
Kekaguman Shaina akan keindahan kota Wina masih berlanjut, melihat orang-orang dari berbagai kalangan berlalu-lalang di kota yang sama dengannya, dimana banyak pamflet-pamdlfler raksasa terpasang sepanjang jalan, menginformasikan kota tersebut sedang sibuk-sibuknya mengadakan olahraga musim dingin tahunan.
Senyuman kebahagiaan terpancar jelas dari Alice dan Alfan yang meminta ini-itu bahkan ia juga ingin menyentuh boneka maskot olimpiade yang berdiri di depan pertokoan.
Meski suhu berada di bawah nol derajat, tidak menyurutkan semangat para pengunjungnya untuk ikut berkontribusi dalam pergelaran tersebut.
seperti halnya Shaina yang bergelut dengan dingin musim salju di Wina, membuatnya harus menggigil tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk ikut membaur dengan yang lain.
"Apa kalian tidak kedinginan?" Tanya Shaina pada Alice dan Alfan.
"Sedikit Ma, tapi kami kuat kok menahan dingin" sahut si kembar.
Joon melihat Shaina, "apa kau kedinginan?" Tanya Joon pada Shaina.
"Sa~ngat" sahut Shaina yang setengah menggigil sampai-sampai dari mulutnya seperti mengeluarkan asap.
Joon meraih tangan Shaina untuk di kalung di lengannya, ia juga menarik tudung penutup kepala mantel Shaina untuk menutup kepala perempuan itu.
"Apa ini lebih baik?" Tanya Joon.
Shaina mengangguk sambil tersungging hingga mengerutkan hidungnya dan tampak sangat menggemaskan, terlebih lagi di mata Joon.
Joon mengajak mereka semua masuk ke area bermain ice skating permainan yang paling di gemari Alice dulu saat bersama Helena. Dan Joon mencoba menciptakan kenangan indah itu lagi diingatan gadis manis itu. Joon sengaja menyewa dua pasang sepatu khusus untuk Alice dan Alfan, agar mereka bisa bermain ice skating di arena khusus, sedangkan ia sendiri lebih memilih berdiri di pagar pembatas bersama Shaina yang tidak mungkin bisa ikut menikmati permainan tersebut meski ia sangat menginginkannya, dikarenakan kondisinya yang sedang hamil besar dan dengan kemampuannya yang tidak pernah mencoba berjalan dengan sepatu bermata pisau tersebut, sangat berkemungkinan besar Shaina akan terjatuh.
Alfan dan Alice berputar-putar di atas lantai licin itu sesekali mereka melambaikan tangan pada kedua orang yang berdiri di pinggir pagar, Shaina pun membalasnya yang diiringi dengan senyuman.
"Tahun depan aku juga ingin mencobanya" ucap Shaina sambil melihat Alice dan Alfan yang keasyikan bermain.
"Boleh" sahut Joon, mengangkat alisnya sambil melirik Shaina dengan ujung matanya.
Shaina langsung tersenyum lebar dan sangat berharap ia bisa menikmati bermain seperti kedua anaknya.
"Tahun depan kau boleh main itu jika Alif belum punya adik baru" celetuk Joon yang cengengesan.
Senyuman Shaina seketika memudar, ia melirik ketus pada Joon,
"Nikah aja tidak udah berpikir Elif punya adik bahkan Elif saja belum lahir!" Dengus Shaina.
"Setelah Elif lahir kita langsung nikah aja biar Elif cepat-cepat punya adek" cetus Joon seraya menatap Shaina dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
"Dasar otak mesum! Kamu pikir nikah cuma untuk buat anak apa? Kau harus bisa mengurus keluargamu, mendidik anak-anak yang benar dan salah dan masih banyak lagi yang harus kau pertanggung-jawaban! Tidak melulu soal buat anak saja!" Sembur Shaina.
"Baiklah Bu guru, tapi bagaimana kalau aku nantinya pengen nambah anak? Anak cowok gitu? Biar Alfan ada teman main, kalau bisa sih dua atau tiga lagi" tambah Joon.
"Aku bukan mesin pembuat anak! Aku tidak mau hamil lagi!!" Pekik Shaina dengan suara lantang.
Orang-orang di sekitar mereka melihat kearah mereka, karena perkataan Shaina yang terlalu lantang sehingga terdengar oleh orang lain, orang-orang itu mulai membicarakan mereka berdua.
"Mereka berdebat tentang suaminya yang pengen nambah anak"
"benar, tapi istrinya tidak mau hamil lagi" bisik-bisik orang di sekitar mereka.
"Kasihan juga istrinya, bayinya belum lahir, eh... Suaminya pengen nambah, dasar laki-laki tidak tahu untung!"
"Suaminya juga tidak salah, dia kan wajar pengen punya anak lagi daripada ia nambah istri mending nambah anak apalagi ia masih muda" ujar pengunjung laki-laki yang membela keinginan Joon.
__ADS_1
Kasak-kusuk pengunjung yang membahas mengenai perdebatan Shaina dan Joon cukup heboh, dikarenakan mereka terbagi dua kubu, antara mendukung Shaina dan sebaliknya.
Karena malu dibicarakan orang-orang Shaina maupun Joon menundukkan wajah mereka dan tidak berani menatap yang lain, namun Joon masih bisa cengengesan pada Shaina.
"Kamu sih! Bikin kesal aku aja, sekarang kan jadi malu begini" gumam Shaina pada Joon.
"Mana aku tahu kau akan berteriak sekeras itu" balas Joon.
Joon dan Shaina sama-sama meringis malu karena orang-orang mulai memperhatikan mereka, namun mereka tidak berpindah tempat mengingat Alfan dan Alice masih seru-serunya berputar-putar atau berlarian sambil mengayuh sepatunya di lantai licin itu.
"Hati-hati mengucapkan sesuatu, karena perkataan itu doa" mendadak muncul pria tua yang mereka temui di kereta sebelumnya.
"Ehh kakek tua!" Ucap Shaina yang kaget melihat pria itu.
Pria tua itu melirik kearah Shaina dan Joon sekilas setelah itu ia pergi berlalu menghilangkan dalam keramaian.
****
Sinar mentari pagi yang menyengat kulit tidak juga menyurutkan niat gadis muda ke warung bersama adik sepupunya yang berusia 12 tahun lebih, hanya untuk mendapatkan segenggam garam sebagai bumbu dapur rumahnya, meski harus berjalan kaki.
"Kak, rambutmu kelihatan itu" kata adik sepupunya pada gadis itu.
"Oh ya, aku lupa kita harus pake kerudung, terima kasih Rina udah beri tahu kakak" ucap perempuan muda tersebut.
Mereka berdua terus menelusuri jalan perkampungan untuk sampai ke tempat tujuan yaitu warung kelontong yang kebetulan tidak jauh dari rumah mereka.
Sampai di warung, tanpa buang-buang waktu, mereka berdua langsung membeli keperluan mereka dan setelah itu bergegas pulang.
"Shaina sekarang sudah agak sombong ya? Bahkan untuk tersenyum saja tidak, padahal dulunya ia itu ramah pada siapapun"
"Parahnya lagi ia tidak bisa mengaji dan beribadah lagi, sampai-sampai adik-adiknya dan orang tuanya harus mengajarkannya lagi belajar iqra"
"Tapi ngomong-ngomong Shaina memang tidak bisa ngaji, orangnya agak ketertinggalan mental gitu alias bodoh dan pergaulannya juga tidak seperti anak-anak kita, kerjaannya tidurrrr terus di rumah kalau enggak pergi kerja"
"Kasihan juga ya jadi orang tuanya, punya anak gadis satu-satunya malah jadi beban, apalagi di usianya sekarang belum kawin-kawin juga, padahal perempuan seumuran dengannya sudah punya momongan semua".
"Ibu-ibu benar, itu sih karena dirinya sendiri yang suka milih-milih padahal kalau di lihat-lihat cantik juga tidak, beda jauh dari anak-anak gadis yang lain".
"Eeem" sambung yang lain.
Perempuan yang jadi bahan gosip ibu-ibu itu tidak peduli dengan orang-orang tersebut. Ia lebih melanjutkan perjalanan pulangnya bersama Rina.
Sampai di rumah ia segera memberikan garam yang di belinya tadi pada ibunya.
"Wak! Tadi kan ibu-ibu di warung membicarakan kak Shaina bodoh" adu Rina pada ibunya perempuan muda itu.
Spontan seluruh anggota keluarga yang ada di rumah tersentak tidak terkecuali adik laki-lakinya gadis itu.
"Benarkah Rina, mereka menggosipkan kakak?" Tanya Sahir.
"Iya Bang" sahut Rina.
Rina terus mengadu pada anggota keluarga soal apa yang di dengarnya tadi di warung, dari aduannya membuat yang lain jadi emosi terlebih si ibu dari anak gadis yang jadi bahan pembicaraan.
"Kak! Kenapa kakak tidak melabrak mereka, karena membicarakan kakak yang tidak-tidak?" Timpal Adnan pada Shaina, adik keduanya.
__ADS_1
"Hanya orang bodoh saja yang suka membicarakan keburukan orang lain dan mudah tersinggung, aku tidak mau ikut-ikutan bodoh seperti mereka" ujar Shaina dengan santainya sambil duduk menikmati sekaleng cemilannya bersama adik sepupunya.
"Tapi kak!" Tambah Jamal, di sulung.
CLEK!
Tiba-tiba TV yang sedang mereka tonton mati sendiri, dan adik-adik Shaina jadi heboh terlebih lagi ibu mereka yang kesal karena harus mengeluarkan duit lagi untuk memperbaiki tv tersebut.
"Mak! Tv rusak lagi!" Seru Jamal yang berteriak pada ibunya.
"Itu sih gara-gara kamu! Pake nyolok ini-itu di colokan kabel TV!" Sembur ibunya sambil menjewer telinga Jamal.
"Mak! Bukan aku, tapi bang Sahir tu yang pake main game di TV tadi" ujar Jamal sambil nunjukin Abang pertamanya.
Sahir yang sedang mengunyah cemilan dengan sang kakak malah cengengesan, menertawakan adik kecilnya yang kena marah dari sang ibu.
"Aku cuma main bentar kok, tuh Adnan yang terakhir main" ungkap Sahir.
"Hah?!" Adnan yang sedang menyetrika bajunya mengerjap kaget karena namanya ikut dibawa-bawa.
Shaina alias Helena itu beranjak dari duduknya dan mendekati TV yang rusak itu.
"Aku minta obengnya" kata Shaina yang mengadahkan tangannya pada adik-adiknya yang sibuk saling menyalahkan.
Shaina mencabut semua colokan listrik yang terhubung dengan TV, lalu memutar satu persatu baut yang terpasang dengan obeng, sehingga bagian luar TV terbuka semua dan terlihat sudah benar-benar seperti TV rusak.
"Kak, kalau kakak kesal jangan di lampiaskan ke TV, kasian Tv-nya enggak salah apa-apa" gumam Adnan.
Melihat tingkah Shaina yang kembali kumat seperti akhir-akhir ini, tidak banyak bicara dan memasang wajah seriusnya membuat yang lain ikut bergidik. Mata dan tangannya begitu lincah menyentuh dan menatap ke kabel-kabel yang terpasang didalam TV, ia terlihat begitu paham apa yang akan dilakukannya.
Beberapa saat kemudian Shaina menutup kembali casing TV itu seperti sedia kala.
"Coba nyalakan" ujar Shaina.
"Enggak ah! Bagaimana kalau aku kesetrum nanti? Bisa-bisa aku seperti kakak yang terobsesi dengan nama Helena dan ngaku punya anak segala!" Kilah Sahir yang memundurkan tubuhnya ke belakang.
"Ya udah kalo enggak mau" balas Shaina.
Shaina atau Helena memasang sendiri colokan kabel TV dan tidak lama kemudian tv menyala kembali seperti semula tanpa masalah.
"Waaauuu! Kakak hebat ya!! Bisa perbaiki tv rusak, jadi Mak enggak usah ngeluarin duit lagi jika TV rusak lagi, aku juga bisa main lagi" seru Jamal.
PLUK!
Sebuah pukulan mengenai Jamal akibat melayangnya segepok sapu lidi ibunya, yang memaksa remaja itu meringis, meski tidak sesakit yang di perlihatkan, namun sudah jadi rahasia umum jika Jamal orang yang agak lebay di kalangan keluarganya untuk menarik perhatian.
"Sudah ku bilang orang-orang itu yang bodoh membicarakan kakak kita yang tidak-tidak, mereka saja tidak tahu kalau kakak berbakat jadi montir" tambah Adnan.
Mereka kagum dengan kemampuan Shaina yang bisa memperbaiki barang elektronik yang rusak, sampai-sampai Sahir menyarankan untuk membuka bisnis bengkel biar menambah penghasilan mereka, dan Shaina sebagai montirnya. Tentu saja usulan tersebut di teriakin oleh adik-adiknya yang lain karena dianggap tidak adil jika kakak mereka harus jadi montir.
Beda lagi dengan Rina, adik sepupu mereka yang menyarankan nama bengkel mereka berjudul montir cantik mencari jodoh di bengkel.
"Dasar kau Rin, korban FTV sih kamu!" Timpal Abang sepupunya pada Rina.
Rina dan yang lain ikut tertawa, bahkan Shaina ikut tersenyum melihat tingkah mereka semua yang mengingatkannya pada anak-anak.
__ADS_1
"Alfan, Alice, semoga kalian bahagia disana, Mama merindukan kalian" batin Helena