Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
Kekurangan ku


__ADS_3

Dijamu dilantai yang hanya beralaskan karpet sesuatu yang baru buat mereka semua terutama si kembar yang terbiasa dengan fasilitas mewah setelah Joon kembali mengambil alih perusahaannya.


Awalnya Harris memperkenalkan mereka sebagai rekan kerjanya yang berada dibawah tapi dengan cepat pak Herman bersuara, cukup dengan menyeru namanya saja sudah membuat Harris mengakui mereka sebagai sahabatnya yang tentunya profesi mereka yang sebenarnya masih di rahasiakan, karena Joon lebih tertarik di kenal sebagai orang biasa dan bukan sebagai orang yang berkuasa.


Marissa dan Gladys juga di akuinya sebagai temannya, walaupun begitu sifat angkuh dua wanita itu tidak bisa di sembunyikan di manapun mereka berada.


"Kalau yang manis ini siapa?" Tanya Mak cik Harris yang lain, kehadiran Elif yang super aktif ditengah lelaki dewasa cukup menarik perhatian.


"Ini namanya Elif" sahut Joon, memberitahu sedikit informasi mengenai putri kecilnya.


"Oh! jadi anda sudah menikah?" Pak cik Harris ikut bertanya pada Joon karena ia melihat anak kecil itu hanya mau bersama Joon saja..


Joon tersenyum, dan menoleh pada Alfan dan Alice, "mereka juga anakku" tambah Joon memberitahu status Alfan dan Alice.


"Benarkah? Padahal kamu tidak kelihatan seperti orang yang sudah punya anak gede, ibu mereka yang mana?" Tanya Mak cik Lina, kakak dari Mak cik Wina.


"Dia tidak ada di sini" jawab Joon, senyum getirnya kembali menghiasi wajahnya.


Mendengar pembicaraan itu membuat muka Marissa memerah padam. Sedangkan yang lain terdiam dan tidak tahu harus mengatakan apa didepan Joon dan anak-anak, karena mereka semua tahu jika pembicaraan mengenai istri Joon cukup sensitif untuk dibicarakan.


Mak cik Lina menghela nafas panjang sambil mendengus, "perempuan jaman sekarang memang aneh, bisa-bisanya ninggalin suami dan anak-anaknya demi apalah itu" ujarnya.


"Mama kami tidak meninggalkan kami, hanya saja ia pergi menemani papa kami untuk bertemu Tuhan" bantah Alfan membuat yang lain terdiam.


Dari ucapan Alfan mereka baru tahu kalau Joon bukan papa kandung mereka dan orang tuanya Harris pun memberitahu Joon adalah paman mereka yang juga sekaligus menjadi ayah mereka.


"Tapi kami masih punya Mama yang lain, hanya saja dia belum pulang tapi jika bertemu nanti, kami akan mengajaknya pulang" sambung Alice dengan senyuman penuh harapan.


Kalimatnya mampu meningkatkan menimbulkan tanda tanya pada orang-orang tersebut.


"Pak cik Herman?" sapa seorang lelaki yang baru masuk, ia menghampiri dan menyalami pak Herman dan istrinya, nyonya Bianca dengan sopan.


Laki-laki yang seumuran dengan Harris itu juga menghampiri saudara sepupunya, dan sedikit bercanda dengannya.


"Kawin juga kau Fahri? Gadis mana yang bisa tertarik padamu?" Goda Harris.


"Kau ini! Kau sendiri kapan kawin? Jangan cemooh orang terus" timpal Fahri.


Dua lelaki itu saling bersenda gurau, dan di sela-sela obrolan mereka nyonya Bianca ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.


"Makanya Fahri, carikan perempuan yang baik untuk si Harris biar cepat dia nikah dan enggak jadi bujangan tua" imbuh nyonya Bianca.


"Enggak mau ah Tante, nanti enggak cocok dengan selera Harris, Harris kan pengen gadis yang hot" tukas Fahri.


"Kamu benar Fahri, saudaramu itu kan enggak pernah mau dengan pilihan orang tua, dia lebih suka dengan pilihannya sendiri dan lihatlah sampai sekarang dia belum nikah-nikah juga" sambung nyonya Bianca.


Mendadak seruangan jadi gaduh membicarakan Harris yang belum menikah di usianya yang cukup matang untuk menikah, membuat Harris sedikit kesal dengan mereka.


"Omongin orang terus! Ngomong-ngomong mana tuh calon istrimu tuh, pengen lihat dia gadis seperti apa" ketus Harris.


"Besok ya, dia akan datang di acara ulang tahun Farida, akan ku perkenalkan dia pada kalian" papar Fahri.


****


Mak cik Lina mengajak mereka ke rumah serambi untuk memperlihatkan kamar untuk mereka semua, Alice sekamar dengan Hannah, Joon dengan Alfan dan Elif, sedangkan yang lain, mereka sekamar bertiga. Gladys dan Marissa lebih tertarik menginap di hotel yang tidak jauh dari lokasi kediaman keluarga Harris, agar dua perempuan merasa lebih nyaman dan privasi mereka lebih terjaga, serta tidak akan terganggu dengan hiruk-pikuk suasana keramaian rumah tersebut.


Keluarga Harris tinggal berdekatan, jadi meskipun sedang ada perayaan dan banyak orang yang berkumpul, mereka tidak harus khawatir tidak punya tempat tinggal, karena bisa tinggal di rumah sebelah yang merupakan rumahnya Mak cik Wina, juga merupakan adik dari pak Herman.


Dan rumahnya juga tidak kalah besar, karena mereka merupakan orang-orang kalangan atas di daerahnya.

__ADS_1



Akibat kejadian kemarin siang di jalan, Shaina terus memikirkan pemilik pita rambut tersebut, saking memikirkannya sampai-sampai kebawa mimpi semalam, ia membayangi wajah imut gadis kecil itu dan berharap ia bisa bertemu dengannya, bahkan ia ingin sekali menaruhnya dalam dekapannya.


"Pita rambut punya siapa itu Shaina?" Tanya Bu Yani yang keheranan melihat putrinya dari tadi terus mengelus-elus dan menciumi pita rambut tersebut.


"Enggak tahu Mak, Shaina temukan di jalan kemarin" sahut Shaina.


"Sejak kapan kakak suka dengan barang-barang yang di buang?" Seloroh Adnan, adik keduanya.


"Ini bukan barang buangan sembarangan, ini pasti sangat berharga bagi seseorang, ini juga sangat wangi, coba kamu cium" Shaina menyorongkan pita tersebut pada Adnan.


"Enggak ah" Adnan menepis tangan Shaina, "kakak saja yang aneh jangan ngajak-ngajak aku" timpalnya.


"Sudahlah kalian berdua, cepat bersiap-siap, nanti terlambat" seru Bu Yani.


Shaina masuk ke kamarnya dan menyimpan pita rambut itu dengan baik di kotak aksesoris pin kerudungnya.


****


Di kediaman Fahri, orang-orang mulai berdatangan. Joon dan kawan-kawan tampil cukup menawan meski hanya mengenakan kemeja biasa, tapi postur tubuh dan wajah mereka yang berbeda dari yang lain telah menarik perhatian para tamu undangan.


Tidak terkecuali Alice, yang cukup mencolok karena rambut ikalnya tergerai bebas diantara orang-orang berkerudung.


Sikap ramah yang ditunjukkan Joon dan kawan-kawan membuat anggota keluarga Harris senang.


Disaat Harris sedang mengobrol dengan teman-temannya, Fahri datang menghampiri mereka dengan menggandeng seorang perempuan, perempuan itu tampak cantik dengan gayanya yang modis.


"Siapa ini Fahri? Apa jangan-jangan dia calon istrimu itu?" Tanya Harris pada Fahri sambil melihat ke arah perempuan itu.


Fahri dan perempuan itu saling melempar senyum, lalu memperkenalkan perempuan itu pada mereka "perkenalkan namanya Dinda" ucap Fahri.


Di depan pintu gerbang, Shaina baru menjajakan kakinya di acara tersebut, pesta ulang tahun yang cukup besar untuk orang-orang kalangan bawah seperti Shaina, yang membuatnya minder diantara tamu lainnya, karena kebanyakan dari mereka adalah orang-orang punya status sosial tinggi di masyarakat berbeda jauh dengan dirinya yang hanya orang biasa.


Namun apa boleh buat, ia harus hadir ke acara tersebut dikarenakan statusnya sekarang yang akan berkerabat dengan orang-orang tersebut.


"Ayo kita masuk" ajak temannya Shaina.


"Iya" sahut Shaina.


Langkah Shaina terasa goyah saat menginjakkan kakinya diantara orang-orang tersebut, ia tidak mengenal siapapun mereka kecuali hanya beberapa orang saja, tapi ia sedikit bernafas lega karena ada beberapa temannya yang sudi berbarengan dengannya datang ke acara tersebut meski mereka ditemani oleh suami mereka masing-masing.


Diantara semua teman-temannya cuma Shaina yang belum menikah, sedangkan yang lain sudah memiliki anak bahkan ada yang lebih satu anak, itu membuatnya malu, karena diusianya yang cukup matang ia belum menikah, oleh karena itu ketika ada yang melamarnya ia langsung menerimanya meski ada desakan dari keluarganya untuk menerimanya.


"Kami mau kesana dulu, kamu mau ikut?" Tanya temannya.


"Enggak usah, aku di sini saja" sahut Shaina, ia segan mengekor pada teman-temannya yang sudah berkeluarga apalagi mereka punya suami.


"Baiklah, kau harus memberi tahu sayangmu itu agar dia menjemputmu" tukas temannya.


Shaina menanggapi perkataan itu dengan senyumannya, dan setelah kepergian teman-temannya pandangannya tertangkap pada Fahri yang sedang mengobrol dengan orang-orang, mendadak hati Shaina jadi kelabu saat melihat sosok perempuan di samping Fahri.


Dinda yang mengetahui kehadiran Shaina menyenggol lengan Fahri untuk memberitahu kedatangan Shaina. Fahri permisi pada yang lain, ia menghampiri Shaina.


"Bang Fahri" ucap Shaina pada Fahri yang mendekat.


"Kenapa kau pakai baju seperti ini?" Tanya Fahri, ada kekecewaan dari raut wajahnya.


"Ada apa bang?" Sudi Shaina.

__ADS_1


Beberapa orang mulai melirik Shaina dan Fahri yang sedang mengobrol.


"Lihatlah itu! dia calonnya si Fahri"


"Oh itu? Tapi kenapa dandanannya gitu? Apa dia itu tidak tahu fashion? Norak sekali dia masuk kedalam keluarga orang terpandang".


Bisik-bisik orang di sekitar mulai menggenang di pendengar Shaina, terbesit rasa kesal dan menyesal telah hadir dalam acara tersebut, tapi apa boleh dikata, ia sudah terlanjur hadir selain itu ia juga tidak bisa menghindarinya.


"Kamu dengar itu? Gayamu itu norak sekali, lihat Dinda! Dia tahu menghargai status keluargaku, pakaiannya modis tidak seperti kamu yang pake gamis yang ada malu-maluin aja" tukas Fahri.


Shaina menatap Fahri dengan mata berkaca-kaca, menggigit bibir dan meremas jari-jemarinya dijadikan sebagai pelampiasan kesakitan hatinya tapi tidak juga membuatnya membaik.


Di area yang berbeda Joon meninggalkan teman-temannya karena ia harus menerima telpon dari orang-orangnya. Dinda tersungging melihat Shaina yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.


"Ku harap orang-orang tidak tahu kalau calon istriku punya bekas luka" ketus Fahri, matanya melirik ke tangan Shaina.


Shaina yang paham langsung menarik lengan bajunya untuk menutupi bekas hitam di pergelangan tangannya seperti keinginan Fahri.


"Ayo kita ke belakang saja" ajak Fahri.


"Kenapa ke belakang? Bukankah acaranya disini?" Tanya Shaina.


"Ikut saja jangan banyak tanya!" Balas Fahri, sedikit menyeret tangan Shaina, meski ia menolak untuk di pegang-pegang.


Saat melewati kerumunan, Shaina tidak sengaja berpapasan dengan Alice dan Alfan, mereka bertiga saling beradu pandang dalam waktu yang cukup lama hingga menghilang diantara bayangan orang-orang.


"Fan, entah kenapa tiba-tiba aku merasa ada Mama disekitar kita" ujar Alice pada saudaranya.


"Iya, aku juga ngerasa kayak gitu" balas Alfan.


Elif terus meronta-ronta dari gendongan Joon, jadi terpaksa Joon melepaskannya dan membiarkannya bergerak-gerak dengan bebas di rerumputan, kebetulan di tempat Joon berada lengang dari orang hilir-mudik.


Namun saat baru sebentar Joon mengalihkan perhatiannya, mendadak Elif hilang dari tempatnya, Joon segera menutup teleponnya dan mencari-cari keberadaan Elif.


Tiba di halaman belakang Fahri melepaskan cengkramanya dari Shaina.


"Kenapa kita ke sini?" Tanya Shaina.


"Kamu disini saja dan jangan keluar jika aku tidak memintanya!" Lontar Fahri.


"Tapi kenapa?" Sudi Shaina lagi.


"Kau tanya kenapa? Lihat dirimu, penampilan mu malu-maluin tahu, aku tidak mau kau mempermalukan ku didepan teman-teman ku" tukas Fahri.


"Kalau tidak mau aku di lihat oleh temanmu sekarang bagaimana kalau kita sudah menikah nanti?".


"Kau bisa tinggal di rumah saja".


"Maksud bang Fahri, aku hanya jadi perempuan rumahan saja?" Tambah Shaina.


"Ya tentu, kau kira aku mau dengan mu karena suka padamu? Tidak! Aku mau menikah denganmu hanya agar ada orang yang menemani ibuku di rumah" timpal Fahri.


Mata Shaina terbelalak mendengar kenyataan pahit itu, ia tidak menyangka dari lelaki yang selalu terlihat sempurna akhlaknya itu mampu melontarkan kata-kata keji itu seakan harga diri Shaina dipertanyakan.


"Kau marah? Silahkan! lagian jika tidak ada aku yang menikahi mu maka sampai kapanpun kau tidak akan ada yang mau menikahi mu yang tidak bisa apa-apa, bahkan untuk bisa punya anak saja tidak bisa!" Sembur Fahri.


"Bang Fahri kasar sekali bicara padaku seperti itu" sahut Shaina.


"Memangnya salah? Kau itu mandul! Aku punya surat pemeriksaan kesehatanmu itu" tambah Fahri.

__ADS_1


Shaina terdiam dan mematung menatap Fahri yang berlalu pergi meninggalkannya seorang diri, meski ia tahu akan kekurangannya itu tapi tetap saja itu menyakitkan jika terus diulang-ulang seakan mengingatkannya pada ketidak-keberuntungannya.


__ADS_2