
Didalam mobil, Alice yang duduk bersama Shaina terus memeluk Mamanya itu. Sampai di rumah, Shaina berterimakasih pada Calvin dan Harris yang bersedia mengantarkan mereka ke sekolah hingga pulang.
Sampai di rumah, Alice dan Alfan masih menunjukkan wajah penyesalan mereka sekaligus mereka membela diri atas kejadian itu.
Mereka berdua berlutut di lantai dihadapan Shaina dan Joon.
"Maaf Ma kami telah mempermalukan Mama Shaina didepan semua orang" kata Alfan serentak dengan saudara kembarnya.
"Mama sudah memaafkan kalian, tapi kalian harus janji untuk tidak bertengkar lagi di sekolah" kata Shaina.
"Bukan kami yang memulainya tapi mereka" sela Alfan.
"Dasar anak-anak nakal!! Mereka itu memang harus dikas-" sambung Joon yang kesal pada anak-anak yang mengeroyok keponakannya.
"Joon!" Pekik Shaina dengan menatapnya serius seraya mengedipkan matanya agar Joon tidak melanjutkan kalimatnya.
Shania mendekati anak kembar itu seraya berkata, "Dibalik siapa yang benar dan salah bertengkar atau berkelahi bukan jalan keluarnya, yang ada hanya menciptakan masalah baru, dan membuat kalian tidak ada berbeda dengan mereka" kata Shaina.
"Tapi Ma, mereka menghina Mama?" Sela Alice.
"Sayang... Kita tidak akan kehilangan apapun hanya dengan hinaan tapi terpancing emosi dan membalas dengan perbuatan yang sama itu yang akan membuat kita kehilangan harga diri seperti orang bodoh, dan kalian tidak mau itu kan?" Shania menatap dengan seksama kedua anak kembar itu.
Mereka menggelengkan kepalanya dan Alfan berkata, "enggak mau".
"Kalau enggak mau, kalian harus janji untuk tidak bertengkar dengan siapapun lagi ya?" Tambah Shaina.
"Baik Ma" sahut Alfan dan Alice bersamaan.
"Jangan bertengkar apanya? Jika ada yang mengganggu mereka lagi, apa mereka harus diam saja walau dipukuli?" Sela Joon yang tiba-tiba nyosor menambah pendapatnya.
Seketika Shaina berdecak kesal pada Joon dengan terpaksa ia mencubit lengan Joon sambil memasang memasang wajah juteknya.
"Jangan dengarkan pamanmu, kalian ganti baju dulu sana" titah shaina.
Alfan dan Alice segera melakukan perintah Shaina untuk berganti pakaian di kamar. Namun, Shaina kembali menekuk wajahnya terhadap Joon seraya menuju ke dapur untuk meneguk air yang sejak tadi tenggorokannya terasa kering.
Dibelakangnya disusul Joon, ia membuka kulkas dan mengeluarkan cemilan buatan Shaina tadi pagi yang disimpan didalam kotak makanan.
"Meminta anak-anak untuk tidak membalas berandalan itu kau kira mereka akan bebas dari pembullyan?" Ketus Joon seraya membawa kotak cemilannya ke depan Shaina yang sedang minum air.
Shania melirik dengan ujung matanya kearah Joon yang tampak santai menikmati cemilannya.
"Lalu? Apa kita ikutan menggebuk mereka? Agar semuanya selesai?" Dengus Shaina.
Joon terkekeh dengan mulut yang dipenuhi makanan, "bar-bar juga kau ini" serunya.
__ADS_1
"Meski mereka bukan anakku, tapi aku tidak mau mereka tersesat dalam pemikiran yang salah, jika ada yang menghujat lalu balas hujat akan menyelesaikan masalah adalah kesalahan besar" kata Shaina, "karena setidaknya ada sedikit hal baik yang ku tinggalkan pada orang lain selama aku hidup meski itu sebiji butiran embun, selain itu Allah juga tidak suka dengan orang balas dendam," sambungnya.
Joon terdiam sesaat mendengar perkataan Shaina dan sempat berhenti mengemil karena ia menilik setiap kata-kata Shaina yang seakan sedang menceramahinya.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Joon malah menyuapi Shaina dengan cemilan yang ia makan, tapi Shaina terdiam menatap Joon.
DEG!
Tiada hari tanpa adanya debaran jantungnya Shaina dan itu semakin menjadi-jadi setiap kali ia berduaan dengan Joon dengan semua perhatian dan keakraban yang terjalin secara tiba-tiba itu.
"Ya Allah, semoga ini hanya mimpi saja agar aku tidak berharap lebih dari ini" ringis batin Shaina dalam diamnya.
"Jangan terpesona begitu, aku tahu diriku tampan tapi tolong jangan buat tanganku pegal menunggumu" celetuk Joon yang tersungging dengan tangan yang hendak menyuapi Shaina.
"Iihh...! Siapa yang terpesona? Aku hanya melihat tanganmu sudah kau cuci atau belum!" Timpal Shaina kesal seraya mencubit Joon disegala tempat, meski ia agak sulit mendapatkan bagian tubuh Joon yang bisa dicubit karena tubuh Joon terlalu kekar.
"Cukup! Cukup! Aku geli tahu!" Joon terkekeh, "tanganku bersih kok sudah ku cuci tadi" gumam Joon.
Shania menghentikan aksi cubit mencubitnya itu dan ikut membuka mulutnya untuk memakan cemilan yang disuap oleh Joon, walau ia masih dengan wajah cemberut.
Joon terkekeh dan berkata, "kakak ipar! Bangunlah dan lihatlah teman hantumu ini! Dia membuat wajahmu jadi jelek" kelakar Joon untuk membuat Shaina tertawa tapi itu tidak berhasil.
"Peri kecil...! Elif...! Tolong buat Mama hantumu ini untuk tidak marah-marah lagi" sambung Joon.
"Aaaahh!" Pekik Joon karena jarinya sengaja digigit Shaina saat makan irisan apel di tangan Joon.
Cepat-cepat Joon memeriksa jari telunjuknya yang meninggalkan bekas gigi Shaina yang kesal padanya karena memperoloknya.
"Sakit tahu!" Gumam Joon.
"Siapa suruh menertawakan ku?" Balas shaina.
"Tadi katanya sama anak-anak enggak boleh emosian tapi sekarang malah marah" ketus Joon.
"Itu anak-anak, kamu kan bukan anak kecil lagi!"
Joon beranjak dari duduknya dan menuju ke meja dapur untuk mengambil gelas, dan saat hendak mengambil gelas ia melihat botol saus tomat di sudut meja. Sebuah ide brilian muncul di kepalanya.
Shania menoleh ke belakang dan melihat Joon lama berdiri di depan meja dapur, rasa cemas mulai menghampirinya.
"Joon, kamu tidak kenapa-napa kan?" Tanya Shaina.
Joon kembali duduk di sebelahnya, dan ekspresinya berubah seperti sedang kesal.
"Aku tidak apa-apa, hanya agak sedikit berdarah" sahutnya.
__ADS_1
Shania terperanjat, "benarkah?" Shania menarik tangan Joon dan di jarinya terdapat sedikit darah, "aku minta maaf, aku tidak bermaksud melukaimu" tatapan sendu terlihat jelas dari raut wajah Shaina.
"Jangan khawatir ini hanya luka kecil" ujar Joon dengan nada datar.
Tapi Shaina merasa Joon sedang marah padanya dan itu membuatnya tidak enak hati, apalagi Joon tidak menggubris permohonan maafnya yang berulang kali ia ucapkan dan tetap melanjutkan makannya tanpa lagi menyuapi gadis itu bahkan Joon juga seakan-akan membuang muka darinya.
Shania tahu luka gigitannya tidak terlalu sakit tapi yang ia khawatirkan Joon tersinggung dengan kelakuannya.
"JIKA KAU MARAH, MARAH SAJA! JANGAN BEGINI! JIKA INGIN MEMBALAS, AKU JUGA TIDAK APA-APA!" Berang Shaina yang tiba-tiba. Shania mendekatkan tangannya ke mulut Joon, "GIGIT AKU! AGAR KITA IMPAS!" Ujarnya.
Joon terdiam sekaligus tersenyum melihat Shaina yang bergidik sembari memejamkan matanya menunggu Joon menggigit tangannya, tapi yang ada Joon hanya memperhatikan ekspresi yang ditunjukkan Shaina dan tanpa sadar Joon terfokus pada bibir Shaina, karena cemas gadis itu menggigit bibir bawahnya kebiasaan yang selalu ia lakukan.
"Jangan menggigit bibir" kata Joon.
Perlahan Shaina membuka matanya karena merasa ada usapan lembut menyentuh bibirnya, Joon segera menjauhkan tangannya dari bibirnya Shaina.
"Pedas" kata Shaina seraya menyeka saos tomat yang tertinggal di bibirnya dari jari Joon.
Lalu Shaina melempar pandangannya pada Joon yang tersenyum dengan senyuman yang dapat membius para perempuan hingga klepek-klepek, ia menyadari sesuatu bahwa itu bukan darah yang terdapat di jari tangan Joon melainkan saos tomat yang sengaja untuk mengelabuinya.
Joon tertawa lepas saat Shaina yang kembali memukulinya, setelah puas memukul Joon ia duduk kembali dengan merebahkan kepalanya di permukaan meja, perasaannya dibuat roller coaster oleh Joon, meski ia kesal tapi ia sangat senang melakukan itu tanpa penyebabnya.
Diam-diam Joon juga tersipu malu walau ia dapat menutup apik ekspresinya dari perempuan itu, ia senang menggoda Shaina apalagi jika mereka sampai ada kontak fisik. Jadi jika dimintai untuk digigit lagi oleh Shaina maka dengan senang hati ia membiarkannya.
"Jangan tidur disini, ni makan lagi" kata Joon.
Shania menoleh padanya, "kau tidak khawatir jika ku gigit lagi?" Tanya Shaina dengan suara malasnya.
Joon tersungging sekaligus mengangkat alisnya yang seraya memiringkan kepalanya hingga ia menyuapi Shaina yang diiringi dengan obrolan ringan.
"Nanti malam kita makan diluar jadi kau tidak usah masak apa-apa nanti" kata Joon.
"Kenapa?" Tanya Shaina.
"Aku gajian kemaren, jadi nanti kita makan diluar sekalian belanja keperluan rumah".
"Yeahhh.....!!! Aku bisa gunakan kartu ku" Shaina menepuk-nepuk tangannya, diikuti dengan senyuman yang merekah indah di bibirnya.
"Makanya nanti malam enggak usah masak"
"Baik bos, titah yang mulia akan hamba laksanakan" ujar Shaina dengan mimik muka yang serius lengkap dengan adegan menunduk kepalanya.
Shaina yang berakting bak seorang prajurit membuat Joon tersungging, spontan ia mengacak-ngacak rambut shaina hingga berantakan, suasana yang awalnya ceria berubah hening seketika dimana mereka saling beradu pandang dalam waktu cukup lama.
Kekhawatiran mulai menyertai Shania bagaimana jantungnya sibuk menggedor-gedor dadanya karena mendapati Joon yang perlahan mendekat ke arahnya. Dimana ia sudah hafal adegan apa selanjutnya terjadi seperti yang sering muncul di film-film romantis, Shaina takut ciuman pertamanya terjadi dengan lelaki yang bukan suaminya apalagi itu sesuatu yang dilarang dalam kepercayaannya. Sedangkan ia sendiri tubuhnya sudah membeku seperti balok es yang tidak lagi bisa dikendalikan bahkan untuk sekedar bersuara seakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, karena sudah terlanjur terpesona dengan Joon, lelaki pertama yang mampu menggoyahkan dan menggetarkan hatinya.
__ADS_1