Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
pernyataan cinta lagi


__ADS_3

Joon meninggalkan mejanya dan berjalan menghampiri pak Kosim yang sibuk mengobrol dengan para tamunya, tapi saat melihat pemuda itu mendekat ia langsung meninggalkan mereka dan menemui Joon.


"Selamat ya" ucap Joon menyorongkan tangannya.


Pak Kosim menyambut tangan Joon dengan ramah, "terima kasih tuan" sahutnya, Joon menaikkan alisnya dan pak Kosim secepatnya mengganti panggilannya dengan sebutan Joon saja tanpa menambah embel-embel tuan.


Pesta pernikahan tidak akan lengkap jika tidak adanya acara lempar buket dari sang mempelai perempuannya. Para gadis-gadis telah bersiap-siap untuk menangkap bunga yang di lemparkan itu, tapi saat semua berharap dapat menangkapnya, tapi tanpa terduga bunga itu hanya menepis tangan mereka dan jatuh ke dalam tangan Shaina saat bertepuk tangan, ia kembali di soroti oleh para tamu karena ia yang beruntung mendapatkan buket tersebut.


Shaina kaget, melihat ke sekelilingnya tanpa kata-kata yang terucap, orang-orang bertepuk tangan padanya, melihat Joon sedang tersenyum padanya sambil mengedipkan mata.


Tiba di rumah mereka sibuk berganti pakaian dengan pakaian biasa, sedangkan Joon ke dapur.


Shaina yang telah berganti pakaian menyusul Joon ke dapur, tapi baru beberapa langkah ia menginjak lantai dapur sudah membuatnya tertawa melihat Joon yang mengotak-atik isi kulkas.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Shaina.


Tanpa menoleh Joon sibuk dengan urusannya, "aku lapar" sahut Joon.


Shaina tertawa dan ikut duduk di kursi meja makan, "bukannya tadi udah makan?" Tanyanya.


"Apa ada larangan jika sudah makan enggak boleh makan lagi?" Balas Joon.


Shaina menarik bibirnya seiring dengan naiknya alisnya.


"Hannah mana?" Tanya Joon.


Shaina memencingkan matanya terhadap Joon. Namun Joon masih menunggu jawabannya. "Dia sedang membacakan cerita untuk Alfan dan Alice" kata Shaina dengan ekspresi tidak senang, Joon bertanya soal Hannah.


Joon terburu-buru berkumur di wastafel dan kembali pada Shaina ia tersenyum dan tanpa aba-aba. Kecupan panas ia berikan meski Shaina sedikit kaget dan mendorong Joon.


"Apa yang kau lakukan?" Pekik Shaina menahan suaranya agar tidak terdengar oleh yang lain.


"Maaf khilaf" sahut Joon.


"Khilaf? Khilaf tapi sengaja!" Balas Shaina menyeka bibirnya.


Joon tertawa dan kembali melanjutkan makan, sesekali ia melirik Shaina yang memasang wajah cemberut. Salah satu tangan Joon memegang tangan Shaina dan tangan yang lain menyuap makanan, kelakuannya itu membuat Shaina kembali tersenyum bahkan hingga tertawa.


Di waktu bersamaan Hannah juga masuk, ia melihat Joon sedang makan namun ia juga mengelus-elus perut Shaina, mereka beradu pandang dan saling berbagi senyuman.


Paginya, hari kedua sekolah libur maka Joon juga enggak masuk kerja untuk mendapatkan waktu bersama keluarganya. Joon kembali berulah saat yang lain tidak menyadari kehadirannya di dapur, diam-diam iamenciumi pipi Shaina, Shaina mencubitnya sebagai peringatan, Joon malah tersenyum padanya.


Jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, Calvin dan Harris sudah tiba sesuai perkataan mereka semalam sebelum pulang dari pesta Gia dan Harley.


Joon dan yang lain juga sudah siap berangkat, sesuai kesepakatan, mereka semua berpiknik ke villa keluarganya Calvin di luar kota untuk melepaskan kejenuhan mereka akan suasana kota. Awalnya Joon tidak mau ikut karena ia tidak mau Shaina sampai kelelahan dalam perjalanan tapi anak-anak sangat ingin punya kesempatan liburan ke tempat yang lain karena mereka akhir-akhir ini di rumah terus.


Shaina juga penasaran dengan keadaan di luar kota, jiwa travelingnya meronta-ronta ingin keluar saat mengetahui Calvin mengajak mereka liburan. Jadi Joon tidak punya alasan untuk tidak ikut apalagi Calvin memberitahunya bahwa Shaina hisa rileks menjelang persalinan, Hannah juga setuju.


Calvin juga sengaja membawa mobil yang muat banyak penumpang agar mereka muat semua. Meski tempat duduk tidak berdesakan tapi tidak bisa di pungkiri Shaina tidak nyaman duduk dalam waktu lama, terlihat beberapa kali ia bergerak mengganti posisi duduknya.


Sebuah villa berdiri megah di daerah pedesaan, Calvin memberhentikan mobilnya dan mereka masuk kedalam yang di sambut oleh beberapa orang yang bertanggung jawab mengurus rumah itu jika pemiliknya tidak ada.


Satu jam berlalu, waktu istirahat yang cukup terlebih lagi Shaina yang paling kelelahan diantara yang lain dengan kondisinya, tapi semua sangat perhatian padanya apalagi Joon.


Alice dan Alfan yang paling tidak kelelahan, baru tiba mereka sudah hilang untuk bermain dengan Harris, Joon juga sudah keluar untuk lihat-lihat, Shaina memintanya mengajak Hannah agar Hannah tidak merasa sendirian.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Calvin yang menghampiri Shaina di sofa.


"Aku baik-baik saja" sahutnya.


"Emm... didekat sini ada danau indah, bagaimana kalau kita keluar dan lihat-lihat?" Celetuk Calvin.

__ADS_1


"Oh... Ayo kita pergi!" Shaina beranjak dari duduknya dan berjalan keluar.


"Hati-hati" ucap Calvin yang tersungging melihat shaina yang cukup antusias.


"Tenang saja, aku tidak selemah itu, setengah hidupku untuk berjalan kaki" ujar shaina.


Calvin mengikuti shaina, "berjalan kaki?" Tanyanya.


Shaina mengangguk, "iya, saat aku sekolah aku tidak punya kendaraan jadi mau tidak mau harus berjalan kaki setiap harinya dengan jarak cukup jauh" cerita Shaina.


"Waahh! Kau pasti hebat seperti pendaki" imbuh Calvin.


Shaina tertawa, "berlebihan sekali aku di bilang hebat" timpal Shaina.


Calvin tersenyum melihat Shaina, ia juga bercerita masa kecilnya di villa itu dan Shaina cukup antusias mendengarkannya.


"Kita sudah sampai" ucap Calvin pada Shaina.


"Waaaahhh! Ini benar-benar sangat indah!" Seru Shaina, takjub dengan danau beku itu. Dengan bantuan Calvin, ia mendekat ke tepian danau untuk melihat pecahan es yang mulai mencair.


Setelah puas bermain-main di sekitar danau, mereka duduk di bangku tepian danau, Calvin melihatnya dengan tersenyum.


Namun tiba-tiba Calvin berdiri di depannya dan berlutut, awalnya Shaina tersenyum melihat aksi Calvin tapi hanya beberapa saat saja.


"Shaina, sejak mengenalmu aku merasa ada yang berbeda denganku, tapi setelah ku sadari ternyata aku menyukaimu" ucap Calvin.


Shaina terkekeh, "sedang apa kamu? Malu tahu kita di lihatin orang" kata Shaina.


Namun Calvin masih enggan untuk berdiri, ia menatap lekat-lekat mata Shaina, "aku serius, aku menyukaimu Shaina" tambahnya.


Senyuman Shaina memudar, ia menemukan tatapan yang sama dengan Joon saat mengungkapkan perasaannya dulu, Shaina mendadak jadi kikuk, "Calvin, a-aku minta maaf" ucapnya.


"Kenapa?" Tanya Calvin.


"Aku mengerti maksudmu, tapi aku benar-benar melihat mu sebagai Shaina yang menyenangkan bukan sebagai orang lain, aku tidak peduli apapun julukan mu, aku mencintaimu" lanjut Calvin.


Shaina mengerjap panik, ia tidak tahu cara bicara lagi yang benar, meski hatinya sempat tertarik pada Calvin, itu hanya sekedar suka biasa pada lawan jenis saja dari sifat alamiahnya sebagai manusia normal tapi tidak lebih dari itu.


"A-aku minta maaf" ucap Shaina lagi.


"Kenapa? Apa karena ada yang kau sukai?" Tambah Calvin.


Shaina terdiam dan saat mengalihkan perhatiannya, retinanya menangkap bayangan Joon jauh di belakang Calvin, ia segera terperanjat kaget dan Calvin pun menoleh ke belakang dan ia melihat Joon sedang memperhatikan mereka tidak lama kemudian ia pergi yang di susul Hannah.


Makan malamnya berjalan lancar hanya saja Joon, Shaina, dan Calvin tampak tidak banyak bicara, mereka lebih banyak diam daripada yang lain.


Sedari tadi Shaina tidak melihat Joon setelah makan malam, ia mencarinya ke berbagai tempat, lalu ia berpapasan dengan Harris di depan pintu yang selesai mengobrol dengan Joon di luar.


Sebuah kesempatan Shaina untuk berbicara sesuatu karena dari tadi Joon seperti menghindarinya.


"Joon"


Joon berbalik badan dan melihat Shaina memanggilnya.


Ia hendak masuk ke dalam villa untuk menghindari Shaina tapi dengan cepat tangannya di cegat.


"Kita butuh bicara" ujar Shaina.


Joon menghela nafas dan melihat ke sekeliling mereka, "katakan" ucap Joon.


"Jangan di sini, aku tidak mau ada yang melihatnya" kata Shaina.

__ADS_1


Joon menatapnya beberapa saat, setelah itu ia pergi ke luar dari area villa, menjauh dari semua orang.


Ketika dirasa sudah jauh dari halaman villa, Shaina melingkari tangannya di lengan Joon sesekali ia melirik lelaki itu.


"Joon, kau marah padaku?" Tanya Shaina.


"Untuk apa aku marah padamu?" Balas Joon.


"Jangan berbohong padaku" Shaina menghentikan langkahnya, Joon ikut berbalik padanya, "soal tadi itu, aku tidak tahu Calvin akan mengatakan itu padaku, aku minta maaf" ucap Shaina.


"Untuk apa minta maaf? Itu hak mu dekat dengan siapapun" gumam Joon sambil memalingkan wajahnya dari Shaina.


Shaina tersenyum dan mendekat, "Elif, lihat Papamu ngambek lagi" ucap Shaina mengelus perutnya dan melirik Joon.


Shaina mendekat dan berjinjit pada Joon sambil berbisik, "jangan ngambek seperti ini, jika tidak akan ku beri hukumannya" bisik Shaina.


Joon melihat padanya dan ia langsung menciumi Shaina hingga Shaina kaget sendiri, tapi kali ini Joon tidak segera melepaskannya seperti biasanya, karena ia melakukan ciuman panas yang penuh gairah hingga Shaina hanya bisa meremas jaket yang melekat di tubuh Joon.


Joon melepaskannya dan tersenyum puas melihat Shaina seakan tidak percaya dengan apa yang baru dilakukannya, tampak kekesalan dari wajah Shaina hingga ia memukul-mukul Joon.


"Apa yang kau lakukan padanya?"


Joon dan Shaina kaget mendengar suara itu dan segera mengarahkan pandangan mereka pada si pemilik suara itu yang tidak lain adalah Darrell, ia berdiri tak jauh dari mereka.


Joon menarik tangan Shaina untuk berdiri di belakangnya.


Darrell mendekat dan menghajar Joon, "apa yang kau lakukan padanya???" Bentaknya.


"Itu bukan urusanmu!!" Balas Joon yang terdorong.


"Dasar brengs*k!!!" Sembur Darrell sembari mengarahkan pukulannya terhadap Joon.


Namun Joon dapat menghindarinya, Shaina ketakutan setengah mati melihat mereka berdua bertengkar ia berusaha menyuruh Darrell berhenti tapi tidak di dengarnya.


Beberapa saat yang lalu, Darrell baru pulang dari pertemuannya dengan salah seorang rekannya, kebetulan ia melewati jalan depan villa tempat Joon dan teman-teman menginap, ia melihat Joon sedang menciumi Shaina meski Shaina tampak menolaknya dengan memukulnya. Darrell menduga Joon lah memaksa Shaina melakukannya, jadi ia sangat marah.


"Kakak?"


Tiba-tiba Hannah juga muncul, Shaina sangat kaget.


"Kenapa kakak lakukan ini padaku? Apa kakak tidak cukup menikahi kak Ervian?" Bentak Hannah.


Joon berhenti dan melihat Hannah yang menangis.


"Hannah, tidak seperti itu, kau jangan berpikir yang tidak-tidak dulu" kilah Shaina.


"Apanya yang tidak-tidak? Aku melihat sendiri kalian berciuman dengan suka rela, kak Joon kau jahat! Aku menyukaimu tapi kenapa kau malah tertarik pada kakakku yang sudah menikah dengan kakakmu?? Itu kakak iparmu" Sembur Hannah yang menangis.


"Hannah, kau salah paham, dia bukan kakak ipar ku" kilah Joon.


"Dasar brengs*k berlagak sok suci" timpal Darrell.


"Kau itu yang brengs*k!!" Balas Joon.


Kegaduhan itu di ketahui oleh penjaga villa, ia segera melapor pada Calvin, dan mereka semua yang mengetahuinya langsung menghampiri Joon. Benar saja Joon dan Darrell sedang bertengkar.


"Apa yang kalian lakukan?" Teriak Calvin pada mereka berdua.


"Kau tanyakan saja pada sahabat brengsek mu itu!" Hardik Darrell.


Calvin dan Harris berusaha melerai mereka tapi tidak berhasil karena Darrell sedang sangat marah dan Joon juga tidak mau diam saja apalagi yang memukulnya Darrell.

__ADS_1


"Hei kalian! Hentikan!!" Bentak Shaina. Namun suaranya di anggap angin berlalu.


"Aaauuu..." Pekik Shaina, mendadak ia memegangi perutnya yang terasa sakit.


__ADS_2