Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kebenaran


__ADS_3

Beberapa cangkir kopi sudah siap di seduh Joon dan telah tersaji di meja Joon bekerja hanya saja pelayan belum menyajikannya ke meja pelanggan, kopi-kopi itu khusus untuk orang-orang yang telah mereservasi tempat di kafe tersebut. Namun yang mengusik Joon, orang yang memesan tempat itu adalah kolega bisnis Darrell yang tentunya, ia juga jadi salah satu tamu dari orang-orang tersebut.


Sebuah pertemuan orang-orang penting untuk membahas perkembangan kerja sama mereka, tamu pentingnya adalah Darrell yang ditemani oleh Gladys.


Sebuah kesempatan emas bagi Gladys untuk unjuk gigi yang ingin menghapus julukannya sebagai wanita penghibur dunia malam di depan semua orang, karena ia berhubungan dengan salah seorang anggota keluarga terpandang.


PRANG!


Satu cangkir kopi menghantam lantai hingga tercipta beberapa keping pecahan, tumpahan kopi mengenai tas branded Gladys atas kecerobohan seorang pelayan yang tidak sengaja bertubrukan dengan seorang pria, anggota pertemuan tersebut.


Sontak pelayan itu jadi makian pelanggannya terutama dari Gladys yang tidak terima dengan keteledoran pelayan tersebut.


"Maaf nyonya" ucap pelayan itu, membungkuk tubuhnya di depan mereka semua.


"Maaf-maaf! Itu saja yang kau tahu! Kau pikir hanya dengan kata maaf kau bisa memperbaiki tas ku?" Berang Gladys.


Tidak hanya Gladys, tapi semua anggota pertemuan tersebut menyudutkan sang pelayan yang tidak seharusnya di persilahkan karena bukan atas keinginannya melakukan kecerobohan ini melainkan lelaki yang menubruknya.


Harley, si pemilik restoran ikut turun tangan langsung untuk menenangkan suasana, ia bahkan meminta maaf atas kecerobohan karyawannya.


"Saya tidak terima dengan pelayanan yang buruk ini! Akan ku buat kafe ini hancur!" Ujar Gladys dengan lantang.


"Maaf nyonya, kami akan mengganti kerugian nyonya" ucap Harley dengan sopan karena ia tahu sedang berhadapan dengan siapa dan apa yang bisa mereka lakukan jika ia membuat kesalahan sedikit saja.


"Ganti rugi?" Gladys tersungging sinis, melihat mereka dengan tatapan merendahkan, "punya kafe kecil saja sudah sombong!" Gladys tersenyum jahat dan melirik Darrell di sebelahnya yang tampak tenang, "aku tidak mau ganti rugi, tapi aku mau kafe ini tutup!" Tekan Gladys.


Darrell tersenyum tipis, bawahannya yang mengerti maksud Darrell segera mengambil alih dan hendak menghancurkan barang-barang penting milik kafe. Ekspresi Gladys langsung tersenyum melihat kekasihnya yang mau menuruti keinginannya.


"Ini tidak adil kalian bersenang-senang tapi tidak mengajakku, bukankah itu keterlaluan?" Tiba-tiba Joon ikut nimbrung dalam kekacauan itu.


Darrell tersenyum tipis dengan alis terangkat melihat Joon ikut menarik kursi untuk duduk di ujung meja tepat berhadapan dengannya.


Gladys mendengus, "Pelayan ini lagi! Kau kira dirimu siapa? Berani-beraninya kau duduk di sini, kembali ke tempatmu dan layani kami sebagai tuanmu!" Sosor Gladys.


"Joon, kembali ke tempat mu, jangan buat masalah lagi" perintah Harley.


Joon telah menjadi sorotan rekan-rekannya dan anggota pertemuan itu dengan aksi beraninya. Namun tidak dengan Harris yang tahu semua mengenai asal-usul Joon. Meski di bentak atau apapun itu Joon tetap tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya bahkan ekspresinya terlalu cuek dengan mereka semua.


"Memalukan sekali, ternyata selera mu tidak lebih dari seorang penggila kehormatan" cetus Joon.


"Jaga kata-katamu!" Sergah Gladys pada Joon.


Darrell tersungging sembari mengangkat tangannya agar Gladys berhenti bicara,


"Bukankah seharusnya itu kau ucapkan pada dirimu sendiri?" Ucap Darrell.


Joon tertawa, "tuan Darrell yang terhormat, kita berbeda, aku tidak suka mengambil apapun yang bukan milikku sedangkan kau?" Imbuh Joon.


Darrell tersenyum tipis, "Kau benar, aku selalu ingin memiliki apapun yang kau miliki bahkan yang kau miliki sekarang" Darrell menyeringai.


Joon beranjak dari duduknya, matanya memencing tajam kearah Darrell, "sedikit saja kau berani menyentuhnya, aku tidak ragu-ragu menghabisi mu!" Ancam Joon.


Hahaha...!

__ADS_1


Darrell tertawa lepas dan mendekat pada Joon,


"Melihatmu berani mengancam ku seperti ini, aku semakin yakin dia sangat istimewa bagimu, tapi tidak apa-apa karena aku semakin tertarik untuk mendapatkannya juga" ucap Darrell.


Joon mencengkeram kerah baju Darrell dengan kuat "secuil saja tangan kotor mu ini menyentuhnya akan ku pastikan kau hancur!" Murka Joon.


Karena tindakan Joon yang berani mencengkeram bos besar itu membuat yang lain jadi panik.


"Joon! Lepaskan dia jika tidak ingin menyesal!" Perintah Gladys.


Atas perintah Gladys sepucuk pistol terarah ke kepala Joon yang dilakukan oleh seorang lelaki pria yang merupakan anak buahnya Darrell.


"Sepertinya Anda nona Gladys juga harus berhati-hati berbicara jika tidak ingin menyesal juga" sela pria yang lain, yaitu Cristian yang juga membidik kepala Darrell dengan senjatanya.


Joon melepaskan cengkeramannya dan duduk di kursinya kembali, menyeringai licik layaknya seorang penguasa.


Suasana semakin mencekam, Darrell dan Joon sama-sama di bidik pistol oleh orang yang berbeda, orang-orang mulai menyingkir dari mereka karena ketakutan.


Gladys sangat terkejut melihat Cristian mengarahkan pistol ke kepala Darrell.


"Cristian! Apa yang kau lakukan? Darrell tuan mu, kenapa kau mengarahkan pistol mu padanya?" Bentak Gladys.


Cristian tersungging, "karena kalian mengancam keselamatan tuan muda" ujar Cristian.


"Siapa yang kau maksud tuan muda? Joon itu hanya pelayan! Dia hanya orang buangan dan tidak berguna!!" timpal Gladys.


"Seharusnya nona Gladys melihat diri sendiri sebelum berkata hal buruk untuk tuan muda" sela lelaki lainnya yang tiba-tiba muncul.


"Papi?" Gumam Harley yang terkejut melihat pak Kosim yang hadir di tengah-tengah perdebatan Joon dengan orang-orang tersebut.


"Hei pak tua! jaga kata-katamu! Kau tidak tahu siapa aku? Aku bisa menghancurkan mu dan keluargamu!" Ancam Gladys.


Hahaha....


Joon tertawa, "lihatlah kekasihmu! Berani-beraninya dia mengancam orang-orang ku, apa itu karena kau terlalu memanjakannya?" Timpal Joon.


Darrell kembali ke tempat duduknya semula dan saling berhadapan dengan Joon.


"Aku tidak menduga ternyata kau sudah sejauh ini, tapi aku salut padamu" ucap Darrell.


PROK! PROK! PROK!


Darrell bertepuk tangan "Joon Rafardhan, akhirnya kau muncul juga sebagai pewaris tunggal, bahkan kau telah mengambil alih kembali orang-orang yang selalu setia pada keluargamu, tapi tidak apa-apa karena aku semakin tidak sabar melihat keangkuhan mu dulu yang melebihi keangkuhan ku" timpal Darrell yang tersungging.


Rekan kerja Joon terkejut mengetahui identitas asli Joon yang sebenarnya.


Joon tersungging sinis pada Darrell, "jangan pernah samakan aku dengan mu" sela Joon.


"Kau benar, kita tidak sama, karena kau tuan muda yang memiliki semuanya dengan mudah bahkan kau tidak menghargai siapapun selain uangmu, sedangkan aku hanyalah bayang-bayang semu dan setiap saat harus mengalah demi tuan muda meski harga diriku di direndahkan oleh mu" papar Darrell.


Joon terdiam sambil memandang Darrell yang berusaha mengontrol emosinya.


"Apa aku mengingatkanmu sesuatu?" Tanya Darrell.

__ADS_1


Masa lalu Joon kembali muncul ketika ia baru berusia 5 tahun, ketika Ervian sedang sibuk dengan urusan sekolahnya, Joon punya satu orang lagi yang selalu menemaninya bermain, menjaganya dari bahaya dan melindunginya dari laba-laba binatang yang paling di takutnya, yaitu Darrell.


Tapi ada hal yang berbeda, setiap kali Joon melakukan yang luar biasa ia akan mendapatkan pujian dan sanjungan bahkan hadiah dari orang-orang. Namun, Darrell malah mendapat yang sebaliknya karena ia di anggap menyaingi Joon, maka ia akan di hukum.


Disaat Joon kecil terluka, Darrell kecil juga yang di salahkan karena ia tidak bisa menjaga adik sepupunya itu meski itu murni kesalahan Joon sendiri, tapi Darrell tidak pernah menyalahkan siapapun atas hukuman yang ia dapatkan, malahan ia senang karena ia bisa jadi pelindung dan seorang kakak bagi Joon.


Namun perlakuan yang tidak menyenangkan itu terus di dapatkan Darrell hingga mereka remaja, perlahan-lahan Darrell merasa hidupnya tidak adil dan ia mulai membenci Joon bahkan ia tidak peduli lagi dengannya. Dari situlah Darrell mulai berani bersaing terang-terangan dengan Joon dan selalu ingin merebut apapun yang dimiliki Joon agar ia juga bisa merasakan rasa sakit Darrell yang di abaikan oleh semua orang bahkan keluarga sendiri.


"Ya Tuhan, Joon jangan pasang wajah kasihan itu terhadapku" ujar Joon, "karena aku tidak suka di kasihan oleh siapapun apalagi kau!" Tekan Darrell.


"Apa yang kau inginkan? Uang? Perusahaan? Kehormatan? Kekuasaan? Rumah besar? Keluargaku? Bahkan aku tidak punya apa-apa lagi karena kau sudah memiliki semuanya" ujar Joon pada Darrell.


Darrell tersenyum tipis, "aku memang sudah mendapatkan semua yang kau sebutkan itu, tapi aku belum melihatmu benar-benar hancur, merasakan tidak berharga, di benci hingga dikucilkan" papar Darrell, matanya memerah menatap tajam pada Joon, urat-urat lehernya menegang.


Joon terdiam melihat Darrell yang selama ini dianggapnya tidak berhati ternyata menyembunyikan rasa sakit dan kebencian yang mendalam terhadapnya.


"Jika kau benar-benar membenciku kenapa kau melampiaskan amarahmu dengan melenyapkan keluargaku? bahkan membuat anak-anak kakakku jadi tidak memiliki ayah lagi itu juga karenamu!" Kata Joon.


Darrell tersenyum tipis dan menyeringai, "sejak dulu kau tidak berubah, angkuh dan sombong, menyalahkan orang lain tanpa mencari tahu kebenarannya, tapi tidak apa-apa aku sudah terbiasa disalahkan dan jadi kambing hitam atas kecerobohan mu, karena akulah yang jahat dan kau pahlawan yang selalu di puja, bukankah itu identitas kita dari dulu" balas Darrell.


PRIIKKK! PRIIKKK!


Tas belanjaan berisi mainan dan perlengkapan bayi jatuh ke lantai, bahkan kotak sepatu mungil ikut keluar dari paper bag.


Joon dan Darrell segera menoleh ke asal suara itu, Alice dan Alfan mendekat, selangkah demi selangkah pada Joon. Tampak berdiri Shaina mematung di depan pintu masuk kafe bersama Hannah.


Beberapa menit yang lalu Hannah dan Shaina memaksa masuk kedalam saat melihat Joon mencengkeram baju Darrell. Shaina yang khawatir keadaan Joon akan di sakiti oleh Darrell, memohon diizinkan masuk pada anak buah Darrell yang menjaga pintu masuk, awalnya mereka mengusir Shaina tapi salah seorang dari mereka pernah melihat Shaina bersama Darrell beberapa kali jadi memperbolehkan mereka masuk karena berpikir Shaina dan anak-anak orang spesial Darrell karena beberapa kali Darrell membelikan mereka hadiah.


Pembicaraan dua bersaudara itu telah di dengar Shaina semuanya, dan ia terkejut mengetahui Joon ternyata orang kaya bahkan orang yang cukup di hormati, selain itu Joon dan Darrell selama ini sama-sama suka bermain kekerasan dan berbahaya dari orang-orang di sekitar mereka yang mempunyai senjata api.


"Shaina?" Gumam Joon.


"Paman Joon kenapa bertengkar lagi dengan paman Darrell? Tanya Alfan.


Joon langsung memeluk Alfan dan menyeka kepalanya sedangkan Alice mendekat pada Darrell.


"Kalian bertengkar lagi? Apa kalian tidak malu di lihatin orang-orang? Padahal kata Mama sesama saudara itu tidak boleh bertengkar, kami saja selalu di suruh baikan jika berantem" ucap Alice dengan sifat polosnya.


Darrell terdiam, urat-urat yang menegang kini kembali hilang seperti sedia kala.


"Hei anak kecil! Jangan ikut campur urusan orang dewasa!! Kamu pulang sana sama ibumu!!" Bentak Gladys.


Dengan cepat tangan Gladys di cegat Darrell dengan tatapan tajam menyoroti perempuan itu.


"Sekali lagi kau membentak mereka, jangan salahkan aku melupakanmu sebagai perempuan" ancam Joon.


Gladys berdecak kesal, "Darrell, kenapa kau diam? Dia membentak ku, lakukan sesuatu untuk menutupi mulutnya" adu Gladys pada Darrell.


Namun ada yang berbeda dengan Darrell yang semakin mencengkram erat tangan Gladys.


"Darrell sakit, lepaskan tanganku, kau menyakitiku" pekik manja Gladys.


"Sedikit saja kau menyentuh Alice jangan harap kau memiliki tangan yang utuh" tukas Darrell pada Gladys dengan nada mengancam, lalu dilepaskan tangannya itu, kulit Gladys memunculkan warna merah akibat cengkraman kuat Darrell.

__ADS_1


"Sayang, kenapa denganmu? Kenapa kau berbicara seperti ini?" Tanya Gladys.


Namun hanya didiamkan oleh Darrell, seakan tidak peduli dengan keberadaan perempuan tersebut karena matanya cuma tertuju pada Shaina.


__ADS_2