
Dengan apa yang baru terjadi, sungguh Shaina sulit mempercayainya, ia malu atas ucapan Marissa terhadapnya di depan umum, menuduhnya sebagai perusak hubungannya dengan Joon, oleh karena itu Shaina tidak memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya, hatinya terlanjur sakit.
Namun, saat tangannya di genggam erat oleh Joon yang membuat jantungnya dag-dig-dug tanpa beraturan, perasaannya malah membingungkannya antara senang dan tidak.
"Jangan pikirkan kata-kata Marissa" Joon melirik Shaina yang tertunduk.
Suara Joon telah memecahkan keheningan diantara mereka berdua yang berjalan kaki menuju jalan pulang.
"Aku... Bukan perusak hubungan kalian" gumam Shaina.
Joon berhenti dan berdiri di depan Shaina sembari tersungging, karena Joon yang berhenti secara tiba-tiba, maka Shaina juga ikut menghentikan langkahnya.
Langkah Joon mendekat dan berhenti tepat didepan Shaina, "Tidak ada yang rusak ataupun yang merusak, sejak awal hubungan kami juga sudah tidak sejalan lagi" ujar Joon menatap sepasang mata yang sendu itu.
"Tapi... Jika saja aku tidak ada-".
Dengan cepat tangan Joon menempel di bibir Shaina, "jika kau tidak disini, aku juga tidak ada disini, Alfan dan Alice juga tidak seperti sekarang, kami juga tidak bisa dekat, aku juga tidak bisa memanggil Elif ku, kau memang harus ada bersama kami, jangan pikirkan itu lagi Ayo kita pulang" sambung Joon, menggenggam tangan Shaina dan melanjutkan perjalanan mereka.
Shaina teringat pada isi dompet Joon yang di lihatnya tadi dan itu membuatnya merasa bersalah, "kita jalan kaki saja ya? lagian rumah juga dekat" ujar Shaina.
Joon tersenyum, "baiklah, asalkan kamu kuat jalannya" katanya lagi.
Shaina mengangguk dan terus berjalan mengiringi langkah Joon.
Malam yang dingin dikelilingi oleh salju yang tebal, di langit bertaburan bintang, mereka berdua berjalan di jalan setapak dibawah naungi pepohonan membuat Shaina terus tersenyum mengagumi keagungan ilahi. Ia memasukkan tangan-tangan indahnya kesaku mantelnya yang terdapat di kedua sisi agar tetap hangat. Tanpa sadar Joon yang melihatnya ikut tersungging, dibawah rembulan yang bersinar terang yang di padu cahaya lampu jalanan, Shaina terlihat bagaikan Dewi malam yang cantik di mata lelaki di sebelahnya.
Langkah Joon yang agak pelan mengharuskan Shaina berhenti sesekali untuk menunggu Joon dibelakang, saat sudah kembali dekat Joon meraih tangan Shaina untuk untuk dilingkarkan ke lengannya sekaligus jadi penghangat bagi gadis itu.
"Kau ini!" dengus Shaina, "suka cari kesempatan dalam kesempitan" ujar Shaina.
Perkataan Shaina hanya dibalas dengan senyuman oleh Joon yang semakin mendekap erat lengan Shaina.
KRUUUKK!!
Shaina mengerjap kaget dikarenakan suara perut Joon yang tiba-tiba.
"Oh ya aku lupa, kau belum makan sebaiknya kita harus cepat agar kamu segera makan malam" kata Shaina yang mengambil ancang-ancang untuk berjalan cepat.
Joon menarik tangan Shaina, "pelan-pelan saja, nanti kenapa-napa dengan bayinya" ujar Joon.
"Baiklah" sahut Shaina yang kembali memeluk lengan kiri Joon.
"Ngomong-ngomong aku lapar sekali lho, dan sepertinya aku harus makan sesuatu agar aku punya tenaga untuk bergerak lagi" celetuk Joon dengan melirik Shaina.
"Benarkah? Kalau begitu kita harus beli sesuatu" Shaina memutar kepalanya, celingak-celinguk mencari pedagang makanan di sekitar jalan.
__ADS_1
Sekali lagi Joon mendekap Shaina ke pelukannya, "kita tidak perlu beli apa-apa, karena itu ada di depanku" ucap Joon.
"Dimana?" Tanya Shaina yang masih tidak sadar dengan yang dimaksud Joon.
"Kamu" gumam Joon.
Shaina mendorong Joon sedikit sambil mendengus kesal, ia baru sadar yang maksud Joon itu, karena ia mendapati Joon sedang menatapnya dengan tatapan sedikit aneh apalagi mata lelaki itu tertuju pada bibir Shaina.
"Malu lah, jika ada yang lewat bagaimana?" Kata Shaina, sembari tersenyum miring.
"Tidak ada yang lewat dan siapa yang peduli dengan kita?" Bisik Joon, hembusan nafasnya mengenai telinga Shaina yang menggidikkan bulu tengkuk Shaina.
Shaina ikut tersenyum menatap mata Joon yang berbinar-binar dibawah sorotan lampu jalanan yang dipadu hembusan angin dingin yang menusuk ke sela-sela pakaian, serasa membekukan tulang-tulang, dua anak manusia kembali beradu kasih terlarang di bawah rembulan malam yang bertaburan bintang-bintang. Menciptakan kehangatan mendalam yang hanya dapat dirasakan oleh mereka berdua akan manisnya madu cinta.
Kembalinya mereka ke rumah di sambut kecemasan Alfan dan Alice, sampai-sampai si kembar menunda makan malam mereka dan memilih menunggu Joon dan Shaina pulang dari rumah sakit.
Setelah selesai menikmati makan malam, Shaina duduk di sofa dengan kedua kakinya terlipat dan tangan yang memangku kepalanya, mulutnya sibuk mengunyah permen karet, sorot matanya terarah ke layar tv di depannya. Tapi pikirannya teringat pada perkataan Nyonya Rossie tadi siang, ia penasaran mengenai uang apa yang dimaksud nyonya Rossie, karena yang ia tahu Joon tidak memiliki apa-apa selain rumah yang mereka huni sekarang.
Disaat-saat Shaina melamun mendadak Joon datang lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Shaina sehingga mengagetkannya.
"Sedang nonton apa?" Tanya Joon.
"Acara komedi" sahut Shaina.
Shaina mengarahkan pandangannya pada Joon yang keheranan.
"Jangan lihatku aku terlihat jelek dari bawah" ujar Shaina.
"Tidak kok, kau malah terlihat sangat cantik" sahut Joon.
Shaina mendengus, "Tentu saja cantik, inikan nona Helena coba aku yang asli dari depan saja pasti kau langsung kabur" celetuk Shaina.
Joon terkekeh, "aku semakin penasaran seperti apa rupa mu, kau pasti sangat manis" ujar Joon.
Shaina mengangkat alisnya sambil melirik Joon, "itu masalahnya, aku tidak manis seperti gula bahkan aku jarang makan yang manis-manis bagaimana aku akan dikatakan manis?" cetus Shaina.
Joon bangkit dari tidurnya dan duduk mendekat pada Shaina dan memandangnya dengan lekat-lekat yang diiringi senyuman manis.
Shaina segera melakukan pertahanan diri, mengangkat tangannya untuk menahan tubuh Joon yang mendekat.
"Jangan lagi, kau sudah dapat tadi di luar, aku mau santai dan kalo tidak, bisa-bisa aku akan mematahkan tanganmu lagi" ancam Shaina yang mulai menghafal gerak-gerik Joon.
"Tenang saja aku tidak mau melakukan itu lagi, aku cuma duduk saja" ujar Joon.
Beberapa saat kemudian Joon masih melirik-lirik perempuan di sebelahnya yang fokus pada acara tv, ia menyandarkan dagunya pada pundak orang disebelahnya. Tapi Shaina berusaha menggeser tubuhnya namun tidak bisa karena terhalang oleh sandaran sofa, terpaksa ia harus merelakan pundaknya dijadikan sandaran tampan itu, meski geli-geli aneh gitu apalagi hembusan nafas Joon mengenai lehernya.
__ADS_1
"Jantungmu dag-dig-dug terus, apa kau suka main gendang?" Goda Joon sambil melirik Shaina.
"Siapa yang enggak deg-degan kalau kau nempel terus padaku? Apalagi ini pengalaman pertamaku bersama laki-laki" ketus Shaina.
Joon tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Shaina, "berarti ciuman pertamamu itu denganku".
"Kalau enggak kepepet seperti ini mana mungkin aku mau!!".
"Mama, Alfan tidur sama Mama ya" sela Alfan yang mendadak muncul.
"Tentu sayang, sini dulu nanti kita tidur di kamar" sahut Shaina.
Ia meraih tangan Alfan dan menuntunnya tidur di pangkuannya, tidak lama kemudian menyusul Alice dengan permintaan yang sama, tapi kali ini ia tidur di sebelahnya Joon.
Melihat mereka berdua tidur di pangkuannya Shaina tertawa dan tidak habis pikir, karena mereka mirip seperti Joon sebelumnya.
"Jadi iri dengan Alfan dan Alice yang selalu di peluk" gumam Joon.
Shaina menyeringai pada Joon.
"Ma, bagaimana adek bayi bisa berada di dalam perut Mama? Apa Mama memakannya?" Tanya Alfan.
Seketika Shaina beradu pandang dengan Joon, mereka tersungging dan tidak tahu harus menjawab apa, Joon langsung berpura-pura tidur di sebelah Alice, karena ia tahu jika Alfan sudah bertanya maka tidak akan ada habisnya apalagi Alfan anak yang sangat penasaran dan tidak akan berhenti bertanya jika tidak ada jawaban yang memuaskannya.
"Emmm.... I-itu..." Gumam Shaina yang kebingungan.
"Jawab tuh putramu yang pintar, aku bobo dulu sama Alice ku yang manis" bisik Joon pada Shaina.
"Paman, mau Alice peluk?" Ucap Alice.
"Ya tentu sayang"sahut Joon yang membalas memeluk Alice.
"Wah! Kayaknya udah malam, kita tidur yuk!" Seru Shaina.
Alfan dan Alice segera bangkit dari pangkuan Shaina.
"Iya Ma, ayo kita tidur, kata buku yang Alfan baca enggak boleh bergadang tidak baik untuk kesehatan" ujar Alfan.
"Benar sayang, kamu pintar sekali!! Ayo Alice kita ke kamar" ajak Shaina yang bersemangat karena ia tidak harus menjawab pertanyaan Alfan lagi.
"Enggak Ma, Alice mau sama paman aja biar di gendong" sahut Alice.
"Tangan Paman lagi sakit, enggak boleh gendong Alice dulu" ujar Shaina.
"Siapa bilang aku enggak boleh gendong Alice manisku" celetuk Joon yang merangkul Alice dengan tangan kirinya dan membawanya ke kamar.
__ADS_1