Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Semakin terpesona


__ADS_3

Tubuh Darrell yang lunglai memasuki rumah dua lantai yang dari luarnya terlihat bagaikan istana, dengan pilar-pilarnya yang menjulang tinggi memperlihatkan ke kokohannya.


Langkah kakinya terhuyung-huyung tanpa arah yang jelas akibat berpesta semalam suntuk, aroma alkoh*l menyeruak keluar dari mulutnya, belum lagi penampilannya yang kusut, dimana elegan dan wibawanya yang biasanya telah hilang.


"Hai Mam!!" Seru Darrell, melambaikan tangannya pada seorang wanita yang berjalan kearahnya.


PLAKKK!


Sebuah tamparan dilayangkan wanita itu ke pipi Darrell, hingga membuatnya meraba pipinya yang memerah.


"Dasar anak tidak tahu diri!! Apa begini kelakuanmu diluar sana!! Main dengan wanita murahan itu lagi, coba Ervian masih hidup, kau pasti sangat mudah di singkirkan jika begini terus!!" Sembur Nyonya Rossie.


"Tapi dia sudah mati dan Darrell yang menang sekarang..." Gumam Darrell.


"Iya, dia sudah mati itu karena aku sendiri yang bertindak sedangkan kau tidak bisa diharapkan! Kerjaanmu hanya tahu bermain-main dengan wanita murahan itu!!!" Timpal Nyonya Rossie.


Darrell masih menggosok-gosok pipinya yang terasa perih.


"Mami, kali ini Darrell pasti bisa buat Joon hancur" ucap Darrell.


PLAKK!


Tangan nyonya Rossie kembali melayang di pipi Darrell.


"Aku tidak mau Joon hancur, tapi yang ku inginkan dia menghilang dari muka bumi, dan satu-satunya nama yang tercatat sebagai pewaris Calista groups hanya aku!" tekan Nyonya Rossie dengan berbisik pada putranya.


"Tapi mam, Darrell tidak mau masuk penjara" ucap Darrell.


Nyonya Rossie tersungging, "jadi kau menginginkan aku yang bersalah?".


Darrell menggelengkan kepalanya, "tidak mau, mami satu-satunya yang Darrell miliki dan peduli sama Darrell" sahut Darrell.


"Bagus putraku, buktikan jika kau berguna bagi Mamimu ini, cuma aku yang benar-benar sayang padamu" nyonya Rossie mengelus-elus rambut putranya.


Setelah itu, nyonya Rossie pergi meninggalkan Darrell yang mendengus kesal.


Darrell masuk ke kamarnya dan melemparkan jasnya ke segala arah, sebelum masuk kedalam kamar mandi.


Dalam decuran air shower yang membasahi tubuhnya lalu menghilang dalam saluran pembuangan, Darrell terus berdecak kesal.


"Sialan kau Joon!! Gara-gara kau masa kecilku buruk, semua orang berputar padamu seakan-akan kau porosnya dan mengabaikan ku, kali ini kau akan merasakan hal yang sama dengan ku dulu" sebuah tinju mendarat di cermin hingga retak, darah bercucuran di sela-sela jarinya.


Setelah memperbankan tangannya, Darrell merebahkan tubuhnya di ranjang yang super empuk itu, ia tersenyum-senyum sendiri membayangi senyum Helena yang tentunya adalah sosok Shaina.


"Helena, aku tidak menyangka kau sekarang sangat manis kau juga perhatian..." Senyuman Darrell terus mengembang seiring bayangan Shaina menyapa pandangan matanya.


*****



Hubungan Shaina dan Joon semakin berjarak, tidak sekalipun mereka saling menyapa, meskipun Shaina penasaran kenapa Joon kemarin pulang cepat tidak seperti biasanya. Daripada makan di ruang makan, Joon lebih memilih membawa makanan ke dalam kamar dan mengunci diri di kamar, sembari sibuk dengan layar laptopnya.


"Ma, apa Paman masih marahan sama kita?" Tanya Alfan.


"Iya Ma, paman tidak lagi seru, dan tidak mau bermain lagi dengan kita padahal kita tinggal serumah" tambah gadis imut nan cantik itu.


Sesaat Shaina terdiam karena ia sendiri tidak tahu mengapa mereka bisa sejauh itu sekarang, hubungan yang dulu kini sudah berjarak.


"Mungkin paman lagi capek aja, kita jangan ganggu dulu ya" ucap Shaina.


"Iya Ma" sahut mereka.


Shaina beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar Joon.


Tok-tok!


Shaina mencobanya mengetuk pintu, berharap ada hal baik hari ini, ia merasa tidak nyaman jika mereka bersama tapi saling mendiamkan satu sama lainnya.


"Joon...! Joon, kau baik-baik saja di dalam?" Tanya Shaina, beberapa menit tidak ada respon dari Joon, "Alice dan Alfan menanyakan mu, apa kau juga membenci mereka?" Lanjut Shaina.


Tok! Tok! Tok!


"Joo-"


CEKLEK!


Suara gagang pintu terbuka dan Shaina sangat kaget melihat Joon di depannya.

__ADS_1


"Ada apa?" Ketus Joon.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Shaina, sepasang mata birunya terlihat berbinar-binar di depan Joon.


"Tidak" sahut Joon.


"Tidak? Kenapa?" Tanya Shaina.


"Di pecat mana bisa bekerja" dengus Joon.


"Ta-tapi bagaimana bisa di pecat?" Gumam Shaina, dan segera diam saat mendapati ia sedang di perhatikan oleh Joon.


Mendadak Shaina cengengesan pada Joon yang membuatnya laki-laki itu heran.


"Kenapa? Ada yang lucu aku di pecat?" Timpal Joon.


Shaina menggeleng kepalanya sambil berusaha tenang meskipun ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya yang kembali mengobrol dengan Joon.


"Aku pengangguran sekarang berarti kita tidak punya uang" ucap Joon, ia mengangkat salah satu alisnya.


"O...oooh, kalo gitu kamu keluar yuk jangan di dalam kamar terus, Alice dan Alfan pengen main tuh sama kamu" ujar Shaina.


"Aku tidak bisa" ucap Joon.


"Oh gitu..." Gumam Shaina, membalikkan badannya.


Namun tanpa diduga Joon menutup pintu dengan membantingnya sehingga cukup mengejutkan mereka.


Diwaktu bersamaan bel pintu berbunyi, Alice cepat-cepat berlari untuk membuka pintu.


"Paman Darrell...?" Seru Alice saat membuka pintu.


"Alice sayang!" Darrell menggendong Alice dan dibawanya masuk.


Darrel kembali bertamu ke rumah Joon seakan itu sudah jadi rutinitasnya untuk bertemu mereka.


"Mama mana?" Tanya Darrell, matanya berpencar mencari sosok perempuan itu.


Shaina yang berdiri di depan pintu kamar Joon segera menghampiri Darrell.


Shaina tersenyum "mana mungkin aku tidak ada di rumah jika anak-anak di rumah" sahut Shaina.


Darrell menurunkan Alice dari gendongannya dan duduk di sebelah Alfan lalu di susul Shaina untuk duduk juga.


"Kita keluar yuk" ajak Darrell.


"Emm..., Ku rasa kami tidak bisa, aku sedang ingin di rumah saja" sahut Shaina.


Apapun yang terjadi Shaina bernekat tidak akan keluar rumah hari ini karena Joon di rumah dan tidak kemana-mana.


"Ayolah... Memangnya kamu enggak bosan di rumah terus? Anak-anak juga pasti mau bermain di luar" rayu Darrell.


Shaina kehabisan kata-kata untuk menolak ajakan Darrell apalagi ia tidak mau keseringan bertemu dengan lelaki itu yang bisa-bisa membuat hubungannya dengan Joon semakin menjauh.


"Paman Joon?" Seru Alfan yang ternganga melihat sosok yang keluar dari kamar.


Setelan jas hitam yang di padu kemeja putih dan dasi melingkari lehernya, memperlihatkan kegagahan dan ketampanannya semakin memukau Shaina, hingga tidak sadar mulutnya ternganga dan mata terbelalak melihat Joon yang tidak jauh berbeda dengan Darrell.


Sontak Darrell berdiri dari duduknya, membuat mereka saling bertatap muka dengan mata yang menyala dalam diam seakan sedang bersiap untuk bertarung.


Suasana mencekam terasa sangat jelas bahkan Shaina jadi khawatir melihat mereka.


Joon berbahu ke pintu dan beberapa langkah kemudian dia berhenti dengan berkata, "jika mau keluar silahkan, aku juga punya urusan penting" ucap Joon mengangkat tangannya.


Melihat Joon keluar rumah dengan menggunakan jas formal membuat Darrell curiga dan langsung mengirimi pesan singkat pada orang-orangnya untuk mengawasi Joon.


"Kayaknya seru jika keluar" ucap Shaina.


"Benar Ma, Alice juga pengen jalan-jalan" tambah Alice.


"Kalau gitu ayo kita pergi...!" Seru Darrell dengan gaya anak kecil.


Shaina tersenyum tipis sinis dengan mata yang menyipit dan mengerling Darrell.


Bukan Darrell namanya jika tidak membuat sesuatu yang memukau untuk menarik perhatian Shaina, ia membawa anak-anak ke tempat bermain anak-anak dimana mereka bisa seru-seruan, naik perosotan dan berenang dalam bola-bola, sedangkan ia bisa menikmati waktu bersama Shaina, menceritakan sesuatu yang seru, tertawa bersamanya dan memberinya berbagai hadiah.


Mulai dari tas branded, kue yang enak dan masih banyak lagi yang telah di sediakan sebelumnya olehnya, tapi dari sekian banyak barang yang di berikan, tidak satupun di terima oleh Shaina. Ia tidak mau gara-gara barang pemberian Darrell ia semakin di benci oleh Joon.

__ADS_1


Karena Darrell merasa tidak mampu membuat Shaina terkesan, ia sengaja menyuruh anak buahnya untuk mereservasi di salah satu restoran terbaik karena ia ingin mengajak Shaina dan anak-anaknya ke tempat tersebut.


Lelah bermain, mereka di ajak ke salah satu restoran berkelas, membuat Shaina cukup terkejut karena suasananya sangat lengang daripada restoran kebanyakan yang pernah ia datangi, suasana romantis sangat terasa, namun ia malah membuat Shaina merindukan sosok Joon yang kerap membuatnya berbunga-bunga.


Disela-sela menikmati santapan mereka, Darrell terus memperhatikan Shaina sambil tersenyum-senyum, itu membuat kepercayaan Shaina menurun apalagi yang memperhatikan adalah lelaki tampan, rahang tegasnya yang tumbuh jambang cukup mempertegas bahwa ia sosok yang kuat dan tegas, meskipun begitu Shaina lebih suka berlama-lamaan menatap Joon.


"Darrell?" Seru seorang perempuan yang menghampiri Darrell dan Shaina yang sedang bersama anak-anak.


Darrell yang merasa terpanggil langsung menoleh pada perempuan tersebut yang juga sedang bersama lelaki.


"Marissa? Kamu disini juga?" Ucap Darrell pada perempuan itu yang merupakan Marissa.


Marissa tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Darrell, "tidak ganggu kan kalo kami gabung?" Tanya Marissa sambil melirik Shaina.


"Apaan sih kamu Ris?" Timpal lelaki di sebelahnya.


"Silahkan" sahut Darrell.


"Tuh! kamu dengarkan Joon, Darrell saja tidak masalah" celetuk Marissa pada Joon yang datang bersamanya.


Marissa menarik bangku untuk tempat duduknya begitu juga dengan Joon, yang perhatiannya tertuju pada Alice, Alfan dan Shaina yang merunduk wajahnya daripada Joon.


Mendadak Shaina bad mood mengetahui Joon berpakaian rapi hanya untuk berkencan dengan Marissa, ia tidak mau melihat kemesraan pasangan itu yang ia tahu mereka sudah berpisah sebelumnya jadi Shaina berpura-pura sedang menikmati sajiannya.


"Lama tak bertemu, Helena?" Celetuk Marissa yang mengagetkan Shaina.


Shaina mengarahkan pandangannya pada perempuan itu, "hah! Hmm... Iya" sahut Shaina yang kebingungan.


"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Darrell.


"Emm... Ya gitu deh, karena aku kan pacar adik iparnya" tukas Marissa mengangkat bahunya dengan bibir yang tertarik tipis.


Shaina juga tersenyum meski hatinya terluka saat Marissa menyebutnya sebagai iparnya Joon sedangkan dia kekasihnya, Shaina kembali menurunkan wajahnya. Berbeda dengan Joon, tampak serius memandangi Shaina yang murung.


"Ngomong-ngomong mana tuh kekasihmu? Sudah lama kami tidak berjumpa" tanya Marissa pada Darrell.


"Katanya bentar lagi tiba" sahut Darrell.


"Baguslah, ku kira kau melupakan Gladys hanya karena ingin makan bersama nona Helena, bukankah begitu prof. Helena?" Ketus Marissa.


Shaina terperanjat kaget dan melihat kearah Marissa.


"Apa-apaan kau?" Timpal Joon pada Marissa.


Darrell terkekeh kecil lalu diam sembari bola matanya pada Joon dan Shaina secara bergantian.


"Sayang!" Seru seorang wanita cantik dan seksi.


Marissa dan Darrell tersenyum lebar pada perempuan berbibir menggoda dengan lipstik merah menyalanya itu yang kontras dengan kulit putih bersihnya, tubuhnya yang elok dipandang dan mampu mengundang mata para lawan jenis untuk tertuju padanya, siapa lagi kalau bukan Gladys.


Ketukan sol high heels hitamnya berirama dengan langkahnya yang berkelok-kelok bak seorang model sedang berada di red karpet, Gladys langsung menghampiri Darrell dan memberinya ciuman bibir hangatnya lalu ia memeluk Marissa. Mereka sempat heboh layaknya sahabat yang bertemu.


Namun, ada yang berbeda dengan Shaina, tertegun melihat Gladys, bukan karena ia terpesona akan keseksiannya melainkan ia seperti pernah melihat perempuan itu di suatu tempat.


Shaina memaksa ingatannya untuk memutar kembali memori-memori yang sempat tertangkap oleh matanya.


"Helena, kenalkan dia Gladys" ucap Darrell yang mengagetkan Shaina dari pikirannya.


"Gladys" ucapnya, mengulurkan tangannya ke depan Shaina.


"Helena" balas Shaina dengan menyambut tangan Gladys.


"Wow! Kalian romantis sekali" seru Gladys pada Joon dan Marissa yang sejak tadi merangkul tangan Joon.


"Terima kasih, kami memang selalu romantis, karena Joon tidak bisa jauh-jauh dariku, bukankah begitu sayang?" Tidak henti-hentinya Marissa memamerkan senyumnya dan melihat Joon dengan cara yang seksi.


Joon tidak bereaksi dengan apapun yang dikatakan Marissa, karena perhatiannya teralihkan pada anak-anak yang sejak tadi memperhatikannya dengan kekecewaan, walaupun Joon tidak tega melihat mereka tapi ia juga tidak mau mengacaukan rencananya hari ini dan cuklma Joon saja yang tahu persis apa rencananya itu.


Di lain pihak, Shaina tampak sangat memperhatikan gerak-gerik Gladys yang masih memenuhi kepalanya, mulai dari gerak bibir gaya bicaranya, bahasa tubuhnya sampai cara ia melihat orang lain.


DEG!


Tiba-tiba jantung Shaina seperti ingin meledak bak sebuah bom waktu ketika kilatan ingatannya melintas di otaknya, ia baru teringat pada perempuan yang pernah ia temui di toilet ketika mereka di tempat ice skating.


Perempuan itu adalah Gladys, dengan cepat Shaina memperhatikan Darrell yang merupakan kekasih Gladys.


"Ya Tuhan, jangan-jangan mereka ini..." Batin Shaina

__ADS_1


__ADS_2