Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Berboncengan sepeda motor


__ADS_3

Dalam deruan angin malam yang dingin, Shaina untuk pertama kalinya duduk memasang di belakang motor lelaki yang bukan muhrimnya, karena Joon melarangnya duduk menyamping dikhawatirkan Shaina akan terjatuh dan membahayakan bayinya, terpaksa Shaina menurutinya sehingga ia tidak hanya duduk memasang di belakang Joon tapi juga berpegangan pada pemuda itu, demi keselamatan dirinya dan bayi Helena yang berada dalam perutnya apalagi motor Harris motor sport dimana jok duduknya lebih condong ke depan.


Tubuh Shaina bergetar seiring jantungnya berdetak kencang ketika tangannya berpegangan kuat di baju Joon, suhu tubuh Joon yang hangat membuatnya nyaman diantara hawa dingin yang menyelebungi diri mereka.


"Apa kau tidur?" Cetus Joon mengagetkan Shaina ditengah keheningan malam.


Shaina segera mengangkat kepalanya dari pundak lelaki itu sembari mengatakan, "maaf"


Joon melambatkan laju motornya, "Tidak apa-apa tidur saja tapi harus berpegang agar tidak jatuh" katanya.


Shaina kaget karena Joon menarik tangannya untuk melingkari pinggang Joon.


"Tidak boleh! Kita bukan muhrim!" sergah Shaina dengan menarik tangannya dari pinggang Joon.


"Aku adik mu, jadi berpeganganlah untuk keselamatan dirimu dan anakmu" perintah Joon.


"Kau bukan adikku, aku bahkan tidak mengenalmu sebelumnya, kau masih tidak percaya aku bukan Helena?" Tambah Shaina.


"Percaya atau tidak pikirkan nyawa yang hidup bersamamu, siapapun kamu dalam dirimu ada anak kakakku"


Shaina yang berdecak kesal sembari mendengus, ia melingkarkan tangannya di pinggang Joon seraya merebahkan tubuhnya di punggung Joon yang terasa sangat hangat dan menenangkannya meski jantungnya seperti sedang menggedor-gedor dadanya.


Joon tersungging melihat tangan Shaina di perutnya.


"Apa pedulimu dengan perempuan ini dan anak-anaknya" tanya Shaina.


"Karena kakakku menitipkan kalian padaku, sebelum ia meninggal" kata Joon.


"Ku rasa kakakmu salah pilih orang, kau bahkan tidak bisa bersikap baik pada keponakanmu" cetus Shaina.


Mendadak kelopak mata Joon menurun, "Kau benar" gumam Joon.


"Apa dulu kau dekat dengan kakak iparmu?" Tanya Shaina.


"Apa maksudmu?"


"Kalau kau dekat dengannya kau akan dapat membedakan antara aku dan dia" ujar Shaina.


"Aku tidak dekat, bahkan hanya beberapa kali bertemu itupun jika kakak mengunjungi ku" kata Joon.


"Pantas saja kau tidak bisa membedakan antara aku dan dia!!" Timpal Shaina.


Refleks ia melepaskan pegangannya lalu mendaratkan kepalannya di paha Joon dengan memukulnya. Shaina tersentak karena tindakannya itu yang tidak seharusnya ia lakukan apalagi didaratkan tempat yang salah, secepat mungkin ia memindahkan tangannya dan kembali mengangkat dirinya dari punggung Joon.


Joon juga ikut terkejut karena tindakan Shaina telah membangunkan sesuatu dalam dirinya, hatinya ikut bergejolak dan berdebar-debar seperti jantung Shaina yang ia dengar ketika tubuh perempuan itu bertumpu padanya.


"Emmm... Berpegangan ini sudah malam, kita harus cepat pulang" kata Joon.

__ADS_1


Shaina kembali melingkari pinggang lelaki itu dan juga kembali bertumpu padanya untuk mendapatkan posisi nyaman di motor dengan bentuk jok-nya yang agak menjuru ke depan, tidak peduli sebagian depan tubuhnya telah bertumpu semuanya pada Joon. Suasana sepi dipadu angin malam dan lampu jalanan sungguh menakjubkan, rasa takutnya yang sebelumnya telah hilang, Shaina belum mengetahui bahwa dunia malam begitu indah, meskipun dulu ia pernah melihat suasana malam di kota asalnya tapi tidak seindah yang dilihatnya sekarang.


"Apa rumah masih jauh?" Tanya Shaina.


"Kenapa? Apa kau mengantuk?" Timpal Joon.


"Tidak, aku hanya merasa kota di malam hari sangat indah" gumam Shaina.


"Benarkah? Bukankah kau sering pulang malam?"


"Terserah kau sajalah! Bagaimanapun aku katakan tidak kan ada yang percaya kalau aku bukan Helena karena orang-orang hanya bisa melihat luarannya saja dan tidak bisa melihat aku yang di dalam" ujar Shaina seraya menyandarkan kepalanya di punggung tegap Joon.


Joon terdiam dan menghentikan motornya, tepat di persimpangan jalan, dimana orang-orang bertemu dari berbagai arah termasuk pejalan kaki, gedung-gedung bertingkat dan pusat perbelanjaan juga masih di ramaikan orang, lampu-lampu yang menghiasi kota tampak begitu indah seperti taburan bintang.


"Kenapa kau berhenti?" Tanya Shaina.


"Bukankah kau ingin melihat kota? Rumah juga tidak jauh lagi" Kata Joon.


"Apa ini tidak agak aneh? Tadi saat kita pergi tadi tidak sejauh ini" Shaina celingak-celinguk sekitar karena itu tidak terlihat saat ia pergi.


Joon terkekeh kecil, "Supermarket tadi memang tidak jauh dari rumah tapi rumah Harris yang jauh dan berlawanan arah dengan rumahku, kau juga tadi hanya fokus ingin mendapatkan mangga jadi kau tidak memperhatikan sekeliling" tandasnya Joon.


"Benarkah?" Gumam Shaina seraya turun dari motor.


Joon melihat Shaina kembali memijat kaki, tapi ia tidak mengira Helena sangat cantik ketika pancaran cahaya lampu mengenai wajahnya yang mirip dengan tokoh peri yang ada di film-film dan senyuman Helena juga lebih natural dibandingkan artis-artis tersebut.


"Kita pulang saja yuk, kasihan anak-anak di rumah" ujar Shaina, ia kembali naik ke motor dibelakang Joon.


"Kalau mau besok-besok kita bisa melihat lagi" kata Joon.


"Iya, jika aku masih di tubuh nyonya Helena" balas Shaina.


Joon menelan salivanya dan Shaina kembali ke duduk posisi semula, lengkap dengan pegangannya.


"Ternyata hamil itu tidak enak ya?" Gumam Shaina.


"Kenapa?" Tanya Joon.


"Duduk saja tidak nyaman, apalagi jika sampai dua bulan ke depan bisa-bisa perutku terjepit jika naik motor seperti ini" ujar Shaina.


"Aku tidak punya motor dan hanya punya mobil butut, jadi tenang saja" ketus Joon.


Walaupun Joon terlihat biasa saja dan tidak peduli dengan keberadaan Shaina yang berboncengan padanya tapi ia agak merasa aneh dan geli saat perut buncit Shaina menempel padanya. Apalagi ia tidak pernah menyentuh perut orang hamil.


"Dulu aku suka cemburu melihat pasangan suami istri yang berboncengan dan berpegangan pada pinggangnya" cetus Shaina.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena itu terlihat sangat menyenangkan" tambah Shaina.


"Kau bisa meminta kak Ervian membelikan motor dan mengantarkan mu kerja" timpal Joon.


"Aku Shaina, aku jomblo sejak lahir, dan aku tidak ingin berpegangan pada siapun yang bukan suamiku tapi sekarang aku malah melanggar aturan itu!" Ketus Shaina.


Joon tersenyum diantara bingung dan senang mendengar perkataan Shaina. Lambat-laun pegangan kuat Shaina mulai merenggang, melalui kaca spion Joon melihat Shaina mulai tertidur, dengan cepat tangan kirinya memegang tangan Shaina agar tidak terlepas dari pinggangnya dan mempercepat laju motornya dengan tetap berhati-hati demi keselamatan mereka berdua.


***


Perlahan Shaina membuka mata, rasanya ia enggan untuk beranjak dari tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dan menyadarkannya ia masih berada dalam tubuh perempuan hamil itu, bayangan tadi malam kembali terputar, ia sangat malu mengetahui dirinya tertidur di punggung Joon hingga sampai di rumah, Shaina sangat bersyukur ia tidak sampai ileran di baju Joon.


Shaina menoleh dan menemukan Alice dan Alfan yang juga tidur seranjang dengannya. Shaina membalikkan badannya kearah dua anak itu yang tertidur pulas, memandangi lekat-lekat wajah manis mereka.


"Pantas saja kalian sangat cantik dan tampan, ibu dan ayah kalian juga sangat cantik dan tampan" gumam Shaina.


Shaina membalikkan badannya ke posisi semula, ya sejak berada dalam tubuh perempuan hamil, ia mulai memperhatikan setiap gerakannya bahkan untuk posisi tidur agar tidak menyakiti bayinya. Shaina terperanjat melihat jam digital yang terletak di meja yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Dengan cepat ia bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi, setelah itu ia langsung membangunkan Alice dan Alfan.


"Kenapa Ma?" Tanya Alfan.


"Cepat bangun kalian sudah terlambat" kata Shaina sembari memburu nafasnya.


"Alice masih ngantuk" gumam Alice membalikkan badannya dan menarik selimut untuk menutupi dirinya.


"Jangan tidur lagi! Cepat mandi kita kesiangan!" Ujar Shaina lagi sambil menarik selimut Alice.


"Alfan aja duluan mandi, biar Alice lanjut tidur dulu" gumam Alice.


"Jangan tidur lagi Alice! bangun siapin keperluan sekolah kalian saat Alfan mandi" Shaina menarik tangan Alice agar ia bangun.


"Ma...!" gumam Alice


"Alice...! Jangan jadi anak nakal! Cepat bangun agar kalian tidak terlambat ke sekolah!"


"Baik Ma" ketus Alice.


Alfan sudah lebih dulu masuk ke kamar mandi sedangkan Alice seperti perintah Shaina, ia me mengambil buku-buku pelajaran sesuai jadwal hari ini, karena ia dan Alfan sekelas dan seruangan jadi ia tidak bersusah payah mencari buku pelajaran mereka.


"Aku mau memasak, Alice jangan tidur lagi dan segera mandi setelah Alfan keluar" perintah Shaina.


"Baik Ma! Mama bawel!" Timpal Alice.


Shaina yang sudah hendak menutup pintu, mendengar ucapan Alice, ia memundurkan langkahnya lagi, "Alice... Perhatikan perkataan mu, bicara yang sopan pada orang tua karena kamu tidak tahu kapan ia pergi" ujar Shaina.


"Maaf Ma" gadis itu masih memanyunkan bibirnya dan gerakannya pun malas.

__ADS_1


Shaina tersenyum melihat tingkah Alice, karena itu mengingatkannya pada dirinya yang juga sering malas bangun pagi, apalagi jam masuk kerjanya juga agak kesiangan jadi sudah tidak asing lagi pagi-pagi menemukan Shaina masih bermanja-manja dengan kasur dan selimutnya, persis seperti yang ditunjukkan Alice.


__ADS_2