
Shaina bersikeras untuk memaksa Joon menceritakan tentang dirinya, karena Shaina benar-benar tidak bisa membendung penasarannya apalagi lelaki Darel dan perempuan di toilet itu sama-sama mengatakan sesuatu yang dapat mengancam hidupnya dan Joon.
Karena rasa penasarannya semakin besar, sampai-sampai Shaina terus mengganggu tidur Joon dengan menarik selimutnya atau mencubitnya bahkan menggelitiknya.
Joon yang terus di ganggu, mendadak bangkit dari tidurnya dan melempar selimut untuk menindih tubuh Shaina dengan tatapan mata yang tajam.
"Aku bisa melakukan lebih dari yang tadi atau bahkan belum pernah kau bayangkan" ucap Joon sambil menyeringai menatap mata Shaina yang bergidik ngeri, karena mendapati perlakuan semacam itu.
"A-aku tidak takut" gumam Shaina.
Joon melepaskan kancing piyama Shaina dan memposisikan dirinya tepat diatas Shaina.
"Te-terserah ka-kamu, lagian a-aku tidak rugi apapun, ini bukan tubuhku" lirih Shaina yang mulai gemetaran.
Joon menghentikan aksinya dan terkekeh melihat Shaina ketakutan setengah mati, Joon kembali membaringkan tubuhnya di sebelah Shaina ketempat semula.
"Kau bilang tidak takut, tapi gemetaran... ada-ada aja kau ini..." Ujar Joon yang terkekeh.
Shaina menimpuk Joon dengan bantal berkali-kali meski ia terus ditertawakan.
"Menyebalkan! Menyebalkan! Pantesan tuan Darel Vigor itu tidak suka denganmu, kau ini sangat menyebalkan, tahu!" Berang Shaina.
Joon memegangi tangan Shaina untuk menghentikan aksi Shaina yang memukulnya, lalu ia mendekap tubuh Shaina dan membaringkannya di pelukannya, menatapnya dengan penuh kasih dan mendaratkan kecupan manis di keningnya membuat Shaina terdiam sambil menatap sosok tampan itu di bawah cahaya lampu.
"Tidur saja sambil melihat aku sebelum tidur agar tidak memikirkan orang lain" gumam Joon yang menepuk-nepuk pundak Shaina.
"Untuk apa aku memikirkan mu? Kau itu menyebalkan!" Dengus Shaina, meskipun begitu ia tidak bergerak lagi saat dalam dekapan hangat lelaki itu.
Shaina tersenyum ketika ia bisa merasakan detak jantung Joon sehingga ia terus meletakkan telapak tangannya di dada Joon. Di sisi berbeda, Joon tersungging lalu senyuman manis pudar karena ada sesuatu yang mulai bergelut di pikirannya, tentang sosok Darel dan orang-orang di masa lalunya.
Malam semakin larut, tapi tidak satupun dari mereka yang memejamkan mata, walau sama-sama tidak bergerak dari posisi sebelumnya, Joon mengarahkan pandangannya ke dinding namun pikirannya telah jauh pergi yang entah kemana, namun ia masih bisa merasakan kehangatan hembusan nafas Shaina yang mengenai lehernya dan jari-jemarinya menari lembut di dadanya.
"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Joon memecah keheningan malam di kamar yang hanya disinari cahaya redup lampu malam.
__ADS_1
Shaina mengerjap kaget dan langsung memejamkan matanya, seakan-akan ia sudah terlelap sejak tadi, tindakannya itu membuat Joon terkekeh, karena ia tahu Shaina belum terlelap seperti dirinya.
"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?" Tambah Joon.
Shaina kembali membuka matanya karena ia ketahuan berpura-pura tidur.
"Apa kau yakin kita akan menikah setelah Elif lahir? Karena menurutku laki-laki itu sulit berkomitmen apalagi di usia muda" Sudi Shaina dengan ragu-ragu.
"Sebelumnya aku juga tidak tertarik dengan pernikahan bahkan aku tidak pernah berpikir untuk menikah, tapi kamu tidak mau kan kalau kita begini terus?" Ujar Joon.
"Kalau di tanya mau aku juga sekarang tidak mau begini tapi...".
"Aku janji setelah kau melahirkan kita akan menikah, ini janji pertama ku dalam hidupku" ujar Joon yang kembali mengecup kening Shaina dengan lembut.
Seharusnya Shaina senang mendengarnya tapi... ia sendiri juga bingung harus percaya atau tidak dengan kata-kata Joon, jadi Shaina juga tidak mau membantahnya. "Aku juga tidak tahu harus bagaimana dengan hidupku yang entah sampai kapan jadi Helena, dan hidup denganmu yang tidak mau berbagi cerita denganku" gumam Shaina.
Joon terdiam, mencerna setiap kata-kata Shaina.
Shaina mengangkat wajahnya untuk melihat mata Joon yang juga mengarahkan pandangannya padanya, menatap lekat-lekat manik mata indah itu tanpa kata yang terucap dan hanya sekedar senyuman yang mampu menjelaskannya.
****
Memulai hari dengan berada di belakang kompor setiap pagi, menyiapkan sarapan untuk semuanya sudah merupakan kebiasaan yang tidak terpisahkan dari kehidupan Shaina, meski kian hari kian terasa berat dan mudah lelah belum lagi kebas-kebas yang terkadang acab menyerangnya tak juga mengurangi rasa syukurnya apalagi sekarang ia selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang yang paling diinginkan dan anak-anak.
Shaina hanya bisa tersenyum-senyum di depan penggorengan telur, membayangkan jika ia dan Joon benar-benar jadi suami istri sungguhan, pastilah ia sangat bahagia karena sudah berbulan-bulan ia bersama Joon tidak sekalipun ia mendapatkan tindakan kekerasan yang dapat melukainya atau mengancam hidupnya meski ia orang asing dan belum saling mengenal satu sama lain, walaupun awal-awalnya Joon pernah pulang tanpa sadar diri karena pengaruh minuman keras, tapi itu sudah lama berlalu dan ia tidak lagi mendapati Joon berbuat aneh-aneh kecuali mengganggunya.
Joon benar-benar menggambarkan sosok yang selalu ia harapkan dalam doanya dulu, sosok yang mampu menghargainya dan mengasihinya.
"Ya Allah, semoga di kehidupan nyataku kami bisa bertemu lagi dan ia juga mengenaliku" batin Shaina.
CUP!
Kecupan mesra mendadak mendarat di pundak Shaina dan perbuatan itu tidak lain adalah Joon yang tiba-tiba muncul dari belakang, mengalungkan tangannya di pinggang Shaina dan mendaratkan kecupan sebagai ucapan selamat pagi.
__ADS_1
"Jangan melamun pagi-pagi" celetuk Joon yang masih enggan melepaskan pelukannya.
"Siapa yang melamun? Lepaskan aku!" Kilah Shaina.
"Rasanya baru kemarin kita bertemu, tapi kenapa aku tidak bisa berjauhan lagi denganmu, apa dalam masakan mu kau memasukkan magnet dan memberikannya padaku?" Gumam Joon.
Shaina melepaskan tangan Joon darinya untuk bisa lolos dari dekapan hangat itu.
"Bicara apa kau ini? Minggir aku harus cuci tangan dulu!" Sosor Shaina.
"Aku bicara benar kok, sampai-sampai aku males keluar rumah, jika benar kau masak magnet tolong masak yang banyak agar kau tidak pernah kabur dariku" Joon berdiri dengan bersandar di meja wastafel di dekat Shaina sambil memanyunkan bibirnya seperti anak kecil yang merengek.
Shaina menaikkan alisnya sambil melirik Joon yang tampak sedang merengek meminta sesuatu.
"Bolehkah aku berharap kau tidak akan kembali lagi ke tempat asalmu?" Gumam Joon yang tampak ragu-ragu.
Shaina terdiam membisu, dan berhenti melakukan aktivitasnya, ia menoleh pada lelaki itu, menatapnya dengan tatapan kosong dan sulit dimengerti.
"Kau takut jika jiwa ku kembali kau akan kehilangan nona Helena, kan?" Ucap Shaina.
Joon beranjak dari tempatnya untuk mendekat pada Shaina, "bukan itu maksudku" ujar Joon.
Shaina tersungging, "jangan khawatir kita akan segera menikah dan kau tidak akan berpisah dengan nona Helena lagi, aku mendukungmu bersama nona Helena agar anak-anak memiliki kasih sayang yang lengkap" ucapnya.
"Shaina, kau salah paham".
"Nona Helena memang sangat cantik, aku saja iri saat bercermin melihatnya".
"Shaina, ini tidak seperti yang kau pikirkan" sergah Joon.
Shaina kembali tersungging, "tenang saja, aku akan membantumu agar kau selalu dekat dengannya dan aku juga berharap bisa secepatnya pulang, aku juga merindukan keluargaku dan hidupku tapi jika boleh aku di beri waktu sebentar lagi untuk dapat melihat wajah Elif agar aku bisa merasa sempurna menjadi seorang ibu" tukas Shaina, tanpa sadar ia meneteskan air matanya.
Joon ingin menghentikan Shaina, tapi Shaina keburu pergi meninggalkan Joon di dapur, ditambah lagi telur yang digoreng Shaina sebelumnya telah berbau gosong, memaksanya untuk mematikan kompor dan berhenti mengejar Shaina. Tidak henti-hentinya Joon berdecak kesal, menyesali ucapannya yang salah ucap itu.
__ADS_1