Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Helena atau Shaina?


__ADS_3

"Alfan, Alice, semoga kalian bahagia disana, Mama merindukan kalian" batin Helena


Obrolan ringan keluarga itu yang di selingi dengan tawa membuyarkan lamunan Helena, ia kembali ikut serta dalam bincang-bincang tersebut.


"Adnan, ajarkan kakak ngaji lagi ya nanti?" Ujar Helena disela-sela obrolan mereka.


"Siiip lah kak" sahut Adnan sambil mengangkat jempolnya.


"Kak Shaina kenapa enggak belajar sama bang Jamal aja?" Sela Rina.


"Bang Jamal mu kebanyakan main hp, dan enggak fokus ajarin kakak" sahut Helena sambil tersungging ke arah jamal.


Usai makan siang, Helena sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi, ia berencana mau belanja bersama Samir.


Setelah lama berkeliling, mereka Helena dan Samir beristirahat di depan showroom motor, Sahir kebingungan melihat kakaknya masuk kedalam dan melihat-lihat jejeran motor terbaru.


"Kak, pulang aja yuk jangan bikin malu disini" kata Sahir menarik lengan Helena.


"Menurutmu mana yang bagus ya?" Tanya Helena pada Sahir yang cengar-cengir.


"Maaf kak, ini motor keluaran terbaru dan harganya cukup mahal" sela SPG yang mengekor Shaina atau Helena.


CK, "kak, ayo pulang, jangan kumat lagi di sini, kalau tidak aku tinggalin disini" ancam Sahir yang berjalan keluar, tapi beberapa langkah ia menoleh pada kakaknya yang tidak bergeming dari tempatnya.


Sahir yang merasa sangat malu dengan sikap kakaknya yang berkeliling di deretan motor yang di pajang, ditambah lagi para SPG nya yang memandang sinis pada Helena, membuat Sahir tidak tega melihat kakaknya di permalukan.


"Katakan saja mana yang bagus, baru kita pulang" ujar Helena.


Sahir menggaruk-garuk kepalanya, "yang ini!" Timpal Sahir sambil menunjuk ke motor yang cukup bagus apalagi keluaran terbaru.


"Itu mahal kak" SPG itu kembali menyela pembicaraan Helena dengan Sahir.


Helena mengeluarkan kartu dari tas belanjaannya dan memberikan pada SPG tersebut seraya berkata, "aku ambil yang ini".


Sahir ternganga melihat tingkah kakaknya yang tampak sangat serius.

__ADS_1


"Cicilannya tiga tahun-" kata SPG.


"Saya ambil lunas tanpa cicilan" sahut Helena.


"Kak, BPJS enggak laku di sini kita pulang aja yuk, aku lagi kebelet ni" bisik Sahir pada kakaknya.


SPG tersebut memberikan kartu Helena pada penjaga kasir dan setelah di gores, akhirnya pemilik showroom menyerahkan kunci motor tersebut pada Helene.


"Terima kasih sudah berkunjung, silahkan datang lagi jika ada yang nona inginkan" kata pemilik showroom tersebut dengan sopan.


Sahir ternganga dan mematung melihat kakaknya yang dapat membeli motor terbaru dengan harga yang fantastis.


"Apa anda menjual etika disini?" Tanya Helena.


"Maksud nona?" Tanya pemilik showroom.


"Jika ada saya juga ingin membelinya dan akan saya sumbangkan untuk karyawan Anda ini" Helena melempar pandangannya pada SPG sebelumnya.


Tampak jelas SPG itu sangat malu, sampai-sampai ia tidak berani mengangkat kepalanya bahkan kepada temannya yang seprofesi dengannya, karena ia sedang di jadikan tontonan yang lain termasuk pengunjung lain.


Helena mengabaikan permintaan maaf sang pemilik showroom bahkan permohonan maaf dari SPG itu sendiri, ia begitu serius menandatangani surat-surat penting, lalu kembali ia masukkan kartu kreditnya bersama surat-surat tersebut ke dalam tas belanjaannya yang jauh dari kata bagus ataupun mahal.


"Ambil kuncinya, ayo kita pulang, tapi setelah ini kau harus janji untuk fokus bekerja di pesantren dan kau juga harus berbagi dengan adik-adik" kata Helena.


Sahir masih tidak percaya dengan apa yang baru ia saksikan dari sang kakak, ia juga heran akhir-akhir ini Shaina selalu dapat membuatnya dan yang lain terkejut dengan berbagai aksinya.


Helena yang sudah belajar mengendarai sepeda motor selama terjebak di tubuh Shaina, jadi ia sudah mahir berkendaraan seorang diri. Sahir sendiri masih terngiang-ngiang antara mimpi dan nyata karena ia sekarang sedang mengendarai motor baru yang di idam-idamkannya dan saudara-saudaranya.


Tiba di rumah Sahir sudah di sambut oleh kedua adik laki-lakinya dan sepupunya.


"Bang, motor siapa ini? Bagus benar, pasti mahal" Tanya Jamal.


"Motor kita" sahut Sahir .


Spontan jamal dan Adnan tertawa lepas sampai-sampai ibu dan ayah mereka ikut berdiri di depan pintu melihat kelakuan anak-anak mereka.

__ADS_1


"Kamu bang habis begal siapa sih dapat motor sekeren ini?" Tambah Adnan.


"Aku tidak begal, tapi kakak yang ngepet, jangan-jangan kamu yang bantuin kakak ngepet ya? Karena selain kamu tidak ada orang lain yang tinggal di rumah ketika kami mondok" tukas Sahir.


"Huuusss! Siapa yang ngepet? Aku enggak ngerti" balas Adnan.


Sahir pun menceritakan kembali kejadian yang terjadi di showroom tadi, membuat yang lain ikut heran dengan Shaina mereka yang terus berbeda setelah sembuh dari kecelakaan beberapa bulan lalu.


"Kamu nak punya uang dari mana hingga dapat membeli motor baru?" Tanya ayahnya.


Helena menghela nafas panjang dan menatap mata mereka, "sudah aku katakan sebelumnya aku bukan putri kalian, namaku Helena, aku seorang profesor di salah satu negeri yang jauh dari sini dan aku mengalami kecelakaan saat itu, ketika aku sadar aku sudah bersama kalian".


"Wahh! Mulai kumat lagi ni anak" sela Sahir.


"Aku sangat terpukul karena berpisah dengan anak-anakku apalagi aku sedang hamil juga" kata Helena.


"Anak?" Sudi ibunya.


"Iya. Alice dan Alfan, mereka anak-anak yang manis tapi sayang aku sering mengabaikan mereka karena tuntutan pekerjaanku ditambah suamiku juga baru meninggal dunia, sekarang aku sangat merindukan mereka namun aku juga senang di sini karena aku bisa memiliki orang tua lagi dan saudara-saudara yang tingkahnya seperti putra-putri ku" ujar Helena.


"Aku jadi lapar dengar kakak ngoceh" sela Jamal yang meninggalkan ruang tamu rumahnya.


"Lalu bagaimana dengan putri kami?" Mendadak ayahnya mengajukan pertanyaan pada Shaina.


"Putri kalian... Aku minta maaf, dia mungkin kesulitan karena menggantikan posisiku seperti aku yang menggantikan posisinya, hanya saja ia tidak bisa sebebas aku, karena... anak-anakku bersamanya tapi kalian jangan khawatir ada seseorang bersamanya" ujar Helena.


Mereka semua terdiam antara percaya dan tidak dengan apa yang diceritakan Shaina menurut mereka.


"Ya Tuhan...! Apa ini akibat dari kakak sering nonton film fiksi, jadi ikutan gila seperti ini?" Gumam Jamal yang tidak jadi pergi dari ruangan tersebut.


"Silahkan jika kalian tidak percaya tapi itu kenyataannya. Aku juga baru mengerti tujuan kami berganti posisi yaitu agar kami bisa memperbaiki apa yang salah dari kami, aku di sini menggantikannya untuk melakukan apa yang tidak bisa ia lakukan dengan kalian yaitu melindungi kalian, sedangkan ia melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan disana yaitu menjadi seorang ibu yang baik" Helena mulai menitikkan air matanya mengingat anak-anaknya yang sangat ia rindukan terlebih lagi janin yang belum bisa ia lihat.


*****


...----------------...

__ADS_1


Ini hadiah buat yang minta kisah Helena, Semoga tidak mengecewakan, jika tidak author bisa baper nih 🥺🥺


__ADS_2