
Perasaan Shaina seperti di jungkir balik dari menduga cintanya akan berlabuh dengan bahagia pada Fahri yang dianggapnya sosok yang tahu menghargai orang lain tapi ternyata dia tidak lebih dari manusia tidak berperasaan, namun semuanya telah terjadi pernikahan di depan mata tidak bisa di hentikan lagi. Jika itu terjadi akan ada yang kecewa selain itu Shaina juga takut apa yang dikatakan Fahri jadi kenyataan, jika ia tidak menikah sekarang maka tidak akan ada yang mau menikahinya nanti, apalagi desakan keluarga, berharap ia segera menikah dengan Fahri yang mereka sendiri tidak tahu sifat aslinya.
Sepasang tangan mungil berpegangan pada Shaina, dan mengejutkannya dari terpakunya.
"Mama... Elliiss cayang Mama" gumam Elif yang tiba-tiba mendatangi Shaina, gadis kecil itu memeluk kaki Shaina, seakan ingin di gendongannya.
Tingkahnya itu membuat Shaina kembali tersenyum dan sulit untuk menolak gadis itu, lalu ia merendahkan tubuhnya untuk menyamakan tinggi dirinya dengan gadis mungil itu.
"Hai, Mama kamu mana? Kenapa kamu bisa disini?" Tanya Shaina pada Elif.
"Mama...hiks! Hiks!" Tanpa di sangka pertanyaannya membuat balita itu menangis.
"Cup cup! Jangan nangis, kamu pasti terpisah dengan ibumu ya?" Shaina panik karena ia tidak terbiasa memegangi anak orang lain.
Mau tidak mau Shaina menggendong Elif dan mencari keluarganya, ia khawatir jika keluarganya juga sedang kebingungan mencari anak mereka. Tapi mendadak Elif jadi tenang dalam gendongannya bahkan memeluknya dengan erat seakan tidak mau terlepaskan.
Perasaan Shaina juga terasa nyaman dan damai ketika ia dapat merasakan detak jantung gadis mungil itu.
Elif menyeka pipi Shaina dengan lembut membuat Shaina tidak tahan untuk tidak tertawa bahkan menciumnya terus menerus, suasana hati yang kacau akibat ulah Fahri dapat berubah seketika cukup dengan hanya mendekap Elif.
Di lain tempat joon dan teman-temannya sibuk mencari keberadaan Elif, pencarian itu agak sulit karena Elif terlalu kecil untuk dapat terlihat di antara orang-orang dewasa.
Namun perhatian Joon teralihkan pada seorang wanita yang muncul diantara keramaian, wanita itu datang sambil menggendong Elif yang mampu membuat Joon bernafas lega, ia menghampiri wanita itu tapi setengah jalan langkahnya berhenti, karena melihat Elif yang tidak pernah mau pada orang lain termasuk Hannah tantenya sendiri, selain Joon dan kakak-kakaknya, tiba-tiba terlihat tenang dan bahkan mendekap erat di tubuh perempuan yang ia lihat di jalan kemarin.
"Mama Elliiss..." Ucap balita itu yang kembali mencium pipi Shaina dan mengejutkan yang lain.
"Waaaahhh! Kamu manis sekali, tapi ngomong-ngomong yang mana Mama kamu?" Ujar Shaina, celingak-celinguk mencari orang tua Elif, meski ia tidak tahu persis seperti apa orang tua anak itu.
"Afaan.. aliiss.. Eliiss peyuk Mama..." Seru Elif ketika melihat saudaranya yang juga terpengah melihat mereka.
Shaina berjalan dalam kerumunan dan tak sadar beberapa orang mulai memperhatikannya bersama Elif.
"Permisi, Anda mengenal anak ini?" Tanya Shaina pada orang-orang yang di temuinya.
Namun tidak satupun yang kenal dengan Elif hingga Joon benar-benar mendekat.
"Itu putriku, berikan padaku" ucap Joon pada Shaina.
Shaina terdiam lalu terperanjat kaget ia langsung mempererat pelukannya pada Elif.
"Oh! Baru ingat aku, kau ini orang kemarin yang tidak tahu sopan santun itu! Kau itu pasti orang jahat" sembur Shaina.
"Issshh! Bicara apa kau ini! Serahkan putriku!" Ujar Joon, menyorongkan tangannya untuk meraih Elif.
Mendadak Elif merekatkan diri pada Shaina, membenamkan diri dalam pelukannya seakan tidak mau lepas darinya ataupun diambil oleh Joon, karena respon balita imut itu, Shaina jadi menaruh curiga terhadap Joon, sehingga iapun memeganginya dengan kuat.
"Lihatlah kalau ini putrimu! Tapi kenapa ia ketakutan melihat mu?" Pungkas Shaina.
"Dia tidak ketakutan, kau saja yang yang tidak mau memberikan putriku!" Balas Joon, "lihat ya, Elif sayang, sini sama Papa jangan sama orang asing nanti kamu di apa-apainnya" lanjut Joon sambil mengerling Shaina dengan ketus.
"Tidak mau, elliiss mau cama Mama" sahut Elif.
Shaina cengengesan dan menertawakan Joon, "anak pintar, bapak yang salah orang, aku yang Mamanya, anda ini siapa? Enggak jelas amat! Aneh!" Dengus Shaina.
Shaina melewati Joon dan berlalu pergi dengan Elif bersamanya. Joon yang masih di tempatnya tampak kesal tapi ia tidak ingin memaksa Elif jika Elif tidak mau. Apalagi Elif belum pernah di gendong oleh perempuan manapun setelah Helena meninggal.
__ADS_1
"Joon, kenapa tidak kau ambil Elif dari perempuan itu?" Tanya Darrell yang menghampiri Joon bersama yang lain.
"Ku biarkan perempuan menyebalkan itu menggendong Elif sebentar agar Elif bisa merasakan digendong perempuan" sahut Joon.
"Perempuan menyebalkan?" Ketus Calvin.
Joon mengangguk sambil melihat ke arah Shaina yang menciumi pucuk kepala Elif, "kalau bukan perempuan menyebalkan apalagi? Kemarin saja sudah membuatku kesal" timpal Joon.
Shaina terus mencari sosok orang tua balita yang ditemukannya itu, namun tidak juga ada yang mengakui sebagai orang tua Elif, akhirnya ia memutuskan untuk istirahat, duduk di kursi.
Shaina tersungging melihat Elif terus memperhatikannya dengan bibirnya yang kemerahan itu di manyunkan, ia terlihat sangat menggemaskan dan sulit bagi Shaina untuk tidak menciuminya.
Shaina berjalan ke prasmanan, mengambil makanan dan minuman, terlihat jelas kalau ia sedang kerepotan karena salah satu tangannya memegang makanan dan minuman serta menggendong anak dalam waktu bersamaan.
Aksi Shaina tersebut ternyata tidak luput dari pantauan Joon dan teman-temannya yang kerap membuat mereka tertawa, karena Shaina terlihat seperti ibu-ibu yang ke kondangan dengan membawa anak.
"Kamu mau makan?" Tanya Shaina.
Elif tersenyum dan membuka lebar-lebar mulutnya.
"Ya ampun sayang, kamu manis sekali, pengen deh di bawa pulang" celetuk Shaina yang tertawa.
Tanpa berpikir panjang Shaina menyuapi Elif dan mereka makan bersama dengan lahap, sesekali Shaina mengecup bibir mungil gadis itu dan Elif pun tampak sangat menyukainya, sampai-sampai ia ikut membalas ciuman Shaina.
"Joon, kurasa ada yang aneh dengan Elif, lihatlah dia terlihat sangat akrab dengan perempuan itu" celetuk Calvin.
"Elif itu anak kecil, masih polos dan tidak tahu apa-apa meski sedang di manfaatin" ketus Joon.
"Tapi Joon, bagaimana dengan mereka?" Darrell mengangkat dagunya ke arah Shaina.
Perlahan-lahan Alfan dan Alice mendekati Shaina dan berdiri dihadapannya, Shaina tersenyum melihat remaja kembar itu karena menurutnya mereka terlihat berbeda dari yang lain.
"Boleh kami duduk di sini?" Tanya Alfan.
"Tentu saja, silahkan" sahut Shaina.
Beberapa saat berlalu tanpa obrolan diantara mereka, suasana terasa canggung bagi Shaina, karena kedua remaja itu tampak terus memperhatikannya, jadi ia berinisiatif untuk membuka pembicaraan mereka.
"Mama..." Ucap Alice, menyela Shaina.
Shaina kaget, "hah!".
"Boleh kan kami memanggil anda Mama" tanya Alfan membuat Shaina semakin canggung, "maksudku, anda mirip dengan Mama kami yang sudah pergi jauh, dan anda mengingatkan kami pada Mama kami" jelas Alfan.
"Oooooh! Tapi-" ucap Shaina.
"Itu adik kami, namanya Elif, aku Alfan dan Alice" Alfan menunjuk pada saudara kembarnya yang juga duduk di sebelahnya, mata gadis cantik itu telah berkaca-kaca sambil memperhatikan Shaina.
Shaina ternganga mengetahuinya, ia memperbolehkan mereka memanggilnya dengan panggilan Mama.
"Oh pantesan si manis ini sangat menggemaskan, kakaknya saja sangat cantik dan tampan" puji Shaina, "kalian sudah makan?" Lanjut Shaina.
Alfan dan Alice saling berbagi pandangan lalu mereka sama-sama menggelengkan kepala.
"Kenapa? Kalian tidak suka ya? Coba deh cicipi sedikit siapa tahu kalian suka" ujar Shaina menyorongkan sendok makan berisi makanan di piringnya ke mulut Alice.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Alice mendekatkan tubuhnya pada Shaina untuk melahap makanan yang di suapkan Shaina, dan hal yang sama dilakukan Alfan.
Elif tertawa dengan ala balitanya bersama kakak-kakaknya, begitu juga Shaina, ia tidak sanggup untuk tidak tersenyum melihat kebahagiaan yang di perlihatkan tiga bersaudara itu.
Tanpa terasa Shaina terus menyuapi tiga bersaudara itu hingga makanan di piringnya habis tanpa tersisa.
"Ayo kita pergi!" Tiba-tiba Joon datang, ia tidak tahan melihat sikap anak-anaknya bersama perempuan itu, karena mengingatkannya pada sosok Shaina, dimana mereka kerap saling suap-menyuap saat makan.
"Anda lagi! Sudah ku bilang ini putriku sebaiknya anda pergi dan jangan ganggu kami!" Timpal Shaina menolak kehadiran Joon.
Joon terkekeh dengan senyum sinis khasnya, "Anda tuh yang jangan sok akrab dengan anak-anak saya, saya sudah paham tuh orang-orang seperti anda" ketus Joon.
Shaina terperanjat dan berdiri, "apa maksudmu dengan mengatakan orang-orang sepertiku? ada masalah denganku? Memangnya aku meminta untuk menjadi seperti ini? Aku memang tidak bisa seperti orang lain tapi aku bangga pada diruku!" Sergah Shaina.
"Hei nona! Anda ini salah paham! Sebaiknya anda dengarkan dulu sebelum marah-marah enggak jelas" ujar Joon.
Keributan mereka menarik perhatian para tamu yang hadir, di tambah lagi Shaina tampak menahan air matanya dan Elif pun semakin mempererat berpegangan padanya.
Dari perdebatan tersebut Shaina jadi bahan gunjingan orang-orang yang mengatakan dia calon istrinya Fahri yang tidak bisa memiliki anak, dan atas kebaikan Fahri dan keluarganya yang mau menerima kekurangan Shaina, perempuan bisalah menikah dan berumah tangga.
Nasib malang Shaina kembali di ungkit, mengenai dirinya yang tidak akan bisa menikah jika tidak ada Fahri yang menikahinya.
Kebisingan itu semakin membuat Shaina terluka, tapi ia tetap berusaha tegar, sambil menahan air matanya. Joon hanya memperhatikan sikap perempuan itu yang semakin mengingatkannya pada sosok yang sangat ia kenali, dimana ia selalu menahan emosinya dalam diam dan air matanya.
"Nona" panggil Joon, suaranya melembut, ia tidak tega melihat perempuan itu seperti itu.
"Shaina! Apa yang kau lakukan?" Tiba-tiba Fahri datang menghampiri Shaina.
"Bang Fahri, ta-tadi aku menemukan anak ini, aku kasihan dan mau mencari orang tuanya, tapi-".
"Itu putri pria itu! Sebaiknya kau lepaskan dia dan jangan buat masalah!" Sosor Fahri.
Shaina tampak ketakutan, pelan-pelan merenggangkan pelukannya dari Elif, dan memberikan pada Joon yang sudah mematung saat mendengar nama Shaina di lontarkan, matanya menatap lekat-lekat wajah polos itu yang sudah di selebungi oleh rasa malu karena ia di bicarakan orang-orang.
"Maaf" ucap Shaina pada Joon.
Saat Shaina hendak pergi tiba-tiba tangannya di cegat oleh Joon yang sedang menatapnya.
"Siapa kau?" Tanya Joon pada Shaina.
"Maaf Joon, dia telah mengganggu mu" sela Fahri.
Perhatian Joon masih menatap sepasang mata yang digenang air mata itu.
"Apa kau Shaina? Shaina ku?" Tanya Joon kembali.
Harris dan Calvin segera menghampiri Joon.
"Joon, lepaskan dia, ayo kita pergi dia bukan Shaina mu" sela Harris.
Joon mengabaikan kedua sahabatnya dan tetap bersikeras bahwa perempuan di depannya itu Shaina istrinya.
"Shaina, ini kah kau sayang? Kami telah mencari mu selama ini" dengan cepat Joon menarik tubuh Shaina ke dalam pelukannya.
*Maaf ya jika ada kalimat dan kata yang enggak nyambung karena authornya belum sempat merevisinya***🙏🙏**...
__ADS_1