
Tidak henti-hentinya Shaina bergerak, selesai satu pekerjaan ia lanjutkan yang lain seperti tidak ada habisnya, entah bawaan kehamilan atau bukan yang Shaina sendiri bingung dengan keadaannya akhir-akhir, dari kebiasaannya dulu yang suka rebahan kini berubah drastis 180 derajat menjadi hiperaktif dengan pekerjaan rumah tangga, dan tidak sekalipun ia mengeluh ataupun mengomel, hanya ada keceriaan dan kegembiraan yang terpampang jelas di wajahnya.
Seperti sore hari ini, selesai menyiapkan makan malam, ia masih sempat-sempatnya berberes di lemari Alice dan Alfan, namun ia dikejutkan dengan penemuannya yang menemukan tas Alice yang robek, dan menyadari alasan Alice yang tidak mau membawa tas miliknya saat ke sekolah.
Sambil menenteng tas tersebut Shaina memanggil Alice untuk menemuinya di kamar.
"Alice! Apa ini alasan kamu tidak mau memakai tasmu ke sekolah?" Tanya Shaina pada gadis imut itu sembari memegangi tas yang robek.
"Alice minta maaf Ma" gumam Alice seraya menundukkan kepalanya dari Shaina.
"Kenapa Alice tidak katakan jika tasnya robek dan kenapa harus sampai berbohong segala? Mama tidak suka itu jika Alice berbohong" ujar Shaina yang menekankan nada bicaranya.
"Maaf Alice Ma, Alice khawatir Mama akan marah jika Alice katakan" jawab Alice.
"Mama tidak akan marah jika Alice jujur tapi Mama tidak suka saja jika Alice berbohong" tambah Shaina, ia berlalu pergi meninggalkan Alice di kamar.
Suasana makan malam jadi hening karena Shaina masih kesal dan Alice pun mendiami Mamanya. Suasana yang tidak biasanya itu mengherankan Joon.
Joon mendekati Alfan yang sedang asyik menonton, ia berbisik padanya, "apa yang terjadi pada Mama dan Alice?"bisiknya.
Shaina melirik Joon dan Alfan yang sedang berbisik-bisik dan ia juga mendengar isi perkataan Joon tersebut
"Mama dan Alice..." Gumam Alfan.
"Tahu tidak? ternyata Alice tidak pakek tas ke sekolah bukan karena ia tidak mau tapi tas nya robek" tukas Shaina.
"Robek?" Sudi Joon.
"Iya Paman, Alice sudah minta maaf tapi Mama masih marah juga" sela Alice yang terlihat murung, ia duduk di sebelahnya Joon.
"Aku tidak marah hanya saja tidak suka Alice berbohong" tukas Shaina.
"Itukan cuma tas jangan di perpanjang lagi" imbuh Joon.
"Memang itu cuma tas, tapi bagaimana jika terjadi sesuatu nantinya pada Alice disekolah atau di luar sana? Kita tahu apa jika Alice tidak cerita atau berbohong pada kita?" Sosor Shaina yang duduk di sofa sudut ruangan.
Joon tersenyum, mengangkat Alice kedalam pangkuannya, membelainya lembut untuk menenangkan gadis manis itu yang tampak bersedih hati karena merasa di abaikan oleh Shaina.
"Paman... Alice minta maaf..." Sungut Alice.
"Sayang jangan nangis ya, Mama tidak marah sama Alice, tapi Mama khawatir Alice kenapa-napa jika tidak cerita apalagi sampai berbohong, Mama itu sayang sama Alice" ujar Joon pada Alice sembari menyeka wajah itu, "sekarang Alice minta maaf lagi ya sama Mama" lanjutnya.
Alice mengangguk dan turun dari pangkuan Joon, ia berjalan menuju pada Shaina.
"Mama, Alice minta maaf karena berbohong sama Mama dan paman, Alice janji tidak akan berbohong lagi" gumam Alice yang menangis sembari memegangi tangan Shaina.
__ADS_1
Shaina hanya diam membisu meskipun begitu air matanya ikut mengalir deras, dimana sesekali ia menyekanya. Beberapa saat berlalu, Shaina diam tanpa kata hingga ia tidak tahan lagi, segera memeluk Alice yang berderai air mata sampai-sampai kalimat yang diulang-ulangnya terdengar tidak jelas lagi karena tangisannya.
"Sayang jangan nangis lagi, Mama minta maaf, Mama tidak bermaksud memarahi Alice, tapi Mama khawatir dan sayang sekali pada Alice nya Mama ini" ucap Shaina yang menciumi sekujur tubuh Alice yang semakin meningkatkan tangisnya karena terlalu terharu.
Joon ikut tersenyum melihat mereka bahkan ketika Shaina mengangkat-ngangkat tangannya yang meminta Alfan juga menghampirinya dan di peluknya seperti Alice.
"Alfan juga harus jujur pada Mama apapun yang terjadi karena Mama tidak mau kalian kenapa-napa, Mama sayang kalian, sayaaaang sekali...." Ujar Shaina, seketika tangis mereka semakin besar dan terus memeluk Shaina yang terus membagi kecupan hangatnya pada mereka.
"Alice juga sayang sama Mama, mamaaaa! Hiks! Hiks!" Sungut Alice.
"Alfan juga sayang sama Mama, sangat sayaaaang... Hiks! Hiks!" Kalimat yang sama juga di lontarkan Alfan yang larut dalam keharuan itu.
Shaina merenggangkan pelukannya dan mengecup mereka satu persatu.
"Sekarang sudah cukup nangisnya, Alice ambilkan tas mu biar Mama jahit agar Alice bisa pakek lagi besok, Alfan juga tolong ambilkan alat jahit di kotak bawah TV" kata Shaina pada mereka.
"Baik Ma" sahut mereka dan segera melakukan perintah tersebut.
Alice membawa tas nya pada Shaina meski sesekali ia masih terlihat terisak-isak setelah menangis tadi, dan beberapa menit kemudian tas tersebut selesai di perbaiki Shaina.
"Akhirnya selesai juga, dan bagus pula" kata Shaina, melihat hasil jahitannya yang rapi karena jahit menjahit adalah pekerjaan sehari-harinya semasa ia di dalam tubuh aslinya dulu.
Alice juga setuju jika tasnya kembali bagus meski terdapat beberapa bekas jahitan tapi ia masih bisa menggunakannya.
Malam mulai menampakkan bulannya, anak-anak sudah terlelap tidur di kamar mereka sedangkan Shaina berdua di kamar Joon.
"Lumayan, karena aku lebih sering menggunakan tangan kiri jadi aku bisa bekerja tanpa kendala berarti" sahut Joon yang naik keranjang untuk tidur.
"Waaahh... Sayang sekali kau tidak tebar pesona pada pelanggan mu" Celetuk Shaina untuk menggangu Joon.
Joon tersungging dan mendekat pada Shaina, menyudutkannya ke dinding ranjang sehingga Shaina tidak punya celah untuk menghindari tubuhnya di depannya bahkan wajah juga hanya beberapa senti dari wajahnya Shaina.
"Apa kau cemburu? Jangan khawatir aku milikmu" bisik Joon.
Mata dan bibir Joon memburu bibir Shaina untuk di nikmati yang menimbulkan sensasi menyenangkan bagi mereka, tapi saat Joon ingin melakukannya, Shaina memalingkan wajahnya.
"Kenapa?" Bisik Joon.
"Joon jangan lagi, setelah menikah saja kita lakukan" sahut Shaina.
Joon memundurkan tubuhnya, "aku tidak melakukan itu, ini cuma ciuman saja" kilah Joon berharap Shaina setuju.
"Joon, ini terlalu dini buat kita, meski sekedar ciuman bagi mu" ujar Shaina.
"Kenapa kau berubah? Apa karena anak-anak membicarakan masa laluku tadi pagi? hingga kau tidak mau lagi? karena aku ini jahat?" Sudi Joon.
__ADS_1
"Bukan begitu Joon, aku tidak ingin kita melakukan itu karena kita masih belum menikah".
"Kita memang belum menikah tapi sebentar lagi akan menikah jadi apa yang cemaskan? Atau kau mulai meragukan ku lagi?" Tambah Joon.
"Joon mengertilah kita telah salah melakukan semacam itu, aku janji setelah kita menikah nanti aku akan berusaha selalu melayani mu tapi tidak sekarang, aku juga tidur di sini bukan untuk tetap dekat denganmu tapi karena ranjang anak-anak tidak terlalu besar untuk kami tidur jadi aku tidur disini" papar Shaina.
Joon membelakangi Shaina, ia tampak kesal dengan Shaina.
"Ini hanya karena masa laluku saja yang buruk kan? Jadi kamu pake alasan ini untuk menghindari ku" tukas Joon.
Ia berjalan ke lemari, mengambil selimut lainnya dan laptop di dalam laci lemarinya dengan terburu-buru.
"Joon, kau marah?" Tanya Shaina.
"Siapa yang marah? Dan apa hak ku marah?" Timpal Joon.
"Joon aku tidak bohong, setelah menikah kita akan selalu bersama tapi tidak untuk sekarang, kamu tolong jangan sensi gini seperti anak kecil" sungut Shaina pada Joon yang tidak lagi berbalik badan.
Di sofa ruang tamu Joon menghempaskan diri bertemakan laptop dan selembar selimut untuk menghangatkannya.
"Jika tidak suka bilang saja tidak suka enggak usah basa-basi! Lagian aku sudah biasa di tinggalkan" gumam Joon yang kesal dengan penolakan Shaina.
Cemas Joon sedang marah, Shaina keluar kamar, berinisiatif membuatkan secangkir susu hangat untuk Joon, meski ia diabaikan saat melewati ruang tamu.
"Aku buatkan susu hangat diminum ya" ujar Shaina sembari meletakkan gelas berisi susu hangat, "oh ya, kamu lagi apa? Aku lihat juga ya?" Tambah Shaina yang mendekat ke sebelah Joon.
Mendengar Shaina berkata ingin melihat apa yang dilakukannya di depan laptop, Joon tergesa-gesa menekan sembarangan tombol agar Shaina tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.
"Joon!!!" Pekik Shaina yang terkejut, dan secepatnya meninggalkan Joon, ia kembali masuk ke kamar.
Kaget dengan penampakan perempuan berbikini transparan yang berpose menggoda dan seksi di layar laptopnya Joon membuat Shaina kabur, namun tidak hanya Shaina kabur tapi Joon ikut kaget dengan gambar di layar laptopnya yang tidak sengaja muncul.
"Sial! Malah muncul gambar ini!!" Ringis Joon, ia kembali menghapus gambar tersebut dan kembali ke layar awal.
Joon kembali mempelajari file-file penting yang berhubungan dengan Calista groups, dengan sesekali menyeruput susu hangat di mejanya yang di buat oleh Shaina sebelumnya.
Kejanggalan demi kejanggalan ia temukan di setiap file tersebut dan ia terus mengusutnya hingga larut malam, meski tidak lagi berhubungan dengan keluarganya termasuk semua yang ada kaitannya dengan mereka bukan berarti Joon tidak punya hak untuk mengawasi itu semua, sudah setahun lebih Joon diam-diam menyelidiki perusahaan orang tuanya dan kemampuannya juga tidak bisa dianggap remeh, karena sejak kecil ia di besar di kalangan pengusaha sukses, bertemu dengan orang-orang dewasa dengan berbagai backgroundnya sudah jadi makanan sehari-harinya.
Belum lagi sedari kecil ia termasuk anak yang berprestasi, dengan pemikiran yang kritis serta didukung ide-ide briliannya, membuat orang tuanya bangga, hanya saja Papanya lebih keras padanya daripada terhadap Ervian. Karena menurut tuan Salman, Joon lebih mendominan sifatnya yang berwatak keras dan sulit diatur.
Jam dinding di ruang tamu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, Joon menghentikan pekerjaan rahasianya dan ingin segera tidur yang sudah beberapa kali menguap. Tapi sebelum itu ia membuka ponselnya dan matanya tertuju pada aplikasi khusus di antara menu aplikasi yang lain.
Ia memencet aplikasi tersebut dan muncul angka-angka yang menunjukkan saldo simpanannya, setelah itu ia mengecek bulan di kalender ponselnya juga.
"Ya Tuhan, apa uangku cukup untuk biaya persalinan dan kebutuhan bayi nanti?" Gumam Joon menatap layar ponselnya.
__ADS_1
***