Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Es krim termanis


__ADS_3

"Ice cream... Aku mau makan es krim coklat yang super jumbo" Gumam Shaina sambil mengedip-ngedip matanya.


"Kita masak dulu, anak-anak juga belum makan" Kata Joon.


Shaina mengerutkan lagi wajahnya bahkan terlihat jelas ia mau ancang-ancang untuk menangis lagi.


"Baik-baik! Jangan nangis lagi, aku akan segera membeli es krim" kaya Joon yang seketika membuat Shaina tersenyum lebar.


Joon bergegas mengambil kunci mobil dan tidak lama kemudian suara mesin mobilnya terdengar menjauh dari rumah. Sesuai perintah Joon pada anak-anak untuk menjaga dan membantu Shaina di rumah selama ia pergi membeli es krim.


Shaina melanjutkan memasak dengan perasaan bahagia menanti Joon pulang membawakannya es krim, Alice dan Alfan pun ikut membantu di dapur. Selang berapa lama Joon pulang, Shaina langsung menghampirinya yang diikuti dua bersaudara itu.


Dengan penuh percaya diri, Joon memberi hasil pencariannya, dan ia ikut senang melihat shaina sangat antusias untuk secepatnya menikmati es krimnya.


"Waaah...! Banyak sekali..." Seru Shaina melihat kotak es krim yang di bawa Joon.


"Ini untuk buat cadangan jika kamu mau lagi" Kata Joon.


"Bagaimana dengan bayarannya kamu kan tidak punya uang"


"Aku ini kartu mu, jadi jangan pikirkan tentang uang yang penting kamu makan saja dan jangan nangis lagi" Kata Joon.


Shaina tersenyum lepas hingga menampakkan deretan giginya yang rapi, meski terselip perasaan tidak enak karena memaksa Joon untuk menuruti keinginannya apalagi Joon orang yang baru ia kenal.


Secara tidak langsung Shaina merasa ada sesuatu dengan perasaannya, hatinya lebih sering bergetar, dag-dig-dug tanpa alasan yang ia ketahui, ia menjadi sangat ekspresif pada Joon yang belum pernah dilihat oleh siapapun bahkan keluarganya sendiri tidak berani ia tunjukkan.


Selain itu Joon juga sangat perhatian terhadapnya walau kadang-kadang dia terlihat galak tapi shaina nyaman berada di dekat Joon, yang terkadang secara diam-diam ia berani berimajinasi liar tentang Joon.


"Tunggu dulu, kamu sudah makan?" Tanya Joon.


Shaina menggeleng kepalanya yang sontak Joon menarik kembali es krim dari tangan shaina, "ummm..., es krim ku..." Lirih shaina.


"Makan dulu baru es krim, jangan bawel aku akan tetap memaksamu makan dulu" Joon melihat pada anak-anak, "kalian juga" Kata Joon pada anak-anak.


Shaina dan anak-anak tidak membantah, tapi setelah makan siang shaina tidak dapat menunggu lagi untuk makan es krim di sofa ruang tamu dan joon juga tidak melarangnya lagi. Pipi shaina benar-benar merona setiap kali ia memakan es krim yang dingin itu, senyumannya pun tidak pudar dimana Joon betah berlama-lama memandangnya, si gadis imut gayanya persis seperti Alice, mulai dari cara bicara sampai tingkahnya.


"Kalian suka kan?" Tanya shaina pada anak-anak.


"Iya Ma, ini manis dan lembut, coklatnya juga sangat enak" Ujar Alfan.


"Kamu tidak mau?" Tanya shaina pada Joon.


"Tidak, kalian saja, aku sudah kenyang tadi" Kata Joon.


"Tapi... Aku mau kamu juga harus makan kalo tidak aku jadi tidak nyaman gini makan di depan mu" Gumam Shaina.


"Aku baik-baik saja, jangan pedulikan aku" Ujar Joon.


Shaina beranjak dari tempat duduknya yang sebelumnya duduk diantara anak-anak kini berpindah ke dekat Joon.

__ADS_1


"Cobain deh kamu pasti mau lagi, ini sangat enak" Rayu Shaina dengan mengangkat sendok es krimnya kedepan Joon.


"Aku tidak mau" Kata Joon yang berpaling seperti sedang menahan sesuatu.


"Aku suapin, sedikit saja" Sambung Shaina.


Kali ini Joon tidak bisa menolaknya lagi karena sendok es krim sudah di depan bibirnya, ditambah ekspresi imut shaina semanis eskrim dengan sepasang mata coklat terang terus berbinar-binar padanya.


Joon menurut dan membuka mulutnya untuk mencicipi es krim yang di suap shaina tapi ia tidak menduga ternyata shaina mrngerjainya lagi. Bukanya menyuapi Joon, tapi ia malah menempelkan sendoknya ke pipi hingga Joon terkejut.


"Kau ini, mau menggodaku ya? " Celetuk Joon.


"Maaf, aku sengaja" Jawab shaina sambil tertawa begitu juga dengan Alice dan Alfan, karena melihat es krim di pipi Joon.


"Oh sengaja...? Kalau gitu awas kau, akan ku beri pelajaran" Ujar Joon dengan marah yang di buat-buat.


Joon merebut mangkuk berisi es krim dari tangan shaina dan memakannya sambil menikmati tawa shaina yang masih terkekeh.


"Sekarang giliran mu" Kata Joon yang juga menempelkan es krim di pipi shaina seperti yang dilakukan padanya sebelumnya.


Bukannya marah shaina malah semakin tertawa, hingga tidak sadar ia menikmati setiap suapan es krim yang diberi oleh tangan Joon sendiri bahkan mereka juga makan es krim semangkok berdua dengan berbagi sendok hingga habis.


"Mau lagi?" Tanya Joon pada shaina.


Shaina mengangguk dan Joon beranjak dari duduknya berjalan menuju kulkas untuk mengambil es krim lagi. Setelah itu Joon menyuapi shaina lagi seperti sebelumnya.


Shaina mengambil tissu di meja dan mengelap es krim di pipi Joon, ia berkata, "aku tidak boleh makan banyak-banyak peri kecilku bisa kedinginan, jadi kamu juga harus memakan dua kali lipat dari bagian ku" Kata shaina.


"Sayang, paman mu sepertinya kekurangan es krim, kalian mau kan berbagi dengan mereka?" Kata shaina pada anak-anak.


"mau Ma" Sahut Alfan bersamaan dengan Alice.


"Aku sudah cukup, kalian habiskan saja es krim itu" Kata Joon.


Tapi shaina menutup mulut Joon dengan tangannya menyuruhnya diam, shaina mencegat tangan Alice dan Alfan yang hendak mengisi mangkuk es krim Joon, sehingga dia anak kembar itu keheranan.


"Sebelum itu, cium paman Joon dulu" Kata shaina pada anak-anak.


Dengan ragu-ragu mereka melakukannya dan Joon terima saja tanpa mengerti maksud shaina. Lalu ia sadar bahwa shaina sedang mengerjainya lagi karena es krim yang belepotan di bibir anak-anak menempelkan lagi di wajahnya.


"Kamu mengerjai ku lagi ya? Awas kau shaina, sekarang giliranmu" Cetus Joon.


Joon memegang shaina dan menyuruh anak-anak mencium shaina dengan mulut yang sudah dilumuri es krim pada mereka oleh joon.


"Aku tidak mau... Joon, aku tidak mau" Shaina terus tertawa sambil menutup wajahnya.


Alice dan alfan terus memaksa bersama Joon hingga mereka tidak bisa menahan tawa, suara tawa mereka menggelegar di rumah itu, lalu berubah hening membuat Joon dan shaina bingung dengan sikap Alice dan Alfan yang tiba-tiba menangis sambil memeluk shaina.


Shaina melihat pada Joon yang menggeleng-geleng kepalanya bahwa ia tidak melakukan sesuatu pada mereka.

__ADS_1


"Ada apa sayang? Kenapa kalian menangis" Tanya Shaina dengan mengelus anak-anak itu.


"Mama tidak meninggalkan kan?" Kata Alfan.


"Kalian bicara apa? Mama kalian disini, bersama kalian" Ujar Joon


"Tidak paman, Mama tidak ada disini" Sahut Alfan seraya menangis.


"Nona, dimana Mama kami, kenapa kamu bisa memiliki Mama kami" Tambah AliceAlice bertanya pada shaina yang terdiam.


Shaina dan Joon terdiam, saling berbagi pandangan. Mereka tidak menyangka anak-anak mengetahui kebenaran itu yang selama ini mereka rahasiakan. Joon mengkatup mulutnya mengingat ia tadi menyebutkan nama shaina di depan mereka.


"Kami tahu kalau ini bukan Mama kami, karena Mama tidak pernah suka bermain apalagi bercanda, Mama selalu menyuruh kami belajar, dan jarang memeluk kami, Mama selalu melakukan sesuatu dengan sempurna dan tidak suka menunda-nunda ataupun ceroboh saat mengerjakan sesuatu, Mama juga sangat pintar memecahkan masalah mata pelajaran kami. Tapi... Tidak dengan Mama yang sekarang..." Kata Alice.


"Sejak kejadian pagi itu saat paman melarang Mama bersikap seperti orang gila, dan setelah itu kami sering mendengar paman memanggil Mama dengan nama Shaina" Jelas Alfan. "Jika benar ini Nona Shaina lalu dimana Mama kami?" Lanjutnya.


"A-aku tidak tahu, aku minta maaf, aku tidak bermaksud merebut kehidupan Mama kalian tapi semuanya terjadi begitu saja, bahkan aku masih tidak percaya ini bisa terjadi" Jelas Shaina dengan membendung air mata.


"Nona, apa kami bersalah jika kami ingin nona menyayangi kami seperti seorang ibu? Karena kami sangat merindukan Mama kandung kami" Ujar Alice.


"Tentu, tentu aku menyayangi kalian" Balas Shaina dengan memeluk kedua anak itu yang berderai air mata.


Alfan melepaskan pelukan lalu menoleh dan berlutut pada Joon sambil berkata, "paman, ku mohon jangan tinggalkan kami, kami tidak punya siapa-siapa lagi, apalagi Mama kami entah dimana sekarang, aku janji akan bekerja keras pada paman agar kami diizinkan tinggal disini" Ucap Alfan.


Joon meminta Alfan berdiri dan di peluknya, "jangan memohon seperti ini, aku tidak bisa menghadapi kakakku jika kau begini, aku janji akan menjadi wali kalian sampai kapanpun, kita akan tinggal bersama" Kata Joon yang ikut terharu.


"Nona shaina, bisakah kami memanggilmu Mama?" Pinta Alice.


Shaina mengangguk dan memeluk Alice dalam dekapan hangatnya, dimana sama-sama tidak bisa membendung air mata merekamereka semuanya.


Alice mendekap erat tubuh Shaina, perlahan ia dan Alfan terlelap dalam buaian Shaina. Tapi Shaina merasa gerah dan tubuhnya juga pegal-pegal, jadi Shaina ingin tidur di ruang tamu. Di sofa Shaina memijat-mijat serta mengipas-ngipasi diri dengan buku, meski AC menyala tapi tidak juga membuatnya adem.


Joon yang keluar dari kamarnya ikut prihatin melihat Shaina kesusahan yang tidak sepatutnya ia alami.


Joon berjalan, menghampiri Shaina, "kenapa tidak tidur dikamar?" Tanya Joon.


"Gerah di dalam" Sahut Shaina.


"Masak? Tapi Alice dan Alfan tidak apa-apa kan?" Tanya Joon.


"Mereka baik-baik saja, hanya aku saja yang merasa gerah karena aku hamil".


" Kakimu pegal-pegal?" Tambah Joon lagi.


Shaina mengangguk dan terus memijat kakinya. Tapi tak terduga Joon ikut duduk bersebelahan dengannya dan meraih kaki Shaina dengan diangkatnya ke atas sofa untuk dipijatnya seperti hal biasanya yang ia lakukan. Perasaan Shaina bercampur aduk, mulai dari senang dan gelisah juga malu karena di perlakukan begitu oleh lelaki asing itu, apalagi Shaina belum pernah dekat dengan lelaki manapun sebelumnya selain kerabat dekatnya.


Halo reader yang baik hati ...!


**Terimakasih atas supportnya dan like nya 😊😊

__ADS_1


Author harap para reader semua tidak segan-segan memberi saran dan kritik yang membangun ya....


Sekali lagi Author ucapin makasih banyak-banyak**....


__ADS_2