Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kalap mata


__ADS_3

Setelah kepergian Darrell suasana kembali tenang dan anak-anak juga tidak menangis lagi. Di meja persegi itu mereka makan malam dengan masakan restoran yang di pesan Darrell sebelumnya.


"Joon makanlah ini, aku sudah menyiapkan untukmu" ucap Shaina, meletakkan piring berisi masakan enak di depan Joon yang bersikap dingin sejak tadi.


Joon bangun dari duduknya dan membuka kulkas, mengambil sebungkus sereal, di tuangnya ke dalam mangkuk yang di campurkan dengan susu lalu memakannya sampai habis tanpa berbicara sepatah katapun dengan mereka.


Saat Shaina beres-beres Joon enggan untuk membantunya tapi perasaannya tidak tega melihat perempuan itu terus berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya, jadi Joon meluangkan sedikit waktunya dan menyampingkan kesalnya untuk membantu Shaina di dapur.


Shaina tersungging melihat Joon ikut membantunya meski mendiaminya, sesekali matanya melirik wajah dingin itu dengan tersenyum-senyum. Usai beres-beres Joon langsung masuk kedalam kamar sedangkan Shaina masih menemani Alfan dan Alice di TV.


"Ma, alfan ngantuk" Alfan menutup mulutnya dengan tangannya.


"Alice juga" tambah Alice yang terus menguap.


"Kalau gitu ayo kita tidur" ajak Shaina.


Di dalam kamar mereka tidak langsung tidur melainkan membahas insiden tadi.


"Ma, kenapa Paman Joon berantem lagi dengan paman Darrell, bahkan paman tadi membentak Mama" celetuk Alice.


"Tidak begitu sayang, paman tadi tidak sengaja melakukan itu" Shaina mencoba berkilah dan tetap membuat Joon terlihat baik di mata anak-anak.


"Alfan sangat takut tadi, jika paman berantem lagi, dulu sama Kakek dan papa sekarang sama paman Darrell bagaimana kalau nanti sama Mama? Apa kita akan di usir dari sini?" tambah Alfan.


Shaina terdiam dan terus membelai rambut mereka berdua dan berusaha tersenyum meski rasa kekhawatiran itu juga menghampirinya.


"Paman Joon bukanlah orang seperti itu, tadi ia hanya sedang lelah saja dan besok kita akan bermain lagi seperti biasanya dengan Paman Joon" kata Shaina.


"Iya Ma!" Alice terperanjat dari tidurnya dan turun dari ranjang, "Alice tidak sabar bermain dengan paman lagi" seru Alice yang berlari menuju pintu.


"Tidak Alice, jangan sekarang, paman masih lelah, Alice enggak mau kan paman kelelahan?" Cegat Shaina yang menghentikan langkah Alice.


Tanpa sepengetahuan mereka, Joon berdiri di balik pintu kamar anak-anak dan telah mendengar semua pembicaraan mereka, membuat matanya berkaca-kaca bahkan sampai meneteskan air mata. Terharu dan menyesali perbuatannya karena melampiaskan kemarahannya pada anak-anak dan Shaina hanya karena ia membenci Darrell.


Di raihnya gagang pintu kamar, Joon ingin masuk dan meminta maaf pada mereka.

__ADS_1


"Ma, coba pake baju ini, pasti Mama sangat cantik, paman Darrell kan pintar beli baju bagus" Alice membuka paper bag berisi gaun pemberian Darrell tadi.


Diwaktu bersamaan Joon membuka pintu dan melihat Alice menenteng gaun di depan Shaina, gaun hitam itu juga di lekatkan Alice di tubuh Shaina.


Shaina yang sedang tertawa bersama anak-anak sangat terkejut melihat Joon tiba-tiba muncul dengan ekspresi tidak senang. Joon kembali membanting pintu kamar dengan kerasnya sebelum ia pergi.


"Joon" ucap Shaina, kaget melihat kehadiran Joon.


"Mama, apa Paman marah lagi?" Alice memeluk Shaina karena ketakutan.


"Tidak sayang, kalian tidur saja ya, ini udah malam agar tidak kesiangan besok" ujar Shaina.


"Iya Ma" sahut Alice dan Alfan.


Shaina mengecup kening mereka dan menyelimuti mereka lalu keluar untuk menemui Joon di kamarnya. Di ranjang Joon duduk bersandar di sandaran ranjang, sibuk bermain game online, tanpa menghiraukan kehadiran Shaina yang menghampirinya.


"Joon, apa kau marah padaku?" Shaina duduk di depan Joon.


"Kenapa tidak pake gaun itu? Padahal itu bagus Lo apalagi harganya pasti mahal" gumam Joon, perhatiannya masih fokus ke layar ponselnya.


Joon tersenyum sinis dan kembali sibuk dengan game, mengabaikan semua kata-kata Shaina, seakan-akan ia tidak ada di depannya.


"Joon!!" Bentak Shaina yang tidak tahan dengan sikap Joon. Namun Joon malah membanting ponselnya ke atas ranjangnya.


Shaina terperanjat dari tempatnya dan memundurkan langkahnya, ia ketakutan mengira Joon mendekat padanya padahal Joon hanya melewatinya saja untuk menuju pintu.


KLEK!


Bunyi gagang pintu yang terkunci membuat Joon tersenyum tipis.


"Pelankan suaramu agar anak-anak tidak mengganggunya tidur anak-anak" ucap Joon yang kembali mendekati ranjang.


Shaina berjalan cepat menuju pintu kamar tapi Joon mencegat tangannya, "Joon, ke-kenapa kau mengunci pintu?" Tanya Shaina tergagap, matanya melebar saat beradu pandang dengan lelaki itu.


"Bukankah kau ingin tahu kenapa aku marah? Bukankah kau tahu kesalahanmu?" Bisik Joon dengan senyum jahatnya.

__ADS_1


"Joo-joo-Joon, kenapa kau tersenyum begitu? Jangan buat aku takut" matanya Shaina bergetar hebat saat mendapati ekspresi Joon yang tidak biasanya.


Pelan-pelan Shaina memundurkan langkahnya menjauh dari Joon namun langkah kakinya di hentikan oleh sisi ranjang, ia sangat takut melihat lelaki di depannya itu seakan itu bukan dirinya. Shaina naik ke atas ranjang.


"Jangan begini..." Ringis Shaina, mengangkat tangannya kedepannya yang di jadikan satu-satunya tameng pelindung.


Joon melucuti bajunya sendiri dan di buangnya ke sembarang tempat, melihat Shaina dengan senyum ketusnya, lalu ia ikut naik ke atas ranjang juga.


"Joon, apa yang ingin kau lakukan?" Ringis Shaina dengan berusaha memundurkan tubuhnya dari Joon yang kian mendekat padanya.


"Kenapa kau menangis? Bukankah kau senang melakukannya dengan Darrell ketika aku tidak ada di rumah?" Bisik Joon yang menj*lati leher Shaina.


Shaina menggeleng-gelengkan kepalanya, "Joon kau salah, aku tidak seperti itu..." Rintih Shaina sembari mendorong Joon untuk menjauh darinya tapi tenaganya masih kalah jauh dengan Joon, meronta-ronta ataupun sampai menendangnya semua usaha itu sia-sia.


Joon kembali menyuruh Shaina untuk tidak berteriak agar anak-anak tidak mendengar mereka, Joon mengangkat kepalanya dari Shaina yang sudah berkeringat dingin.


Tidak peduli seberapa kerasnya Shaina menangis dan memohon, tapi Joon tetap tidak bergeming, selain itu Shaina juga tidak berbuat apa-apa lagi karena tenaganya terasa sangat lemah jika sudah berhadapan dengan Joon.


"Joon... kumohon jangan lakukan ini padaku... Joon, katamu kau mencintaiku... Tapi, kenapa kau memaksaku melakukan ini?" Rintih Shaina sembari mendorong Joon yang menggigit lembut lehernya dan tangan berusaha menyusup ke dalam kaos abu-abu yang membungkus tubuh Shaina.


Joon melepaskan mulutnya dari leher Shaina, "Itu karena kau tidak adil padaku, kau memilih uang daripada aku, kau sama seperti yang lain" gumam Joon.


"Joon, kau salah paham, aku masih bersamamu" balas Shaina.


"Bersamaku? Tapi kau telah memberikan semuanya pada pria lain! Bukankah kalian sudah berciuman seperti denganku? Atau bahkan sudah tidur bersama? Apa aku kalah hebat darinya sampai-sampai kau menolak ku?" Sembur Joon.


Tanpa aba-aba Joon merobek kaos Shaina sehingga perut dan dadanya terekspos indah di depan Joon, perut besarnya malah semakin menambah estetika tersendiri.


Tubuh Shaina terlihat bagaikan santapan lezat yang menggiurkan apalagi payu****nya yang sedang kencang-kencangnya sudah seperti buah-buahan segar yang seakan memanggilnya untuk dinikmatinya. Perlahan-lahan namun pasti Joon menurunkan tali bra-nya dan juga tidak ragu-ragu menciumi dada perempuan itu yang semakin indah karena bergerak-gerak seakan menggetarkan jiwa Joon yang melihatnya.


"Joooonnn..." Gumam Shaina.


Mulut Shaina tidak lagi bebas berkata-kata, karena Joon telah menyergapnya dengan sangat kuat, mengurung lidah mereka disana.


Joon yang terlanjur kalap mata, tidak bisa lagi menguasai dirinya, hasrat terpendamnya telah memaksa Shaina untuk melayaninya, ia melupakan cinta yang ingin di lindunginya hanya karena rasa cemburunya.

__ADS_1


__ADS_2