Rahasia Jiwa MAMA

Rahasia Jiwa MAMA
laki-laki tidak tahu terima kasih


__ADS_3

Tiba di kota tempat keluarga besar Harris tinggal, Marissa, Gladys dan Hannah semobil dengan orang tua Harris sedangkan Joon dan anak-anaknya bersama dengan yang lain.


Harris mengambil alih kemudi mobil jemputannya, dan mengikuti mobil yang di tumpangi orang tuanya karena ia tidak tahu persis kota tersebut, mengingat ini baru pertama kalinya ia berkunjung ke rumah keluarganya setelah dua puluh tahun lamanya ia tidak berkunjung.


Alice dan Alfan belum pernah mengunjungi negara tersebut apalagi untuk sampai di kota itu, tapi perasaan mereka sudah sangat bahagia meski kota itu tidak sebagus atau semaju kota-kota besar seperti yang pernah mereka kunjungi ketika libur sekolah.


Namun jauh perjalanan membuat mereka kelelahan hingga membuat Elif sampai tertidur pulas di pangkuan Joon yang duduk di bangku depan bersebelahan dengan Harris yang mengemudi, Alfan dan Alice di kursi paling belakang sedangkan Calvin dan Darrell di kursi tengah.


Sepanjang jalan Joon duduk sambil melempar pandangan keluar jendela mobil, sesekali ia menoleh ke belakang untuk mengecek keadaan si kembar, setiap kali ia berpergian dan jauh dari rumah membuatnya khawatir, ia mencemaskan Shaina yang kembali ketika ia sedang tidak ada di rumah.


Dering ponselnya membangunkannya dari lamunannya dan panggilan masuk dari Cristian yang ditunjuk sebagai sekretaris pribadinya.


"Ya Cristian, ada berita apa?" Tanya Joon, berbicara dengan telpon selulernya.


"Tuan, kami menemukan informasi mengenai nama Shaina orang yang tuan cari, dan yang kali ini masih hidup semuanya, nama mereka Shaina Shah, Margaretha Shain, Alinka Shaina, mereka dari negera berbeda-beda" lapor Cristian.


Joon tersentak dan bangun dari sandarannya, "kirim foto mereka semua!" Titah Joon, mendadak wajahnya menjadi serius.


"Baik tuan" sahut Cristian sebelum Joon menutup percakapan itu.


Tak lama kemudian ponsel Joon mendapatkan notifikasi pesan. Beberapa foto dan biodata lengkap orang-orang yang memiliki nama Shaina itu muncul di layar ponselnya, satu persatu di tiliknya namun tidak satupun informasi itu sesuai dengan yang di maksudnya.


"Mereka sudah menemukannya" tanya Harris yang sedari ia dan yang lain ikut memperhatikan gerak-gerik Joon.


"Tidak" sahu Joon.


"Coba aku lihat" sela Calvin.


Joon memberikan ponselnya pada Calvin, Darrel ikut melihat apa yang di lihat Calvin.


"Shaina Shah, usia 40 tahu berasal dari India dan sudah menikah di usianya 20 tahun" baca Calvin yang tertera di layar ponsel, "sesuai tidak Joon dengan orang ini?" Tanya Calvin.


"Tidak, Shaina tidak menikah dengan siapapun sebelum denganku, usianya juga lebih muda dariku" sahut Joon.


"Kalau yang ini namanya Margaretha Shain, ia berasal dari Argent***, usianya 20 tahun, dia kuliah di *****" Calvin kembali membaca informasi yang tertera.


"Apa kau bercanda? Jika usianya sekarang 20 tahun berarti waktu itu dia masih 16 tahunan, apa aku sudah gila menikah gadis di bawah umur?" Timpal Joon pada Calvin.


"Mungkin saja, karena cuma umurnya yang masih muda tapi yang lain kan enggak?" Sergah Calvin sembari terkekeh.


Joon menoleh ke belakang, kearah Calvin yang sedang menyindirnya, menatapnya dengan kesal.


"Ya sudahlah lupakan yang itu, kita lihat selanjutnya, namanya Alinka Shaina usianya 26 tahun ia berasal dari Ugand*, ini fotonya.... ia cantik dan cukup seksi dengan kulit eksotisnya" gumam Calvin, ia menscroll layar ponsel ke bawah, "waw!!! Alinka Shaina yang ini benar-benar berani, lihat saja ia sangat seksi dengan bikininya, kalau dia Shaina yang kita kenal kau pasti sangat beruntung Joon, dia punya tubuh yang seksi dan hot" seru Calvin lagi.


Harris dan Darrell ikut tersungging dengan apa yang di katakan Calvin, tapi tidak dengan Joon kembali menatap tajam kearah Calvin, "istriku tidak seperti itu! Istriku hanya memakai pakaian yang sopan dan tidak mengumbar aurat seperti itu!" Tukas Joon, dan melirik anak kembarnya.


"Memangnya tahu apa kau tentang dia? Wajahnya saja kau tidak tahu" ketus Calvin, membalas pada Joon.


"Mama...." Gumam Elif, balita manis itu bangun dari tidurnya dan Joon mencoba memberdirikannya di pangkuannya.

__ADS_1


Elif menarik pita rambutnya dan melemparnya ke keluar jendela mobil yang sedikit terbuka itu.


"Sayang, kenapa kau melempar pita rambutmu?" Kata Joon sambil menyisir rambut Elif dengan jarinya.


Elif berdiri dan memeluk Joon, pandangan gadis mungil itu tertuju ke belakang mobil, Alfan dan Alice memanggil-manggil adik kecil mereka, karena mereka berpikir Elif sedang melihat ke arah mereka.


Calvin juga ikut mencubit pipi tembem Elif yang menggemaskan itu tapi tak satupun di hiraukan Elif, ia sibuk menggerak-gerakkan tangannya seakan-akan ingin meraih sesuatu di bagian belakang mobil sembari bergumam, "Mama.... Mama... Mama Elliiss".


"Sayang duduklah, jangan rewel sebentar lagi kita akan tiba" ucap Joon pada Elif.


"Elif sayang, tolong jadi anak baik ya, sebentar lagi kita tiba di rumah dan kita baru bisa istirahat" sela Harris.


Dalam perjalanan, tiba-tiba terjadi kemacetan, terpaksa Harris menghentikan kendaraannya seperti yang lainnya.


Tok! Tok! Tok!


Seseorang mengetuk pintu kaca mobil bagian kursi Joon duduk, saat menurunkan setengah kaca mobil, terlihat seorang perempuan berjilbab merah berdiri di samping mobil tersebut.


"Permisi!" Kata perempuan itu yang tak lain adalah Shaina yang berboncengan dengan Sahir.


"Ya" sahut Joon.


"Apa ini milikmu?" Shaina memperlihatkan pita rambut pink, "ku rasa ini terlempar lewat kaca mobil ini tadi" ujar Shaina.


"Itu benar punyaku, tapi kau tak seharusnya mengembalikannya karena aku tidak membutuhkannya lagi" sahut Joon.


"Apa?!" Ucap Shaina seraya mendengus.


"Anda benar, saya tidak seharusnya mengembalikannya, ini cuma pita rambut biasa, saya saja yang terlalu naif" ketus Shaina dengan memasang wajah jutek dan meremas pita rambut ditangannya.


"Baguslah kalau anda tahu diri" balas Joon dan menaikkan kembali kaca mobil.


Shaina tersentak, "apa?! Hei! Hei kau! Bicara apa kau?" Hardik Shaina pada mobil yang sudah pergi menjauh.


"Kak, jangan malu-maluin, ayo kita pulang" sela Sahir pada kakaknya yang sudah terlanjur kesal.


"Siapa yang malu-maluin? Orang itu yang tidak tahu terima kasih dan malah ngatain aku! Jika saja dia tidak kabur pasti akan ku lakban mulutnya!" Dengus Shaina.


"Kakak sendiri yang salah, sudah tahu itu pita itu di buang kakak malah ngeyel pengen kembalikan" timpal Sahir.


Tuk!


Shaina mengetuk helm yang di kenakan adiknya, "ini bukan masalah pita rambut tapi yang masalahnya dia pake buang-buang aja sembarangan ke mukaku pula, memangnya aku ini tempat sampah apa?!" Gerutu Shaina.


"Ya udah deh, jangan ngomel terus malu di lihat orang" jelas Sahir.


Shaina terus mendengus kesal sambil meremas-remas pita rambut tersebut dan hampir membuangnya, tapi niatnya itu diurungkannya. Ia menciumi aroma khas bayi di pita rambut tersebut.


"Waaaahhh.... Wangi sekali ini...." Gumam Shaina yang tidak henti-hentinya menghirup aroma tersebut bahkan ia memeluknya, "imutnya... aku suka sekali, ini sangat cantik..." Lanjut Shaina.

__ADS_1


****


Elif tertawa terkekeh-kekeh sambil melihat ke belakang mobil, ia tidak henti-hentinya tertawa lepas dan terus bergumam, "mama".


Melalui kaca spion, Joon melihat perempuan itu berteriak-teriak padanya itu membuatnya tanpa sadar tersenyum. Senyuman yang pernah hilang darinya dan teman-temannya ikut heran melihat ekspresi Joon.


"Kenapa kau kasar sekali pada gadis itu, padahal ia cuma mau mengembalikan pita rambut Elif?" Tanya Harris.


"Siapa yang kasar? Aku bilang apa adanya, dia itu saja yang pura-pura sok baik, aku sudah paham orang-orang seperti itu" kilah Joon.


Calvin mengembalikan ponsel Joon padanya.


"Ngomong-ngomong orang yang kau cari itu benar-benar ada? Atau hanya perasaanmu saja dia ada atau mungkin saja Helena memiliki kepribadian ganda, karena sudah tiga tahun tidak satupun bukti yang menunjukkan perempuan itu benar-benar ada" celetuk Darrell.


"Mama Shaina benar-benar ada" sanggah Alice yang tiba-tiba membuka suaranya.


"Aku juga yakin Mama Shaina kami nyata dan pasti sedang memikirkan kami juga, jika Paman Darrell tidak percaya ya udah tapi jangan pernah bilang lagi Mama Shaina itu tidak nyata!" Sambung Alfan.


"Kau dengarkan? Dia bukan bayangan imajinasi kami, Shaina kami pasti ada dan nyata aku yakin itu, walaupun aku tidak bisa membuktikannya sekarang" tukas Joon dengan tatapan seriusnya.


Darrell menghela nafas panjang.


"Sudahlah! Jangan berdebat, kita lihat saja nanti biar waktu yang membuktikan kebenaran, tapi jika masih tidak ada petunjuk apapun mengenai keberadaan Shaina, kau Joon harus berhenti mencarinya dan fokuslah pada kehidupan nyatamu dan anak-anak" tukas Calvin.


Joon menyandarkan kepalanya dengan membuang pandangannya ke luar jendela, melihat suasana jalan dan kehidupan orang-orang di tempat tersebut.


Sepuluh menit kemudian mobil yang di kemudikan Harris masuk ke pekarangan rumah yang lumayan besar di antara rumah-rumah di sekitar daerah tersebut. Di halaman dan terasnya banyak orang hilir-mudik, ada yang sibuk membersihkan rerumputan dan ada pula orang-orang yang sibuk mencari lapak untuk mendirikan tenda-tenda.


Ada juga orang-orang yang sedang berbincang-bincang dengan orang tua Harris yang tiba lebih dulu daripada mereka.


"Nak Harris?" Seru seorang wanita yang berdiri di teras, usianya sebaya dengan ibunya Harris.


Harris tersenyum lebar dan memiringkan kepalanya pada teman-temannya untuk berbisik, "sekarang saatnya kalian praktekkan bahasa yang ku ajarkan dulu dan jangan malu-maluin aku" bisiknya.


Wanita itu mempercepat langkahnya pada Harris dan rombongannya, "Wahh! Mak cik enggak nyangka kamu sudah gede dan makin ganteng pula, kamu udah punya anak? Kenapa enggak bilang-bilang kalo kamu udah menikah?" Gerutu wanita itu, sambil mengelus-elus lengan Joon bahkan mencubit pipi Elif yang di gendongannya.


"Mak Cik Wani, Harris di sini, Mak Cik salah orang" protes Harris yang cemberut.


Joon dan yang lain ikut tersenyum bahkan orang tua Harris ikut terkekeh.


"Kau ini Wani, keponakanmu saja kau tidak kenal" timpal pak Herman, ayahnya Harris yang berdarah Indonesia asli.


"Abang jangan salahkan dek Wani yang tidak kenal Harris, tapi Abang tuh jarang pulang dan lebih nyaman di negeri orang" timpal wanita lainnya yang sedang bersama ibu dan ayahnya Harris.


Joon yang jadi korban salah sangka hanya bisa tersenyum ramah pada keluarga besar Harris.


Wanita yang di panggil makk Cik Wani oleh Harris berbalik arah, ia menghampiri Harris, memeluknya, memukulnya, mencubitnya layaknya orang tua yang baru bertemu sanak saudaranya.


Mereka semua di persilahkan masuk kedalam untuk beristirahat, melihat kedatangan Joon dan rombongannya menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di lokasi rumah tersebut, jadi beberapa sanak saudara mereka ikut masuk kedalam rumah.

__ADS_1


Mereka semua di persilahkan duduk lesehan di lantai beralaskan karpet yang telah disediakan, karena tidak akan cukup jika duduk di sofa, di tambah lagi suasana rumah itu sedang di siapkan untuk sebuah acara jadi sofa yang biasa terletak di tengah ruangan malah sudah di geser ke sudut ruangan.


__ADS_2