
Waktu terus bergulir, perlahan-lahan Shaina mulai membuka matanya, Shaina menggerakkan tubuhnya untuk merenggangkan otot-ototnya, udara menjadi semakin dingin membuatnya malas untuk bangun, tangannya meraba-raba ke sisi sebelahnya yang tidak lagi didapati keberadaan Joon.
CEKLEK!!
Terdengar derit pintu kamar mandi terbuka, samar-samar Shaina melihat seseorang bertubuh tinggi tegap dan atletis dimana otot-otot perutnya terpahat indah, sosok itu berjalan di antara kakinya, mengabaikan keberadaan Shaina yang masih terkulai di tempat tidur. Sosok itu tak lain adalah Joon yang baru keluar dari kamar mandi dan sekarang sibuk mencari pakaiannya di dalam lemari.
Shaina mengucek-ngucek matanya untuk melihat sosok tersebut dan ternyata itu Joon yang baru selesai mandi, karena tidak ingin melihat adegan selanjutnya jadi secara diam-diam Shaina turun dari ranjang dengan maksud ingin keluar dari kamar tersebut disaat Joon mau berganti pakaian. Namun di waktu bersamaan karena kurangnya hati-hati, kakinya menubruk sisi ranjang hingga membuatnya terjatuh ke atas ranjang lagi.
"Ahhh!" Pekik Shaina yang mengejutkan Joon.
Joon segera menghampirinya tanpa mempedulikan dirinya sendiri yang masih terlilit handuk di pinggangnya.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Joon.
Shaina menggelengkan kepalanya seraya menundukkan pandangannya dari Joon yang berada di depannya, dimana perutnya bagaikan roti sobek dan berbahu tinggi itu
"Aku tidak apa-apa, kamu yang jauh-jauh deh!" Timpal Shaina.
Joon mengerjap heran, "tapi apa yang terjadi?".
"I-itu... tadi aku tidak sengaja tersandung dan jatuh" kata Shaina.
"Jatuh? Bagaimana dengan perutmu? Kau tidak merasa sakit kan? Kita ke rumah sakit ya?" Ujar Joon yang panik.
Shaina mendorong dada Joon yang menurutnya terlalu dekat dari dirinya. "Cepat pakai baju sana! Aku baik-baik saja" kata Shaina.
"Tapi periksa dulu, bagian mana yang sakit? Jangan lupa kau ini sedang hamil" kata Joon.
"Iya-iya! Mana mungkin aku lupa! Tapi aku benar-benar tidak kenapa-napa, jangan hiraukan aku cepat pakai bajumu!" Pekik Shaina sekali lagi yang memejamkan mata.
Joon melihat dirinya sendiri dan membuatnya tersungging mengetahui ia dirinya masih hanya menggunakan sehelai handuk.
"Kenapa menutup mata? jangan berpura-pura polos didepan ku, aku tahu apa yang kau pikirkan".
Shaina semakin dibuat malu, bahkan kedua tangannya ikut menutup mukanya, "apanya yang berpura-pura polos?" Balasnya.
Joon tersenyum lalu menjauh dari Shaina.
"Aku ganti pakaian di kamar mandi kamu jangan kemana-mana dulu" kata Joon.
"Tidak perlu, aku saja yang ke kamar anak-anak" sanggah Shaina sambil memelas dan tidak bisa di pungkiri diam-diam ia menelan ludahnya dan langsung membuang muka dari melihat tubuh kekar itu yang masih lembab.
__ADS_1
Melihat Shaina agak memaksa, akhirnya Joon membiarkannya pergi. Shaina kembali turun dari ranjang dan menuju pintu keluar meninggalkan Joon yang tersungging menatap tubuhnya yang perlahan hilang di balik pintu kamarnya. Selepas Shaina keluar, Joon merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mengingat-ingat alasan ia mandi pagi-pagi buta. Ketika pertama kali bangun tadi ia mendapati Shaina tertidur pulas sambil memeluknya sehingga membangkitkan gairah bercintanya sehingga tanpa sadar ia sempat menciumi bibir Shaina bahkan ia hendak melakukan lebih dari itu, tapi saat menyadari itu tubuh Helena segera ia hentikan dan menuntaskannya di kamar mandi dengan mengguyur dirinya dengan air dingin untuk menghilangkan gejolak hasratnya. Satu keberuntungan lagi, Shaina tidak mengetahui itu.
Usai berganti pakaian setelah mandi, Shaina kembali berbaring disebelah Alice dan Alfan, karena entah kenapa ia merasa sangat senang bersama mereka, dimana ia tidak ragu-ragu untuk mencium kening mereka, anak-anak termanis, cantik dan tampan menurutnya, memandangi dan menggenggam tangan mereka sangatlah menyenangkannya yang terkadang ia suka memainkan jari-jari mungil mereka.
"Mama..." Gumam Alice yang baru membuka matanya.
Shaina mengerjap kaget lalu sebuah senyuman ikhlas merekah dari bibirnya, "iya sayang, ada apa?" Tanya Shaina.
Alice menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis menatap Shaina.
"Alice mencintai Mama" kata Alice.
Shaina terasa bergetar dihatinya dan tidak kuasa menahan air matanya, "terima kasih sayang Mama juga mencintai kalian" sahut Shaina.
Alice menyeka air mata Shaina sambil menatapnya dengan mata yang berbinar-binar, Shaina kembali mengecup kening gadis muda itu dan membelai lembut pucuk kepalanya, rasa sayangnya pada dua anak itu sudah tidak ada bedanya dengan anaknya sendiri, keberadaan juga mereka mengingatkan pada sosok kedua orang tuanya yang kerap diacuhkannya dulu dan dari mereka juga ia belajar kata kesabaran saat mengasuh anak. Shaina merasa bersalah atas perlakuannya terhadap kedua orang tuanya, jadi Shaina mulai menerima kenyataannya sekarang karena dianggapnya sebagai teguran untuknya yang menjadi anak pembangkang.
Shaina keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan, namun di dapur sudah ada Joon yang tampak juga sedang menyiapkan sarapan, Shaina merasa tidak enak saat Joon melihat isi kulkasnya yang sudah kosong dan hanya tersisa beberapa bahan saja. Selangkah demi selangkah Shaina mendekat kepada Joon yang masih belum menyadari keberadaannya.
Setengah terbata-bata Shaina berkata, "maaf...".
Joon berbalik badan dan melihat Shaina berdiri dengan wajah sedih.
"Kenapa?" Tanya Joon.
Joon mengerenyit keningnya tapi tidak seberapa lama matanya melirik ke samping sambil tersenyum tipis, "makanya aku pengen jadi orang kaya, jadi tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti ini" ujar Joon.
Seketika Shaina mendiaminya dengan tatapan tajam dan mengerikan pada Joon, ia tidak menanggapi perkataan Joon.
Bahkan tanpa basa-basi Shaina langsung memotong sayuran. Ia terus sibuk dengan urusannya tanpa sekalipun mengobrol dengan Joon meski diam-diam Joon menertawakannya yang terlihat sangat lucu.
Tidak henti-hentinya Joon terkekeh kecil tapi saat Shaina berbalik badan dan melihat ke arahnya Joon langsung diam.
Dimeja makan drama kekonyolan Shaina masih berlanjut, ia masih memasang wajah cemberut pada Joon.
Joon bingung dengan makanannya yang berbeda dengan punya anak-anak, "Kenapa punya ku sedikit?" Tanya Joon yang heran dengan isi piringnya lebih sedikit dari yang mereka punya.
"Anak-anak harus makan lebih banyak untuk pertumbuhan mereka dan aku makan berdua sedangkan kau ini harus diet biar enggak gendut, nantinya perempuan itu tidak akan tertarik padamu" tukas Shaina.
"Ta-tapi itu masih rencana, sekarang aku mau makan" ujar Joon.
"Ya itu! Cepat makan" Shaina menunjuk pada piring makan Joon yang berisi sepertengah dari makanan mereka.
__ADS_1
Perdebatan soal makanan antara Joon dan Shaina di depan meja makan telah menjadi tontonan anak-anak yang merasa heran dengan sikap kedua orang dewasa tersebut.
"Ada apa ini Ma?" Tanya Alfan.
"Tidak ada sayang, hanya saja pamanmu itu mau berkencan dengan gadis kaya" tukas Shaina yang mendengus kesal pada Joon.
"Kencan itu apa Ma? Kenapa Mama marah apa itu berbahaya?" Sela Alice.
Shaina kaget dan terdiam dengan pertanyaan Alice, seketika pipinya memerah seperti udang rebus dan tidak tahu harus mengatakan apa. Shaina kembali tegang saat melihat Joon sedang cengengesan padanya.
"Kenapa?" Tanya Joon yang duduk manis sambil menopang dagunya serta mengangkat alisnya pada Shaina.
"Ke-kenapa?" Ucap Shaina yang tergagap, ia segera memalingkan wajahnya dari Joon yang masih memperhatikannya, "cepat makan jangan mengobrol lagi" sambung Shaina lagi pada mereka yang masih menunggu jawabannya.
Tapi Joon semakin tersenyum melihat Shaina yang mendadak jadi jadi salah tingkah, bahkan saat Joon mau berangkat kerja, Shaina masih enggan menatapnya.
Didalam mobil Joon masih terngiang-ngiang kejadian tadi pagi dimana ia mencium Shaina di tambah lagi Shaina yang marah-marah tanpa alasan membuat Joon tersenyum-senyum sendiri. Setelah memarkirkan mobilnya, Joon tidak langsung keluar tapi ia menyempatkan diri membuka galeri foto, dari sekian banyak foto yang terdapat di antara foto tersebut perhatiannya teralihkan pada dua foto perempuan yang berbeda, dengan seksama ia memperhatikan kedua foto tersebut, tidak lama kemudian Joon keluar dari mobil dan masuk ke tempat kerjanya.
Seperti biasanya, kesibukan Joon yang berkutat dengan alat espresso kopi bersama karyawan lainnya, ponselnya yang di sakunya bergetar, si pemilik panggilan tersebut adalah Marissa.
"Halo beb" sapa Marissa.
"Ada apa Marissa?"
"Aku sudah memaafkanmu tentang kejadian itu, jadi malam ini kita makan diluar ya" kata Marissa.
"Ta-"
"Ini hari jadian kita lho beb, jangan bilang kamu lupa!" Kata Marissa memotong pembicaraan Joon.
Joon berpikir sesaat, "baiklah"
"Terima kasih beb, nanti malam ku tunggu pukul delapan ya" seru Marissa yang kegirangan, lalu ia menutup teleponnya.
Joon kembali bekerja, Harris mendekatinya karena sebelumnya ia sempat mendengar pembicaraan Joon dan Marissa.
"Yeah! Ada yang bersemangat ni buat entar malam!" Goda Harris.
Joon melirik dingin pada temannya itu, menyiratkan kekesalan dengan perkataan Harris.
"Beruntung sekali kau Joon, di rumah dapat jatah di luar juga ada yang belai, hidupmu memang sempurna" celetuk Harris yang terkekeh.
__ADS_1
Joon tidak menanggapi perkataan Harris sama sekali, karena ia terlalu sibuk dalam dunianya sendiri.
****