Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Obrolan sebelum tidur


__ADS_3

Shaina tersenyum lebar melihat tingkah mereka yang suka bermanja-manja bahkan dengan Joon juga mulai sangat akrab, Shaina berjalan di belakang mereka dengan menggandeng tangan Alfan untuk masuk ke kamarnya.


"Alice mau tidur dengan siapa?" Tanya Joon pada keponakannya itu.


"Paman!! Alice bisa peluk paman, soalnya kalo sama Mama tangan Alice tidak sampe untuk memeluk" seru Alice yang melompat-lompat di ranjang milik Joon.


"Pintar sekali kau buat Mama iri" celetuk Joon.


Joon kembali mendekap erat gadis kecil itu dan memasukkan kedalam selimutnya sambil melirik ketus pada Shaina.


"Alfan mau tidur dengan Mama aja, soalnya Mama suka membelai rambut Alfan tidak seperti paman" sahut Alfan.


Karena ucapannya Alfan malah di cubit oleh saudaranya, dan perdebatan mereka kembali terjadi yang memaksa Joon dan Shaina melerai keduanya.


"Itu Mama Alice!!" Pekik Alice sambil memukul Alfan.


"Ini Mama Alfan kamu udah punya Paman!!" Balas Alfan dengan memeluk Shaina.


"Tidak! Kamu itu nakal! Mama lebih sayang sama Alice!!" Timpal Alice.


"Aku pintar! Mama sayang anak pintar bukan pemalas!!!" Alfan pun tidak mau kalah.


"Cukup, jangan bertengkar lagi, Mama sayang semuanya" sahut Shaina.


Joon juga tidak tinggal diam, ia ikut melerai mereka, "sini Alice, jangan berantem lagi" ujar Joon.


"Tapi Paman, Mama Shaina Mama Alice juga kan?" Sungut Alice.


"Iya sayang, Mama Shaina Mama Alice juga sama seperti Alfan, sekarang kita tidur ya?" Kata Joon menenangkan mereka.


Masing-masing dari mereka memegang satu anak, Shaina menghalangi Alfan begitu juga dengan Joon yang melerai Alice yang tidak mau kalah.


"Apa seperti ini rasanya punya anak-anak gede dan suka berantem?" Celetuk Shaina.


"Ku rasa iya, dua aja udah bikin kita kewalahan apalagi banyak" tambah Joon.


Beberapa menit kemudian suasana kembali tenang dan damai, tidak adanya perdebatan lagi antara si kembar, meski mereka belum terlelap tapi tidak satupun dari mereka yang berbicara, begitu pula dengan Shaina yang membelai lembut Alfan yang tidur di sebelahnya.


Perkataan Tante Rossie masih berputar-putar di kepalanya, ia ingin tahu yang di maksudnya, setelah berpikir cukup lama akhirnya Shaina memutuskan untuk bertanya langsung pada Joon.


"Joon" panggil Shaina, memecahkan kesunyian malam mereka.

__ADS_1


"Iya" sahut Joon.


"Kamu jangan marah ya, aku ingin tanya sesuatu, apa kau punya banyak uang?" Tanya Shaina yang mengejutkan Joon.


Joon sempat tersentak kaget, "kenapa kau mulai bertanya tentang uang? Apa kau mulai khawatir dengan biaya persalinan nantinya?" Balas Joon.


"Emmm.... Iya" Shaina bersyukur Joon memikirkan tentang biaya persalinan karena jika tidak Shaina tidak punya alasan untuk berkilah dari pertanyaan Joon.


"Oh itu? jangan khawatir aku sudah menabungnya" jawab Joon.


Jawaban Joon bukanlah jawaban yang ingin di dengarkan Shaina karena ia ingin tahu bagaimana kehidupan Joon sebelumnya. Sedangkan Alice dan Alfan yang masih terjaga juga mendengar percakapan orang dewasa itu, mereka yang tidur di tengah-tengah pun iku berbisik-bisik, membahas perkara mereka.


"Kau dengar kan paman menabung? Dia tidak punya uang seperti papa" bisik Alice pada saudaranya yang kembali akur.


Pembicaraan di kembar juga dapat di dengarkan oleh Joon dan Shaina tapi mereka menganggap itu pembicaraan biasa.


"Jika ada yang ingin kau ceritakan aku siap mendengarnya" ujar Shaina.


Joon mendongakkan wajahnya pada Shaina yang masih duduk dengan bersandar di sandaran ranjang, tangannya sibuk membelai kedua anak itu dan Joon juga tidak luput dari perhatiannya sehingga Joon juga ikut duduk bersandar dengan Alice dan Alfan sebagai penengah diantara mereka.


Mereka mengobrol selayaknya suami istri dimana obrolan mereka tidak jauh-jauh dari urusan rumah tangga dan anak-anak, mulai dari rencana aktivitas apa yang akan Shaina lakukan besok begitu juga dengan Joon, meski diam-diam Shaina suka menyelipkan pertanyaan-pertanyaan agar Joon mau membicarakan tentang kehidupan masa lalunya, tapi usaha Shaina sia-sia karena tidak sekalipun Joon menyinggung soal hidupnya.


Keasyikan ngobrol mereka tidak sadar dua anak itu yang bersama mereka tertidur pulas.


"Iya, terima kasih" Joon mulai mengambil posisi tidur yang nyaman untuknya agar tidak membahayakan tangan sakitnya.


Tidak beda jauh dengan Shaina yang sudah beberapa kali menguap karena ngantuk, ia pun menarik selimutnya untuk segera membaringkan tubuhnya disebelahnya Alfan.


"Kakakku dulu pasti sangat bahagia kan? Dia punya anak-anak yang manis seperti mereka" celetuk Joon.


Shaina tersungging, "tentu saja"ucapnya.


"Menjadi seorang ayah ternyata seru juga ya? Aku semakin tidak sabar menunggu Elif lahir dan menggendongnya kemanapun, melihatnya mengganggu kakak-kakaknya bermain pasti itu sangat lucu" ujar Joon.


"Masa itu pasti akan segera terjadi" sahut Shaina yang ikut tersenyum membayangkan Elif kecil yang akan merepotkannya dan Joon.


Shaina dan Joon terlelap bersama dengan saling mendekap si kembar yang lebih dulu terlelap, malam panjang yang di selebungi udara dingin terus berlanjut setiap saatnya, membuai mereka dalam penuh kehangatan akan kasih tiada berkesudahan meski di belahan bumi tersebut sedang diselimuti salju tebal.


****


Gemercik air terdengar dari kamar mandi, pagi menjelang membuat ingin segera ke kamar mandi, ia bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, setelah buah air kecil Joon mencuci tangan di wastafel di belakangnya, namun mendadak ia terdiam mematung di posisinya.

__ADS_1


"A-aku tidak melihat apapun" gumam Shaina yang mematung di sebelah Joon, dengan mulut dipenuhi sikat gigi dan buih-buih odol.


"Ka-kamu?" Gumam Joon terbata-bata seakan tidak percaya dengan keberadaan sosok perempuan itu yang juga berada di kamar mandi. "Jika sedang di kamar mandi seharusnya kau mengunci pintu!!!" Sembur Joon dengan nada tinggi.


"A-aku tidak melihatnya" ucap Shaina tergagap dengan matanya tertuju ke bagian bawah milik Joon, pergerakan jadi tertatih secara tiba-tiba, ia tidak bisa lagi dengan luwes mencuci muka dan mulutnya dari buih-buih odol.


Setelah membersihkan wajah dan berkumur dengan perlahan Shaina keluar dari kamar mandi dan segera menutup pintu tak lupa pula ia menutup matanya dengan telapak tangannya, pipinya mendadak memerah, ia membisu tanpa ada kata yang terucap.


Shaina semakin salah tingkah atas apa yang baru ia lihat membuatnya tidak karuan ia terus meringis di sofa ruang tamu, bayangan di kamar mandi itu telah menghantui pikirannya. Menutup matanya seakan ia baru melihat sesuatu yang salah.


Hal sama juga terjadi pada Joon yang masih di kamar mandi, ia benar-benar sangat malu, berdecak kesal terus di lontarkan di depan cermin wastafel.


"Siall! Kenapa ceroboh sekali aku???" Pekik Joon pada diri sendiri.


Joon enggan untuk keluar kamar mandi karena kecelakaan yang tidak diinginkannya itu, bagian penting miliknya dilihat oleh Shaina itu sesuatu yang tidak ia duga dan itu berhasil mengguncang pagi Shaina.


Untuk mengalihkan pikirannya, Shaina menyegerakan memulai persiapan sarapan. Mengupas, memotong bawang dan masih banyak lagi yang ia lakukan sebagai menu sarapan.


Usai mandi Joon melilitkan handuk di pinggangnya dengan pelan-pelan, lalu ia menyiapkan shampoo untuk ritual keramasnya, dikarenakan sebelumnya ia mandi tanpa mencuci rambutnya disebabkan hanya bisa menggunakan satu tangannya saja jadi ia berencana keramas setelah mandi, namun dengan begitu ia juga tidak bisa bergerak luwes, ia tetap mengalami kesulitan saat mau membasahi kepalanya.


Ia bingung harus minta bantuan pada siapa, Alice maupun Alfan masih tertidur di ranjangnya sedangkan pada Shaina, Joon masih malu membayangkan kejadian tadi pagi.


Shaina mematikan kompor dan masuk ke kamarnya untuk mengecek keadaan Alfan dan Alice, namun mereka masih terlelap dalam buaian mimpi mereka, ketika hendak mau keluar Shaina berpapasan dengan Joon yang melongok dari pintu kamar mandi, ia tampak kacau, kepalanya basah dan di penuhi busa sampo.


"Apa yang terjadi?" Tanya Shaina yang terkekeh melihat penampilan Joon.


"Ini, aku mau keramas tapi lenganku tidak bisa digerakkan" sahut Joon sambil memperlihatkan tangan kanan yang di perban oleh dokter semalam.


"Sini aku bantu" lanjut Shaina yang mendekat ke pintu kamar mandi.


"Baiklah" gumam Joon yang kembali masuk kedalam kamar mandi.


Ketika beberapa langkah lagi mendekati pintu, Shaina berhenti seraya berkata, "kau telanjang kan?" Tanya Shaina yang enggan membuka pintu kamar mandi mengingat kejadian tadi pagi.


"Ya enggaklah! Kau kira aku cowok apaan??" Timpal Joon.


"Karena aku tahu kau cowok seperti apa makanya aku tanya!!!" Imbuh Shaina.


Di dalam kamar mandi, Shaina kembali di kejutkan dengan penampilan Joon yang hanya sehelai handuk melilit pinggangnya.


"KAU INI! Katanya tidak bertelanjang tapi dimana bajumu?!" Berang Shaina sambil memalingkan wajahnya dari Joon.

__ADS_1


"Kalau aku berpakaian lengkap berarti aku bukan sedang mandi!!" Balas Joon sambil memegangi shower.


Perut ABS Joon yang masih lembab dan dingin itu terekspos indah di depan mata Shaina, memicu hormon estrogennya bekerja dengan baik, bagaimanapun ia tetaplah perempuan dewasa dan normal, hasrat seksual masih sangat segar meski sebelumnya ia belum pernah tersentuh oleh namanya hubungan semacam itu tapi akhir-akhir selama bersama Joon hormon tersebut terasah cukup sering.


__ADS_2