Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Mengenali


__ADS_3

"Tidak cukup dengan mengunci ku di mobil kedap suara kalian juga membakar jok depan mobil untuk membunuhku sampai tanganku ikut terluka, walaupun begitu tetap saja aku tidak bisa menghilangkan asapnya yang membuatku kesulitan bernapas, aku memohon pada kalian untuk mengeluarkan ku, tapi apa yang ku dapat? Kalian menertawakan ku yang terbatuk-batuk akibat menghirup asap, rasa marah dan benci ku menyatu seiring rasa sakit di tenggorokan dan saluran pernapasanku itu seperti duri yang menusuk-nusuk, itu sakit sekali, dan kalian semakin tertawa terbahak-bahak sambil meniru kesakitan ku, bahkan saat itu kalian menawarkan minuman dingin yang sedang kalian nikmati" Shaina mengangkat gelas minumannya menirukan gaya Marissa dan Gladys dulu.


Shaina kembali melihat ke arah Joon, lelaki itu tampak layu dan sendu menggambarkan perasaannya yang ikut hancur setiap kali ingatannya kembali pada hari yang memilukan itu.


Gambaran yang sama juga terlihat pada si kembar, tapi hati mereka tidak sekuat Joon, sehingga derai air mata tak terelakkan, mengingat kejadian itu telah merenggut dua wanita yang paling berharga bagi mereka, kehilangan ibu kandung dan kehilangan ibu yang lainnya.


lalu Shaina menyeka air matanya dan melanjutkan ceritanya dengan tetap tersenyum menandakan ia sudah terbebas dari rasa sakit itu, "Tak cukup disitu, kalian berdua menabrak mobil yang mengurungku ke jalan raya lalu meninggalkanku tepat di tengah jalan. Tangisan dan jeritan ku tak ada yang mendengarnya, dan disaat ketakutan yang menyelebungi mendadak sesuatu menabrak mobil ku, sehingga tubuhku terpelanting ke berbagai arah, tulang-tulang ku remuk, kulitku terkoyak, darah membasahi wajahku, sekujur tubuhku terhimpit besi dan baja berat itu, gelap dan hening yang menemaniku, namun itu juga belum berakhir, hantaman keras kembali terulang yang semakin menyempitkan seakan sesuatu sedang memeras darah ku sampai tak tersisa " papar Shaina mengakhiri ceritanya.


Suasana ruangan acara menjadi hening tak bersuara selain suara Shaina yang bergema, sehingga seakan dapat terdengar deruan nafas penghuninya. Mereka ikut larut dan tenggelam dalam rasa Shaina pada saat itu, Bu Yani mengkatup mulutnya menyembunyikan suara tangisannya, tidak terbayangkan putrinya telah menjadi korban pembunuhan yang mengerikan.


Harris mendekat, "Shaina, maafkan aku jika saja saat itu aku tidak membuat Elif menangis kau pasti tidak akan meninggalkan perjamuan itu dan kau tidak akan mengalami itu semua" lirih Harris.


"Kau tidak bersalah, Harris. Itu memang akan terjadi cepat atau lambat meski aku tidak pergi dari perjamuan kita" sahut Shaina.


"I-ini tidak mungkin, bohong!!!" Teriak Marissa, "kau bukan perempuan itu, Helena sudah mati, aku sendiri melihat pemakamannya" lirih Marissa.


Shaina mengangkat wajahnya, menyoroti Marissa dengan mata hitam pekatnya seakan membidik bagaikan busur yang siap melepaskan anak panahnya, "Helena memang sudah meninggal tapi aku TIDAK" suaranya tertekan dan menggidikkan bulu kuduk yang mendengarnya, "Aku orang yang kau singkirkan hari itu, tepatnya setelah salju meninggalkan bumi Wina, aku bangkit dari kematian untuk mendapatkan keadilan nona Helena" sahut Shaina.


"Kau penipu! Helena dan kau tidak bisa bersama, kau membuat cerita bohong" sergah Gladys sambil menunjuk-nunjuk Shaina, "sayang buatlah dia menyesal karena menuduhku dengan kebohongannya!" Adu Gladys pada Darrell


Shaina menatap Darrell, "Silahkan tuan Darrell juga menganggapku sebagai pembohong, tapi sebelum itu perkenalkan aku si naif yang pernah menasehati tuan Darrell di rumah sakit setelah melahirkan Elif" Shaina menjulurkan tangannya pada Darrell dengan senyum tipisnya yang mengembang di bibirnya.


Darrell mematung di depan Shaina yang bergaya cool, tapi dengan beraninya di tarik tangannya oleh Shaina sehingga mereka saling berjabat tangan.


"Bagaimana kau tahu itu?" Darrell mengernyitkan keningnya sembari melirik Joon.


Shaina tersenyum, "karena orang itu adalah aku, orang yang pernah mengaku sebagai temanmu, teman yang sama-sama mencari keadilan untuk diri kita" ucap Shaina.


Gladys menepis tangan Shaina dari Darrell, "lancangnya kau perempuan kampung! Jaga sikapmu pada kami!" Sembur Gladys.


Meski ia terus di bentak dan di hina tapi Shaina hanya menanggapinya dengan santai bahkan sempat tersenyum lebar pada Darrell yang tertegun.


Marissa juga kembali berlari pada Joon, dan mengatakan Shaina berbohong, "Joon, aku tidak membunuh Helena, dia salah orang..." Ujar Marissa.


Joon menghela tangannya dengan kasar dari Marissa.


"lepaskan aku!! Kau Marissa bukan manusia, seharusnya sejak awal kau patut di curigai, karena cuma kau satu-satunya yang membenci Shaina!" Pekik Joon. "Harris! Singkirkan wanita ini dari ku dan buatlah dia menderita sehancur-hancurnya, kalau tidak aku sendiri yang mengakhirinya" titah Joon.


Harris segera mendekat, "tenang saja Joon, tanpa kau minta sekalipun, aku tetap akan ku buat wanita kejam ini menanggung dosanya" geram Harris.


"Sayang, aku tidak bersalah, tolong jangan percaya dengan cerita bohong perempuan ini yang mengaku reingkernasi Helena dia gila..." pinta Gladys.


Darrell mencengkram tangan Gladys dengan sangat kuat hingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Shaina memandang Darrell dengan senyuman tipisnya.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan segalanya yang ku miliki untukmu, bahkan ku penuhi semua keinginanmu tapi kenapa kau membunuh Helena? Gara-gara kau ibuku harus menderita seorang diri sedangkan kalian hidup bebasnya di luar penjara, kau tidak lebih dari manusia rendahan!" Geram Darrell pada Gladys.


"Kau kira ini sepenuhnya salah ku? Ini salah perempuan itu, karena dia kau mengabaikanku dan tidak peduli padaku, kau lebih tertarik mengganggu Joon dengan mendekati perempuan itu, bahkan kau membelanjakannya barang-barang bagus yang seharusnya jadi milikku!" Pekik Gladys pada Darrell.


"Kau benar-benar monster, iri dan serakah sudah mendarah daging dalam dirimu! Kau harus menanggung perbuatan mu!" Ujar Darrell.


Di saat Harris lengah mendadak Marissa berlari ke arah Shaina dan memecahkan gelas lalu diacungkan runcingang gelas tersebut ke leher Shaina.


"Jangan mendekat!" Ancam Marissa.


Semua terkejut dan panik dengan aksi Marissa tersebut.


"Jika aku mati, perempuan ini juga harus mati, tidak peduli dia hantu Helena atau siapapun itu!" Ancam Marissa yang semakin mendekatkan runcingang gelas ke leher Shaina.


"Marissa, jangan lakukan itu, jika sedikit saja kau melukainya aku bersumpah akan membuatmu menderita daripada yang kau bayangkan" balas Joon.


"Terserah kau! Aku muak dengan perempuan ini, bertahun-tahun aku menunggu dan berpura-pura tidak mengenal siapa kau dan keluargamu supaya kau menikahi ku, aku ingin menguasai Calista groups tapi kenapa dia yang mendapatkannya? dia merenggut posisiku sebagai istrimu, jika aku tidak mendapatkannya maka dia juga tidak boleh hidup!" Bengis Marissa.


Mendadak Shaina bergidik ngeri melihat pecahan gelas tepat di lehernya.


"Ehh! Marissa, kau sepertinya salah paham, Joon bukan orang kaya, dia tidak punya uang bahkan dia kesulitan membeli tas bagus untuk anak-anak, Alice kan? Makan di restoran saja sebulan sekali saat gajian, yang kaya itu Darrell, mobilnya saja sangat bagus uangnya juga sangat banyak, lihat saja penampilan mereka sangat berbeda, sedangkan Joon dari dulu itu-itu aja bajunya, aku sendiri jadi sebel melihatnya" gerundel Shaina.


Akibat Shaina berkomentar soal baju Joon di suasana mencekam itu, teman-temannya malah ikut memperhatikan baju Joon yang memang sering di pakainya dulu.


"Jadi kau Joon itu pelit ya? Dari dulu kau pakai itu terus" selidik Calvin dengan raut wajah keheranan melihat Joon.


"Diam kalian!" Pekik Marissa, "kau yang bodoh! Joon membohongi mu, dia hidup dengan identitas palsu saat bersamamu, dia sekarang tidak melarat lagi seperti saat denganmu" ujar Marissa pada Shaina.


Shaina mengerjap kaget, "Apa? Kau Joon benar sudah punya banyak uang sekarang?" Tanya Shaina.


"Bicara apa kau ini?" Sahut Joon pada Shaina.


Shaina menggertakkan giginya dan bergerak dengan cepat karena ia tersulut emosi sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Joon.


"Awass kau ya Joon! Jika benar-benar menikahi wanita kaya itu dan memanfaatkan hartanya tanpa persetujuanku seperti yang pernah kau katakan padaku!! Ancam Shaina.


Tanpa sadar karena bergerak cepat dan berjalan kearah Joon, akibatnya ia malah menyenggol Marissa hingga terlepas dari cengkramanya meski sedikit menggores lehernya hingga berdarah. Dengan cepat Joon menarik Shaina ke dalam pelukannya.


Harris dan Calvin langsung menyergap Marissa, sedangkan Gladys yang melihat peluang, ia segera kabur namun ia malah menubruk orang-orang yang baru masuk, yaitu Cristian dan beberapa orang bersamanya.


"Tangkap mereka!" Perintah Cristian pada orang-orang yang bersamanya.


Mereka langsung mendekati Harris dan Calvin, untuk memborgol Marissa.

__ADS_1


Menurut pernyataan Cristian, Marissa dan Gladys terbukti melakukan pembunuhan Helena tiga tahun lalu.


Cristian meminta maaf pada Joon atas keterlambatannya mengusut kasus tersebut, ia juga mengatakan pada Darrell akan menghukum Gladys dengan hukuman seberat-beratnya sesuai perbuatan mereka.


Bu Yani dan suaminya menghampiri Shaina, mereka mengkhawatirkan keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa kan, nak?" Bu Yani memeluk putrinya.


Shaina tersenyum, "aku tidak apa-apa Mak, ayah" ujar Shaina.


"Kau nak, mengingat semua itu tapi kamu tidak apa-apa kan? Tidak ada yang sakit kan" Ujar pak Rahmat.


"Iya Yah, Shaina baik-baik saja dan tidak ada yang sakit" kata Shaina.


"Syukurlah, ayah sangat cemas dengan keadaanmu" pak Rahmat memeluknya.


Fahri dan Dinda terdiam melihat Shaina yang baik-baik saja, bahkan keluarganya juga seakan tidak percaya bahwa bukanlah perempuan lemah seperti mereka duga.


"Mama..." Seru si kembar dan Elif.


"Sayang ku..." Balas Shaina yang membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk tiga bersaudara itu.


Alice menangis dalam pelukan Shaina begitu juga dengan Elif yang ikut menangis meski tidak tahu apa yang sedang di tangisinya, ia hanya ikut-ikutan kakaknya saja.


"Maafkan Mama ya sayang, Mama melupakan kalian" ujar Shaina pada anak-anak yang menangis sembari menciumi kepala mereka.


"Tidak apa-apa Ma, kami sangat kangen sama Mama" ujar Alfan.


Dalam isak penuh keharuan itu, Joon ikut tersenyum melihat Shaina yang kembali mengingat mereka semua, selangkah demi selangkah ia mendekati Shaina begitu juga dengan Shaina yang perlahan mendekat pada Joon sembari menghapus air matanya dan tersenyum.


Joon berkesiap untuk memeluk Shaina yang menggendong Elif, tapi ia di kejutkan dengan aksi Shaina yang hanya melewatinya seakan tidak melihatnya.


"Hai Harris!" Seru Shaina dan melakukan tos tangan salam persahabatan, membuat yang lain terkejutnya.


"Benarkah ini kau?" Tanya Calvin pada Shaina.


"Hei! Apa kau kira aku ini hantu? Padahal yang aku tahu cuma dokter Calvin yang paling normal disini" celetuk Shaina dengan mengerling Calvin.


Calvin terkekeh yang diikuti oleh Harris dan Darrell.


"Jadi selama ini kau menganggap kami tidak normal ya?" Sela Harris.


Shaina menyipitkan matanya saat melihat mereka semua.

__ADS_1


"Emm... Sedikit" Shaina cengengesan pada mereka.


Darrell mendekat pada Shaina dan hendak mengelus-elus rambut Shaina seraya berkata, "ternyata kau ini tidak senaif yang ku pikirkan".


__ADS_2