Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kecewa


__ADS_3

PAAAKK!!


Tiba-tiba saja Alice melemparkan tasnya dengan kesal membuat Joon bingung dengan sikap Alice yang mendadak berubah.


"Ada apa Alice? Kenapa kau melempar tas mu?" Tanya Joon, ia mengambil kembali tas yang tergeletak di lantai.


Alice memanyunkan bibirnya dan melihat ketus pada Joon.


"Alice tidak mau tas jelek itu Alice mau tas yang mahal!!" Timpal Alice yang tiba-tiba dimana Shaina juga ikut kaget dengan sikap Alice.


"Tapi Alice tas ini bagus kok dan tidak ada masalah" ucap Joon membolak-balik tas tersebut hingga ia berikan pada Alice.


Alice yang terlanjur marah menepis tas ditangan Joon.


"ALICE TIDAK MAU TAS JELEK ITU! ALICE MALU DI EJEK TEMAN-TEMAN PAKE TAS MURAHAN SEPERTI ORANG MISKIN! ALICE MAU TAS YANG MAHAL KELUARAN TERBARU SEPERTI YANG LAIN BUKAN INI!" Sembur Alice yang tersungut dalam tangisannya.


Shaina yang kaget dengan sikap Alice berusaha menenangkannya agar mereka tidak jadi tontonan pelanggan yang lain, "Alice jangan seperti ini, malu di lihat orang-orang" ujar Shaina.


"Alice tidak peduli! Pokoknya Alice mau tas yang mahal!" Pekik Alice sembari menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.


Alice yang tidak mau mendengarkan siapapun semakin merengek-rengek minta dibelikan tas seperti keinginannya di depan umum, melihat itu Joon memegang erat tas tersebut dan malah diam mematung, dengan menatap seakan tidak percaya, menghela nafas berat lalu sekali lagi menghampiri Alice.


"Ambil tas mu, kita pulang!" paksa Joon agar Alice mau mengambil tas tersebut.


"Alice tidak mau!!" Alice terus menepis tas di tangan Joon dan semakin kencang ia menangis meski orang-orang mulai menontonnya bahkan si pemilik toko itu sendiri.


Joon yang sudah hilang kesabaran menekan nada bicaranya pada Alice "Aku tidak mau tahu kita harus pulang! Dewasalah Alice disini bukan kau saja yang memiliki masalah!" ia memaksa Alice untuk memegangi tas tersebut tidak peduli sekeras apapun di tolaknya.


"Joon hentikan! Kau harus bicara baik-baik jangan marah-marah seperti ini" Shaina tidak tega melihat gadis kecil itu menangis berusaha mencegah Joon.


"Baik bagaimana lagi? Karena kau sangat memanjakannya hingga ia berani menentang orang tua!" Timpal Joon pada Shaina, ia tidak punya kata-kata untuk dirangkainya agar Alice mau mendengarkannya.


Shaina semakin tidak nyaman saat orang-orang mulai mencibir mereka terutama Joon yang dianggap tidak becus menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak tersebut.


"Joon, pelan-pelan, kau menyakiti Alice" ucap Shaina sekali lagi berusaha menenangkan Joon.


Namun Joon tidak mempedulikannya, ia masih kekeh memaksa Alice dan tidak punya pilihan lain Joon menggendongnya untuk di bawa pulang meski Alice meronta-ronta dan memukul-mukulnya. Shaina segera menarik Alfan untuk mengejar Joon yang tersulut emosi.


"Alice, kenapa kau menangis?" Tampa gerangan apapun tiba-tiba saja Darrell muncul di depan mereka dan langsung di sambut Joon dengan memencingkan matanya pada lelaki lebih tua setahun darinya itu.


"Jangan ikut campur urusan keluarga ku" timpal Joon pada Darrell.


Darrell terkekeh geli, "keluarga mu? Apa kau tidak salah bicara? Hubungan kita sama dengan mereka jadi kau tidak perlu sungkan padaku" ucap Darrell dimana ia tampak melihat Shaina dengan ujung matanya.


"Terserah apa katamu, aku tidak punya waktu ngobrol dengan mu!" Pungkas Joon.


"Tenang saja aku tidak ngajak kamu ngobrol kok, aku hanya ingin bicara dengan Alice saja" sambung Darrell.


Joon melanjutkan langkahnya dan menerobos Darrell di depannya bahkan tanpa melihat kearahnya lagi.


"Joon, anak kecil harus di rawat dan di bahagiakan bukan di marahi seperti tindakan mu ini, Helena saja yang Mamanya tidak memarahi Alice" kata Darrell dengan suara lembut.


Seketika Joon menghentikan langkahnya dan berbalik badan melihat pada Shaina dan Alfan yang tampak sedih dengan sikapnya yang kasar pada Alice.


Darrell mendekati Joon sambil tersungging, "Alice sayang, sama Paman Darrell ya, kita beli apa yang Alice mau" bujuk Darrel pada Alice yang tersungut-sungut dalam gendongan Joon.


"Benarkah Paman?" Tanya Alice.


"Tentu saja, masak paman bohongi Alice yang cantik ini" sahut Darrell.


Darrell menyorongkan kedua tangannya untuk meraih Alice dan gadis kecil itupun melepaskan diri dari Joon yang terkesiap menatap Shaina.

__ADS_1


Perlahan-lahan pegangan Joon merenggang dari Alice yang makin lama makin menjauh dan berada dalam dekapan Darrell, begitu juga dengan Shaina yang menatapnya kecewa pada Joon karena sisi pemarah Joon muncul.


Darrell membawa Alice dan Alfan kembali masuk ke toko tas, Alice yang sebelumnya menangis telah tergantikan dengan senyuman saat mendengar Darrell memintanya memilih apa saja yang diinginkannya.


"Shaina" ucap Joon.


Shaina tetap di tempatnya sambil memalingkan wajahnya dari Joon yang terlanjur membuatnya kecewa karena ia sampai membentak Alice.


Selang beberapa waktu kemudian, Darrell bersama anak-anak menemui Shaina dimana tangan mereka penuh dengan boneka dan mainan untuk Alice dan Alfan, tidak tertinggal pula tas bahkan mereka berdua dapat dua tas masing-masing.


"Ma, Alice dan Alfan di belikan dua tas oleh Paman Darrell" adu Alfan pada Shaina.


"Iya Ma, tas punya Alice model terbaru dan teman-teman pasti pada belum punya" sambung Alice yang tidak kalah antusiasnya saat menceritakan pada Shaina.


Darrell tersenyum penuh kemenangan saat melihat Joon terdiam dengan menggenggam tas Barbie yang dibelinya sebelumnya dengan harga kalah jauh dari tas yang dibelinya Darrell.


Sikap murungnya Joon juga di tangkap Shaina meski tidak di katakannya.


"Alice, Alfan, kita pulang ya?" Ucap Shaina.


Si kembar mengangguk seraya berkata, "iya Ma ayo kita pulang".


"Aku antar ya?" Tawar Darrell.


"Tidak perlu! Aku masih bisa bayar taksi!" Sela Joon, menghampiri Alice dan Alfan untuk di ajaknya pulang.


"Terima kasih atas semuanya, kami pulang dulu ya" kata Shaina pada Darrell.


Darrell tersenyum dan melambaikan tangannya, "hati-hati" ucapnya yang di tanggapi dengan senyum ramah oleh Shaina.


Joon tetap diam saja saat mereka di dalam taksi, meski sesekali ia sempat menoleh ke belakang pada Shaina dan anak-anak yang sibuk dengan mainan baru mereka.


Di rumah suasana tidak berbeda juga berlanjut, Alice maupun Alfan masih membicarakan keseruan mereka saat berbelanja bersama Darrell yang memperbolehkan mereka mengambil apapun tanpa larangan.


"Alfan juga, dan mulai besok Alfan bisa ganti-ganti pake tas ke sekolah, Alfan sangat senang" tambah Alfan.


"Eeem!!!" Angguk Alice.


"Jangan gitu, pamer itu tidak baik dan sangat di benci oleh Tuhan, Alice juga seharusnya tadi enggak boleh marah-marah sama Paman Joon, Paman Joon udah bekerja keras untuk Alice dan kita" sela Shaina


"Maaf Ma" gumam Alice yang merunduk.


Di dapur Joon sedang meneguk segelas air putih yang ambil didalam kulkas untuk menetralisir racun hati yang menggumpal di dadanya, tapi rasa jengkelnya tidak kunjung hilang dikarenakan semua anggota keluarganya sedang membicarakan kebaikan pria yang paling ia benci. Setiap kali sanjungan di sematkan pada Darrell rasanya darahnya mendidih secara tiba-tiba.


Joon berjalan ke ruang tamu, hiruk-pikuk mengenai sosok Darrell makin bergema, tidak cukup disitu pemandangan yang disuguhkan oleh anak-anak seakan-akan sedang mengujinya kesabarannya. Alice dan Alfan tidak henti-hentinya memainkan tas dan mainan mereka, berlari kesana-kemari sambil memperlihatkan barang-barang pemberian Darrel sedangkan tas yang di belikannya tergeletak begitu saja di sofa tanpa ada yang meliriknya bahkan sampai jatuh begitu saja di lantai karena tersenggol oleh Shaina.


Shaina juga ikut tertawa lepas melihat kegembiraan anak-anak, Joon mendengus kesal dan berjalan cepat kearah mereka.


"Bisakah kalian tidak berisik? Itu mengganggu sekali!" Joon lalu menarik tas dari tangan Alice yang mengagetkan mereka semua, tangannya mencengkram erat tas tersebut, "tas apaan ini? jelek gini tidak ada bagus-bagusnya! Ini cocoknya di tempat sampah!!!" Joon melempar tas tersebut ke sembarangan tempat.


"Paman....!!" Lirih Alice, ia berlari untuk mengambil tasnya yang tergeletak di lantai setelah di lemparkan oleh Joon.


"Joon!" Bentak Shaina, seakan tidak percaya dengan tindakan lelaki yang di sukainya itu, "kenapa sih kamu dari di toko tadi kau marah-marah enggak jelas gini? Jika ada yang salah seharusnya bicara baik-baik bukan seperti ini!!! Lanjut Shaina.


"Iya salah! Kalian terus menyanjung-nyanjung orang tidak tahu diri itu, seakan-akan dia itu malaikat penyelamat untuk kalian!!" Sembur Joon, mukanya jadi merah padam, urat-urat lehernya menegang.


"Siapa maksudmu?" Ucap Shaina.


"Siapa lagi kalau bukan si brengsek itu!!!".


Walau sempat bingung dengan orang yang dimaksud Joon namun Shaina langsung menyadari siapa orang tersebut karena yang bersama mereka tidak ada orang lain selain Darrell.

__ADS_1


"Joon! Jaga kata-katamu! Darrell saudaramu seharusnya kau memperlakukannya dengan baik bukan dengan menghujatnya, dia itu orang baik" sergah Shaina.


"Orang baik?" Ketus Joon memencingkan matanya pada Shaina.


"Tentu saja".


"Jika uang suda berbicara maka tidak ada yang namanya orang baik, semuanya brengsek dan sampah!!" Hujat Joon.


TUK! TUK! TUK!


Terdengar ketukan pintu dari luar, seketika pertengkaran itu terhentikan, Shaina berkacak pinggang sembari memegangi kepalanya sedangkan Joon mendengus kesal saat menuju pintu untuk melihat siapa yang datang berkunjung malam-malam ke rumahnya.


"Selamat malam" sapa orang di balik pintu saat Joon telah membuka pintu.


"Ada apa lagi kau kesini? Aku tidak punya apa-apa lagi untuk ku sumbangkan padamu" ketus Joon pada Darrell yang merupakan tamu tersebut.


Mendengar perkataan Joon, Shaina jadi penasaran dan ikut melihat orang yang sedang berbicara dengan Joon.


Lelaki yang mereka temui tadi dan memberikan banyak hadiah itu tampak tersenyum saat mendapati sosok Helena ikut berdiri di belakang Joon.


"Tadi aku lewat toko boneka, melihat ini aku teringat pada Alice, apa kau bisa memberikannya pada Alice?" Ujar Darrell yang menggendong sebuah boneka beruang berukuran sebesar anak beruang asli.


"Tidak perlu! Sebaiknya kau pergi dari rumahku!!" Timpal Joon.


Shaina mengerling Joon dengan tajam tapi ia segera mengarahkan pandangannya pada Darrell kembali dengan tersenyum, "terima kasih hadiahnya Alice pasti suka" sela Shaina.


"Iya semoga saja, karena aku senang jika Alice suka" imbuh Darrell.


Darrell mendekat ke pintu untuk di serahkan boneka tersebut pada Shaina. Namun Joon, dengan cepat menepisnya hingga boneka itu jatuh ke lantai.


"Jangan sok baik! Aku tahu siapa kau, sebaiknya kau pergi dari rumahku sebelum ku gunakan kekerasan untuk mengusir mu" berang Joon, menatap tajam pada lawan bicaranya.


"Apa-apaan kau Joon? Dimana sopan santun mu?" Kilah Shaina.


"Tidak butuh sopan santun jika untuk orang seperti dia!!" Sergah Joon.


"Darrel, aku minta maaf atas hal yang tidak menyenangkan ini" ucap Shaina pada Darrell yang telah mengambil kembali boneka jatuh tadi.


"Tidak usah berterima kasih! Kamu masuk!" Joon menarik lengan Shaina untuk di bawa masuk lalu ia menutup pintu dengan membantingnya cukup keras.


Darrell memundurkan langkahnya dan berbalik badan menuju mobilnya yang terparkir di bahu jalan rumah Joon dengan membawa kembali boneka tadi, namun langkahnya sempat terhentikan saat mendengar perdebatan antara Joon dan Shaina kembali terjadi dari dalam rumah, karena hal itu Darrell sedikit menarik bibirnya, menciptakan senyuman tipis dengan berbagai arti, setelah itu ia pergi meninggalkan kediaman Joon dengan mobilnya yang kendarai oleh sopir pribadinya.


Adu mulut belum juga berhenti sehingga Alice dan Alfan ketakutan melihat mereka.


"Joon, kenapa kau jadi kasar seperti ini?" Tanya Shaina.


"Kasar? Itu masih tidak apa-apanya jika untuk si brengsek itu!!" Umpat Joon.


"Jangan mengumpat lagi!" Pekik Shaina.


"Kau benar umpat saja tidak cukup untuk orang seperti dia, seharusnya aku menghabisinya!" Tambah Joon.


"JOON!!! Aku benci kau!!" Berang Shain memencingkan matanya, seakan sebuah peluru melesat cepat pada Joon.


Joon terdiam mematung di depan Shaina, sesaat waktu seakan berhenti pada mereka berdua yang saling menatap satu sama lain.


Kemudian Shaina menggandeng anak-anak untuk masuk ke kamarnya dan meninggalkan Joon seorang diri di luar.


Di dalam kamar anak-anak, menggerai kasur lantai di bawah yang ia ambil dari dalam lemari anak-anak, ia juga menyuruh anak-anak untuk segera tidur sedangkan ia tidur di atas kasur lantai tersebut.


Tinggallah Joon sendiri di kamarnya menatap sendu akan tas Alice yang ia beli tadi, ia tidak menyangka anak-anak lebih suka pada Darrell bahkan Shaina ikut membela lelaki itu di depannya.

__ADS_1


Tak sadar mata merahnya mulai mengeluarkan tetesan embun bening yang melembabkan pelupuk matanya.


Marah dan kecewa telah beraduk jadi satu yang menggenang di hatinya. Ingatan masa lalunya kembali melintas di otaknya, mengingat dirinya yang dulu yang selalu menggunakan barang-barang branded dengan harga selangit, dan kini tidak satupun dari barang-barang tersebut dapat di belinya lagi bahkan untuk menyewanya saja ia tidak mampu.


__ADS_2