Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Terungkap


__ADS_3

Saat Joon dan keluarganya memasuki acara tersebut, Darrell dan Harris langsung menghampiri dan mengintrogasinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang Joon sendiri tidak mengerti maksud mereka.


Tidak terkecuali ayahnya Shaina yang ikut menghampiri Joon.


"Dimana putri ku, bukankah sudah kukatakan untuk menjauh darinya" tanya pak Rahmat pada Joon.


"Apa maksud bapak? Aku tidak mengerti" sahut Joon yang kebingungan dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut.


"Joon, Shaina kabur dari pernikahannya dan ada beberapa bukti yang menunjukkan kamu pergi dengannya, jadi katakan saja dia jangan buat yang lain khawatir" sela Calvin.


"Shaina kabur? Aku tidak tahu itu, bagaimana aku bisa beritahu kalian? Kami saja baru sekarang mau menemuinya disini, kami ingin meminta maaf atas kesalah-pahaman yang terjadi di antara kami, karena dia bukan Shaina ku tapi orang lain" ucap Joon sambil melempar pandangannya pada pak Rahmat.


Namun pernyataan Joon, tidak satupun dari teman-temannya yang percaya walaupun Alfan dan Alice ikut membela Joon.


"Joon, untuk kali ini ku mohon lepaskan perempuan itu, dia bukan Shaina yang kita kenal, dia orang lain, bangunlah dari mimpimu bahwa Shaina itu ada, yang bersamamu itu Helena yang memiliki kepribadian ganda, sedangkan Shaina itu ada di dunia nyata" lirih Harris dengan penuh memelas pada Joon.


"Joon, maafkanlah dirimu sendiri, terimalah kenyataan Helena atau perempuan yang kau nikahi itu sudah meninggal, dia tidak mungkin ada lagi, dan tolong bebaskan wanita itu, dia tidak bersalah" sela Darrell.


Joon menatap satu persatu mata teman-temannya hingga ia menghembuskan nafas berat.


"Aku akan terima jika menurut kalian selama ini aku yang berhalusinasi tapi jangan menuduhku membawa kabur Shaina, meskipun dia bukan Shaina ku, aku tidak akan menyakitinya atau sampai memisahkannya dari orang tuanya, maaf aku bukan orang seperti itu" ujar Joon yang penuh kekecewaan atas tuduhan yang menimpanya.


"Joon benar, dia tidak mungkin menculik perempuan kampungan yang kalian maksud itu" sela Marissa yang ikut berpendapat, ia bahkan memegangi lengan Joon, tapi Elif yang di gendongan Joon terus berusaha menendang-nendang tangan Marissa.


"Minggiiir! Jangan pegang-pegang Papa Elliiss..." Geram Elif.


Joon memundurkan langkahnya dan berniat pergi dari acara tersebut karena ia ingin mencari Shaina.


Namun saat pintu itu terbuka, tampak berdiri Shaina dengan tubuh tegap, lalu memasuki ruang acara tersebut dan melewati Joon begitu saja, langkah tegasnya terlihat tak biasa ditambah sorotan matanya bak sepasang mata elang yang mengunci mangsanya.


Penampilannya yang tidak biasa itu membelalakkan semua pasang mata, melihatnya begitu tegas tanpa ekspresi, yang dipadu bibir merah menyala, di tambah dengan rambutnya yang tergerai bebas membuatnya seakan seorang penyihir yang keluar dari sarangnya.


"Berani-beraninya kamu kembali setelah mempermalukan kami!!!" Bentak ibunya Fahri.


Mengabaikan bentakan ibunya Fahri atau cibiran yang mulai berdenging di sekitarnya, ia memfokuskan langkah tegasnya berjalan melewati orang-orang dan bola mata hitamnya membidik Dinda yang berdiri bersebelahan dengan Fahri.


Shaina sempat melirik Gladys yang dari tadi menggenggam tangan Darrell.


"Shaina, apa yang kau lakukan nak?" Gumam Bu Yani.


"Ke-kenapa kau di sini?" Tanya Dinda tergagap melihat Shaina menghampirinya.


Seutas senyum tipis mengembang di bibirnya Shaina saat ia diajukan pertanyaan itu oleh Dinda.


"Shaina! Jika kau tidak ingin menikah denganku katakan saja tapi jangan kabur seperti ini, kau mempermalukan kami!" Berang Fahri.

__ADS_1


Sekilas bola mata hitamnya menyoroti Fahri dengan ketus, namun Shaina kembali memantapkan tatapan dingin pada Dinda sembari menaikan salah satu alisnya, tanpa mengucapkan satu katapun. Hingga orang tuanya ikut memarahinya karena menganggap ia yang bersalah karena telah mempermalukan keluarga, lelah mendengar kemarahan semua orang tidak terkecuali Fahri dan keluarganya, dengan santainya Shaina mengambil segelas air dan di minumnya sampai habis.


Sikapnya semakin membingungkan semua orang, tidak terkecuali Joon yang melihatnya, dan ia memberikan Elif pada Alfan.


Dari kiri maupun kanan, atau berbagai penjuru gunjingan ditujukan terhadapnya, perempuan mandul hingga sebutan perempuan gila dan tidak tahu malu, bukanlah namu yang mengganggunya lagi, malahan Shaina terlihat sangat tenang.


Bu Yani dan keluarganya berusaha mengajak Shaina pulang, agar mereka tidak semakin jadi bahan olokan orang-orang tapi Shaina menolaknya.


Fahri dan Dinda kembali menghampirinya, "Pulanglah, kami tidak membutuhkan kau lagi di sini jika kau terus begini" ucap Fahri.


"Fahri, kayaknya dia sudah gila" ujar Dinda.


Shaina terkekeh pada Dinda, "tenang saja aku masih waras kok, bahkan lebih waras dari sebelumnya dan bisa dijadikan saksi kejahatan orang-orang di sini" sahut Shaina.


"A-apa maksudmu?" Sudi Dinda.


Shaina berjalan mendekati Dinda sambil memutarinya selangkah demi selangkah.


"Aku baru mengatakan jadi saksi kau sudah gugup begini, apalagi jika aku mengatakan kau itu penjahat" ketus Shaina.


"Shaina! Jaga ucapan mu, dia istriku sekarang!" Bentak Fahri.


Dengan cepat Joon mendorong Fahri untuk menjauh dengan Shaina.


"Kau juga harus menjaga intonasi suara mu!" Dengus Joon yang menciptakan senyuman tipis di bibir Shaina.


Ucapan Fahri seakan memercikkan kembali api kemarahan yang pernah padam dalam diri Joon, tapi ia harus menahan emosinya demi Shaina. Ia melemparkan pandangan kesalnya pada Harris yang tampak meminta maaf karena telah membagi cerita pilunya.


Tanpa terlihat oleh siapapun, Shaina di belakangnya tampak mengelibat menatap Joon. Tak ingin berlama-lama membiarkan Joon di jadikan bahan olokan oleh Fahri, Shaina kembali menyuarakan kebenaran.


"Dinda aku punya saran bagus untukmu" ketus Shaina sambil menaikkan alisnya pada Dinda, "jika kau ingin menyingkirkan ku sebaiknya kau belajar dulu pada dua perempuan itu" Shaina mengarahkan pandangannya pada Gladys dan Marissa, "bukankah itu benar nona Mariss-sa dan nona Gla-dys" Shaina mengedipkan matanya pada dua perempuan itu.


Sontak Marissa dan Gladys jadi perhatian semua orang, membuat mereka berdua kebingungan.


"Apa maksudmu nona Shaina dengan membawa-bawa nama kekasihku" sela Darrell pada Shaina setelah melihat kekasihnya yang kebingungan.


Shaina tersenyum, "maaf pak Darrell" sahut Shaina. Lalu ia tersenyum dan mendekat pada Gladys dan Marissa, sambil berjalan ia berkata "Dinda, menyekapku di kamar mandi di suhu yang dingin tidak akan membunuhku, karena aku sudah terbiasa berada di udara dingin bahkan aku pernah tinggal yang di kelilingi salju" ucap Shaina.


Mendadak Dinda di soroti oleh keluarganya dan Fahri bahkan semua orang.


Joon menatap Shaina sembari bergumam "Shaina...".


Shaina semakin memundurkan langkahnya dan mendekati Gladys dan Marissa dan memainkan rambut mereka, sikapnya semakin aneh karena Shaina tidak hanya memainkan rambut mereka tapi menatapnya sambil tertawa.


PLAK!

__ADS_1


Tamparan keras didaratkan Shaina di pipi Marissa hingga mengejutkan semua orang.


"Apa yang kau lakukan perempuan gila?" Pekik Gladys yang mencegat tangan Shaina.


Marissa memegangi pipinya yang perih sambil menahan emosi.


PLAKKK!


Sekali lagi Shaina melayangkan tangannya dengan keras di pipi Gladys.


Aksinya itu semakin menguatkan asumsi bahwa Shaina benar-benar sudah gila.


Dan saat ia kembali mau mendekati dua perempuan itu, Darrell mencegat tangan Shaina.


"Maaf nona, kali ini kau benar-benar keterlaluan telah memukul orang" ujar Darrell pada Shaina yang tampak mengabaikan perkataannya.


"Joon, lihatlah dia memukul ku, perempuan itu benar-benar sudah gila gara-gara gagal menikah dengan tunangannya" adu Marissa yang mendekati Joon.


Dengan cepat Alice menyingkirkan tangan Marissa dari Joon, namun Joon masih fokus menatap Shaina yang berbeda dari biasanya.


"Dinda, tadi kau mengikatku di kamar mandi, itu terlalu biasa untukku setidaknya kunci aku didalam mobil dan bakar sesuatu didalamnya agar aku kesulitan bernafas dan perlahan mati, bukankah begitu nona Gladys dan nona Marissa?" Shaina menatap kedua perempuan itu.


Seketika Gladys dan Marissa kaget mendengarnya dan membuat mereka cemas akan sesuatu.


"Dari mana kau tahu itu?" Sudi Marissa yang berjalan mendekati Shaina.


Shaina tersungging dan melirik mereka satu persatu, "sepertinya kalian tertarik dengan kisah itu, baiklah akan ku ceritakan se....muanya agar semuanya tahu kisah nyata yang sengaja di sembunyikan itu".


Shaina kembali meneguk air di gelas yang diambilnya, "mari kita mulai bercerita, ini kisah sepasang anak manusia yang dipertemukan dengan cara aneh bisa dikatakan tidak masuk akal tapi aku tidak ingin menceritakan kisah cinta itu, melainkan mengenai orang-orang yang ingin memisahkan mereka, itu di mulai pada hari perjamuan makan siang bersama teman-teman suaminya, si istri pergi ke toilet dan saat kembali ia tidak sengaja mendengar pembicaraan mantan kekasih suaminya bersama kekasih kakak sepupu suaminya, dua perempuan itu merencanakan sesuatu yang mengerikan untuk si istri ini, karena ketakutan si istri segera menemui suaminya untuk memberitahunya tapi saat itu orang-orang masih banyak dan si istri tidak ingin mengganggu suaminya yang sedang bersama teman-temannya dan berencana akan menceritakan sampai di rumah saja agar ia merasa lebih aman, tapi tidak ada yang menyangka bahwa si istri itu tidak akan kembali lagi ke rumah mereka bahkan untuk menceritakan kebenaran itu" Shaina meneteskan air matanya dan menatap Joon yang kembali terluka mengingat hari-hari mereka.


"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Calvin yang mendekat pada Shaina.


Shaina menyeka air matanya dan kembali tersenyum untuk melanjutkan ceritanya, "pada saat yang sama, si istri harus mengambil botol susu bayi yang dititipkan pada mereka berdua, saat ia mengambil botol susu tersebut tiba-tiba pintu mobil suaminya tertutup dan di kunci di luar, ia terus meminta tolong tapi tidak ada yang datang karena tempat itu memang sudah di siapkan sebagai tempat kematiannya, tapi tahukah siapa yang muncul saat itu?" Shaina mengajukan pertanyaan kepada semua orang.


"Yang muncul saat itu adalah mantan pacar suaminya yaitu nona Marissa yang cantik itu dan kekasih kakak sepupu suaminya itu adalah nona Gladys yang seksi ini" tukas Shaina.


Dengan cepat Marissa mencengkram erat tangan Shaina dan menatapnya dengan tajam, "bagaimana kau tahu itu? Dimana kau saat itu?" Geram Marissa, menggertakkan giginya saat berbicara dengan Shaina.


"Jaga bicaramu, kau tidak tahu siapa kami, kau hanya wanita gila!" Sambung Gladys yang ikut mengancamnya bahkan disaat mereka sedang di perhatikan oleh Joon dan yang lainnya.


Shaina tertawa dan menarik tangannya dari genggaman Marissa.


Seketika Shaina menjadi serius dan tidak segan-segan menatap mereka dengan tajam, "Aku sudah sangat mengenal kalian dan ini kali keduanya kalian bicara seperti ini, lihatlah bekas luka bakar di pergelangan tanganku ini, dimana orang-orang merasa jijik dengan luka ini" Shaina menoleh pada Fahri yang sering menghina lukanya.


"Ingatkah kalian pada luka ini? Jika tidak ingat maka akan ku ceritakan bagaimana luka ini tercipta. Kau tahu siapa didalam mobil itu? Itu bukan Helena, Helena tidak ada di sana tapi aku, Shaina!" Ucap Shaina dengan lantang.

__ADS_1


Darrell bersama teman-temannya terperanjat mendengar itu, saat Shaina menyebut namanya sendiri sambil memencingkan matanya pada kedua wanita itu.


__ADS_2