
"Aku bukan orang itu, kita bahkan tidak saling kenal sebelumnya" ucap Shaina.
"Harus berapa banyak lagi bukti yang kau inginkan? Lihatlah putrimu" Joon mengarahkan pandangannya pada Elif yang tertidur pulas, "dia memang bukan darah dagingmu tapi kalian pernah berbagi rasa bahkan kalian berbagi detak jantung bersama, kalian pernah berada dalam satu tubuh, kau pernah mengandungnya selama enam bulan hingga kau melahirkan Elif yang selalu kita tunggu" papar Joon.
"Bagaimana bisa kau bicara seperti ini?" Tanya Shaina.
Sreeg!
Dengan cepat Joon mencium bibirnya hingga sangat tercengang melihatnya, pada awalnya hanya sekedar ciuman biasa dan lama-kelamaan Joon semakin agresif dan bergairah melakukannya. Tangan Shaina mendorong Joon dengan kuat tapi berhenti setengah jalan, tangannya juga tidak ragu-ragu berpegangan di pinggang Joon seakan tidak mau melepaskannya.
"Kenapa ini? Apa yang terjadi denganku?" Batin Shaina
Waktu terus berlalu tapi Shaina tenggelam dalam kenikmatan bercumbu yang penuh sensasional dibawah cahaya remang-remang lampu didepan rumah sakit. Ciuman yang hanya pernah di lihatnya dalam mimpi dulu kini menjadi kenyataan bahkan terjadi dengan orang yang di mimpinya juga.
Joon seperti orang kelaparan yang menganggap Shaina sebagai makanannya sehingga ia melahapnya dengan penuh semangat.
Perlahan-lahan Joon mengakhiri ciuman panas itu, menyeka bibir Shaina dengan lembut, dan memandang mata Shaina yang kembali terbuka, seutas senyuman tipis muncul di bibir Joon.
"Kau masih sangat manis seperti dulu, terima kasih sayang, aku mencintaimu..." Desas Joon pada Shaina yang mematung.
Shaina tidak menyangka ciuman pertamanya di berikan untuk sosok yang ada di mimpinya dan ciuman itu terasa sangat manis seakan ia sudah sering mendapatkannya.
Sekali lagi Joon mengecup kening Shaina dengan lembut sembari mengucapkan, "aku sangat mencintaimu sayang, pulanglah ke rumah kita bersama ku dan jadilah penyihirku satu-satunya untuk selamanya, jangan biarkan aku menderita lebih dari ini".
"Ayah dan ibuku pasti sedang menunggu kita, mereka juga mencemaskan Elif" ujar Shaina.
Joon mengangguk dan menyalakan mesin mobil, tak lama kemudian mereka sudah menjauh dari lokasi rumah sakit.
Sepanjang perjalanan hanya ada kesunyian dan keheningan, tak seorangpun dari mereka memulai percakapan hingga tiba di rumah Shaina.
Semua orang langsung menyambut kepulangan mereka, tak terkecuali si kembar yang khawatir dengan keadaan adik mereka. Sesuai yang dikatakan dokter, Joon memberitahu mereka kondisi Elif yang hanya panas biasa setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari.
Shaina kembali menidurkan Elif di tempat tidurnya lalu menyusul Joon yang berpamitan, walaupun ia agak canggung dilihat oleh keluarganya dimana ia mulai terlihat akrab dengan Joon.
"Terima kasih sudah datang" ucap Shaina, terlihat jelas kegugupannya saat berhadapan dengan Joon setelah kejadian tadi.
Joon berbalik badan tersungging pada Shaina yang berdiri di pintu, "untuk apa? Untuk menemui Elif? Elif itu putriku ya jelas aku akan selalu datang untuknya, atau untuk menepati janji tadi malam saat kita video call, jika soal itu... Ku rasa kau memang harus berterima kasih" celetuk Joon.
"Apa maksudmu?" Shaina bingung dengan perkataan Joon.
Joon mendekat dan celingak-celinguk, memeriksa kondisi di sekitar mereka, "aku yang berterima kasih karena kau memberikan ciuman yang kau janjikan tadi malam" Joon menarik pinggang Shaina hingga menyentaknya ke dekapannya, "jika kau mau, kita bisa melakukannya lagi sekarang" bisik Joon yang beradu pandang dengan Shaina.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku nanti ada yang lihat!" Bisik Shaina dengan memekik pada Joon.
Joon sengaja berdiri dibelakang pintu agar tidak ada yang dapat melihat mereka.
"Aku heran dengan orang-orang yang mencibirmu di pesta adik Fahri kemarin, mereka mengatakan kau kuno dan tidak cantik, tapi tahukah sayang? di mataku kau terlihat seperti ciptaan Tuhan yang sempurna, setiap saat aku berada didekat mu seakan aroma tubuhmu memanggilku untuk menikmatinya" gumam Joon.
"Cepat lepaskan aku! Jangan rayu aku lagi".
"Aku tidak merayu, tapi itulah kenyataannya, aku juga ingin menginap bersamamu sayang" lirih Joon dengan mengangkat dagu Shaina kearahnya.
"Shaina..." Seruan pak Rahmat dari dalam rumah yang mengejutkan Shaina.
__ADS_1
"Ya ayah" sahut Shaina.
Refleks mengecup bibir Joon dengan berjinjit lalu mendorong Joon ke belakang.
"Pergilah!" Bisik Shaina dan langsung masuk kedalam rumah.
Joon tersungging dan berbalik badan menuju ke mobilnya.
Shaina sangat malu dengan apa yang baru ia lakukan pada Joon dan ia langsung hendak masuk ke kamarnya.
"Shaina..." Ucap pak Rahmat pada Shaina sesaat sebelum Shaina masuk ke kamarnya.
"Iya yah, dia sudah pulang aku sudah menyuruhnya pergi" tukas Shaina.
"Aku tidak menanyakan tentang Joon, aku cuma mau ingin menanyakan dimana peci ku kau letakkan" ujar Pak Rahmat.
Shaina mengerjap dan cengengesan pada ayahnya karena salah sangka.
"Ayah ini apaan sih nanya peci sama Shaina, peci ayah tuh di rak buku, Mak yang pindahkan karena tadi diambil oleh Elif" ketus Bu Yani lalu menyuruh Shaina masuk untuk tidur.
Sebelum berbaring di tempat tidur, Shaina menyempatkan untuk mengecup dua putrinya itu, membuatnya tersenyum-senyum sendiri dan saat menarik selimut ia sangat kaget melihat dua kancing piyamanya yang terbuka. Sehingga gunung kembar indahnya yang terselebung bra merah berenda itu terlihat cukup seksi dan menggairahkan.
Shaina bisa bernafas lega karena saat di rumah sakit ia memakai kerudung dan di rumah pun tadi ia tidak berhadapan dengan siapapun bahkan dengan ibunya tidak berpapasan langsung, tapi saat keluar menemui Joon dia lupa memakai jilbabnya dan malah berdiri dengan santainya didepan Joon.
"Ya ampun... Bodoh-bodoh sekali aku! Pantas saja dari tadi matanya kesini terus" ringis Shaina sambil memukul-mukul kepalanya.
Mengingat-ingat kembali sudut pandang Joon yang mengarah padanya dan sesekali tersenyum dan tampak melirik ke dadanya, bahkan saat Joon mendekap pinggangnya, seakan lelaki dengan sengaja ingin melihatnya lebih jelas lagi.
Itu menyebabkannya semakin kesal pada Joon yang tidak memberitahu kecerobohan dirinya itu.
Suara ayam jantan berkokok lantang hingga membangunkan orang-orang dari tidur mereka, termasuk Shaina, dimana ia merasa ada seseorang yang meraba-raba dadanya dan saat membuka matanya terlihat Elif yang sudah bangun dan duduk di sampingnya.
"Mama... Elliiss cium Mama" ucap anak itu, tangan kecilnya bermain dengan bebas di perbukitan indahnya lalu menciumnya satu-persatu, "Mama wangiii" lanjut balita itu sambil tersenyum.
Bukannya marah, Shaina malah merasa geli dengan tangan mungil itu memegang bagian tubuhnya itu.
"Kau pasti kangen dengan Mamamu ya?" Shaina tersenyum lalu mengecup bibir mungil Elif, "jangan-jangan semalam kamu yang buka kancing bajuku ya?" Lanjut Shaina.
Elif tertawa pada Shaina, "Papa juga kangen cama Mama..." Gumam Elif.
Shaina berbalik badan dan membaringkan tubuh Elif dan diciumnya sekujur tubuh si imut itu hingga ia terkekeh geli dengan aksi Shaina itu.
"Jadi benar kamu pelakunya? Dasar ya kamu si licik imut, mentang-mentang Papa kamu itu tampan seenaknya main buka-buka punya aku, kamu memang jahil sekali ya" ucap Shaina yang tidak henti-hentinya membuat gadis kecil itu tertawa hingga membangunkan Alice di sebelahnya.
Mendadak Alice juga ikut bercanda dengan Shaina dan Elif.
"Hallo Pa, kami baru bangun tidur, Papa bagaimana sekarang?" Tanya Alice yang melakukan video call kembali dengan Joon.
Sontak Shaina terkejut dengan aksi Alice yang sengaja memperlihatkan dirinya sedang berpelukan dengan Elif. Terlihat jelas Joon semringah meski baru membuka matanya.
"Papa... Udah banyun?" Tanya Elif yang duduk dalam pelukan Shaina.
"Sudah sayang, kamu dan kakakmu pasti gangguin tidur Mama ya?" Ucap Joon.
__ADS_1
Alice memberikan HP-nya pada Shaina dan mengambil Elif dari pelukan Shaina.
"Mama silahkan gangguin Papa tidur ya, Alice dan Elif mau gangguin Alfan dan paman-paman dulu" celetuk Alice pada Shaina yang terbengong, sedangkan Joon malah tertawa lepas dengan tindakan putrinya itu.
Alice membawa Elif keluar dari kamar Shaina dan memasukkannya kedalam kamar Adnan dan Jamal yang tidur bersama Alfan, lalu gadis riang itu pergi ke dapur saat melihat Bu Yani sedang sibuk di dapur.
"Jangan melamun" celetuk Joon.
"Hah?!" Ucap Shaina.
"Hei sayang, jangan buat pagi ku bersemangat seperti ini sudah cukup tadi malam sekarang cepat kancingin baju mu jika tidak mau aku mendadak masuk ke kamarmu" ketus Joon sambil tersenyum lebar pada Shaina.
Saat mengetahui ternyata bajunya masih terbuka Shaina tampak malu sekali dengan Joon, dan secepatnya menarik selimut sampai ke dadanya untuk menutupi gunung kembarnya yang terekspos indah.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh! Ini ulah Elif tahu!" Pekik Shaina.
"Iya-iya aku percaya kok, karena sayangku masih sangat polos seperti dulu saat malam pertama kita melakukan itu" Joon terkekeh.
Mendadak pipi Shaina merona dan menerka-nerka apa yang dimaksud Joon dengan mengatakan saat malam pertama melakukan itu, tapi Shaina masih mengendalikan diri dengan tetap terlihat jutek.
"Sayang? Memangnya aku sayangnya kamu apa?" Dengus Shaina.
"Ya tentu, kalau enggak mau, aku akan datang ke sana dan mengsayang-sayangi kamu agar jadi sayangku" tukas Joon.
"Kalau gitu cepatlah, ku berikan waktu lima menit untuk sampai ke sini maka kau bebas melakukan apa saja yang kau mau".
"Benarkah?" Joon menyungging.
"Tentu, tapi dalam lima menit harus berada di depanku, kita bisa melakukan apa saja atau mungkin.... kita bisa mandi bersama setelahnya" bisik Shaina dengan mengedipkan matanya seperti yang sering dilakukan Joon padanya.
Joon tersungging, "kau menantang ku rupanya".
"Hidup ini harus ada tantangan agar lebih seru" balas Shaina, sekarang menggigit bibirnya dengan gaya menggoda.
"Papa? Papa masih disini?" Terdengar suara Alice di sebelah Joon.
Shaina tersentak dan segera bangkit dari tidurnya, ia berlari ke pintu depan rumahnya dan sangat terkejut melihat mobil Joon masih di halaman rumahnya.
Shaina mematung dan bergidik ngeri dengan apa yang baru ia janjikan barusan, apalagi Joon keluar dari mobilnya dan melambaikan tangannya sambil tersenyum pada Shaina.
"Hai sayang, aku tepat waktu kemari lah" ujar Joon.
Perlahan Shaina juga mengangkat tangannya sembari bergumam, "hai..."
"Papa...." Seru Elif yang berlari di belakang Shaina.
Karena malu Shaina langsung menurunkan tangannya karena Joon tidak menyapanya melainkan Elif dan Alfan yang berada di belakangnya.
"Ada yang di landa dua pilihan sekarang, antara calon suami atau mantan suami" bisik Sahil yang tiba-tiba muncul di belakang Shaina.
"Kalau aku sih pilih mantan suami yang sudah jelas tahu aib Kakak" sela Adnan.
"Hussshhh!" Dengus Shaina yang meninggalkan adik-adiknya, ia kembali ke kamarnya.
__ADS_1
Didalam kamar, Shaina menyembunyikan diri dibalik selimut, karena terlalu malu dengan Joon.