Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Mencari mangga muda


__ADS_3

Dari kejauhan terlihat lampu terang yang berasal dari sebuah mini market, itu membuat Shaina dapat bernafas lega karena ia menemukan tempat keramaian dan akan berakhir ketakutannya.


"Helena!"


panggilan itu semakin jelas terdengar yang juga diimbangi dengan derap langkah mendekatinya.


"Maaf-maaf Helena! Jangan takuti aku!" pekik Shaina yang menutupi telinganya dengan kedua tangannya.


Mendadak tangannya ada yang menariknya, "Helena! Ini aku!".


Shaina membuka matanya dan melihat Joon berdiri di depannya. Spontan Shaina memukul dan mendorong Joon ke belakang.


"Apa-apaan ini?" Pekik Joon.


"Pak Joon?" Shaina mengerjap, "benarkah ini anda?" Tanyanya.


"Memangnya siapa lagi yang akan mencari mu malam-malam begini?" Ketus Joon.


Shaina tersungging melihat Joon berdiri di depannya.


"Jangan lihat aku seperti itu!" Joon memalingkan wajahnya dari Shaina, "kenapa kau pergi begitu saja setelah mendapat uang?" timpal Joon.


"Lalu bagaimana lagi? Aku tidak bisa menunggu lagi, aku benar-benar ingin makan mangga sejak tadi pagi" gumam Shaina.


"Huuufff! Ayo kita pergi!" ajak Joon.


"Tidak mau, aku mau mangga!" Tekan Shaina.


"Di sini tidak ada kita kesana saja" Joon mengangkat dagunya ke ujung jalan yang terdapat supermarket lain.


"Kalau begitu ayo kita pergi! Aku tidak sabar memakannya" seru Shaina yang berjalan duluan di depan Joon, lalu ia berhenti dan berbalik badan. "Bagaimana dengan Alice dan Alfan? Mereka berdua saja di rumah"


"Jangan cemaskan mereka, aku sudah mengatakan aku keluar denganmu dan menyuruh mereka mengunci pintu" ujar Joon.


Shaina kembali melanjutkan perjalanan dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Joon mengatur langkahnya untuk beriringan dengan langkah Shaina, sesekali ia melirik perempuan di sebelahnya, memperhatikan setiap detail gerak-gerik Shaina, dari cara berjalan dan tersenyum juga cara melihat bahkan hal lainnya itu sangat berbeda dengan kakak iparnya yang ia kenali meski tubuh dan wajah yang sama tapi ada perbedaan signifikansi.


Helena yang dulu perempuan yang tegas dan terarah tapi Helena didepannya sekarang, perempuan yang manis dan suka tersenyum, tatapannya juga terasa lembut.


"Shaina" ucap Joon.


Shaina berhenti dan melihat Joon sambil tersenyum lebar juga mengangguk-angguk kecil, dan tidak tahu apa yang harus dikatakan karena ia merasa sangat senang ada yang memanggil namanya.


"Itu namamu?" Tanya Joon


Shaina tersenyum dan mengangguk-angguk, "Shaina Hafizah" kata Shaina.


"Pasaran sekali namamu juga agak kampungan" celetuk Joon yang ikut tersungging.


Shaina memencingkan matanya pada Joon, "Bapak sendiri bagaimana?" balas Shaina.


Joon melihat Shaina dengan ekor matanya dengan mengerucutkan bibirnya, Joon menyorongkan tangannya, "Joon Rafardhan, panggil saja Joon jangan pake bapak atau tuan, memangnya aku terlihat seperti bapak-bapak?".


Shaina mengangguk dan terus berjalan.


"Kau sangat suka makan mangga ya?" Tambah Joon.


Shaina menggeleng kepalanya, "Aku tidak suka mangga atau buah-buahan asam"


"Lalu? Kenapa sekarang kau mau makan mangga bahkan malam-malam begini kau mau mencari mangga?" Tanya Joon.


"Bukan aku yang mau makan mangga tapi karena ini!" Shaina menunjuk pada perutnya mengelusnya.


Joon melirik kearah Shaina dan bagian yang ditunjuk, "Maksudmu kamu ngidam?" Tanya Joon.


Shaina mengangguk lagi sambil memalingkan wajahnya karena malu. Joon terkejut dan lupa kalau Helena hamil.

__ADS_1


Tiba di supermarket Joon langsung mengajak Shaina ke bagian penjualan buah-buahan, mencari mangga dari deretan buah-buahan, tapi ia tidak menemukan mangga muda kecuali yang sudah matang.


"Tidak ada" ucap Joon.


Joon melihat Shaina tampak sangat kecewa bahkan terlihat jelas matanya berkaca-kaca seperti ingin menangis.


"Ayo kita kesana!" Ajak Joon ke rak buah-buahan yang di dipacking dan juga sudah di kupas.


Joon mengambil satu kotak mangga itu lalu membayarnya sambil menanyakan, "Nona, ada stok mangga muda enggak?"


"Maaf, kami tidak punya stok mangga muda tapi yang udah matang ada" sahut kasir.


"Kalau boleh tau dimana ya yang jual mangga muda?" Tanya Joon lagi.


"Maaf pak, saya tidak tahu" sahut kasir itu lagi.


Joon membayar mangga yang sudah di bungkus itu dan langsung membukanya saat mereka di luar untuk di cicipi oleh Shaina.


Shaina mengambil irisan mangga dan memakannya, "Ini tidak enak, aku mau mangga yang masih muda" gerutu Shaina.


"Aku harus apa? Aku tidak tahu harus mencari mangga malam-malam begini" timpal Joon.


"Siapa yang salah? Padahal kalau tadi siang dicariin pasti ketemu" ketus Shaina.


"Kau menyalahkan ku?" Timpal Joon.


Shaina mengerutkan alisnya dengan bibinya mengecil dan menundukkan kepalanya.


"Permisi..." Sela seorang ibu-ibu yang tiba-tiba muncul di belakang mereka Shaina.


Nyonya Bianca?" Ucap Joon, Shaina juga ikut melihat ke wanita tersebut dengan menghilangkan cemberutnya.


"Kalian cari mangga muda ya?" tanya Nyonya Layla.


Joon dan Shaina saling memandang lalu mengangguk berbarengan.


"Benarkah? Aku mau" sembur Shaina.


Nyonya Layla terkekeh melihat Shaina yang tampak antusias, "kalau begitu kalian bisa datang ke rumahku" sambungnya.


Shaina melempar pandangannya pada Joon yang diam, Nyonya Layla juga ikut memperhatikan sikap mereka dimana Joon terlihat tidak tertarik meski Shaina memasang wajah memohonnya pada lelaki itu.


Berpikir sejenak hingga Joon berkata, "Baiklah, ayo kita pergi, aku akan mencari taksi".


"Tidak perlu, aku datang dengan ayahnya Harris, kalian bisa naik mobil kami" sambung Nyonya Layla.


Wanita paruh baya itu mengajak mereka ke mobil yang terparkir di depan supermarket itu, didalamnya sudah ada suaminya yang menunggu Nyonya Layla berbelanja.


Selang beberapa menit mereka sampai di rumah Nyonya Layla, benar seperti yang dikatakan olehnya sebelumnya di rumahnya ada mangga yang ditanam di tempat khusus dengan perawatan istimewa, walau pohonnya tidak besar maupun tinggi tapi dengan perawatan istimewa pohon itu menghasilkan buah yang cukup lebat.


Pak Herman suami Nyonya Layla yang merupakan berdarah asli Indonesia suka sekali dengan mangga jadi tidak heran bila dirumahnya banyak di tanami pohon mangga yang selalu ia rawat dengan baik.


Pria paruh baya itu menerangi cabang mangga dengan senter ponselnya, memperlihatkan mangga kesayangannya yang berbuah lebat itu.


"Waah...! Sangat banyak sekali!" Seru Shaina yang kagum dengan buah mangga yang lebat itu, beberapa kali pak Herman dan nyonya Layla menangkap Shaina sedang mendesis pada saat melihat mangga muda.


"Kalian bisa ambil berapapun yang kalian mau" kata pak Herman.


"Terima kasih Pak" kata Joon. Lalu ia memetik dua buah mangga yang masih muda sesuai keinginan Shaina.


"Joon...?" Ujar Harris yang tiba-tiba keluar dari rumah karena melihat orang tuanya mengobrol dengan seseorang dekat pohon mangga.


Joon menoleh pada asal suara itu.


"Kenapa kamu disini malam-malam?" Tanya Harris.

__ADS_1


"Mau minta mangga" jawab Joon.


Harris melihat Helena merunduk sopan dan ditangannya memegang mangga.


"Oh yang itu belum matang enggak enak rasanya, ibu punya yang sudah matang di kulkas, aku ambilkan ya" kata Harris.


"Enggak usah, kami cari juga mencari yang masih muda" sahut Joon.


"Tapi itu tidak enak" kata Harris lagi.


Nyonya Layla tersenyum melihat Shaina yang terus menghirup aroma buah mangga, ia terlihat tidak sabar untuk memakannya. Sesekali ia juga terlihat sedang memijat kakinya yang kelelahan berjalan kaki dari rumah ke supermarket.


"Kalian masuk dulu sebentar" kata nyonya Layla.


"Enggak usah bu, kami pulang dulu" sahut Joon.


"Tidak Joon, istrimu harus istirahat dulu kasihan kakinya itu pegal-pegal tuh karena sering berjalan" sambung nyonya Layla.


Joon dan Shaina kaget, mereka saling berbagi pandangan dan memang Shaina terus mengguncang kakinya yang pegal-pegal.


"Maaf Nyonya, saya belum menikah" sela Joon.


"Oh! Pergaulan anak muda sekarang memang agak berbeda, hehehe..." Nyonya Layla cengengesan pada mereka berdua dan pak Herman ikut tersenyum.


Joon terkejut mendengar perkataan nyonya Layla, Shaina juga tampak tidak nyaman dengan pemikiran nyonya Layla yang berpikir mereka berdua pasangan yang hamil tanpa menikah.


"Ibu ini apaan sih? Itu Professor Helena, kakak iparnya Joon, suaminya yang mengalami kecelakaan waktu itu" sela Harris.


Nyonya Layla dan pak Herman tersentak, "Oh maaf nak Joon, ibu tidak tahu kalau ini Nyonya Helena" kata nyonya Layla lagi.


"Tidak apa-apa nyonya" sahut Joon.


Joon menerima tawaran Nyonya Layla dan pak Herman untuk masuk kerumahnya, apalagi Shaina tampak sekali ia kelelahan setelah berjalan kaki dari rumah ke supermarket gara-gara Joon yang tidak mau membelikannya mangga. Nyonya Bianca menyuguhkan minuman untuk mereka tapi ia juga menghidangkan mangga muda yang sudah dikupasnya khusus untuk Shaina.


"Terima kasih Nyonya, ini enak sekali" kata Shaina.


Joon dan Harris meringis melihat Shaina menghabiskan irisan mangga muda.


"Maaf nona Helena, apa itu tidak agak asam?" Tanya Harris.


"Tidak. Ini enak sekali" sahut Shaina.


"Tapi-" kata Harris


"Sudah berapa bulan, nyonya Helena?" Tanya nyonya Layla memotong pembicaraan Harris.


Shaina tersentak, melempar pandangannya ke arah Joon dan tidak mengerti maksud nyonya Layla . Lalu ia melihat ke tangannya yang memegang irisan mangga itu menyadarkannya tentang maksud pembicaraan wanita paruh baya itu.


"Emm...! Baru tiga Nyonya" sahut Shaina tersenyum seraya meringis malu karena ia harus menjawab pertanyaan di saat ia belum siap hamil.


Joon melihat jam tangannya, mereka sudah cukup lama berada di kediaman keluarga Harris, Joon berpamitan dan mengajak Shaina pulang karena sudah malam.


"Kalian pulang jalan kaki?" Tanya Nyonya Layla.


"Aku akan mencari taksi Nyonya" sahut Joon.


"Malam-malam begini bapak rasa, akan jarang ada taksi yang lewat jalan ini" kata pak Herman.


"Iya nak, kamu pinjam motor Harris aja, kasihan nyonya Helena" tambah Nyonya Layla.


"Enggak usah Nyonya" sergah Joon.


"Tidak apa-apa Joon, ambil aja motorku, besok pagi sekali aku akan mengambilnya sendiri" tambah Harris.


Joon melihat Shaina yang tampak kelelahan bahkan diam-diam ia memijat kakinya.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2