
Disebelah meja 19 yang dipesan Darel dan perempuannya terdapat sepasang suami istri dengan seorang anak kecil, anak mereka yang cukup lincah dan tidak mau diam, bergerak kesana-kemari dan tidak menghiraukan keberadaan orang-orang, namun saat ia mau berpindah tempat duduk si anak kecil tersebut menumbruk Joon yang hendak berbalik ke bagian meja penyajiannya, tempat biasa ia dan kawan-kawannya nongkrong.
Oleh dari itu Joon hampir saja jatuh tapi beruntung ia dapat berpegangan pada meja yang lain untuk menopang tubuhnya namun akibat tindakannya itu malah membuat kopi dimeja milik pelanggannya tumpah.
Seketika si pelanggannya itu yang merupakan seorang pria bersetelan rapi marah besar melontarkan kata-kata kasar untuk Joon yang dianggapnya ceroboh.
"Dasar ceroboh!! Kalau enggak becus kerja enggak usah kerja!! Kalau gini siapa yang rugi!!" Timpal pria itu sambil menggoyang-goyangkan sepatunya yang terkena tumpahan kopi.
"Maaf pak, saya tidak sengaja, biar saya bersihkan sepatu anda" kata Joon.
"Enak aja mau bersihin! Ini sepatu mahal tahu!! kalau kau pegang-pegang rusak bagaimana? Apa kau sanggup menggantinya? harganya lebih gede dari gajimu!" Sembur si pria itu dengan suara lantang sehingga mengundang mata yang lain ikut memperhatikan Joon.
Bahkan si pemilik kafe tersebut ikut menghampiri mereka dan ia juga meminta maaf atas kecerobohan pegawainya, Harris dan yang lain hanya bisa memperhatikan mereka di balik meja penyajian karena tidak ingin membuat masalah semakin runyam yang mengancam pekerjaan Joon itu sendiri.
kata-kata kasar itu terus di semburnya tanpa peduli mereka sedang di depan umum sedangkan Joon sendiri juga tidak bisa berbuat banyak karena karena statusnya sebagai pegawai biasa yang dipertaruhkan hidupnya di tempat itu untuk menopang kebutuhan hidupnya.
"Pak, saya minta maaf dan tidak sengaja menumpahkan kopi itu" Joon membela diri dari pria itu.
"Gampang sekali kau minta maaf setelah membuat saya rugi!! Kau kira dirimu ini siapa? Dasar tidak tahu diri!!!" Tidak sedikitpun pria itu menurunkan nada suaranya yang didukung dengan mimik muka murkanya yang semakin menjadi-jadi terhadap Joon.
"Berapa harga sepatu mu?" Sela Darel yang mendadak menghampiri Joon dan pria itu.
"Xxxx juta!!!" Sahut pria itu pada Darel.
Darel mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar kertas yang sudah di stampel khusus.
"Apa ini cukup?" Darel menyerahkan cek tersebut yang sudah ditulisnya beberapa digit angka pada pria itu.
Mata pria sempat membulat sempurna lalu diikuti senyum yang mengembang di bibirnya saat melihat angka yang ditulis Darel di cek tersebut.
"Cukup, cukup sekali tuan" ujar pria itu bersemangat.
"Tidak usah membayarnya, saya bisa membersihkan sepatunya" sela Joon pada Darel sambil hendak menarik kertas cek di tangan pria tersebut, tapi dengan cepat di pria itu menghindarinya.
"Jadi pelayan saja belagu, masih untung tuan ini mau membantumu seharusnya kau berterima kasih padanya!" Sosor pria itu pada Joon sambil tersenyum pada Darel.
__ADS_1
Joon melempar pandangannya pada Darel yang tersungging sambil melirik padanya, disaat yang sama ia merasa sedang direndahkan oleh Darel dengan memberi cek ke pria terkena tumpahan kopi tersebut, meski ia terus memaksa Darel mengambil kembali cek tersebut tapi lelaki yang menerima cek tersebut enggan mengembalikannya meskipun Joon merebut atau memaksanya untuk mengembalikannya.
Berulang kali Joon menyuruh Darel mengambil kembali cek tersebut tapi ia malah semakin di rendah kah oleh si penerima cek, kata-kata yang tak menyenangkan kembali keluar begitu saja dari mulut lelaki tersebut tidak peduli mereka sedang di tempat umum, semua pasang mata tertuju pada mereka.
Namun Darel malah tampak tersenyum tipis melihat Joon tidak bisa berbuat apa-apa dari ulah si penerima cek.
"Uang segitu tidak ada artinya bagi kami jadi kau tak usah khawatir" timpal perempuan yang bersama Darel.
"Kamu Gladys nggak usah ikut campur urusanku" sergah Joon pada perempuan itu.
ekspresi wanita itu langsung berubah dan menjadi kesal pada Joon.
"Dia gadisku sebaiknya sopankan bicaramu!" Ujar Darel pada Joon yang tidak suka melihat gladys.
Sikap Darel dan kekasihnya, semakin membuat Joon tidak nyaman, seakan-akan ia pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari mereka orang-orang terpandang namun ia juga tidak bisa memberontak selayaknya kepribadiannya yang biasa ia lakukan dulu, dikarenakan sekarang ia sedang berada dalam lingkungan pekerjaannya, mau tidak mau ia harus menurun egonya demi kebaikan dirinya sendiri.
Setelah mendapatkan cek yang lumayan besar, dua kali lipat dari harga sepatunya, pria itu pergi dari kafe. Joon melanjutkan pekerjaannya membersihkan noda kopi di permukaan meja meski dilihatin oleh Darel dan Gladys, yang mana perempuan itu tampak tersungging dengan gaya merendahkan Joon dengan pekerjaannya.
"Waaauuu!!! sayang, ini berlian asli, pasti sangat mahal kan?" Ujar Gladys pada Darel, sambil mengamati kalung berkilau di tangannya yang ia ambil dari kotak khusus.
"Terima kasih sayang..." Gladys memeluk Darel lalu ia duduk bersandar dalam pelukan Darel sambil menikmati hidangan kafe tersebut dan larut dalam obrolan mesra mereka, Darel juga tidak ragu-ragu mengecup kening perempuan tersebut seraya membelainya lembut.
Walaupun Joon terlihat sibuk dengan bersih-bersih meja disebelah, tapi pembicaraan Darel dan Gladys dapat didengarnya dengan jelas oleh karena itu rasa jengkelnya semakin menjadi-jadi apalagi pada saat Gladys menenteng kalung berhias berlian tersebut yang diberikan Darel.
Usai membersihkan meja, Joon secepatnya kembali ke tempat ia bekerja, menyibukkan dirinya dengan takaran kopi bersama yang lain. Namun Joon yang biasa dikenal ramah dan supel malah terlihat dingin dengan sudut mata yang tajam jika melihat.
Emosi Joon kembali di uji saat Darel dan Gladys menghampiri meja kasir yang kebetulan dekat dengan tempat Joon bekerja sebagai Batista. Debit card diletakkan dengan sengaja oleh Darel di meja Joon bekerja yang membuat Joon semakin dingin.
"Ini bagian pemesanan bukan meja kasir" kata Joon seraya melirik Darel yang tampak tenang serta Gladys yang menyungging senyum tipis.
"Aku tahu, tapi bisakah kau membawa ini kesana?" Ujar Darel.
"Tidak bisa. Itu bukan tugasku, aku tidak suka melakukan sesuatu yang bukan bagianku termasuk merebut milik orang lain" balas Joon.
"Hahaha...!" Darel terkekeh, "kau ini bocah dan tahu apa kau soal tanggung jawab? jadi jangan sok bilang tugas-tugas" Darel tersungging.
__ADS_1
Joon tersungging, "kau benar aku tidak tahu apa-apa soal tanggung jawab berbeda denganmu yang cerdas dan pintar" balas Joon dengan melirik kalung yang melingkari leher Gladys.
"Apa kalungku cukup berkilau hingga kau terus melihatnya?" Sela Gladys dengan bangganya memamerkan kalungnya saat mendapati mata Joon tersorot ke lehernya.
Joon kembali tersungging, "kau benar kalung itu sangat indah tapi aku heran, tuan Darel yang terhormat bisa-bisa memungut sampah dan menghiasinya dengan berlian" celetuk Joon.
"kau?!!!" Sosor Gladys, matanya menatap tajam pada Joon, seraya muka yang memerah padam.
"Jaga bicaramu!!" Bentak Darel yang tak kalah marah dengan kata-kata Joon.
"Ooops! Maaf, aku keceplosan" ucap Joon sambil menutup mulutnya dengan telunjuknya bahkan ia juga tersenyum tipis dan ikut mengerutkan keningnya membuat ekspresi bersalah yang di buat-buat.
"Silahkan tertawa sesukamu karena sebentar lagi kau akan menangis melihatku berada di kursi utamanya jadi pemilik kerajaan Calista groups satu-satunya dan kau tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan posisimu akibat kebodohanmu itu, pangeran buangan" bisik Darel pada Joon.
Joon semakin tertawa, "lucu sekali kau ini" Joon berhenti tertawa, sorot matanya mendadak jadi tajam dan dingin pada Darel, "aku mau menuangkan air panas jika tumpah lagi dan mengenai kartu mu jangan salahkan aku kartu mu rusak" ucap Joon sambil memegangi termos air panas.
Dengan cepat Gladys mengambil kartu debit dan memberikan pada Darel. Lalu mereka menuju meja kasir dengan wajah tidak senang. Namun Joon menghadang saudara sepupunya itu saat hendak meninggalkan meja kasir.
Joon melihatnya dengan sudut pandang yang tajam dan mengintimidasi seraya tersenyum tipis, ia berkata "empat tahun lalu aku semua orang menganggapku sebagai pengacau, tapi tahukah kau? Jika aku sekarang juga bisa melakukan hal yang sama termasuk merusak mimpi orang lain" bisik Joon dengan menepuk-nepuk pundak Darel dan setelahnya Joon berlalu pergi.
Selepas darel dan sang kekasih pergi, si pemilik kafe mendapat panggilan masuk dari nomor tak dikenal, beberapa saat setelah menutup telponnya, si pemilik kafe menghampiri Joon dan menyuruhnya ke gudang.
"Tolong rapikan barang-barang kita ini" ujar bosnya pada Joon ketika mereka sudah berada di gudang.
"Tapi bos, bagaimana dengan pekerjaanku di depan?" Tanya Joon, ia heran dengan sikap bos yang menyuruhnya membersihkan gudang yang penuh dengan tumpukan barang-barang dan sangat ber-abu dimana-mana.
"Bersihkan saja ini didepan masih banyak yang lain yang dapat menggantikan mu" ujar bos.
"Tapi bos, ini berantakan sekali dan aku-".
"Lakukan saja dan jangan banyak mengeluh" bos menarik gagang pintu gudang, "Oh ya yang disana juga harus dirapikan ya" bos menunjuk ke ujung sudut ruangan yang penuh dengan barang yang menggunung.
Joon geram dengan perintah bos-nya sekaligus bingung dengan pekerjaan dadakannya itu, tapi tidak punya pilihan lain selain melakukan perintah, Joon segera melepaskan apron yang selalu melekat di tubuhnya saat berada di belakang meja espresso. Joon juga melipat lengan bajunya untuk bersiap-siap membersihkan gudang.
****
__ADS_1