
...Ketika menu sarapan sedang disiapkan dan Shaina mencoba mencicipi masakannya tersebut, walaupun dia terlahir dari keluarga sederhana tapi ia bukanlah orang yang handal dalam memasak bahkan tergolong orang yang tidak suka dapur kecuali saat lapar saja, apalagi masa mudanya yang terlanjur dimanjakan oleh neneknya yang jarang membiarkan ia berkutik dengan peralatan dapur jadi setiap masakan sangatlah diragukan akan cita rasanya bahkan dirinya sendiri ragu dengan kemampuannya yang satu ini....
Jadi selama ia menjadi Helena dan tinggal bersama Joon, Shaina setiap harinya sibuk di dapur, selayaknya seorang wanita yang sudah menikah yang disibukkan mengurus suami dan anak-anaknya. Dia pun tidak ragu-ragu meminta bantuan pada Joon termasuk soal mencicipi masakannya.
"Joon, coba kamu cicipi, kira-kira apa yang kurang?" Kata Shaina yang sedang mengecilkan api kompor.
Joon yang sudah paham langsung mendekat, seraya membuka mulutnya agar Shaina yang menyuapinya. Aksi Joon tersebut terkadang membuat Shaina bingung, karena Joon kerap bersikap seperti anak kecil padanya, meminta di suapin setiap kali mencicipi makanan ataupun Joon sendiri yang tidak ragu-ragu menyuapi Shaina, dan cara pandang Joon terhadapnya juga aneh. Maka Shaina jadi suudzan sendiri, berpikir Joon juga tertarik padanya. Tapi perasaannya langsung terbantahkan karena Joon melihat perempuan berkerudung semalam yang merupakan wajah Shaina asli Joon malah terlihat jutek dan tidak suka berlama-lamaan bersamanya, yang akhirnya Shaina jadi malu sendiri karena terlalu percaya diri, berpikir Joon tertarik padanya.
"Bagaimana?" Tanya Shaina pada Joon yang mencicipi masakannya.
"Enak, sudah lebih baik dari kemaren-kemaren" jawab Joon.
Shaina mendengus, "yang benar? Enggak usah muji kalo enggak enak".
"Benar kok, aku suka" kata Joon, "kamu tahu tidak? Sebelum ada kamu aku jarang sekali makan masakan rumahan, apa-apa aku pesan, makanannya memang sangat enak tapi aku tidak suka karena seperti ada sesuatu yang kurang" lanjutnya, suara Joon terdengar pelan.
"Ohoho! Jadi kamu suka makan makanan tidak enak ya?" Celetuk Shaina.
Joon mengacak-acak rambut Shaina seraya tersenyum, "kau ini!" Dengus Joon.
Shaina menghindar dari tangan Joon yang memberantakkan rambutnya, "iiihh! Rambutku jadi berantakan tahu!" Timpal Shaina.
"Hei...! jika aku punya banyak uang nanti, aku akan membelikan mu peralatan masak yang lebih bagus lagi supaya kamu tidak bosan memasak untukku" kata Joon.
"Iiihh...! Kau curang!! Masak aku di dapur terus! Sedangkan kau enak-enakan di luar".
"Siapa bilang aku diluar, aku janji kita akan selalu makan bersama di meja yang sama bersama anak-anak termasuk Elif" tukas Joon.
"Waaaahhh!! Kau berpikir sejauh itu, bagaimana kalau aku tidak ada lagi disini dan Helena kembali ke tubuhnya?".
Joon terperanjat dan terdiam sejenak, pandangannya tertuju pada Shaina yang telah kembali menyibukkan diri dengan menyajikan sarapan ke meja makan.
"Aku akan menemukanmu, dan jika kau bersama orang lain maka aku akan jadi penjahat untuk menculik mu, karena akan ku kontrak kau jadi tukang masak hanya untukku saja dan tidak ku biarkan lelaki lain mencicipinya" ujar Joon.
__ADS_1
"Haha...! Kontrak? Menculik ku? Apa kau begitu sombongnya nanti jika punya uang? Sampai-sampai kau menjadikanku pelayan mu?" Tanya Shaina.
"Iya, aku akan sombong apalagi secara khusus aku telah merekrutmu di posisi istimewa itu" tambah Joon.
"Emmm... Kita lihat saja nanti, apa kau punya uang untuk mendatangi ku, tapi sebelum itu datangi anak-anak dulu, bangunkan mereka dan suruh mandi lalu baru kita sarapan" perintah Shaina.
"Dasar Nyonya besar, baru ku katakan memberikan posisi istimewa sudah berani nyuruh-nyuruh!" Tukas Joon.
Shaina terkekeh melihat ekspresi Joon yang cemberut saat menuju ke kamar keponakannya.
Beberapa waktu berlalu, semua anggota keluarga sudah duduk di posisi masing-masing, tapi pagi itu ada penambahan kursi makan yang tak lain untuk Marissa. Seperti biasanya, Shaina akan mengurus sarapan Alice dan Alfan termasuk kepada Joon dengan mengisi piringnya dan menuangkan air ke dalam gelas mereka, sikapnya itu mencerminkan bak seorang istri dan seorang ibu untuk sikembar.
Namun saat Shaina mau mengisi piring Joon tangannya dicegah oleh Marissa.
"Nona Helena terimakasih telah memasak, tapi soal Joon biar aku saja yang mengurusnya" Kata Marissa yang sontak jadi perhatian Joon.
Tapi bagi Shaina, Marissa telah memetikkan percikan api yang menyebabnya kesal pagi-pagi begini, namun Shaina masih bisa tersenyum, seakan tidak peduli dengan sikap perempuan itu.
"Nona Helena kapan pulang ke rumahmu?" tanya Marissa yang tiba-tiba dan semua mata tertuju padanya.
"Aku hanya merasa rumah ini sekarang agak sempit dan terlalu banyak orang, Joon yang aku tahu orangnya terlalu privasi dan tidak suka anak-anak" kata Marissa lagi.
"Diam Marissa!" Timpal Joon.
"Joon, aku hanya kasihan padamu, kau sekarang hampir tidak punya waktu untukmu sendiri, setiap hari mengantar mereka ke sekolah, menghabiskan uang untuk mereka, bahkan kita tidak punya waktu untuk bersama" sambung Marissa.
"Marissa! Sebaiknya kau diam dan makan saja!" Geram Joon yang meninggi nada suaranya.
Marissa mendengus kesal pada Joon dan Shaina, ia juga melotot tajam pada anak-anak itu tampak bergidik ngeri dengan Joon yang tiba-tiba terdengar seperti geledek di siang hari.
Suasana meja makan kembali senyap akibat ulah Joon tersebut sampai-sampai Alice tidak memberanikan diri untuk bersuara keras pada Shaina saat meminta ditambahkan susu kedalam gelasnya.
"UEEEKKK!!!!"
__ADS_1
Marissa memuntahkan makanannya yang baru sesuap ia makan ke dalam tissue yang ia ambil, "makanan apaan sih nih? Kenapa ada nasinya? Dimana sandwich nya?" Pekiknya.
"Hah?!" Shaina ikut bingung dengan pernyataan Marissa.
"Mama suka makan nasi dan tidak bisa buat sandwich" gumam Alice.
"Nona Helena, anda memang tidak berbakat memasak, ini rasanya sangat buruk tidak layak dimakan tapi pantas di tempat sampah!!" Sembur Marissa, ia terlihat sangat tidak senang melihat Helena ditambah beberapa kali ia menekan nada bicaranya terhadap Shaina.
"MARISSA!! Lebih baik kau pulang sana!" Sela Joon yang mendadak berdiri dari duduknya, matanya menatap tajam kearah Marissa.
"Joon! Apa-apaan ini? Sejak kapan kau mengusirku dari rumahmu?".
"Sejak ini! Cepat pulang dan ambil barang-barang mu!" Joon menarik tangan Marissa sehingga perempuan itu menyenggol gelas berisi air.
Joon masuk ke kamarnya dan mengambil semua barang-barang Marissa lalu mengusirnya dari rumahnya, tidak peduli dengan teriakan atau cerca Marissa yang tidak terima diperlakukan kasar oleh sang kekasih. Marissa terus menggedor-gedor pintu dan tidak ragu-ragu melayangkan tendangan keras di daun pintu itu.
"Joon! Kau kira siapa dirimu? Berani-beraninya kau mengusirku! Ahh!!! Tendangan keras mendarat di pintu rumah joon, "aku yakin setelah ini kau akan meminta maaf telah mengusirku!" Pekiknya.
Joon yang berdiri di balik pintu memilih diam dan tidak menanggapi setiap cercaan Marissa, meski terkadang dari kalimatnya itu mengandung makna merendahkan harga dirinya. Beberapa saat kemudian suara Marissa tidak terdengar lagi yang diikuti deruan mobilnya juga sudah meninggalkan lokasi rumah Joon.
Joon yang kembali ke ruang makan melihat Shaina dibawah meja sedang membersihkan pecahan gelas dan air di lantai dari gelas jatuh yang tersenggol Marissa tadi.
"Biar aku saja yang melakukannya" kata Joon yang mendekati Shaina.
"Tidak usah, aku bisa melakukannya" sahut Shaina, suaranya terdengar parau dan hatinya terasa sakit dikarenakan ucapan Marissa yang terlalu jujur dengan masakannya.
Joon kembali menawarkan diri untuk membersihkan lantai dari pecahan gelas dan air tapi Shaina tidak mau menurutinya sekalipun Joon telah memaksanya.
"Aku bisa bersihkan sendiri!" Tukas Shaina yang tampak kesal sehingga melakukan bersih-bersih tersebut dengan tergesa-gesa, "Aaauu!!!", jerit Shaina.
...----------------...
**Ya ampun Mama Shaina, apa yang terjadi sih? sampai menjerit gitu?
__ADS_1
terima kasih untuk yang sudah like dan vote nya, semoga kita diberkahi di bulan yang penuh berkah ini**....