Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Gara-gara mimpi


__ADS_3

Shaina! Shaina! Hei bangun!!" Joon terus mengguncang-guncang tubuh Shaina.


"I-iya, aku mau... Sangat mau..." Gumam Shaina sambil menggeliat dalam tidurnya.


"Mau apa? Cepat bangun jangan ngigau!" Tambah Joon, kemudian ia mendekatkan dirinya pada Shaina, "Shaina, Shaina!" Joon tidak henti-hentinya membangun Shaina yang mengigau dalam tidurnya.


Perlahan-lahan Shaina mulai membuka matanya dan melihat muka Joon sangat dekat dengan wajahnya, refleks Shaina mengangkat kakinya dan melayangkan tendangan bebas ke arah Joon hingga ia terjungkal ke belakang.


"Aduhh!!!" Pekik Joon yang terjerembab ke lantai.


Shaina sangat kaget mengetahui dirinya menendang lelaki itu.


"Apa yang ingin kau lakukan padaku?!" Pekik Shaina sembari mendekap tubuhnya sendiri karena khawatir Joon melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan.


Joon bangkit sambil memegang pinggangnya dan kepalanya yang sakit karena ulah Shaina.


"Kau ini! Pinggangku sakit tahu!!" Dengus Joon yang berjalan ke sisi ranjang.


"A-aku....? Siapa suruh dekat-dekat??" Gumam Shaina, mengerucutkan bibirnya dengan tatapan memelas.


"Siapa yang dekat-dekat? Tadi kau ngigau enggak jelas! Jadi aku hanya ingin membangunkan mu" ungkap Joon.


Shaina mengerjap sembari melihat joon merebahkan tubuhnya sembari memijat pinggangnya.


"Memangnya apa yang kau mimpikan? sampai-sampai kau mengatakan mau, mau apa?" Tanya Joon.


"Tidak mimpi apa-apa! Tidur sana jangan ganggu aku!" Pekik Shaina.


Dengan cepat Shaina menyelebungi diri dengan selimut, menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti udang rebus.


"Ya ampun...! Bisa-bisanya aku mimpiin si manusia ini! Diajak nikah lagi! Dasar jiwaku terlalu lama menjomblo malah mimpi yang enggak-enggak" Ringis Shaina.


Shaina tidak berani membuka selimutnya apalagi sampai bertatap muka mengingat bagaimana ia memimpikan Joon mengajaknya nikah.


Joon masih bingung penyebab Shaina sampai menendangnya dan ia juga penasaran apa yang dikatakan Shaina saja ngigau tadi, tapi Joon tidak mau bertanya sekarang karena Shaina dalam kondisi emosi yang tidak menentu dan sensitif, jika Joon berkeras hati bertanya bisa-bisa tidak hanya di tendang tapi Shaina akan merengek semalaman suntuk.


Jadi Joon lebih menjaga jarak dan melanjutkan tidurnya.


"Kalau ciuman itu... Mimpi apa bukan ya? Soalnya nyata banget" batin Shaina membayangkan ciumannya dengan Joon.


Shaina menyentakkan selimutnya dan berbalik badan kearahnya Joon yang terbaring terlentang di sebelahnya.


"Ngomong-ngomong sebelum tidur tadi apa kita melakukan sesuatu?" Tanya Shaina yang gugup.

__ADS_1


Joon yang sudah memejam kembali mencelikkan matanya saat pertanyaan Shaina di lontarkan lalu menoleh ia pada perempuan di sebelahnya.


"Maksudmu melakukan apa? Kamu masuk saja aku tidak tahu karena tadi aku ketiduran tadi" ungkap Joon.


"Yang benar? Soalnya itu nyata banget, aku juga tahu kamu itu orang seperti apa, asal nyosor aja!" Shaina masih tidak percaya dengan yang dikatakan Joon.


"Nyosor apaan sih? Memangnya ngelakuin apa?" Timpal Joon, seraya menarik selimutnya untuk menutupi diri tapi mendadak Joon membuka matanya kembali, "apa jangan-jangan kau mimpi basah denganku?".


"Sembarangan!" Sergah Shaina.


Joon mendekat sambil berbisik, "seperti apa mimpimu? Ayo kita wujudkan".


"Jauh-jauh sana!" Dengan kuat didorongnya Joon.


Pernyataan Joon lagi-lagi membuat jiwa Shaina meringis malu karena tebakan Joon tepat sekali dan memaksa perempuan itu untuk tidak berani menatap Joon. Sedangkan Joon sendiri malah tersungging saat melirik Shaina, ia sudah hafal betul setiap ekspresi Shaina ketika malu seperti sekarang. Ekspresi itu semakin mengundang keinginan Joon untuk menggodanya.


"Ayo kita mulai... Aku juga lagi free nih..." Desas Joon.


Sontak sebuah bantal melayang tepat di wajah Joon hingga Joon tidak bisa menahan tawanya, apalagi saat Shaina menggeser posisi tidurnya untuk menjauh dari lelaki itu, bukannya marah Joon malah menguap wajah Shaina dengan telapak tangan, sehingga Shaina tidak dapat melihat karena telapak tangan Joon telah menutupi mukanya.


Shaina semakin kesal, memaksa tangan Joon menjauh dari mukanya, dan ia berhasil menyingkirkannya, dan Shaina tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menggigit gemes jari Joon sambil tersenyum kemenangan. Lagi-lagi Shaina tidak menduga jika Joon malah menikmati gigitan Shaina tersebut yang kebetulan tidak dilakukannya dengan kuat melainkan hanya untuk menakut-nakutinya saja.


Joon tanpa berkata, ia menyeka lembut bibir Shaina dengan jari yang dikeluarkan dari mulut perempuan itu, tatapannya mendadak jadi sendu begitu juga Shaina yang tidak mengerti maksud Joon, tapi ia paham keadaan tidak lagi memihak padanya, karena tangan Joon perlahan-lahan merosot ke bawah, dari bibir, ke dagu, ke lehernya sembari bermain-main di bagian tersebut lalu menurun diantara dua puncak gunung indah itu dan berakhir di perut buncitnya.


"Peri kecil, katakan pada Mama Ndut mu ini untuk tidak nakal jika tidak mau paman kasih permen..." Bisik Joon yang mendekat pada perut Shaina.


"Ndut? Aku tidak gendut!" Shaina menjambak rambut Joon yang lumayan bervolume tersebut, "aku hanya lagi berisi saja! Awas kau jika bilang aku gendut lagi!! Akan ku potong rambutmu!!" Ancam Shaina dengan iris mata yang tajam menatap Joon.


"Jangan ngambek, aku lagi enggak mau mencium mu aku hanya mau mencium Elif" tambah Joon yang semakin menggoda Shaina, karena perempuan itu memanyunkan bibirnya yang mirip seperti mulut ikan ******.


Beberapa kali Joon mendaratkan kecupan di permukaan perut Shaina tanpa penolakan dari sang empunya, namun mendadak Joon bangkit dari tempat berbaringnya dan menuju kamar mandi.


"Kenapa?" Tanya Shaina yang ikutan cemas melihat Joon terburu-buru.


Joon berdiri di pintu kamar mandi dan mengerling padanya, "ini gara-gara kamu mimpiin yang enggak-enggak sekarang nagaku memuntahkan laharnya tahu!" timpal Joon.


"Iiiihhh kau ini! Dasar manusia mesum!!!" Sembur Shaina yang geli mendengar ucapan Joon.


Lima menit lebih Joon belum juga kembali dari kamar mandi, kesempatan emas bagi Shaina untuk merilekskan tubuhnya, lalu mengangkat pahanya dan...


PREEETTT!!!! (Suara keras).


"Leganya..." Cicit Shaina.

__ADS_1


Saat berbalik badan betapa kagetnya sekaligus malu, Shaina tidak menduga Joon sudah berdiri di belakangnya bahkan melihatnya kentut.


"Apa? Mau tertawa? Silahkan! Aku tidak peduli!" Hardik Shaina pada Joon dengan ekspresi tanpa bersalahnya.


Joon menggelengkan kepalanya dengan muka polosnya.


Shaina yang kepergok kentut tidak punya pilihan lain selain memarahi Joon dari pada ia ditertawakan gara-gara aksi kentut sembarangannya.


"Kau makan apa tadi?" Tanya Joon.


"Itu pesan Elif, tadi kau menciumnya dan sekarang kau harus menikmatinya" timpal Shaina.


"Elif tidak sebau ini juga kali".


"Apa?" Shaina menimpuk Joon dengan bantal.


Lalu Shaina kembali berbalik badan untuk tidur menyamping dan membelakangi Joon, bagi Joon sekarang ia sudah seperti berada di ruangan tanpa ventilasi yang di selebungi gas beracun, di masa membuatnya Suli bernafas, memaksanya untuk menyumpal hidung dan mulutnya.


Shaina masih meringis malu sembari menggigit bibir akibat dari tindakannya.


"Maaf... Aku tidak akan kentut di kamar lagi..." Lirih Shaina.


Seketika Joon menarik pundak Shaina dan memaksanya untuk berbalik badan kearahnya, Joon melihat Shaina memejamkan matanya agar mereka tidak bertatap muka. Joon menyusupkan lengannya dibawah bantal yang menjadi ganjalan kepala Shaina sehingga lengannya jadi pengganti bantal Shaina, dan mendekapnya lalu menindih kaki Shaina dengan kakinya.


Tidur mereka menjadi saling berhadapan. Saat Shaina membuka matanya, pertama kali terlihat adalah leher dan dada Joon, ia mendongakkan wajahnya pada Joon yang sembari menatapnya dengan pandangan berbinar-binar.


"Dasar tukang kentut...." Dengus Joon.


"Ada pepatah mengatakan lebih rusak kawan daripada rusak badan, jadi tunggu apalagi ku keluarin semua biar plong" kilah Shaina untuk membela diri.


"Aaauuu!!!" Pekik Shaina yang kesakitan di keningnya.


Tidak pikir panjang lebar Joon menyentil kening Shaina, hingga perempuan itu meringis kesakitan.


"Tidur sana! Jangan mengoceh lagi bisa-bisa nagaku tidak hanya memuntahkan laharnya tapi akan bersemedi di gua mu" desah Joon.


Shaina mengerjap kaget dan takut, ia langsung tidak berkutik, layaknya seekor burung yang di lilit ular.


Namun Shaina masih bergumam, "jika tidur seperti ini tanpa mengoceh pun bisa tegang sendiri".


Telapak tangan Joon langsung mengkatup mulut Shaina sambil tersungging karena mangsa incarannya sudah dalam genggaman.


*****

__ADS_1


__ADS_2