
Paginya, Joon melakukan rutinitasnya dengan lari paginya bersama Elif untuk menjaga fisiknya tetap prima dan fit, karena ia sedang tinggal di rumah keluarga Harris jadi ia hanya berkeliling di sekitar halaman belakang saja, Elif dibiarkan berlarian di rerumputan dengan dibawah pengawasannya, dua puluh menit berlalu, Joon berhenti dan berniat untuk kembali ke kamar dengan Elif.
"Jadi kau benar-benar ingin menikah tunangan mu?" Tanya Harris pada Fahri.
Joon memberi kode pada Elif untuk diam dan tidak mengeluarkan suara apapun, Joon memundurkan sedikit langkahnya untuk menyatukan diri dengan tembok, saat melihat Fahri dan Harris sedang duduk di belakang teras sambil mengobrol mengenai Shaina, Joon penasaran dengan jawaban Fahri atas pertanyaan Harris.
"Iya, aku akan menikahinya dalam beberapa hari ini" sahut Fahri.
"Tapi apa benar jika perempuan itu tidak dapat memberi keturunan untukmu?" Tambah Harris.
Fahri mengangguk, "itu benar, bahkan dia dan keluarganya sudah memberitahu saat aku melamarnya" sahut Fahri.
"Lalu bagaimana reaksi mu saat tahu dia memiliki kekurangan itu dan kau tidak putuskan dia?" Lanjut Harris.
Fahri menghela nafas berat, "sebenarnya kami tidak berpacaran, aku baru mengenalnya sebulan yang lalu, setelah aku baru putus dari Dinda" ujar Fahri,
Harris tersentak "jadi Dinda yang kemarin itu, mantanmu?" Sudi Harris.
Fahri kembali mengangguk, "iya, Dinda mantan ku, kami sudah berpacaran empat tahun lebih tapi ibu tidak merestuinya, ada banyak alasan ibu tidak menyukainya salah satunya Dinda terlalu sombong tapi menurutku tidak, dia terlalu baik malah namun ibu tetap saja tidak menyukainya dan pada suatu hari ibu pergi ke acara temannya dan bertemu dengan Shaina, ia menyukai Shaina apapun yang ada padanya, katanya Shaina itu sederhana dan tahu menghargai orang lain jadi ibu menjodohkan aku dengannya" ungkap Fahri.
"Jadi kau tidak benar-benar menyukai gadis itu?" Tanya Harris.
Fahri sempat menunda kalimatnya namun ia kembali berbicara, "emmm... di katakan suka tidak juga di katakan enggak suka enggak juga, Shaina memang baik tapi dia terlihat kulot dan bisa malu-maluin aku, lihat kan kemarin ia tidak pintar dandanan?" Tandas Fahri.
Joon bergegas masuk kedalam rumah untuk menemui anak-anaknya.
Harris melamun seperti sedang memikirkan sesuatu, hingga ia dikejutkan oleh Fahri.
"Aku tidak tahu apa mau mu dengan perempuan itu tapi saran saja, kau harus menghargai orang yang mau bersama mu sebelum ia pergi" ujar Harris.
Fahri tertawa lepas, "sejak kapan kau jadi filosofis kek gini?" Fahri menepuk-nepuk pundak sepupunya itu.
Harris tersenyum, "sejak seseorang yang aku sukai jadi milik sahabatku" sahutnya serius.
"Memang kurang ajar tuh sahabatmu!" Timpal Fahri.
"Tidak, dia tidak seperti itu, aku saja seharusnya sadar diri jika sejak awal mereka berdua memang di takdir kan untuk satu sama lain, bahkan jika dia memilih ku, aku tidak yakin punya cinta sebesar sahabatku itu, aku menyesal pernah mengganggu mereka, seandainya dia masih ada aku akan sangat senang melihat mereka berdua bersama lagi" ucap Harris.
Beberapa orang tampak sibuk memindahkan barang-barang ke dalam mobil dan Mak cik Wani masuk kedalam mobil tersebut bersama suaminya, membuat si kembar ikut penasaran apa yang dilakukan orang-orang itu.
"Nyonya mau kemana?" Tanya Alice yang menghampiri orang-orang tersebut.
"Ini... Kami mau nganterin pakaian yang harus dikenakan calon istri Om Fahri ke rumahnya" sahut Mak cik Wani.
"Ke rumah Mama? Eh maksud Alice ke rumah nona Shaina yang kemarin?" Tanya Alice.
"Iya, kamu mau ikut?" Tambah Mak cik Wani.
"Mau!" Sela Alfan sambil tersenyum pada saudarinya, dan Alice ikut mengangguk kepalanya dengan penuh semangat.
"Iya, soalnya kami mau minta maaf tentang kesalah-pahaman kemarin" tambah Alice.
__ADS_1
Di kediaman Shaina, ia sedang di interograsi oleh keluarganya mengenai kejadian kemarin, mengenai pengakuan Joon padanya.
"Aku tidak berbohong, aku benar-benar tidak kenal lelaki itu, aku hanya ingin membantu anak kecil itu yang terpisah dengan keluarganya" jelas Shaina yang terus berdalih bahwa ia tidak mengenal Joon maupun anak-anaknya.
"Gara-gara kamu, kami semua malu dengan keluarga Fahri, mau taruh dimana muka kami ini?" Cerca ibunya Shaina.
"Tapi Mak, Shaina benar-benar tidak kenal mereka, diajak bicara oleh anak-anak itu ya Shaina ladeni dan Shaina tidak nyangka ayah mereka datang dan bicara seperti pada Shaina" kilah Shaina menyakinkan keluarganya terutama ibunya yang terus mendesaknya untuk bicara yang sebenarnya.
Perbincangan mereka itu segera berhenti ketika sebuah mobil masuk ke pekarangan rumah Shaina. Dari dalam mobil itu keluar mak cik Wani dan suaminya, ibunya Shaina menyambutnya dengan ramah.
Mak cik nya Fahri memberikan beberapa pakaian khusus yang harus di kenakan Shaina saat hari pernikahannya sebentar lagi.
"Halo semuanya!"
Dua remaja keluar dari pintu belakang mobil Mak cik Wani. Shaina dan keluarga kaget melihat dua remaja itu.
"Mereka anak-anak temannya Harris di luar negeri" jelas Mak cik Wani pada Shaina dan yang lain.
"Harris anaknya Om nya Fahri yang di luar negeri?" Tanya ibunya Shaina.
Shaina hanya melihat sekilas kearah Alfan dan Alice yang tersenyum lebar padanya. Adik-adik Shaina saling berbagi senyum saat mengetahui anak-anak itu datang dari luar negeri.
"Iya, dua hari lalu mereka baru tiba dan sekarang menginap di rumah kami" tambah Mak cik Wani dan suaminya.
"Ya ampun... Jadi gimana ngomong-nya kami tidak ngerti bahasa Inggris" gumam ibunya Shaina yang tersipu malu untuk memulai ngobrol dengan dua remaja itu.
Alfan dan Alice tersenyum dan mendekat pada mereka, "saya Alfan dan ini Alice adik saya" ucap Alfan.
"Hah! Bisa bahasa Indonesia ternyata?" Tukas Bu Yani, ibunya Shaina.
Bu Yani dan pak Rahmat mengajak tamu mereka untuk masuk tapi Mak cik Wani dan suaminya menolak karena mereka harus pergi sekarang, tapi sebelum mereka kembali Alice dan Alfan meminta maaf pada Shaina dan keluarganya atas kejadian kemarin yang membuat Shaina malu.
Shaina mengatakan ia sudah memaafkan mereka dan meminta mereka untuk tidak memikirkan itu lagi. Mak cik Wani dan suaminya masuk kedalam mobil dan berpamitan pada Shaina dan yang lainnya.
"Nyonya Wani, kami tidak pulang sekarang bolehkan? Kami ingin berkeliling sebentar lagi di sini" kata Alfan pada Mak cik Wani.
"Bagaimana dengan ayah kalian?" Tanya suami Mak cik Wani.
"Nanti kami telpon Papa dan mengatakan kami disini" sela Alice.
"Tapi-" ucap suami Mak cik Wani.
"Tidak apa-apa, kami akan baik-baik saja di sini apalagi bersama nona Shaina, bukankah begitu nona Shaina?" Alice tersungging pada Shaina.
"Ta-tapi-" gumam Shaina.
"Tidak akan ada masalah nona Shaina, kami sering berpergian saat liburan, Papa kami tidak akan memarahi kami apalagi untuk datang kesini" ujar Alice.
"Oh!" Gumam Shaina.
Setelah mobil yang ditumpangi Mak cik Wani meninggalkan lokasi rumah Shaina, Alice dan Alfan di persilahkan masuk, seluruh anggota keluarga Shaina memperkenalkan diri pada si kembar, tapi si kembar malah tampak sangat akrab dengan anggota keluarga tersebut seakan sudah dikenal mereka semua.
"Benar seperti yang diceritakan Mama, kalian ini pasti paman-paman kami dan yang ini sepupunya Mama" Alice menunjuk seorang anak perempuan yang seumuran dengannya.
__ADS_1
Sahil dan adik-adiknya heran melihat sikap remaja kembar itu yang mengenal mereka semua.
"Ini pasti Paman Jamal yang suka marah-marah enggak jelas, dan ini Paman Adnan yang suka curhat sama Mama, dan kalau yang ini..." Alice mendekat pada Sahil sambil menyeringai lebar, "Paman Sahil yang suka pake baju Mama ketika masih kecil" Alice tertawa terbahak-bahak.
"Kakak!!! Kenapa mereka tahu aib kami? Itu cuma kakak yang tahu!" Pekik Sahil yang ditertawai oleh adik-adiknya karena cuma Sahil yang punya masa lalu yang kelam diantara yang lain.
Keheranan bukan hanya dialami Sahil dan yang lain saja tapi Shaina lebih-lebih heran lagi, apalagi kedua remaja itu terus memanggilnya dengan panggilan Mama.
Alfan beranjak dari duduknya dan duduk di dekat pak Rahmat, "kakek mau lakukan apa? Biar Alfan yang bantu" ujar Alfan.
"Iya kek, nenek juga kalau butuh apa-apa minta saja pada Alice atau Alfan, jangan sungkan-sungkan dengan kami, kami ini cucu kalian" tambah Alice yang penuh semangat dengan wajah riangnya.
Kedua orang tua Shaina saling beradu pandang dalam kebingungan mereka, hingga seluruh keluarganya menilik pada Shaina yang mengangkat kedua tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu Alice mendekat pada Shaina dan menatapnya lekat-lekat, hingga bola matanya tampak berbinar-binar sambil berkata, "Pantas saja Papa memilih Mama untuk dinikahinya, Mama tidak hanya perhatian tapi ternyata Mama sangat cantik" gumam Alice.
"A-apa yang kau bicarakan?" Shaina memundurkan tubuhnya dari Alice.
Mendadak dari mata indah Alice tercipta aliran air yang mengalir membasahi pipinya.
"Mama Helena memilih kau sebagai penggantinya dirinya, Mama Shaina kenapa tidak mengingat kami? Apa kami ini terlalu tidak pantas untuk punya Mama lagi? Tapi setidaknya ingatlah Elif, dia masih terlalu kecil dan masih membutuhkan Mama" ucap Alice dan ia secepatnya di pegang oleh Alfan untuk tidak terlalu memaksa Shaina mengingat mereka.
"Helena?" Gumam pak Rahmat.
Seketika semua mata tertuju pada pria paruh baya itu tidak terkecuali si kembar.
"Helena nama Mama kandung kami, dia sudah meninggal tiga tahun lalu bersamaan menghilangnya Mama Shaina" ujar Alfan.
"Apaan sih? Dari tadi Mama Shaina terus, aku bukan Mama Shaina kalian, aku tidak ingat pernah nikah dengan laki-laki sudah beranak" ketus Shaina yang beranjak dari duduknya.
Reaksi yang berbeda di tunjukkan keluarganya, mereka terlihat sedih dan sempat mengucapkan "innalilahi wa innailaihi raji'un" gumam mereka, karena nama Helena tidak terlalu asing bagi mereka semua kecuali dengan Shaina.
"Mama mau kemana?" Tanya Alice pada Shaina yang hendak ke masuk kamar.
"Aku bukan Mama kalian, aku tidak punya anak dan belum kawin" kilah Shaina.
"Mama" panggil Alice lagi.
"Aku-" gumam Shaina.
"Mama" potong Alice.
"A-" ucap Shaina.
"Mama... Mama... Mama........!" ucap Alice tidak berhenti-berhenti hingga membuat Shaina kewalahan.
"Terserah kau sajalah" pasrah Shaina.
Alice menyeringai penuh kemenangan bahkan ia memeluk Shaina dengan sangat bahagia, Alfan pun ikut memeluk Shaina, Shaina sendiri hanya bisa pasrah menerima pelukan hangat itu, walaupun Alfan sekarang sudah remaja tidak sedikitpun membuat Shaina risih atau apapun itu seperti dengan remaja laki-laki lainnya, yang ada saat bersama Alfan, ialah seperti perasaan seorang ibu untuk anaknya saja tidak lebih dari itu.
"Mama..." Ucap Alfan bersama saudarinya sambil tersenyum lebar pada Shaina.
"Bisa apa aku dengan kalian? Aku tidak akan menang" gumam Shaina.
__ADS_1
Namun secara diam-diam orang tua Shaina dan saudara-saudaranya malah tersungging dengan aksi si kembar itu atas diri Shaina.