
Kian hari kian dingin setiap pagi begitu juga sekarang, selimut super tebal yang menutupi tubuhnya tetap tidak bisa memisahkannya dari udara dingin yang membuatnya menggigil, perasaan tidak nyamannya semakin bertambah saat ia harus ke kamar mandi untuk mengosongkan kandung kemihnya yang menampung sejak tadi malam.
Melihat Joon masih meringkuk dalam selimut, Shaina bergegas ke kamar mandi sebelum lelaki itu terjaga. Kurang dari sepuluh menit di kamar mandi Shaina keluar sambil berjinjit karena ubin keramik yang menyentuh kulitnya semakin menambah dingin, ia naik kembali ke ranjang yang terdapat Joon. Shaina kembali membalut tubuhnya dengan selimut hangat untuk mau merebahkan tubuhnya ketempat semula tapi ia batal melakukannya karena perhatiannya teralih pada Joon yang masih dibuai mimpi indahnya sampai-sampai ia mengeluarkan suara dengkurannya.
Sudah ide gila melintas di otaknya, Shaina menjepit hidung Joon dengan jarinya hingga suara yang dikeluarkan Joon terdengar aneh dan hal aneh-aneh lain dilakukannya untuk mengerjai Joon, membuat Shaina tidak henti-hentinya cekikikan karena puas mengganggu pemuda itu. Ide gila lainnya muncul di kepala Shaina, ia bergegas turun dari ranjang dan menuju keluar, tidak lama kemudian ia kembali dengan beberapa pita rambut di tangannya. Shaina mulai menggencarkan aksinya dengan mengepang satu persatu rambut Joon.
Namun tanpa disadari Shaina, Joon sudah terjaga sejak Shaina menutup hidungnya hanya saja ia berpura-pura tidur membiarkan Shaina memuluskan aksinya. Setelah membuat kepangan cukup banyak, Shaina terdiam sambil memperhatikan mata Joon yang terpejam, pelan-pelan jari jemarinya bermain di wajah Joon, menyentuh hidung, bibir sampai ke bulu mata lentiknya.
Shaina menyudahi sentuhannya dan kali ini ia meraih ponselnya yang ia simpan di atas nakas, membuka kamera dan memotret Joon yang dipenuhi rambut terkepang.
"Iiihh! Kenapa hasilnya jadi bagus sih? Padahal rencananya mau jelekin dia" gumam Shaina saat mengecek hasil jepretannya akan wajah Joon.
Shaina melirik kearah Joon dan bergumam, "hai bambang tamphan kenapa sih susah kali ngejelekin kamu? Kan jadinya aku tidak serasi denganmu yang terlahir jadi cogan" jari-jari Shaina masih bermain di rahang tegasnya Joon.
Shaina kembali membuka kamera ponselnya untuk mengambil gambar lagi yang terdapat pose dirinya yang mendekat pada joon, dimana ia berpose seakan-akan hendak menciumi Joon dengan memonyongkan bibirnya kedepan lengkap dengan gaya jari yang membentuk V dan tangan lainnya siap menekan tombol kamera.
CUP!
Kecupan manis mendarat ke bibir Shaina dan sontak mengejutkannya yang ternyata Joon sudah terjaga.
HAHAHA.....!!
Tawa keras Joon menggelegar di kamar itu, menyaksikan ekspresi Shaina yang membeku, kedua matanya membulat sempurna, dan tidak percaya apa yang baru terjadi padanya. Lalu Joon ikut duduk bersamanya sambil tertawa.
BUUKKK!
"Sengaja ngerjain aku ya?" Shaina menimpuk Joon dengan bantal tapi Joon tidak bergeming dari tawanya.
Joon menarik Shaina ke pangkuannya hingga didudukinya dengan posisi berhadapan meski Shaina menolaknya karena ia tahu itu bukan posisi yang tepat untuk mereka yang berkemungkinan bisa terjadi sesuatu diantara mereka. Tapi Shaina tidak bisa melawan tenaga Joon lebih kuat darinya.
"Lapasin!! Aku enggak mau!!" Pekik Shaina yang mendorong tangan Joon.
"Enggak mau!" Sergah Joon, "kamu harus mendapatkan hukumannya karena udah ngerjain aku duluan" sambungnya.
Seberapa keras apapun Shaina menolaknya tapi tidak dihiraukan oleh Joon, walaupun dengan alasan mau menyiapkan sarapan untuk Alfan dan Alice yang akan segera bangun tapi Joon masih kekeh pada pendiriannya yang tidak akan melepaskan Shaina karena ia masih betah berlama-lamaan mendekap perempuan itu sembari mengganggunya.
"Siapa suruh bermain-main di rambutku? Sekarang cepat buka kepangannya kalo enggak jangan salahkan aku jika hukumannya lebih dari ini!" Ancam Joon yang setengah mendesas pada Shaina.
__ADS_1
Shaina yang sudah berada di atas pangkuan Joon mencoba mendorong dada lelaki itu tapi ia tidak bisa melakukannya karena tangan Joon lebih dulu melingkari di pinggangnya.
"Apa kau tidak merasa pagi ini sangat dingin?" Cicit Joon yang mendekatkan wajahnya pada Shaina.
"Jika iya, kenapa?" Sahut Shaina.
"Elif pasti sedang kedinginan sekarang" balas Joon.
"Bagaimana kau tahu?".
"Elif sendiri yang berbisik padaku".
Shaina terkekeh sambil tersipu malu, sembari mencubit dada Joon dengan gemas dan tanpa diduga malah pinggulnya diremas-remas, yang memaksanya terperanjat lebih kedepan lagi sehingga sepasang bibir lembutnya dijadikan gulali bagi Joon.
"Hummmff.... Hemmmfff..." Lirih Shaina.
Mulutnya telah dikunci dengan gembok cinta oleh Joon, basah, ada jilatan dan hisapan yang mendayu-dayu dilakukan Joon, membuat saraf-saraf Shaina terangsang hebat hingga tangannya terus melingkari leher lelaki itu bahkan tubuhnya juga sudah benar-benar duduk di pangkuan Joon.
Shaina merasa bingung dengan tubuhnya yang seakan bergerak sendiri seperti ada yang mengendalikannya saat-saat Joon menyentuhnya, padahal ia baru sekali melakukannya, itupun beberapa hari terakhir dan Joon sendiri pula yang melakukannya.
Setiap saatnya Joon pun semakin agresif yang menyebabkan Shaina harus terperanjat beberapa kali ke atasnya.
HAHAHA...!
"Kau kentut lagi?" Lontar Joon sambil tertawa, menghentikan kissing-nya pada Shaina.
Shaina memukul bahu Joon dengan kekesalannya.
"Aku begini juga karena rahimku yang membesar yang menekan rongga perutku kau mana tahu!!! Kau hanya tahu buatnya saja!!!" Timpal Shaina sambil menggertakkan giginya dan memencingkan matanya pada Joon.
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud menertawakan mu tapi ada-ada saja kejadian terjadi di waktu yang tepat" kilah Joon.
Shaina duduk menjauh dari Joon bahkan sampai membelakanginya, "kejadian tidak tepat apanya? Malah bagiku itu penyelamat ku dari cengkraman elang" gumamnya.
Shaina bergegas pergi dari tempat tidur dan menghempaskan selimutnya ke muka Joon.
"Mau kemana?" Sergah Joon.
__ADS_1
"Aku mau ke kamar Alice dan Alfan jika semakin lama aku disini bisa-bisa Elif punya adik sebelum dia lahir" timpal Shaina.
Joon terkekeh kecil mendengar perkataan Shaina yang masih sempat berpikir tentang dirinya walau Joon telah meracuninya dengan bius-bius cinta setiap kesempatan tiba.
KHUMM!!!
Dentaman keras yang mengagetkan Joon saat Shaina menutup pintu kamar Joon, mewakili perasaannya sekarang setelah di sentuh lelaki itu. Shaina tidak bergegas ke kamar Alice seperti yang dikatakan pada Joon melainkan ia menjatuhkan diri ke sofa sambil meringkuk tubuhnya.
"Ya Tuhan... Apa yang telah terjadi padaku? Kenapa aku jadi kumpul kebo sama lelaki itu? Helena, kenapa tubuhmu ini bergerak sendiri saat di gituin? apa ini efek dari Helena yang biasa melakukannya dengan suaminya?" Ringis Shaina sambil mencengkram kepalanya.
CEKREKK!!
Terdengar suara pintu kamar Joon terbuka, cepat-cepat Shaina beranjak dari sofa dan masuk kamar anak-anak karena ia tidak mau bertatap muka dengan Joon sekarang setelah ciuman panas mereka.
Melihat Shaina di ruang tamu dan buru-buru ke kamar anak-anak, Joon heran, karena sebelumnya Shaina mengatakan mau ke kamar anak kembarnya itu.
Jantung Shaina masih berdegup kencang, momen-momen tadi pagi di ranjang bersama Joon masih menyisakan rasa manis di bibir Shaina apalagi aroma mint yang ternyata Joon sudah bangun dan menggosok gigi saat ia ke kamar anak-anak untuk mengambil pita rambut, semuanya seperti telah di persiapkan oleh Joon.
Bahkan saat di dapur Shaina masih membayangkan suasana itu, ketika salah satu tangannya memegang spatula dan tangannya yang lain menyentuh bibir lembabnya yang dioleskan lip balm.
"Masih mau lagi?" Tanya Joon.
Shaina tersentak kaget dan segera menoleh ke belakang yang sudah berdiri Joon di pintu masuk dapur.
"Enggak usah!" Balas Shaina, mendengus kesal padanya.
Ia kembali berbalik badan dan menuju kompor untuk melanjutkan memasak tapi ia kembali dikagetkan saat Joon meraih tangannya.
"Biar aku saja yang melakukannya, kau urus anak-anak dulu" ujar Joon sembari mengambil spatula di tangan Shaina.
"Ho-ho-hi..., Tumben kau benar aku juga tidak suka memasak" Shaina menepuk bahu Joon
Joon tersenyum dan membungkuk pada Shaina, "mungkin karena udah dapat pencuci mulut tadi" Joon terkekeh.
Shaina memundurkan langkahnya, "iiittsss! Kau ini!!! Dasar manusia tidak tahu malu!!!" Sembur Shaina dengan ekspresi jijik.
Karena merasa terancam, secepatnya Shaina meninggalkan Joon yang menertawakannya dibelakang.
__ADS_1
...****************...