
"Maaf...ya" ucap Joon ragu-ragu, ia menoleh sebentar pada Shaina.
Sesaat Shaina sempat melihat kearah Joon lalu di palingnya kembali, menyibukkan diri dengan penyajian sarapan mereka.
Suasana canggung sangat terasa di antara mereka berdua.
"Aku minta maaf, semalam aku marah-marah pada kalian" lanjut Joon, karena sebelumnya maafnya tidak dapat respon apa-apa.
"Iya" sahut Shaina singkat, ia berbalik badan menuju ke arah kamar anak-anak.
Tidak lama kemudian setelah Shaina pergi dari dapur sudah terdengar suara anak-anak yang keluar dari kamar, mereka begitu riang dan bahagia, tentunya karena tas baru mereka nan mahal, hadiah dari Darrell semalam.
"Paman, lihatlah! Tas ini cocokkan dengan baju Alice?" Alice menghalangi jalan Joon yang hendak ke meja makan untuk di letaknya makanan.
Tidak sadar sifat polos gadis imut itu telah menyalakan api kemarahan Joon kembali yang telah padam.
"Bagaimana Paman? Bagus kan? Alice sendiri lho yang pilih pake baju ini" lanjut Alice, ia berputar-putar di depan Joon sambil memainkan tas barunya.
Shaina menangkap raut ketidak-senangan Joon dengan tingkah lugu Alice, "Alice jangan ganggu paman, biarkan paman duduk dulu biar enggak tumpah buburnya" ujar Shaina.
Joon sesaat sempat melirik Shaina lalu ia kembali sibuk dengan menu sarapannya.
"Tapi Ma, Alice pengen di lihat oleh paman" sergah Alice.
"Paman!" Sepasang tangan mungil melingkari pinggang Joon yang sudah duduk di kursi, si pemilik tangan itu tak lagi adalah Alfan. Ia terus tersenyum manis saat melihat lelaki dewasa itu, "paman kaget enggak, Alfan kejutkan?" Tanya Alfan yang cengengesan pada Joon.
Joon tersungging seraya memutar bola matanya ke kiri dan ke kanan, "ya tentu saja paman sangat terkejut karena Alfan" celetuk Joon.
Alfan merenggangkan pelukannya dari Joon, ia memundurkan langkahnya dan berbalik dengan membelakangi Joon, "Paman bagus kan tas Alfan?" Tambah Alfan.
Joon sempat mendesis dan kesal tapi ia tetap memamerkan senyumnya.
Shaina yang mendapati geliat Joon segera menyuruh Alice dan Alfan untuk duduk menikmati sarapan mereka sebelum berangkat ke sekolah.
"Alice letakkan tas di sofa dulu ya biar enggak kotor nanti" ujar Alice yang membuat wajah Joon ikut terangkat dan menilik ke arah Alice.
"Alfan juga!" Imbuh Alfan yang berlari menyusul saudarinya membuat sorot mata Joon ikut mengejar mereka.
Ia mengangkat sedikit bibirnya seraya bergumam, "tas sejelek itu apa bagusnya?".
Shaina hanya duduk diam menatap Joon di depannya tanpa ikut menyuarakan pendapatnya karena ia tidak ingin kejadian semalam terulang lagi apalagi ini masih sangat pagi, anak-anak harus pergi ke sekolah dengan perasaan senang agar mereka tetap bersemangat saat belajar nanti, bahkan Joon juga harus bekerja dengan perasaan baik tanpa adanya perdebatan lagi di rumah.
Joon dan anak-anak berkedip mau berangkat ke tujuan mereka masing-masing tapi saat ia membuka pintu sudah berdiri sosok lelaki yang paling dibencinya yaitu Darrell yang sudah melakukan pergerakan menekan bel pintu tapi Joon lebih dulu membuka pintu.
"Apa lagi kau kesini?" Seloroh Joon.
__ADS_1
Darrell dengan senyum ramahnya berkata, "aku ingin mengantar anak-anak ke sekolah".
"Waaaahhh....! Paman Darrell ke sini lagi!" Seru Alice dan Alfan, mereka terkejut melihat melihat Darrell di depan pintu rumah mereka.
Darrell tersungging dan membuka lebar-lebar kedua lengannya untuk tidak Alfan dan Alice yang berlari ke arahnya. Namun dengan cepat Joon mencegat tangan mereka di depan pintu.
"Jangan main-main lagi! Kalian harus ke sekolah agar tidak ketinggalan bus" sela Joon, ekspresinya semalam kembali terlihat dari wajah Joon.
"Jangan khawatir, hari ini kita akan pergi bersama..."seru Darrell pada anak-anak tersebut.
"Horeee...! Alfan mau..." Alfan dan Alice melompat-lompat kegirangan karena diantarkan Darrell.
"Tidak usah! Kita berangkat bersama dan naik bus seperti biasanya!" Sergah Joon.
Mendadak Alfan dan Alice menurunkan wajah mereka yang dipadu dengan ekspresi cemberut dan kecewa, tapi Darrell lagi-lagi memancing Joon dengan mengatakan ia sengaja datang dari jauh hanya ingin mengantar anak-anak ke sekolah.
Mendengar itu Alice dan Alfan semakin ingin naik mobil Darrell dan Joon tidak lagi melarang mereka, ia tidak mau anak-anak membencinya hanya karena keberadaan Darrell yang bagaikan pahlawan kesiangan.
Mau tidak mau Joon membiarkan mereka ikut bersama Darrell, naik ke mobil mewahnya yang sudah terparkir di bahu jalan rumahnya.
Shaina hanya memperhatikan mereka dan tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga itu, apalagi ia tahu Joon sedang labil.
Joon hanya bisa menatap mobil Darrell yang bersama anak-anak yang melewatinya saat ia berjalan kaki menuju halte terdekat dari rumahnya, terbesit kemarahan saat melihat mobil itu melejit di depannya.
Turun dari bis, Joon tidak langsung ke kafe melainkan menyusul anak-anak ke sekolah, di sana ia mendapatkan pemandangan yang benar-benar membuat tensi darahnya naik bagaimana tidak.
Darrel di perkenalkan pada semua teman-teman sekolah Alice dan Alfan sebagai Paman mereka.
Sontak anak-anak mengerumi mereka, "waaa...! Paman kalian orang kaya juga" celetuk salah seorang dari mereka karena mereka melihat mobil bagus dan penampilan Darrell yang merupakan orang kantoran.
Joon melanjutkan perjalanan ke kafe dengan berjalan kaki dengan perasaan yang kacau balau. Karena masalah semalam dan berlanjut tadi pagi Joon jadi tidak bersemangat saat bekerja pun ia sampai-sampai ia kerap melakukan kesalahan yang membuatnya di marahi oleh bosnya.
Karena menumpahkan air dan bubuk kopi, memecahkan cangkir yang terlepas dari tangannya bahkan ia tidak sengaja menyenggol karyawan yang lain.
Harris pun ikut penasaran dengan keadaan Joon yang tidak biasanya.
"Kenapa kau jadi kacau gini sih? Tak biasanya kau berantakan" Celetuk Harris.
"Enggak da apa-apa hanya karena lagi kacau aja mungkin" jawab Joon.
Usai bekerja semua pegawai bersiap-siap pulang begitu juga dengan Joon, namun dalam perjalanan pulang ia berhenti di depan toko kue untuk membeli kue kesukaan anak-anak dan Shaina.
"Mereka pasti senang melihat kue ini" gumam Joon, ia tersenyum lebar melihat kue di tangannya dan membayangkan senyuman Shaina dan anak-anak saat ia pulang nanti.
Langkah cepatnya mendadak berhenti, saat sebuah mobil terparkir di depan rumahnya telah menarik perhatiannya. Mobil yang tidak asing lagi baginya, dan suara tawa dari dalam rumahnya membuatnya mengepal erat.
Baru selangkah ia menginjak lantai rumahnya, ia sudah di suguhkan dengan pemandangan yang mengiris hatinya. Darrell sedang membersihkan ujung bibir Shaina dengan tissue yang kotor karena kue yang dimakannya.
Shaina menjauh diri dari Darrell, ia mematung menatap Joon yang baru pulang.
"Paman, coba sini, kami makan kue yang di bawa oleh paman Darrell, rasanya sangat enak, ayo kita makan!" Alfan menghampiri Joon.
Joon melihat seluruh anggota keluarganya mulai atau bahkan sudah sangat akrab dengan Darrell, mereka semua tampak bahagia dengan kehadiran Darrell tidak terkecuali Shaina meski ia terlihat diam, namun Joon sebelumnya sempat menangkap perempuan itu tersenyum saat tangan Darrell mendekat ke bibirnya.
__ADS_1
"Kalian saja yang makan" jawab Joon.
"Kenapa Paman? Ini sangat enak lho" sela Alice, ia ikut mendekat pada Joon dan menarik-narik tangan Joon sembari merengek, "ayolah paman! Ayolah! Ayolah paman....!"
"Berhenti Alice! Lepaskan! Aku lelah baru pulang!! Kalau kalian mau makan, makan saja! Jangan ganggu aku!" Bentak Joon.
Shaina terperanjat dan berdiri dari tempatnya, sedangkan Alfan dan Alice ketakutan dengan sikap Joon tersebut, Darrell yang melihatnya diam-diam tersungging dan segera mengganti ekspresinya dengan wajah bingung ketika Shaina mengarahkan pandangannya padanya.
Joon berjalan ke dapur dengan tangan menenteng kue yang di belinya. Tidak lama setelahnya Shaina menyusulnya ke dapur.
"Hari ini kafe pasti rame ya?" Tanya Shaina mencoba mencairkan suasana.
Joon tidak menyahutnya, ia letakkan kue yang di belinya tadi di meja lalu menuangkan air untuk di minumnya. Shaina membuka bungkusan yang di bawa Joon tadi, ekspresi senang langsung mencuat dari wajahnya
"Waaww kue lagi! Aku simpan dulu ya? Besok saja kita makan" ujar Shaina, namun Joon hanya meliriknya.
Setelah menyimpan kue tersebut, Shaina mengambil beberapa potong kue lainnya dari kulkas dan membawanya ke depan Joon.
"Kamu makan ini aja dulu ya?" Ucap Shaina sambil tersenyum lebar pada Joon yang di depannya, "kamu baru pulang kerja pasti belum makan, jadi makan lah ini sedikit untuk mengganjal perutmu" lanjut Shaina.
Joon masih tidak bergeming dari tempatnya, ia menatap sinis pada Shaina yang tidak henti-hentinya tersenyum padanya.
"Oh! Jadi kamu mau aku suapin? Baiklah tapi kali ini aja ya?" Shaina meliriknya dengan tersenyum, diangkat tangannya ke depan Joon, "buka mulut mu, a...aaa..a.." sepotong kue berada tepat di depan mulut Joon yang terkatup.
Joon enggan membuka mulutnya meski aja menyuapinya, yang ada ia menepis tangan Shaina hingga potong kue itu menyatu dengan lantai dapur.
"Aku tidak lapar" ucap Joon dan ia berbalik badan, menuju ke kamarnya.
Shaina berdiri kaku menatap potongan kue yang tidak berbentuk lagi di lantai, seketika manik-manik bening keluar dari sudut matanya. Ia segera menyekanya agar tidak membekas lalu kembali ke ruang tamu bersama yang lain bahkan Darrell yang belum beranjak dari duduknya.
Shaina tidak tahu harus bagaimana karena Darrell tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera pulang, mau tidak mau Shaina mengajak Darrell makan malam bersama, meski ia cemas Joon belum juga keluar dari kamarnya.
Suara obrolan anak-anak dan Darrell menggema seluruh ruang makan bahkan terdengar sampai ke dalam kamar Joon. Joon yang sudah berganti pakaian selesai mandi duduk di ranjangnya, ia tampak gusar sambil mengepalkan tangannya, dan menahan sesuatu di tenggorokannya yang kian lama kian menyesakkannya.
Setelah darel pulang, anak-anak masih tertawa membicarakan keseruan mereka bersama Darrell, tapi Shaina yang masih memikirkan Joon yang belum makan malam, menyuruh anak-anak segera tidur, sedangkan ia mendatangi pintu kamar Joon.
"Joon, keluarlah! Kamu kan belum makan malam" ucap Shaina sembari mengetuk pintu.
Namun tidak ada reaksi apapun dari dalam kamar, meski Shaina berulang kali memanggil Joon.
Sudah cukup lama Joon barulah membuka pintu kamarnya ketika Shaina sudah merasa pegal-pegal karena terlalu lama berdiri di depan pintu untuk membujuknya.
"Ayo kita makan, aku sudah menyiapkan makan malam" kata Shaina berusaha bersikap tenang meski ia mendapatkan respon berbeda dari Joon.
Sengaja Shaina bersikap tenang dan ramah karena ia paling tidak suka menyelesaikan sesuatu dengan marah-marah, ia tahu Joon sekarang sedang tidak stabil tapi setidaknya salah satu dari mereka harus tenang agar tidak terjadi masalah lebih serius lagi.
"Aku tidak lapar!!"
BUUUKKK!!
Dengan keras Joon membanting pintu kamar sehingga mengejutkan Shaina.
...****************...
__ADS_1
...Maaf ya jika part nya terlalu panjang dan akan merasa bosan bacanya, itu karena mulai mendekat part-part tamat, terima kasih untuk semuanya, sayonarađź‘‹đź‘‹...