Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Rencana makan malam


__ADS_3

DRREETTT!!!!!...


Getaran ponsel Joon dibalik saku celananya menyadarkan mereka serta menghentikan langkah Joon selanjutnya yang sudah jelas-jelas akan menciumi Shaina. Joon berdiri, ia berjalan ke sisi meja kompor menjauh dari Shaina untuk menerima panggilan telepon tersebut.


Shania masih kokoh di kursinya, meringis dan mulutnya tidak henti-hentinya beristighfar serta bersyukur kepada Allah karena ia masih dilindungi dari nafsu mereka.


"Sebelumnya saya minta maaf tuan Joon, sepertinya hari ini saya tidak bisa bertemu tuan dan nyonya Helena karena ada keperluan mendadak" kata pengacara keluarga Joon yang menelponnya.


"Tidak apa-apa pak" sahut Joon, sudut matanya mengerling ke meja makan, melihat Shaina yang tampak menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Shania bergegas bangkit dari duduknya dan pergi ke ruang tamu membawa rasa malu yang didapatnya karena kekhilafannya, sampai-sampai ia tidak berani melirik Joon lagi.


"Joon dimana?" Tanya Harris.


Di ruang tamu Shaina dikejutkan dengan keberadaan dua teman Joon yang ternyata masih belum pergi dari rumah mereka.


Shania mengerjap, "Eh?! Joon..., masih di dapur" sahut Shania tergagap.


"Apa dia masih lama di dapur?" Tanya Harris lagi seraya melirik Calvin di sebelahnya yang diam saja dan hanya melihat Shaina.


"Emm... Itu..." Gumam Shaina yang bingung harus menjawab apa.


Ia berbalik badan untuk memberitahu Joon tentang keberadaan teman-temannya meskipun ia sendiri malu untuk bertemu Joon lagi setelah apa yang terjadi barusan diantara mereka. Tapi keadaan memaksanya untuk bertemu Joon. Namun, baru berbalik badan ke arah dapur ia dikagetkan dengan kemunculan Joon di depannya yang hampir saja mereka bertabrakan.


"Ada apa?" Tanya Joon dengan memalingkan wajahnya dari Shaina.


"I-itu... Teman-temanmu..." Sahut Shaina lagi dan juga memalingkan muka seperti yang dilakukan Joon.


Joon terkesiap melihat Calvin dan Harris yang masih berada di rumahnya, ia lupa tentang mereka yang menunggunya karena Joon tadi keburu lapar dan disana ia keasyikan bersama Shaina.


"Oh kalian?! Aku lupa kita harus kembali ke kafe" ujar Joon.


"Kamu sih gitu! udah di rumah bisa-bisanya lupain teman sendiri" ketus Harris.


"Maaf" ucap Joon pada sahabatnya dengan memasang wajah seriusnya.


Ditengah-tengah pembicaraan mereka, muncul Alfan dan Alice yang sudah selesai dari berganti pakaian, mereka berdua menghampiri Shaina yang mereka panggil Mama. Untuk mengusir kecanggungannya Shaina terhadap para lelaki itu terutama terhadap Joon setelah apa yang hampir terjadi diantara mereka jadi ia mengobrol dengan dua anak itu yang kerap kali ia mengelus rambut mereka.


"Aku pergi dulu" pamit Joon pada Shaina, suaranya terdengar tergagap yang menunjukkan bahwa ia juga canggung sama halnya yang dirasakan Shaina.


"I-iya" sahut Shaina.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, Shaina kembali duduk di sofa sambil meringis, malu karena ia dan hampir saja berciuman.


Calvin mengantar Joon dan Harris kembali ke kafe tempat mereka bekerja, didalam mobil, Joon lebih banyak diam dan acap kali meringis ataupun berdecak kesal, ia menyesal bertindak senekat itu terhadap Shaina.


"Bisa-bisanya aku melakukan itu" batin Joon


Calvin yang mengemudi mobil melirik Joon melalui kaca mobil, ia bertanya, "Sejak kapan wanita itu sudah berada dalam tubuh Helena?"


Pertanyaan Calvin membuyarkan lamunan Joon, ia sedikit terperanjat, "Saat aku jemput di rumah sakit, perempuan itu sudah ada" sahut Joon.


"Kau tahu darimana asalnya?" Harris juga ikut menanyakan rasa penasarannya.


"Aku tidak tahu, dia tidak mau mengatakan, dia juga shock, seperti Helena dia juga mengalami kecelakaan" ujar Joon.


"Maksudmu?" Sudi Calvin.


"Sesuatu terjadi padanya sebelumnya, bahkan ia tidak tahu dirinya masih hidup atau tidak dan dia takut untuk mengetahuinya, dia juga tidak tahu keberadaan Helena" jelas Joon.


"Jadi perempuan itu tidak lebih dari roh yang menguasai tubuh Helena?" Tambah Harris.


Joon mengangguk.


"Bagaimana kalau Helena, maksudku roh tersesat itu-" kata Harris.


"Ya maksudku Shaina itu! Mengulang kejadian yang membuat ia masuk ke tubuh Helena" saran Harris.


"Bicara apa kau ini?" Sela Calvin. Joon juga ikut menyimak pembicaraan Harris


"Maksudku mengulangi kejadian itu seperti saat Helena digantikan perempuan itu" kata Harris.


BUUUKK!!


Joon menendang jok mobil yang di duduki Harris hingga membuat Calvin ikut terkejut.


"APA KAU SUDAH GILA?! KAU INGIN MEMBUNUH HELENA DAN SHAINA SEKALIGUS BESERTA BAYINYA?" Timpal Joon, matanya menatap tajam kearah Harris.


Respon Joon membuat Harris bingung dengan yang dimaksudnya itu, hingga Calvin berkata, "Helena sebelumnya kecelakaan di leb tempat ia bekerja, hingga ruangan itu meledak dan Helena terpental keluar, dia selamat sekarang adalah sebuah keajaiban" jelas Calvin.


Harris terkejut karena sebelumnya ia tidak tahu persis apa yang dialami Helena, ia juga meminta maaf pada Joon yang memasang wajah ketus.


COFFE ROMANTIC....

__ADS_1


Disela-sela kesibukan bekerja, Harris masih menyempatkan diri meminta maaf pada Joon atas perkataannya mengenai Helena, tapi permintaan maaf itu menanggapi dingin oleh Joon, karena ia sendiri sudah melupakan itu. Ia hanya ingin pulang lebih awal agar dapat menepati janjinya pada Shaina untuk mengajaknya jalan-jalan malam ini.


Semua orang dapat melihat bagaimana Joon sedang merasa bahagia, dimana senyuman manisnya tidak pudar dari bibirnya sampai-sampai perempuan yang melihatnya dibuat tersipu malu olehnya yang mengira Joon tersenyum pada mereka. Harris yang melihatnya jadi bingung dengan sikap Joon itu.


Satu cangkir kopi lagi sudah dibuatnya dan pramusaji juga sudah membawanya ke meja sepasang remaja, mereka bercanda dan tertawa bersama. Joon menoleh ke luar ruangan yang terlihat jalanan yang diramaikan mobil berlalu-lalang, mendadak Joon tersentak lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi montir, melihat mobil di jalanan mengingatkannya pada mobilnya yang mogok tadi.


Jadi ia lekas-lekas meminta montir memperbaikinya agar malam nanti mereka bisa jalan-jalan bersama anak-anak.


Saat memasuki halaman rumah, jantung Joon sudah berdebar-debar sehingga ia jadi gugup untuk masuk ke rumah. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana untuk memulai percakapan dengan Shaina setelah kejadian tadi.


Perlahan Joon membuka pintu dan ia sudah dikejutkan dengan Alice yang menghampirinya.


"Paman! Jadi malam ini kita akan makan malam diluar ya?" Tanya Alice.


"Iya, Alice mau kan?"


"Ya mau lah paman! Bahkan Alice sangat senang!!" Sahut Alice dengan antusiasnya.


Joon melihat ke segala arah dan ia tidak melihat Alfan dan Shaina selain Alice saja.


"Alfan mana?" Tanya Joon, selang beberapa detik saja setelah Joon menanyakannya, Alfan pun keluar dari kamar.


"Mama Shaina mana?" Tanya Joon lagi.


"Mama di kamar" sahut Alfan.


"Joon, kau sudah pulang?" Tiba-tiba Shaina muncul di balik pintu kamar mereka dengan setengah badannya saya yang terlihat, "Tolong matiin kran air" katanya.


Joon berjalan menuju pintu kamar Shaina dan anak-anak seraya berkata, "memangnya kenapa?" Tanya Joon.


"Kran nya macet, aku sudah mencoba menutupnya tapi tidak bisa" kata Shaina.


Joon berjalan mengikuti Shaina ke kamar mandi, dibelakang Alice dan Alfan saling melihat dengan tatapan memencingkan.


"Ini salah mu!" Kata Alfan.


"Kau juga bersalah!" Tambah Alice.


Sampai di kamar mandi Joon sangat kaget melihat air memenuhi lantai kamar mandi. Joon mencoba menyumbat juga memutar baut yang terpasang di kran itu tidak juga berhasil bahkan air yang keluar semakin banyak.


"Tolong pegang ini, aku akan mengambil perkakas di garasi dulu" kata Joon pada Shaina.

__ADS_1


Shaina mendekat dan melakukan yang di katakan oleh Joon, Shaina terus menutup saluran air dengan tangannya seraya Joon ke garasi, beberapa menit berlalu Joon kembali dengan obeng juga perkakas lainnya.


__ADS_2