
Joon permisi pada rekan-rekannya yang sedang mengajak ngobrol dengan si kembar, joon mengajak Shaina dan anak-anak duduk di kursi para tamu.
"Sepertinya kau sudah punya teman baru" bisik Joon pada Shaina.
Shaina tersungging dan berjalan ke tempat duduk bersama yang lain hanya saja tangannya dan tangan Joon saling terkait seakan tidak mau terpisah.
Harris dan Calvin tiba mereka langsung menyelamati Gia dan Harley, lalu perhatian Calvin tertuju pada Shaina yang membuatnya tersenyum. Ia meninggal Harris dan menghampiri Shaina dan yang lain.
"Ku kira kau tidak datang" celetuk Calvin pada Shaina yang kaget melihatnya.
Shaina tersenyum, "Joon memaksaku" Shaina memiringkan kepalanya kearah Joon, "jika tidak mana mau aku ketempat seperti, ini tidak cocok untukku" sahut Shaina.
"Siapa bilang tidak cocok, bahkan kau terlihat paling cantik di sini" ucap Calvin, duduk sebelah Shaina di kursi yang di tarik Joon untuk di dudukinya.
Terpaksa Joon duduk di kursi yang lain di sebelahnya Hannah.
"Waaa...! Aku tidak tahu di pesta Gia dan Harley ternyata didatangi seorang bidadari" Celetuk Harris yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Shaina menoleh ke sekelilingnya dan mencari sosok yang di bicarakan Harris.
"Dimana bidadarinya Om?" Tanya Alice, ia memutar kepalanya ke segala arah mencari sosok tersebut.
"Ini" ucap Harris.
"Maksud Om Harris, Mama?" Tambah Alfan yang sama penasarannya seperti saudara kembarnya.
Harris tersenyum pada Shaina, "bukankah begitu nona Shaina? Eh maksudku nona Helena" ujar Harris.
Calvin dan Joon sama-sama terlihat sinis, mencemooh sahabat mereka itu yang hanya memodusin Shaina.
Shaina tersenyum, "ada-ada aja kau ini" timpal Shaina, ia mendirikan tangannya untuk menopang dagunya, "tapi ngomong-ngomong aku tadi juga hampir tidak mengenalimu, ku kira tadi dari mana datangnya pangeran berkuda putih" balas Shaina menggoda Harris lengkap dengan kedipan mata genitnya.
Harris terkekeh, senang dengan rayuan gombal Shaina yang menyebutnya pangeran berkuda putih, di tambah tampilan yang dominan warna putih, seperti kemeja dan celananya yang sepenuhnya bewarna putih. Namun teman-temannya yang lain malah tertawa hingga menyeringai konyol.
"Tau tidak Harris? Helena bilang berkuda putih dan lihatlah siapa yang putih-putih!" Imbuh Joon yang diikuti Calvin menertawakan Harris.
Harris baru menyadari bahwa yang di maksud Shaina dia bukan pangerannya melainkan kuda putihnya.
Shaina berkilah ia benar-benar memuji Harris dan tak punya maksud menyindirnya, ia juga kepikiran untuk menyamakan seekor kuda dengan Harris.
"Apa-apaan kalian ini?" Dengus Shaina pada Joon dan Calvin. "Maaf Harris, aku tidak bermaksud begitu" mohon Shaina atas kesilapannya pada Harris.
Harris mengeroncongkan bibirnya tapi tidak setelah itu ia malah ikut tertawa, "jangan khawatir aku cuma bercanda dengan mu, lupain dua lalat itu yang hanya bisa mendengung saja" timpal Harris terhadap Joon dan Calvin.
__ADS_1
Hannah duduk diam di sebelahnya Joon, sesekali ia ikut tersenyum seperti yang lain melihat kakaknya akrab dengan teman-temannya Joon, namun terbesit rasa iri sang kakak, bagaimana semua orang hanya memperhatikan Shaina dan bukan padanya yang lebih muda dan modis.
Keberadaan Joon mulai di kesampingkan oleh Shaina dan anak-anak, karena ketika mereka hendak ngapa-ngapain, Harris dan Calvin selalu lebih depan membantunya, mulai membawa makanan, minuman, tissue atau hal lainnya yang dibutuhkan oleh ibu dan anak itu, semua disediakan oleh dua laki-laki itu.
Tiba saatnya waktu berdansa, tidak harus hanya pengantin saja yang berdansa, siapapun boleh ikut berpartisipasi dalam acara tersebut yang diiringi dengan alunan musik yang lembut dan tenang, membuat suasana semakin romantis.
Gia, sang pengantin wanita tampak sangat bahagia tapi ia punya ide gila untuk para tamunya khususnya terhadap rekan-rekannya.
Ia mengangkat gelas minumannya dan mengetuk-ngetuk dengan sendok sembari berkata, "halo semuanya! Boleh minta perhatiannya?" Seru Gia, semua mata tertuju padanya tidak terkecuali Shaina dan teman-teman semejanya yang tadi sibuk dengan obrolan mereka.
"Bagaimana jika tunjukkan seseorang untuk berdansa sebagai pembuka acara dansanya?" Lanjut Gia.
Orang-orang mulai penasaran dengan orang yang akan ditunjuk oleh Gia bahkan suaminya sendiri tidak tahu siapa yang dimaksud perempuan itu.
Gia tersenyum simpul sembari melirik-lirik para tamu yang mulai bertanya-tanya tentang orang yang di maksudnya, "aku ingin yang berdansa adalah teman bandel ku yaitu Joooonnn!" Sambung Gia.
Joon terkekeh dengan ulah Gia, yang menyebabkan dirinya jadi perhatian semua orang, "ada-ada saja kamu, aku tidak pintar berdansa bagaimana bisa kau menyuruhku berdansa di acara pernikahan kalian, bisa-bisa aku akan di pecat besok" kilah Joon.
Gia menghampiri Joon, "ayolah Joon, siapa yang percaya kau tidak bisa berdansa? Bangun dan tunjukkan pada kami semua" ucap Gia sambil menarik-narik tangan Joon.
Harley juga mendekat pada Joon dan ia berbisik, "lakukan saja untuk istriku, jika tidak jangan harap bulan depan kau dapat mengambil gajimu" ancamnya dengan berbisik pada Joon.
Gia nasih memasang wajah penuh harap dan meminta Joon untuk bangun dari duduknya.
Semua orang menyeru namanya tidak terkecuali Shaina di depannya dengan senyuman yang tidak lekang diwajahnya. Melihat sosok di depannya itu Joon ikut tersenyum dan beranjak dari tempatnya, berdiri diantara semua orang.
Gia tertawa lalu mengangkat salah satu alisnya, "siapa yang ingin kau jadikan pasangan dansamu?" Tambahnya.
Hannah merapikan rambut dan pakaiannya tapi saat hendak berdiri, ia dikejutkan dengan Joon yang melewatinya dan berjalan ke arah berlawanan.
"Tuan putriku maukah kau berdansa denganku?" Joon berlutut pada gadis imutnya yang tak lain adalah Alice nya.
"Maaf Paman, Alice tidak mau punya pangeran tua dan nyebelin seperti paman, Alice cari pangeran yang seumuran dengan Alice agar Alice punya teman bermain bersama" jawab Alice dengan tingkah polosnya.
Sontak semua orang tertawa melihat kekonyolannya dan Joon yang di tolak mentah-mentah. Joon tersungging dan berdiri, ia melihat Shaina yang tertawa lepas hingga memperlihatkan deretan gigi putihnya.
Joon berbelok arah dan menjulurkan tangannya pada Shaina.
"Jadilah teman dansaku" ucapnya dengan tatapan mata yang berbinar-binar memandangi wajah Shaina yang tiba-tiba terdiam.
Keadaan jadi sepi tanpa suara, semua orang melihat Shaina dan Joon. Bahkan Calvin dan Harris cukup kaget dengan permintaan Joon, terlebih lagi Hannah, seakan ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Ta-tapi a-aku tidak bisa menari, a-aku juga tidak bisa bergerak lincah" ucap Shaina terbata-bata karena malu di lihat semua orang.
__ADS_1
Joon tersungging, "aku akan memegangi mu, kita juga bergerak pelan-pelan" sahut Joon.
Pipi Shaina merona merah, di tambah semua orang memintanya untuk berdiri agar berdansa dengan Joon.
"Jika kamu tidak mau maka aku juga tidak akan berdansa" sambung Joon.
Perlahan-lahan Shaina bangun dari tempat duduknya, menerima permintaan Joon karena ia tidak mau Joon di permalukan oleh sikapnya itu, ia sering menonton di pesta-pesta pernikahan selalu ada acara dansa untuk membuat acara tersebut semakin romantis tapi tidak pernah terpikirkan olehnya ia akan jadi salah seorang dari orang-orang tersebut.
Shaina meraih tangan Joon yang menuntunnya ke tengah-tengah gedung yang jadi panggung dansa.
Shaina tidak tahu persis bagaimana perasaannya tapi yang pasti ia tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum, pandangannya tertuju pada Joon seorang begitu juga sebaliknya yang Joon rasakan, tangan dingin Shaina telah menyentuh hatinya.
Perlahan melodi cinta nan lembut di hidupkan, gesekan biola mengiringi pergerakan mereka yang di padu dengan bunyi tut piano. Joon meletakkan tangan Shaina di tengkuknya dan satu lagi di dadanya sehingga detak jantungnya yang berdegup keras dapat dirasakan Shaina.
"Joon, ini memalukan, kita dilihatin semua orang, aku juga belum pernah berdansa" bisik Shaina pada Joon.
"Abaikan yang lain kita lakukan saja bersama" balas Joon pada Shaina.
Joon memegangi pinggang Shaina dan tangan yang lain memegangi tangan Shaina, perlahan-lahan mereka mulai bergerak, dari satu arah ke arah yang lain sesuai dengan iringan musik yang lembut, aura keromantisan tidak hanya di rasakan oleh mereka berdua saja tapi semua mata ikut larut dalam dansa tersebut, Alice dan Alfan tidak henti-hentinya tersenyum melihat Mama mereka bersama sang paman yang mereka sayangi itu.
Joon dan Shaina saling berbagi senyuman dalam tatapan mata mereka, pergerakan lembut itu telah mengobrak-abrik jantungnya Shaina seakan ingin menerobos dadanya, sejuta impian tercipta dirinya dan Joon, berharap di masa depan tatapan itu masih didapatkannya lagi meski dalam wujud aslinya.
Alunan melodi yang lembut itu tidak membuat Joon berlama-lamaan berdansa dengan Shaina, ia tahu betul kondisi Shaina tidak akan menguntungkan perempuan itu, jadi ia segera menyudahi dansa mereka meski hatinya berharap lebih lama lagi.
Gemuruh tepuk tangan menyeruak seisi ruangan yang ditujukan untuk pasangan itu. Gia tersenyum puas melihat keberhasilannya menemukan sosok yang selalu jadi misteri dari kehidupan Joon.
Usai mereka berdansa, orang-orang barulah berdansa di tempat yang sama. Sedangkan Joon dan Shaina kembali pada tempat mereka masing-masing.
Calvin hadir sebagai tamu undangan juga bukan sekedar ikut-ikutan temannya, tapi ia dokter terpercaya dari kolega Harley jadi ia juga sama seperti yang lainnya.
Dari para tamu banyak yang mengenal sosok dokter Calvin, apalagi Harley yang mengetahui rahasia Calvin yang memiliki suara emas. Secara pribadi Harley meminta Calvin menyumbangkan suara emasnya dengan lagu yang cocok untuk pasangan kekasih hati.
Calvin menerima tawaran tersebut dengan hangat tapi yang membingungkan yang lain, ia meminta Shaina kembali berdiri.
Meski Shaina merasa malu dan bingung tapi ia tetap melakukannya, dan sontak semua orang terkejut bahwa Calvin bernyanyi lagu romantis yang di jadikan Shaina sebagai modelnya. Ia memutar-mutar Shaina sambil mengiringi lagu yang menyayat hati, semua mengakui Calvin tampak sangat romantis membuat Shaina salah tingkah.
Gemeruh tepuk tangan di berikan oleh para tamu undangan ketika lagu yang dinyanyikan selesai.
Harris pun tidak tinggal diam ia pun menyuguhkan tontonan yang cukup menarik, menyulap tissue berubah jadi bunga mawar merah dan diberikan kepada Shaina, hingga Shaina tertawa lepas tanpa beban, tidak hanya itu Alice dan Alfan juga jadi sorotan Harris yang menyulap tangan kosongnya jadi berisi permen. Sorak-sorai tepuk tangan memenuhi gedung tersebut, acara pesta itu semakin meriah dengan kehadiran mereka semua.
...Rasa penasaran Gia semakin besar mengenai sosok wanita yang mencuri perhatian di acara pernikahannya, tiga lelaki berusaha menarik perhatiannya meski kondisinya sedang hamil tua, namun ia sangat menawan diantara yang lain....
Disaat semuanya menikmati acara pesta, Hannah terlihat semakin iri dengan apa yang di dapatkan sang kakak daripada dirinya.
__ADS_1