
Hannah segera berlari menuju Shaina dan membantunya berdiri, yang lain juga mulai mendekat pada Shaina.
"Shaina?" Kata Joon yang hendak memukul Darrell.
Ia mendorong Darrell dan menghampiri Shaina yang mulai kesulitan berdiri bahkan anak-anak ikut menangis melihat Shaina terus mengatakan sakit.
"Shaina... Shaina... Kau kenapa?" Joon memeganginya.
"Sakit..." Pekik Shaina.
"Joon, ku rasa kita harus membawanya ke rumah sakit, sepertinya Shaina mengalami sesuatu dengan kandungannya" ujar Calvin.
Joon segera menggendong Shaina di saat Calvin yang hendak melakukannya. Harris segera berlari ke villa tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa mobil, Joon dan yang lain langsung masuk ke dalam mobil.
Darrell mengikuti mereka di belakang. Tiba di rumah sakit Shaina langsung di tangani oleh dokter sesuai permintaan Calvin yang lebih dulu menghubungi pihak rumah sakit saat mereka masih dalam perjalanan.
Mereka semua berdiri di depan pemeriksaan Shaina dengan perasaan tidak menentu, berharap dokter segera keluar dan memberitahu kabar baiknya, Hannah dan Darrell semakin bingung mendengar mereka memanggil nama Shaina pada Helena, dari Joon hingga para teman-temannya menyebut Helena sebagai Shaina.
Derit pintu berbunyi, Joon dan yang lain berhamburan mengelilingi sang dokter.
"Boleh saya berbicara suaminya?" Ucap dokter.
Semua laki-laki di ruangan itu terdiam dan saling melempar pandangan, termasuk Darrell yang sejak tadi menunggu dengan cemas seperti yang lain, Alice dan Alfan terus menangis memanggil Mama mereka, khawatir Shaina kenapa-napa.
"Dok, saya adiknya, suaminya sudah meninggal dunia" sela Hannah.
Dokter itu sempat melihat aneh pada para lelaki yang mengerumuninya sebelum ia memberitahu Shaina baik-baik saja, hanya mengalami kontraksi ringan tapi belum di perbolehkan keluar dari rumah sakit dulu mengingat kondisinya belum stabil, esok pagi baru diperbolehkan pulang. Setelah memberi tahu mereka semua, dokter tersebut pergi dan meninggalkan mereka.
Joon menggandeng Alice dan Alfan dan mengajak mereka masuk menemui Shaina.
"Mama...!" Seru si kembar saat melihat Shaina dan langsung memeluknya.
Joon membantu Shaina duduk.
"Sayang...! Kalian kenapa nangis?" Tanya Shaina yang terkekeh melihat si kembar.
"Kami takut Mama akan ninggalin kami juga seperti Mama" gumam Alice dan Alfan.
Shaina melihat Joon dan Harris bahkan Calvin yang berpura-pura membuang muka. Lalu ia memeluk si kembar.
"Jangan khawatir kita tetap akan baik-baik saja" ucap Shaina, mencium pucuk kepala mereka bergantian.
"Hannah, kembalilah ke villa, anak-anak perlu istirahat" ujar Joon pada Hannah.
"Alfan enggak mau kembali ke villa, Alfan mau sama Mama" rengek Alfan.
"Alice juga enggak mau ninggalin Mama" sambung Alice.
"Tidak apa-apa sayang, Mama akan pulang besok pagi, kalian semua istirahat saja di villa" Joon merangkul si kembar yang terisak.
"Paman, kami mau tinggal sama Mama juga".
"Alice, Alfan pulanglah ke villa, besok Mama akan menjemput kalian" sela Shaina.
"Tapi Ma" sahut Alfan.
Shaina tersenyum dan menggerakkan bibirnya seakan mengatakan, "ku mohon...".
Si kembar mengangguk meski bibir mereka mengerucut, tapi sebelum mereka menghilang di balik pintu, Shaina sempat mengedip mata dan mengangkat tangannya, jemarinya memberi kode Ok yang diikuti gerakan bibir, Alice dan Alfan tersenyum dan membalasnya dengan gerakan yang sama.
Mau tidak mau Harris juga harus kembali ke villa bersama Hannah dan anak-anak, untuk menjaga mereka sesuai permintaan Joon padanya.
Darrell mendekat pada Shaina, "kau tidak apa-apa?" Tanyanya.
Joon hendak menghadangnya tapi Calvin lebih dulu mencegatnya karena tidak mau ada kekacauan lagi apalagi mereka sedang di rumah sakit.
"Aku tidak apa-apa" sahut Shaina yang terkejut.
"Jika ada yang ingin kau butuhkan katakan saja padaku" tambah Darrell.
Shaina tertegun sejenak, bekas darah di bibir Darrell menarik perhatian Shaina, "i-iya, te-terima kasih" sahut Shaina.
Joon menyela, "tidak usah berterima kasih padanya, kita tidak butuh bantuannya!" Sergah Joon.
__ADS_1
Shaina mencubit pinggang Joon dan melototi tajam pada Joon, "kau ini!" Decak Shaina.
Terpaksa Joon mundur dengan kekesalannya.
"Bolehkah aku juga menemani mu di sini?" Ucap Darrell, seketika Joon dan Calvin tersentak kaget.
"Apa-apaan kau??" Sergah Joon lagi, namun Shaina lagi-lagi memencingkan mata padanya.
"Ku-kurasa itu tidak perlu, kau pasti punya urusan sendiri" jawab Shaina.
"Urusanku sudah selesai, sekarang aku tidak ada hal penting yang ku kerjakan" ucap Darrell.
Nafas Shaina tertahan, ia kehabisan akal untuk menolak tawaran Darrell, ia tidak mau ada masalah lagi jika Darrell dan Joon seruangan. Shaina juga takut pada Darrell setelah tahu sifat aslinya yang kejam, jadi ia tidak berani mengusiknya dengan menyuruhnya pergi.
"Ba-baiklah" sahut Shaina.
Joon dan Calvin terkejut mendengar jawaban Shaina. Sedangkan Darrell tersenyum lembut dengan jawaban tersebut.
Setengah jam berlalu, sepi dan tenang, aura mencekam menyelebungi ruangan Shaina, itu lebih seram daripada berada di rumah hantu. Dua laki-laki menyukainya dan satu lagi orang yang berbahaya namun selalu mengincarnya, membuat Shaina enggan memejamkan matanya, khawatir jika sekilas saja ia memejamkan mata maka entah apa yang terjadi, bisa-bisa mereka saling membunuh.
Mendadak Shaina menggerak-gerakkan kakinya dan seperti robot yang menggunakan alat control, tiga laki-laki itu mendekat. Sontak jantung Shaina berdegup kencang.
"Kenapa?" Tanya Calvin sang dokter yang paling siaga meski Shaina bukan pasiennya.
"Hah! I-ini kakiku pegal-pegal" sahutnya.
"Kaki yang mana?" Tanya Joon.
"Kanan" sahut Shaina.
"Biar aku pijat" sela Darrell.
"Hah?!" Ucap Shaina.
Semua mata tertuju pada Darrell yang seperti anak kucing yang berusaha tetap maskulin meski ia sangat peduli dengan Shaina. Beberapa saat mereka mematung.
"Ti-tidak usah, kakiku bau biar dia saja yang melakukannya" ujar shaina yang meringis.
Shaina memejamkan matanya sesaat, "bodoh! Kenapa aku pake alasan bau kaki segala? Memalukan sekali" batinnya.
Calvin dan Darrell kembali ke tempat mereka, kursi yang di minta pada perawat tadi. Mereka duduk berjauhan kecuali kursi dan Joon dan Calvin.
"Si kuat, si cerdas, si penurut" mata Shaina berkeliaran bebas mengamati tiga laki-laki itu satu persatu, "jika saja tidak ada larangan punya hareem dan aku terlahir sebagai ratu, mereka pasti cocok ku jadikan Harem ku" batin Shaina yang cengengesan dengan hayalannya.
Hihihi hihihi.... Hahaha.... Shaina tertawa lepas karena terlalu larut dalam imajinasinya.
"Kenapa kau?" Tanya Joon.
Shaina kaget dan sadar dari hayalan semunya, apalagi ia sedang di perhatikan oleh para lelaki tampan dengan ciri khas masing-masing dari mereka.
"Oh! I-itu a-aku lagi teringat pada komik yang pernah ku baca" sahut Shaina.
"Komik? Kau suka baca komik?" Sela Darrell.
Shaina segera beranjak dari tidurnya dan menarik kaki dari tangan Joon, untuk dapat duduk bersila, kebiasaan lamanya kembali muncul di mana ia kerap duduk layaknya laki-laki hingga sering membuat teman-teman kesal padanya yang tidak bergaya seperti perempuan.
"Iya, komik? Dulu aku suka baca komik apalagi yang ada adegan kekerasan gitu, aku juga suka nonton anime, kau tahu itu anime Narut*? Dari episode pertama hingga tamat semuanya telah ku nonton, dan masih banyak lagi anime yang nonton" ujar Shaina bercerita pada Darrell.
Darrell tersungging, "kau nonton itu semua?" Tanya Darrell yang diam-diam memperhatikan sikap Shaina.
"Ya tentulah! Itu tontonan yang seru, tapi tahu tidak?" Kata Shaina.
Darrell menggelengkan kepalanya.
"Karena keseringan nonton film-film seperti itu aku di cap perempuan aneh dan tidak dewasa oleh teman-temanku, dan menyalahkan hobiku itu sebagai penyebab aku jomblo seumur hidupku" lanjut Shaina.
"Jomblo? Apa itu?" Tanya Darrell.
"Itulah! Masak kamu enggak tahu? Jomblo itu single tidak punya pasangan, kau mana tahu rasanya jomblo, kau punya wanita itu si ladis" tambah Shaina
"Gladys" celetuk Darrell.
"Iya Gladys maksudku" Shaina terkekeh, "ya ampun kenapa aku terjebak bersama orang-orang cantik dan tampan ya? Jiwaku jelekku benar-benar di uji di sini" Shaina tertawa.
__ADS_1
Tawa Shaina semakin keras, dan ia mendapati Joon dan Calvin yang menatapnya, ia baru sadar telah mengatakan sesuatu yang terlarang pada Darrell. Dengan cepat Shaina jadi bergidik dan meringis.
"Ya ampun mati aku!" Gumam Shaina, menepuk jidatnya.
Joon menggertakkan giginya pada Shaina. Namun Shaina terlanjur mengatakannya.
"Jangan dengarkan apa yang ku katakan tadi, itu hanya cerita komik yang ku baca eh maksudku buku dongeng Alice dan Alfan" kilah Shaina.
"Wah! Sepertinya obat yang di berikan dokter untuk Shaina eh maksudku Helena terlalu kuat hingga Shaina berbicara ngawur" celetuk Calvin yang berpura-pura memeriksa selang infus Shaina.
"Helena" sela Joon untuk membenahi kalimat Calvin yang mengatakan Shaina.
"Iya maksudnya Shaina" sahut Calvin.
"Helena" benahi Joon lagi.
"Iya, Shaina, eh maksudku Helena" sambung Calvin yang semakin belibet. "Ya ampun bisa gila aku" gumam Calvin.
Darrell menangkap ada yang biasa dari mereka bahkan Calvin berbicara sesuatu yang sulit si mengerti.
"Istirahat saja Shaina" ujar Joon.
PLAK!
Calvin memukul Joon dengan mata sama-sama memencing. Shaina menarik selimut dan bergegas menyelebungi diri, karena tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Sedangkan Calvin permisi ke toilet hingga tertinggal Joon dan Darrell saja.
Suasana canggung terasa sangat pekat, lalu Darrell pun keluar dari ruangan itu baru Joon bisa bernafas lega.
Tiba di rumah setelah perjalanan jauh dan kejadian semalam, Shaina terus tertawa mengingat bagaimana ekspresi Joon dan Calvin yang belibet di depan Darrell semalam saat mereka di rumah sakit.
Joon berusaha menutup mulut Shaina yang tidak henti-hentinya tertawa, namun aksi mereka di lihatin Hannah. Shaina segera mengejar Hannah yang masuk ke kamar anak-anak.
"Hannah, dengarkan aku dulu" ucap Shaina.
"Aku tidak mau dengar apapun lagi, semuanya sudah nyata, kalian berdua punya hubungan khusus" bantah Hannah.
"Aku minta maaf" kata Shaina.
"Aku benci kakak! Kakak selalu merebut apa yang ingin ku miliki" Isak Hannah.
Air mata Shaina tidak terbendung lagi melihat gadis itu menangis, "Hannah, marahlah padaku tapi tolong jangan benci sama kakakmu, jika waktunya tiba ku mohon jangan membenci Helena" ucap Shaina.
Joon masuk dan meminta Shaina untuk tidak membicarakan tentang dirinya, ia mendekat Hannah.
"Hannah, jangan salahkan kakakmu tapi salahkan aku, aku yang jatuh cinta padanya lebih dulu" ucap Joon.
"Kenapa? Apa yang lebih menarik padanya daripada aku? Kak Joon, aku menyukaimu dari dulu, bukankah kak Joon tahu itu?" Tanya Hannah.
"Dari dulu sampai sekarang aku masih menganggap mu sebagai adikku, Hannah. Sedangkan aku dan Helena itu berbeda, tolong mengertilah Hannah" ujar Joon.
"Tinggalkan aku sendiri" ucap Hannah.
Shaina saling berbagi pandangan dan mereka keluar, membiarkan waktu untuk Hannah sendiri.
Si kembar yang penasaran apa yang sedang terjadi dengan para orang dewasa itu, bertanya pada Joon dan Shaina. Tapi Shaina mengalihkan pembicaraan mereka dengan hal lain.
Dua hari berlalu, hubungan Hannah dengan Shaina sudah membaik, berkat kepedulian Shaina yang melebihi Helena menggugah hati Hannah. Shaina selalu mengajaknya berbicara dan tidak ragu-ragu menyiapkan makanan yang di sukai Hannah. Bahkan Shaina selalu ramah padanya seakan melupakan masalah diantara mereka.
"Kak!" Seru Hannah yang datang ke ruang tamu, menghampiri Shaina yang lagi menemani anak-anak bermain.
"Ada apa?" Balas Shaina.
"Kita keluar yuk, " tambah Hannah.
"Ngapain?".
"Kita beli perlengkapan bayi, kakak kan belum ada persiapan apapun untuk persalinan nanti" tambah Hannah.
Sontak Alfan dan Alice yang mendengar ajakan Hannah jadi sangat bersemangat untuk keluar.
Shaina menyeringai, membuang muka dari Hannah.
"Aku... tidak punya..." Gumam Shaina.
__ADS_1
"Anna yang traktir, kakak kan dulu yang membayar kuliah Anna, sekarang Anna ingin memberi hadiah untuk keponakan baru Anna" ujar Hannah, seakan ia sudah paham yang di maksud Shaina.
*****